KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Serangan Mendadak (1)


__ADS_3

Lembah Manah memasuki arena pertandingan dengan berjalan pelan, sementara sang pangeran, meringankan tubuh dan mendarat, tepat di depan Lembah Manah.


Dengan tatapan sinis Tatar Pakujiwo mencoba mengukur tingkat ilmu kanuragan milik Lembah Manah. Menyadari hal itu, Lembah Manah menurunkan aktivasi ilmu kanuragannya agar sama dengan Tatar Pakujiwo yaitu tingkat Inggil tahap akhir.


“Hmm, tidak buruk!” lirih Tatar Pakujiwo.


“Mulai!” seru Patih Sobo Lepen.


Sesaat setelah membungkukkan badannya, Tatar Pakujiwo melesat ke arah Lembah Manah dan menyarangkan beberapa pukulan meraih wajahnya. Dengan mudah, Lembah Manah hanya menghindar sembari melangkah ke belakang.


Satu tendangan mengarah perut Lembah Manah, tetapi dengan satu tangannya, Lembah Manah menangkis dan salto ke belakang.


Tatar Pakujiwo menghantam lantai arena dengan tangan kanannya, diikuti dengan muncul gelombang ke arah Lembah Manah.


Batu panjang muncul dari lantai arena mengarah ke wajah Lembah Manah tanpa bisa dihindari dan membuat pemuda itu jatuh beberapa langkah ke belakang dengan sedikit darah menetes dari sudut bibirnya.


Jika tidak melapisi dengan tenaga dalam, mungkin saja Lembah Manah terlempar keluar arena.


Diusapnya tetesan darah itu, lalu memasang kuda-kuda. Lembah Manah melesat dengan energi alam pada kedua kakinya, berharap Tatar Pakujiwo tak menyadari kecepatannya.


Namun, satu langkah sebelum serangannya menyentuh tubuh Tatar Pakujiwo, pangeran itu membuat dinding batu setinggi satu depa yang menjulang keluar dari lantai arena.


Lembah Manah menghantam dinding batu itu tanpa mengalirkan tenaga dalam pada tangannya hingga membuat pemuda itu meringis kesakitan. Sesaat kemudian, dinding batu itu lenyap ditelan lantai arena.


“Bagaimana jurusku, apa kau takut hmm!” seru Tatar Pakujiwo meremehkan Lembah Manah. “Aku merasakan getaran kakimu pada lantai arena. Jadi kau tak akan mudah mendekatiku!” lanjutnya dengan membusungkan dada.


Dengan napas terengah-engah, Lembah Manah mencoba berpikir sejenak. Jika menyentuh lantai arena, secepat apa pun gerakannya pasti pangeran itu dapat menebak serangannya.


Pemuda itu berpendapat, jika menggunakan Tiga Gerbang Kehidupan, lalu melayang, pasti pangeran itu tak mampu menebak gerakannya.


“Gerbang Kehidupan terbukalah!”


Tubuh Lembah Manah diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam. Ditambah energi alam pada kedua kakinya, kecepatan pemuda itu seperti melayang dan tak menyentuh lantai arena. Tatar Pakujiwo masih dalam kuda-kudanya.


Lembah Manah melesat dengan memanfaatkan lantai arena sebagai pijakan. Satu langkah sebelum menyentuh Tatar Pakujiwo, dinding batu kembali muncul.


Namun, Lembah Manah menginjak ujung batu itu sebagai pijakan, lalu salto ke depan melesatkan satu pukulan dengan tangan kanannya.

__ADS_1


Tanpa Lembah Manah duga, dinding batu kembali muncul dari belakang Tatar Pakujiwo dan menghantam tubuhnya.


BUGH


Lembah Manah terlempar beberapa langkah dan jatuh tengkurap, mulutnya mengeluarkan seteguk darah merah.


“Lembah!” lirih Wulan dari bangku peserta. “Bagaimana ini, patih. Apakah Lembah akan baik-baik saja?”


“Tenang tuan putri, anak itu penuh kejutan. Kita lihat saja!” sahut Patih Ragas dengan wajah tenang.


“Apa yang terjadi!” lirih Lembah Manah seraya mengusap darah dari sudut bibirnya.


Dalam serangan kedua, Lembah Manah tak menyentuh lantai arena, tetapi kenapa Tatar Pakujiwo masih bisa melepaskan dinding batu lagi? Sepertinya dinding batu itu memang melindungi pangeran.


Belum ada keringat yang menetes dari tubuh Tatar Pakujiwo. Pangeran itu hanya bertahan dari serangan Lembah Manah, setelah serangan pertamanya gagal.


Tanpa disadari oleh Tatar Pakujiwo, Lembah Manah menaikkan aktivasi kanuragannya pada tingkat Bantolo.


Lembah Manah menyerap energi alam, tetapi masih dalam posisi jatuh tengkurap sembari mengarahkan pandangannya pada pangeran itu.


