
Mereka berempat duduk mengitari perapian, Wulan duduk berdekatan dengan Lembah Manah yang membuat pemuda itu sedikit canggung.
Lembah Manah meminta izin untuk berjalan-jalan di sekitar tempat mereka mendirikan perkemahan. Pemuda itu berjalan semakin jauh, lalu menemukan sebuah area yang bisa memandang luas ke dataran rendah.
Lembah Manah memperhatikan lentera yang berkerlap-kerlip dari kejauhan menandakan rumah penduduk saling berdekatan.
“Hmm, indah sekali!” seru Lembah Manah mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya.
Setelah menikmati pemandangan malam, Lembah Manah memutuskan untuk kembali ke tempat mendirikan tenda. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan tempatnya, pemuda itu melihat sekelebat bayangan hitam, disusul lima bayangan hitam di belakang bayangan pertama bergerak cepat menuju tempatnya mendirikan tenda.
“Apa itu!” lirih Lembah Manah mengendap-endap mengikuti pergerakan enam bayangan hitam itu.
Bayangan hitam itu bergerak mendekati tempat perapian yang berarti menuju rombongannya. Tak lama berselang, enam bayangan hitam itu menampakkan wujudnya di depan perapian.
Seorang wanita kira-kira berusia dua puluh lima tahun dengan ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap awal, dan lima orang bawahannya berada pada tingkat Madyo tahap awal.
“Ternyata ada orang penting yang berani melewati pegunungan ini!” seru wanita membawa pedang yang diikat pada punggungnya.
“Apa! Agni Ageng!” ucap Patih Ragas terkejut.
Mendengar hal itu, Wanapati dan Wulan menoleh ke arah wanita yang bernama Agni Ageng itu dengan pandangan tidak senang. Sementara Lembah Manah masih bersembunyi di balik semak-semak mengawasi mereka.
Agni Ageng adalah satu-satunya perempuan dari Lima Pendekar Pedang yang berasal dari Desa Matahari di ujung barat Kerajaan Tanjung Pura. Kini kelima pendekar itu menjadi pelarian, dan juga menjadi pembunuh bayaran.
Agni Ageng membawa Pedang Api. Pedang yang membesar pada bagian ujungnya dan memiliki dua mata yang tajam, pedang ini mampu menembakkan api.
“Serahkan harta kalian!” seru Agni Ageng sembari mencabut pedang dari sarangnya.
“Tidak semudah itu!” sahut Patih Ragas.
Tampak Wanapati tengah bersiap dengan kapaknya yang telah diambil dari pinggangnya. Sementara Wulan mengambil kipas bajanya dari saku baju bagian dalam.
Agni Ageng menebaskan pedangnya yang diikuti bola api sebesar genggaman orang dewasa menuju ke arah Patih Ragas. Patih berbadan kekar itu menghindar dengan melompat ke samping kanan yang membuat tebasan Agni Ageng membakar pohon di belakang Patih Ragas.
__ADS_1
Mereka berlari dan berpindah ke area yang lebih luas untuk antisipasi kerusakan kereta kuda yang diparkir dekat perapian. Di tempat yang lebih luas, suasana terlihat redup karena jauh dari perapian. Namun, bulan bersinar terang sehingga raut wajah seseorang masih bisa dilihat dengan mata biasa.
Agni Ageng mengangkat tangan kirinya ke atas, lalu digerakkan ke depan sebagai isyarat anak buahnya untuk menyerang Patih Ragas, Wanapati dan Wulan. Pertarungan pun tak terhindarkan, dua bawahan melawan Patih Ragas, dua lagi melawan Wanapati, dan seorang terakhir melawan Wulan.
Patih Ragas menyambut dua lawannya yang datang. Patih berbadan kekar itu mencabut pedang dari sarungnya dan menahan dua serangan pedang sekaligus. Dua lawannya terhuyung ke belakang akibat hentakan pedang Patih Ragas.
Dengan cepat, Patih Ragas menebaskan pedangnya tepat mengenai dada dua lawannya. Dua bawahan Agni Ageng terlempar ke belakang dengan darah mengalir dari luka yang menganga.
Wanapati dengan mudah mengatasi dua lawannya. Pemuda itu menguasai pertarungannya dengan baik. Wanapati melempar kapaknya, lalu dengan isyarat menggunakan tangan kanannya, kapak melayang mengarah lawannya.
Dua bawahan Agni Ageng terkena tebasan kapak Wanapati pada bagian lehernya. Luka sayatan kapak membuat dua bawahan itu tak selamat, karena mungkin kehabisan darah. Dan satu lagi, Wanapati tak lagi mual melihat darah lawannya. Sepertinya pemuda itu mulai terbiasa melihat luka robek dan darah.
