KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Ahli Racun (2)


__ADS_3

Itu adalah kapak milik Wanapati yang dilemparkan dari balik persembunyiannya. Wanapati memang bersiap dari awal, pemuda itu berjaga-jaga untuk kemungkinan terburuk yang menimpa Wulan.


Dan benar saja, Ki Jalmo membalas serangan Wulan. Wanapati keluar dari persembunyiannya diikuti Patih Ragas, Jayadipa, Ni Luh dan Lembah Manah. Mereka berdiri di belakang Wulan tepat di pelataran depan rumah Ki Jalmo.


“Rupanya kau merencanakan sesuatu Tuan Putri!” geram Ki Jalmo.


“Ya, kami akan menghentikan tindakanmu itu!” seru Wulan.


Wanapati melesat memungut kapaknya yang tertancap pada sebuah pohon besar tak jauh darinya. Dicabutnya kapak itu lalu menyerang Ki Jalmo dengan beberapa jurusnya. Namun Ki Jalmo dapat menghindar dengan mudah.


Cukup lama mereka berdua bertukar jurus, dan saling jual-beli serangan. Meski hanya dengan tangan kosong, tetapi Ki Jalmo mampu membuat Wanapati kewalahan.


“Wanapati, izinkan aku melawan orang ini,” seru Lembah Manah kepada Wanapati yang tampaknya mulai kelelahan.


“Tapi Lembah—!”


Belum selesai Wanapati berbicara, Lembah Manah sudah berdiri di depannya.


Lembah Manah maju beberapa langkah dan bersiap mengambil kuda-kuda. Pemuda itu melesat cepat ke arah Ki Jalmo dengan mengarahkan tangan kanannya yang telah dialiri aura tenaga dalam berwarna biru pada wajah Ki Jalmo.


Namun, belum sampai mendarat pada wajah Ki Jalmo, pria tua itu dapat menghindar dengan mudah.


Ki Jalmo bergeser ke kiri dan meraih tangan kanan Lembah Manah, lalu menghempaskan tubuh pemuda itu ke tanah dan terlempar beberapa langkah. Belum sempat Lembah Manah berdiri tegak, Ki Jalmo menghujani pemuda itu dengan beberapa pukulan.


Lembah Manah terlempar sekitar sepuluh langkah tepat di hadapan rombongannya. Pemuda itu kembali berdiri dengan pandangan tajam tertuju pada Ki Jalmo. Tanpa berpikir panjang, lagi-lagi pemuda itu mengalirkan aura tenaga dalam berwarna biru pada kedua tangannya, lalu melesat ke arah Ki Jalmo dan mulai menggunakan Ajian Tapak Harimau.


Kecepatan gerakannya melebihi dari sebelumnya, terlihat Ki Jalmo sedikit kewalahan. Pria tua itu menangkis pukulan Lembah Manah sembari mundur beberapa langkah. Lembah Manah salto ke belakang dan berdiri di depan rombongannya.


“Menyerahlah Ki, hukumanmu akan lebih ringan jika kau tak melawan,” ucap Lembah Manah memperingatkan Ki Jalmo.


“Hahaha, mana mungkin ahli racun sepertiku menyerah pada anak muda sepertimu!” kilah Ki Jalmo sembari melesat ke arah Lembah Manah.


Kembali Ki Jalmo mengarahkan pukulannya meraih wajah Lembah Manah bergantian tangan kanan dan kiri. Dengan mudah pula Lembah Manah menghindar sembari menjauh dari rombongannya. Saat melihat ada celah, Lembah Manah mengarahkan tangan kanannya pada perut Ki Jalmo.

__ADS_1


Satu pukulan mendarat dengan telak, Ki Jalmo terhuyung ke belakang memegangi perut dengan tangan kanannya dan kembali berdiri tegak. Pandangannya tajam seakan-akan menaruh kebencian kepada Lembah Manah.


Perlahan Ki Jalmo kembali mengambil kuda-kuda, tetapi tangan kanannya masuk ke saku bajunya bagian dalam dan hendak meraih sesuatu.


Benar saja, Ki Jalmo melempar beberapa jarum ke arah Lembah Manah. Pemuda itu sedikit kaget, tetapi masih mampu menghindar dengan berputar, meliukkan tubuh dan salto ke belakang.


Saat Lembah Manah hendak mendarat, kembali Ki Jalmo melempar jarum yang diambil dari saku bajunya bagian dalam. Kali ini melempar dengan tangan kirinya.


Lembah Manah yang belum sempat mengambil kuda-kuda, terkena satu jarum tepat di lengan kirinya dan terjatuh membelakangi Ki Jalmo.


Tersadar akan jarum itu beracun, Lembah Manah meminum penawar racun yang disimpan pada potongan ruas bambu yang diambil dari saku bajunya bagian dalam tanpa diketahui Ki Jalmo.


