KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Keraton Agung Sejagat (5)


__ADS_3

“Emm, apa kalian baik-baik saja, Kenanga, Kanthil, Cempaka?” seru Lembah Manah mendapati Kenanga berjalan tertatih ke arahnya.


“Aku tidak apa-apa, terima kasih, Lembah!” sahut Kenanga memegangi perutnya. “Tapi kedua adikku sepertinya menderita luka yang cukup parah!”


Lembah Manah mengambil potongan ruas bambu dari saku bajunya bagian dalam yang berisi ramuan pemulihan tubuh untuk diberikan kepada Tiga Bunga Bersaudara.


“Lembah Manah!” seru Sekar ketika melihat pemuda yang tak asing baginya berada di dekat Kenanga. Gadis itu berjalan mendekati Lembah Manah diikuti Araka di belakangnya.


Namun, tiba-tiba Lembah Manah merasakan tenaga dalam yang sangat kuat melesat cepat ke arah mereka.


“Ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap awal! Siapa orang ini!” seru Lembah Manah mengerutkan keningnya.


Tak lama berselang, Lembah Manah merasakan satu lagi tekanan tenaga dalam yang kuat mendekat ke arah mereka. Orang yang kedua lebih kuat dari orang yang pertama dengan ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap menengah.


“Hei, hei, hei! Rupanya para cecunguk ini yang menimbulkan suara teriakan!” ucap pria bertopeng yang datang terakhir.


Satu pria bertopeng yang datang terakhir membawa senjata pedang, dan seorang wanita dengan tangan kosong berambut panjang memiliki dada sedikit lebih besar dari kebanyakan perempuan.


Mereka mengenakan pakaian serba hitam, langsung mendarat dan berdiri di depan Lembah Manah.


“Anak muda, sepertinya aku tertarik dengan ketampananmu. Ayolah ikut denganku, kita bersenang-senang!” seru wanita berdada besar dengan nada yang menggoda.


Namun itu tidak berpengaruh terhadap Lembah Manah yang kurang peka kepada perempuan. Wulan yang cantik saja hanya dibiarkan, apalagi wanita yang lebih tua darinya.


Wanita itu melompat dan memperpendek jarak dengan Lembah Manah. Memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang tampak remang oleh sinar rembulan.


“Pemuda ini bagianku!” seru wanita berdada besar itu keada rekannya.


Dengan cepat wanita berdada besar itu menyerang Lembah Manah melepaskan pukulan, bergantian tangan kanan dan kiri. Meski diserang bertubi-tubi, Lembah Manah hanya menghindari pukulan dengan melompat ke belakang untuk menjajaki jurus perempuan berdada besar itu.


“Rupanya kau sama sepertiku, petarung tangan kosong!” ucap Lembah Manah sembari menghindari serangan lawannya.


Cukup lama mereka berdua saling beradu ilmu kanuragan, dengan wanita berdada besar yang lebih agresif terus menekan Lembah Manah.


“Ayo serang aku tampan! Jangan hanya menghindar!” seru wanita berdada besar terus menyerang dengan pukulan tangan kanan dan kirinya.

__ADS_1


“Kalian ini siapa? Kenapa menyerang kami?” sahut Lembah Manah seraya menghindari serangan wanita berdada besar.


Pada satu kesempatan, satu telapak tangan mengarah ke wajah Lembah Manah. Pemuda itu menangkis dengan tangan kirinya, nahas bagi Lembah Manah, tenaga dalam wanita berdada besar itu sangat besar hingga dia terdorong beberapa langkah ke belakang dan jatuh terguling.


“Sial! Kuat sekali wanita ini. Tenaga dalamnya seakan tak pernah habis!” lirih Lembah Manah perlahan bangkit dan memasang kuda-kuda.


“Gerbang kedua, terbukalah!” seru pemuda itu yang diikuti aura tenaga dalam menyelimuti tubuhnya.


Di sisi lain Wulan tengah terpaku dengan pertarungan Lembah Manah. Tuan putri itu malah berpikir kenapa gunung kembarnya tidak sebesar milik wanita berdada besar itu.


Ahh, dasar perempuan, malah berpikir yang tidak-tidak.


Wulan bergerak ingin membantu Lembah Manah, tetapi pria bertopeng menghalaunya yang membuat gadis itu terdiam.


“Hei bukankah Anda putri dari Raja Brahma! Suatu kehormatan bisa melayani Anda!” seru pria bertopeng itu.