Dengan kibasan kipas bajanya, Wulan membuat satu lawannya terkapar karena terkena pisau pipih yang mengandung racun. Tuan putri itu semakin mahir dengan permainan kipas bajanya, diikuti gerakan yang sulit ditebak.
Tinggallah Agni Ageng seorang, gadis itu menebaskan pedangnya tiga kali yang mengarah pada tiga lawannya, diikuti bola api yang keluar dari pedang miliknya. Namun, tak ada satu serangan yang mengenai tubuh lawannya. Hanya membuat kerusakan beberapa pohon di sekitarnya.
“Baiklah! Aku tak akan menahan diri lagi!” ucap Agni Ageng.
SRET
Kecepatan pedang Agni Ageng tak bisa dilihat oleh mata biasa, Patih Ragas terkena sayatan pedang pada lengan kirinya yang membuat patih berbadan kekar itu meringis kesakitan. Agni Ageng mengisyaratkan tangan kanannya untuk mengambil pedangnya agar kembali melayang di atasnya.
Kali ini pandangan Agni Ageng tertuju pada Wanapati. Menyadari sesaat lagi mendapat serangan, Wanapati melemparkan kapaknya untuk mencegah serangan pedang milik Agni Ageng.
BUM
Kapak milik Wanapati terlempar dan menancap pada batang pohon tak jauh dari tempatnya berdiri. Sedangkan pedang milik Agni Ageng masih melayang di atas kepalanya.
Agni Ageng mengalihkan pandangan menuju Wulan, gadis itu mengisyaratkan pedangnya untuk menyerang Wulan.
Namun, belum juga pedang milik Agni Ageng menghampiri Wulan, sekelebat cahaya hitam datang dari arah samping kanan Wulan menghantam pedang milik Agni Ageng, yang membuat pedang itu berbelok arah dan hampir mengenai pemiliknya sendiri.
Pedang milik Agni Ageng menancap pada pohon di belakangnya.
__ADS_1
“Apa itu!” seru Agni Ageng membelalakkan matanya.
“Apakah kau terkejut!” sahut Lembah Manah keluar dari persembunyiannya dan perlahan menghilangkan aura tenaga dalam berwarna hitam dari tubuhnya. Perlahan Lembah Manah berdiri di samping Wulan.
“Siapa kau?” geram Agni Ageng. “Berani-beraninya mencampuri urusanku!”
“Kalaupun aku menyebutkan namaku. Emm, kau juga tak akan tahu siapa diriku!” ucap Lembah Manah memprovokasi Agni Ageng.
“Keparat!”
Agni Ageng mencabut pedang di sampingnya dan menebas dari kanan ke kiri yang diikuti bola-bola api melesat ke arah Lembah Manah. Dengan tenang, pemuda itu menangkis serangan Agni Ageng seraya mengibaskan tangan kanannya yang telah dialiri aura tenaga dalam berwarna hitam.
BUM BUM BUM
Bola-bola api terlempar mengenai pohon di sekitar Lembah Manah dan membuat pohon itu terbakar.
“Aduh panas! Panas, panas Wanapati!” umpat Lembah Manah mengibas-ngibaskan tangan kanannya.
“Dasar kau! Sok keren, tapi malah kesakitan, hahaha!” tawa Wanapati yang disambut senyuman Wulan.
“Ahh! Diam kau!” geram Lembah Manah.
Dalam kesakitannya, sebenarnya Lembah Manah telah menyerap energi alam dan memadatkannya pada kedua telapak kakinya. Tanpa diduga oleh Agni Ageng, Lembah Manah melesat cepat dengan memanfaatkan tanah sebagai pijakannya.
BUGH
Agni Ageng terkena satu pukulan telapak tangan terbuka pada bagian bahunya hingga membuat gadis itu terlempar beberapa langkah ke belakang. Namun, pukulan Lembah Manah tak dilandasi dengan tenaga dalam dan membuat Agni Ageng segera bangkit lalu kabur dari area pertarungan.
“Akan kubalas kalian!” seru Agni Ageng sembari menghilang dalam kegelapan.
“Akan kukejar!” sahut Wanapati, tetapi dihentikan oleh Lembah Manah.
“Kita belum mengenal tempat ini, sebaiknya jangan gegabah!” ucap Lembah Manah sembari memegang pundak Wanapati. “Lebih baik, kita obati luka Patih Ragas!”
__ADS_1