“Sebentar lagi kau tak akan bisa bergerak anak muda, hahaha!” teriak Ki Jalmo membusungkan dadanya.


Ki Jalmo melangkah pelan mendekati Lembah Manah, tetapi Wanapati melemparkan kapaknya hingga membuat Ki Jalmo kembali mengambil kuda-kuda.


“Racun seperti itu! Emm, tak mungkin mempan padaku!” ucap Lembah Manah sembari tersenyum.


“Menyerahlah Ki, pihak kerajaan akan mengampunimu!” ujar Lembah Manah yang kembali berdiri dan mendekati Ki Jalmo.


Ki Jalmo terkejut melihat Lembah Manah tampak baik-baik saja setelah terkena jarum beracun miliknya.


“Tidak mungkin aku menyerah!” teriak Ki Jalmo yang kembali menyerang Lembah Manah.


Ki Jalmo mulai kewalahan menghadapi Lembah Manah, setiap jurusnya mampu ditangkis dengan mudah oleh pemuda itu. Begitu juga sebaliknya, Lembah Manah hanya menangkis serangan Ki Jalmo tanpa menyerang dengan jurusnya.


“Baiklah anak muda, jika kau benar-benar ahli racun, aku menantangmu untuk beradu meminum racun!” seru Ki Jalmo yang mulai frustrasi karena tak mampu mengimbangi Lembah Manah. “Aku meminum racunmu, dan kau meminum racunku!”


Ki Jalmo menyadari, jika ilmu kanuragannya masih jauh di bawah Lembah Manah. Pria tua itu berinisiatif menantang Lembah Manah untuk berduel meminum racun, karena menurutnya dialah sang ahli racun.


Lembah Manah sedikit cemas dengan tantangan lawannya, beberapa saat pemuda itu terdiam dan belum memberi jawaban atas tantangan Ki Jalmo.


“Guru, bagaimana ini?” lirih Lembah Manah sembari memejamkan matanya, berharap mendapat bantuan Ki Gendon.

__ADS_1


Tak lama berselang, Ki Gendon telah berada di sampingnya dengan pose seperti biasa, mengelus-elus berewok dengan sedikit tersenyum kepada murid kesayangannya.


“Aku telah mengetahui pembicaraanmu, terima saja tantangannya!” ucap Ki Gendon.


“Tapi guru—!”


“Aku punya sebuah rencana,” seru Ki Gendon memotong perkataan Lembah Manah.


“Baiklah, aku menerima tantanganmu Ki,” ucap Lembah Manah kepada Ki Jalmo.


Semua terkejut mendengar perkataan Lembah Manah yang menerima tantangan Ki Jalmo. Termasuk Ni Luh yang sangat khawatir jika terjadi apa-apa pada temannya.


“Lembah, apa yang kau lakukan!” teriak Wanapati.


“Jangan Lembah, itu terlalu berbahaya!” seru Ni Luh cemas.


“Aku tak habis pikir denganmu Lembah,” lirih Jayadipa menggelengkan kepalanya.


Sementara Wulan hanya saling pandang dengan Patih Ragas yang berdiri di sampingnya. Sebenarnya Wulan juga khawatir kepada Lembah Manah, tetapi gadis itu tak tahu harus berbuat apalagi atas perbuatan nekat Lembah Manah.


“Minumlah sedikit penawar racunmu terlebih dahulu, lalu berikan padanya,” ucap Ki Gendon kepada Lembah Manah tanpa diketahui oleh rombongannya.


“Apa! Kenapa malah diberi penawar guru!” lirih Lembah Manah terkejut.


“Bocah gendeng! Turuti saja perkataanku!” bentak Ki Gendon.


Lembah Manah menuruti perintah gurunya, mengambil penawar racun yang disimpan dalam potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam. Lalu meminumnya tiga tegukan dan meletakkan potongan ruas bambu itu di atas tanah tepat beberapa langkah di depannya.


Ki Jalmo dengan langkah pasti meletakkan racunnya di samping potongan ruas bambu milik Lembah Manah, lalu mengambil potongan ruas bambu milik Lembah Manah yang sebenarnya itu adalah penawar. Begitu sebaliknya, Lembah Manah mengambil guci kecil milik Ki Jalmo.


Mereka berdua meminum racun itu bersamaan. Kurang lebih lima tegukan Lembah Manah meminum racun Ki Jalmo, lalu membalikkan guci kecil itu pertanda dia telah meminum semuanya.


Ki Jalmo senada dengan Lembah Manah, pria tua itu meminum penawar racun milik Lembah Manah, lalu membalikkan potongan ruas bambu itu pertanda dia juga telah meminumnya sampai habis.

__ADS_1


__ADS_2