
“Kera di timur!” seru Nata menghajar bagian wajah.
“Elang di tenggara!” Nata mencakar wajah lawannya.
“Harimau penguasa selatan!” Nata mencakar bagian perut.
“Singa meraung di barat daya!” Nata mencakar bagian kedua lengan lawannya.
“Bangau terbang ke barat!” Nata menendang bagian perut.
“Camar menerkam barat laut!” Nata memukul bagian kaki ke bawah.
“Kerbau menerjang utara!” Nata memukul dengan dua kepalan tangan pada bagian perut.
“Kuda berlari di timur laut!” Nata memukul dua kali lebih cepat.
“Naga pusat segala!” Satu pukulan terakhir dengan telapak tangan terbuka tepat mengenai dada kiri pendekar golok itu.
Pendekar itu jatuh terkapar beberapa langkah ke belakang dengan luka serius, seluruh titik meridiannya hancur dan tak mungkin lagi pendekar itu mengalirkan tenaga dalamnya. Sungguh jurus yang mengerikan.
Nata berdiri memasang kuda-kuda dengan napas terengah-engah, diikuti mata pemuda itu kembali normal seperti biasanya. Sepertinya, Nata telah menguasai jurus warisan leluhurnya dengan baik, terlihat pemuda itu mampu membagi tenaga dalamnya secara teratur.
Kini tinggal dua orang pemuda yang berdiri di depan pondokannya. Siligundi, salah satu tangan kanan dari Ki Badra, dan rekannya—Tatak Hadiningrat.
Siligundi maju terlebih dahulu, pemuda itu melangkah ke depan, pedangnya ditarik dari dalam sarangnya secara perlahan, agar menimbulkan suara gesekan yang nyaring.
Patih Ragas melangkahkan kakinya dan hendak melawan Siligundi, tetapi langkahnya terhenti setelah Lembah Manah berdiri di hadapannya.
“Biarkan saya yang menghadapi pria ini, patih!” seru Lembah Manah.
“Tapi—!”
Perkataan Patih Ragas terhenti setelah Lembah Manah melangkahkan kakinya maju ke depan. Kini pemuda itu bersiap menghadapi Siligundi.
“Hati-hati, Lembah. Dia mempunyai pedang yang dicari seluruh dunia persilatan!” sahut Patih Ragas memperingatkan Lembah Manah. “Pedang Pethit Sawa!”
__ADS_1
Di depan pondokannya, Siligundi berdiri tanpa memasang kuda-kuda. Pemuda itu mengira, dengan pedang pusaka di tangannya akan mudah mengalahkan pria yang lebih muda darinya.
Tentu saja dugaan Siligundi salah, meski Lembah Manah minim pengalaman dan baru bertarung dengan musuh yang hanya beberapa saja, tetapi pemuda itu memiliki sejuta kejutan untuk setiap lawan yang dihadapinya.
“Gerbang kedua, terbukalah!”
Lembah Manah bergerak melewati tubuh Siligundi, gerakannya sangat cepat hingga tidak ada dari mereka yang berada di tempat itu mengetahui pergerakan Lembah Manah. Selang beberapa waktu terdengar teriakan kesakitan dari Siligundi.
“Apa!” teriak mereka bersamaan.
“Bagaimana mungkin!” seru Siligundi membelalakkan matanya.
“Emm, itu mudah saja!” sahut Lembah Manah dengan tersenyum sinis.
Pemuda itu menyerap energi alam dan memadatkannya pada kedua telapak kaki. Memanfaatkan tanah dalam sekali pijakan, Lembah Manah melesat mengincar perut Siligundi.
Dengan bola bening sebesar buah jeruk pada cengkeraman tangan kanannya, pemuda itu membuat luka seperti sayatan ratusan pisau pada perut Siligundi.
Serangan pemuda itu membuat tubuh Siligundi bergetar hebat, hingga terjatuh dan melepaskan genggaman pedangnya.
“Aku merampok di desamu adalah tugas dari Ki Badra. Hasil rampokan, aku kirimkan melalui perahu ke arah barat!” ucap Siligundi tanpa memberitahukan keberadaan Ki Badra.
Baru saja selesai mengucapkan perkataannya, Siligundi hendak mengambil sesuatu dari pinggangnya. Namun, pedang Patih Ragas telah mengoyak perut pemuda itu hingga membuatnya meregang nyawa.
“Tamatlah kalian! Penganut aliran hitam!” ucap Patih Ragas, lalu mencabut pedangnya dari perut Siligundi dan mengibas-ngibaskan ke udara agar darah terlepas dari pedangnya.