Namun, Lembah Manah kaget ketika kedua tangannya diselimuti batu yang sama dengan dinding batu milik Tatar Pakujiwo.


Dengan tangan yang menempel pada lantai arena, tanpa sengaja Lembah Manah menyerap energi batu dan membuat kedua tangannya dilapisi batu yang sama dengan lantai arena.


Namun, berbeda pada kedua telapak kakinya, Lembah Manah memadatkan energi angin untuk melesat ke arah Tatar Pakujiwo.


Dengan satu hentakan memanfaatkan lantai arena, Lembah Manah melesat dengan posisi tengkurap tanpa menyentuh lantai arena menuju Tatar Pakujiwo.


Menyadari lawannya akan menyerang, Tatar Pakujiwo menghentakkan kaki kanannya ke lantai arena yang diikuti dinding batu menyembul keluar dari lantai arena itu.


DYAR


Satu pukulan tangan kanan Lembah Manah berhasil menghancurkan dinding batu buatan Tatar Pakujiwo dan tetap melesat ke arah pangeran itu.


Tangan kiri Lembah Manah mendaratkan satu pukulan pada wajah Tatar Pakujiwo, yang membuat pangeran itu terlempar keluar arena menerima pukulan yang telah dilapisi batu sekeras lantai arena.


Tatar Pakujiwo tak bergerak, tetapi masih bernapas. Darah keluar dari mulutnya, dan sepertinya pangeran itu pingsan.

__ADS_1


“Pemenangnya Lembah Manah!” teriak Patih Sobo Lepen yang diikuti sorakan dan tepuk tangan dari penonton.


Lembah Manah kembali ke bangku peserta, lalu disambut Wanapati, Wulan serta Patih Ragas. Pemuda itu meminum ramuan pemulihan tenaga, untuk mengurangi rasa sakit akibat serangan dinding batu buatan Tatar Pakujiwo.


“Kau hebat Lembah!” seru Wulan tersenyum. “Padahal aku sempat khawatir atas serangan kedua pangeran itu!” lanjutnya dengan nada manja ciri khas putri raja.


“Emm, terima kasih tuan putri!” sahut Lembah Manah menundukkan kepalanya.


“Menurutku, Pangeran Tatar Pakujiwo mendeteksi seranganmu, setelah dari awal kakimu menyentuh lantai arena!” ucap Patih Ragas menjelaskan, yang membuat Lembah Manah, Wanapati dan Wulan terkejut. “Pangeran itu mengedarkan energi batu pada kakinya dan mendeteksi seranganmu!”


“Pantas saja, meski tak menyentuh lantai, seranganku berhasil dihalau!” kilah Lembah Manah menggelengkan kepalanya. “Rupanya debu di kakiku, telah terdeteksi olehnya!” lanjut Lembah Manah dengan senyum tersungging di bibirnya.


Namun tiba-tiba.


BOOM!


Sebuah serangan bola api menghantam atap arena pertandingan dari bangku penonton sebelah barat, yang membuat sebagian kecil atap itu roboh.


Beberapa penonton tewas karena tertimpa atap yang terbuat dari kayu keras itu. Sementara penonton yang tak jauh dari ledakan itu lari berhamburan.


“Apa itu!” seru Lembah Manah yang duduk berdekatan dengan orang-orang dari Sokapura.


“Sepertinya mereka telah datang!” sahut Eyang Balakosa.


“Ada musuh menyerang dari arah barat!” teriak seorang prajurit yang berdiri di atas menara dekat pintu gerbang istana.


Keributan dan kepanikan terjadi di area pertandingan. Ada yang berteriak, bahkan tak sedikit yang menangis karena suasana mencekam. Mereka segera berlari menjauh dan berlindung di bukit kecil belakang istana.


BOOM!


Lagi-lagi sebuah bola api menghantam atap sebelah selatan yang merobohkan atap itu dan menimpa beberapa penonton yang mencoba berlari menyelamatkan diri dari ledakan pertama.


“Mereka juga menyerang dari arah selatan!” teriak prajurit penjaga menara.


“Bawa para petinggi kerajaan ke dalam istana dan tutup pintunya!” teriak Patih Sobo Lepen diikuti sebagian prajurit menjalankan perintahnya. “Para prajurit dan pendekar, semuanya ikut aku!”


Beberapa pemimpin perguruan membawa para petinggi kerajaan ke dalam istana. Namun, Tirta Banyu tak ada di tempatnya. Tidak ada yang tahu kemana perginya, adiknya juga tak menyadari jika kakaknya tak berada di sampingnya setelah perhatian tertuju pada ledakan pertama.

__ADS_1


Di luar tembok pagar istana, Agni Ageng tertawa sembari mengangkat tangan kanannya ke atas yang tengah menggenggam Pedang Api miliknya.


“Rasakan pembalasanku, Patih Ragas!” seru Agni Ageng.


__ADS_2