Wulan menggenggam kepalan tangannya, sepertinya pria bertopeng itu sangat meremehkannya. Namun, Araka memasang badan di depan Wulan hendak menghadapi pria bertopeng.


“Biarkan hamba menghadapi pria ini, Tuan Putri!” seru Araka.


Di mata pria bertopeng, Araka hanya pendekar rendahan dan juga tidak begitu cepat. Setiap serangan Araka hanya ditangkis oleh pria bertopeng dengan pedangnya.


“Kalian tidak mungkin menang melawan kami!” seru pria bertopeng dengan senyum sinisnya, karena bagian mulutnya tidak tertutup oleh topeng.


Kita tinggalkan Araka dan kembali ke pertarungan Lembah Manah. Pemuda itu melesat cepat memanfaatkan tanah sebagai pijakan ke arah wanita berdada besar dengan tubuh diselimuti aura tenaga dalam berwarna hitam.


Kecepatannya benar-benar tak bisa dilihat oleh wanita berdada besar itu. Satu pukulan telapak tangan terbuka berhasil mengenai wajah lawannya hingga terlempar beberapa langkah ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah.


Lembah Manah kembali menghilang dari hadapan wanita berdada besar itu untuk mengacaukan konsentrasinya.


“Kurang a—!”


Wanita seksi itu tak mampu melanjutkan perkataannya ketika Lembah Manah melepaskan pukulan bergantian tangan kanan dan kiri, lalu satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada wajah yang membuat wanita berdada besar itu jatuh beberapa langkah ke belakang dengan mulut yang lagi-lagi mengeluarkan darah.


“Percuma anak muda!” seru wanita berdada besar itu tertawa sinis. “Setiap serangan yang mengandung tenaga dalam, tidak akan mempan pada tubuhku, hahaha!”

__ADS_1


“Apa!”


Lembah Manah tampak terkejut mendengar ucapan wanita berdada besar itu. Bagaimana mungkin serangan yang mengandung tenaga dalam tak mempan pada tubuhnya.


Dan yang lebih membuat Lembah Manah terkejut adalah, kecepatan pukulannya telah maksimal pada Gerbang Kehidupan. Namun, tak menimbulkan efek apa pun pada lawannya. Hanya darah yang keluar dari mulut wanita berdada besar itu dan tampaknya masih baik-baik saja.


“Lembah muridku!”


Tiba-tiba terdengar suara yang tak asing bagi Lembah Manah bergema dalam relung kepalanya.


“Guru Gendon! Apa benar ini Anda Guru Gendon!” sahut Lembah Manah lirih. “Dimana Guru Gendon berada? Lembah kesulitan menghadapi wanita ini!”


“Ya, ini aku Lembah. Aku akan selalu membantumu jika kau kesulitan!” jawab Ki Gendon.


Ki Gendon menjelaskan, jika dirinya yang sekarang bukan berwujud roh. Beberapa saat setelah pertandingan kerajaan, Ki Gendon kembali ke Kitab Tanah dan menyisihkan sedikit tenaga dalam untuk berkomunikasi dengan Lembah Manah melalui alam lain. Dan bisa berkomunikasi saat Lembah Manah berada dalam situasi genting.


“Jadi begitu!” lirih Lembah Manah sembari menghindari serangan wanita berdada besar. “Lalu apa yang harus Lembah lakukan guru?”


“Kau ingat Batu Pancawarna yang kau serap?” sahut Ki Gendon tanpa menampakkan wujudnya dan hanya bergema di kepala Lembah Manah.


“Iya guru, emm, tapi aku lupa kegunaannya!” Lembah Manah membagi konsentrasinya antara berkomunikasi dengan gurunya sembari menghindari serangan wanita berdada besar.


“Bocah gendeng! Ulur waktumu dan seraplah energi alam. Lalu padatkan pada telapak tanganmu dan seranglah wanita itu!”


“Lembah tak mengerti maksud guru!”


“Tapak Iblis!”


Tiba-tiba satu serangan hampir mengenai dada Lembah Manah, jika saja pemuda itu tidak menghindar ke samping. Lembah Manah mengingat perkataan Ki Gendon dan mulai mengulur waktu untuk menyerap energi alam dengan mengajak berbicara lawannya.


“Siapa kau ini sebenarnya?” tanya Lembah Manah.


“Baiklah! Jika kau memaksa, aku akan mengaku!” jawab wanita berdada besar itu. “Kami berdua adalah anggota Keraton Agung Sejagat yang berada di bawah naungan Ki Badra!”


“Apa!” sahut Lembah Manah terkejut.

__ADS_1


__ADS_2