“Jangan bunuh aku, aku mohon lepaskan aku!” Tiba-tiba Tatak Hadiningrat berlutut dan mengangkat kedua tangannya ke atas.
Dengan segera, ketiga bawahan Patih Ragas meringkus Tatak Hadiningrat dan mengikat kedua tangannya ke belakang.
Bukan tanpa alasan Tatak Hadiningrat menyerah begitu saja. Pria itu melihat cara bertarung Lembah Manah yang berbeda dari kebanyakan pendekar, dan membuatnya ragu jika melawan pemuda itu.
Setelah kematian Siligundi, Patih Ragas meminta rombongannya untuk memeriksa seluruh markas dan isi pondokan yang ada di tempat itu.
Anak buah Siligundi yang memilih melarikan diri, mungkin akan kembali melapor kepada Ki Badra. Namun, sebagian yang terluka, kemungkinan mereka akan diadili oleh pihak kerajaan.
__ADS_1
Pada sudut gudang paling belakang, Lembah Manah menemukan tumpukan peti yang tertata rapi. Dilihatnya peti itu yang menurutnya memiliki bentuk aneh dan sedikit memiliki aura mistis.
“Rupanya kau di tempat ini!” seru Patih Ragas mendapati Lembah Manah berada di dalam gudang paling belakang, diikuti Wulan dan semua rombongan memasuki gudang itu.
Dibukanya satu peti oleh Patih Ragas yang ternyata berisi beberapa keping koin emas. Lalu di sudut lain, ada beberapa tuak yang dikemas dalam gentong dan guci yang tidak terlalu besar, sebagai wadah untuk menyajikan minuman memabukkan itu.
Tanpa sengaja, Lembah Manah menjatuhkan satu peti yang berada di tumpukan paling atas, hingga membuat isi peti itu berhamburan karena peti tidak terkunci. Betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui bahwa isi peti itu adalah ekstrak penempaan tubuh dalam jumlah yang tidak sedikit.
“Kita bagi rata!” seru Patih Ragas memecah keterkejutan mereka. “Aku ingin kalian semua bertambah kuat dengan ekstrak penempaan tubuh ini!”
“Kita bakar dan segera tinggalkan tempat ini!” lanjut Patih Ragas memerintahkan semua yang ada di tempat itu. “Lembah! Pihak kerajaan sangat berterima kasih kepadamu. Berkat bantuanmu, kita menemukan markas Keraton Agung Sejagat dan berhasil menyingkirkannya!”
“Sudah sewajarnya kita saling membantu, patih!” sahut Lembah Manah tersenyum. “Ini semua juga berkat kerja keras kita semua!”
Lembah Manah tersenyum lega di depan markas Keraton Agung Sejagat yang tengah mereka bakar. Akhirnya mereka berhasil memberantas kelompok aliran hitam itu, tanpa ada korban yang jatuh dari rombongannya.
Tanpa ada yang menyadari, Wulan memperhatikan Lembah Manah yang tengah menyaksikan kobaran api. Di sisi lain, Sekar juga tengah memperhatikan pemuda itu hingga dirinya tersenyum dengan sendirinya, ketika mengingat kejadian semalam.
***
Beberapa hari setelah penyergapan Keraton Agung Sejagat, pihak kerajaan mengirim utusan ke Perguruan Jiwa Suci. Siang itu penghuni perguruan tengah menerima materi Ki Tunggul di pelataran halaman.
“Ada apa prajurit kerajaan berkunjung ke tempat ini!” lirih Ki Tunggul ketika melihat iring-iringan prajurit itu mengendarai kereta kuda. “Apa muridku ada yang melanggar hukum kerajaan!"
Masih dalam tanda tanya besar, Ki Tunggul bangkit dan berdiri di depan pintu gerbang perguruan lalu membungkukkan badannya untuk menyambut para prajurit itu.
“Ada perlu apa prajurit kerajaan jauh-jauh berkunjung ke perguruan kecil ini!” seru Ki Tunggul tersenyum.
“Titah raja!” seru prajurit kerajaan yang paling depan, turun dari kuda dan berdiri di depan pintu gerbang perguruan yang diikuti semua penghuni perguruan berlutut lalu menghadap ke prajurit itu, tak kecuali Ki Tunggul yang juga berlutut seketika.
“Atas kegigihan dalam membasmi Keraton Agung Sejagat. Raja memberi hadiah beberapa peti koin emas untuk perguruan. Sekian!”
Semua penghuni perguruan tersenyum dan menyambut para prajurit yang menyerahkan peti berisi kepingan koin emas itu.
“Lembah, kau telah membuat pamor perguruan ini semakin meningkat!” seru Ki Tunggul yang hanya dibalas dengan senyuman Lembah Manah.
__ADS_1