
Agni Ageng membawa ratusan pendekar yang memiliki ilmu kanuragan tingkat Inggil ke atas, perempuan itu berdiri paling depan menyerang bagian barat.
“Serang!” teriak Agni Ageng seraya berlari mendekati pintu gerbang istana.
Para prajurit istana tidak menduga jika musuh membawa ratusan pendekar. Meski mereka kalah jumlah, tetapi seorang pendekar aliran hitam mampu mengalahkan lebih dari lima prajurit kerajaan.
Patih Sobo Lepen bergerak ke arah pintu gerbang istana, diikuti beberapa prajurit dan para pendekar lainnya. Namun, baru saja sampai di pintu gerbang, Patih Sobo Lepen dikejutkan oleh pria berbadan kecil dengan membawa keris dalam bentuk yang lebih besar dan panjang. Siapa lagi kalau bukan Bayu Amerta dengan Pedang Bayangan.
“Hahaha! Kita akan menguasai Negeri Yava!” seru Bayu Amerta dengan membawa ratusan pendekar level Inggil ke atas. “Serang!” teriaknya.
Patih Sobo Lepen melesat ke arah Bayu Amerta, menebaskan pedangnya dengan kekuatan penuh. Bayu Amerta dengan mudah menangkis dan melayangkan satu tendangan pada perut Patih Sobo Lepen.
Patih berkumis itu terlempar beberapa langkah dan terhenti setelah tubuhnya menghantam tembok pagar istana.
Pertempuran pun tak terhindarkan—di luar tembok pagar istana, dimana tempat yang biasanya digunakan para prajurit berkumpul. Segera saja tempat luas itu menjadi medan pertempuran antara bawahan Ki Badra dan pihak yang menentang Ki Badra.
Di sisi lain, Patih Ragas menghadang pergerakan Agni Ageng bersama prajurit Indra Pura. Dengan satu kibasan, Pedang Api milik Agni Ageng melemparkan bola api ke arah Patih Ragas. Bola api sebesar genggaman tangan orang dewasa dapat ditangkis oleh Patih Ragas dengan pedangnya.
Lembah Manah membuka jalan di depan Wulan. Dengan kecepatannya, pemuda itu melumpuhkan beberapa pendekar bawahan Agni Ageng. Lalu pemuda itu berpindah ke arah selatan, untuk menghabisi beberapa pendekar bawahan Bayu Amerta.
Wulan kemudian memisahkan diri, dengan kipas bajanya, tuan putri itu juga berhasil melumpuhkan beberapa pendekar bawahan Agni Ageng dengan mengincar bagian vital lawannya.
“Oh, bukankah Anda Tuan Putri Wulan—putri dari Raja Brahma!” seru salah satu pendekar aliran hitam yang membawa senjata golok.
“Jika benar lalu kau mau apa!” gertak Wulan memasang wajah kebencian.
__ADS_1
Wulan hendak melesat ke arah pendekar pembawa golok, tetapi dua orang telah menahan pergerakan dari belakangnya. Meski kipas baja masih dalam genggamannya, tetapi tuan putri itu kesulitan bergerak untuk melawan.
Saat pendekar golok hendak menebaskan goloknya ke arah Wulan, tanpa disadari Ni Luh telah menggorok leher pendekar membawa golok itu. Lalu dengan Jurus Tarian Bunga Ilalang, gadis itu bergerak memutar cepat melumpuhkan dua pendekar yang menahan pergerakan Wulan. Dua pendekar itu tewas dengan luka tusukan pada perutnya.
“Terima kasih, Ni Luh!” ucap Wulan tersenyum.
“Sebaiknya Anda lebih berhati-hati, ini pertarungan antara hidup dan mati!” sahut Ni Luh memalingkan pandangan ke arah yang lainnya seraya memasang kuda-kuda.
Para pendekar dari seluruh perguruan berhasil mengalahkan pendekar bawahan Agni Ageng dan Bayu Amerta.
Dengan Tombak Pleret, Jayadipa mengalahkan tiga pendekar sekaligus. Permainan tombaknya semakin mahir, setelah meminta arahan dari Sesepuh Anggada yang mahir dalam senjata tombak.
Dengan teknik Wesaran, Nata menghamburkan pendekar bawahan Agni Ageng menjadi tak tentu arah, hingga membuat pendekar lainnya menjadi ciut nyali.
“Awas di belakangmu!” seru salah satu prajurit Indra Pura kepada temannya. Namun, satu tebasan pedang menewaskan temannya itu, dan dia pun menghunuskan tombaknya ke arah pendekar aliran hitam yang membunuh temannya.
Para pemimpin perguruan melindungi raja dan para petinggi kerajaan di dalam istana. Meski kadang ada pendekar aliran hitam yang berhasil mendekati istana, tetapi akhirnya mereka tewas oleh para pemimpin perguruan.
Wanapati mengendalikan kapaknya sesuai gerakan jari tangan kanannya. Dalam beberapa saat saja, pemuda itu sudah melumpuhkan tiga pendekar aliran hitam bawahan Agni Ageng.
Tak tanggung-tanggung, Wanapati membuat dua lawannya menderita dengan lengan yang terputus, bahkan satu lagi lawannya dibuat kepalanya terlepas dari tubuhnya.
Pada salah satu sudut di dekat tembok pagar istana, Roko Wulung dikeroyok tiga pendekar bawahan Bayu Amerta dengan ilmu kanuragan tingkat Inggil tahap akhir. Dua lawannya berhasil dikalahkan dengan mudah. Namun ,satu lawan yang terakhir sepertinya pantang untuk menyerah.
“Inikah cucu dari Patih Ragani yang terkenal dengan Pukulan Natas Anginnya!” seru pendekar aliran hitam itu.
__ADS_1
“Jika iya, lalu kau mau apa, ha!” sahut Roko Wulung—pendekar tangan kosong yang berbadan tinggi dan kekar.
Pendekar aliran hitam itu melesat ke arah Roko Wulung dengan satu pukulan mengarah wajah pemuda itu. Roko Wulung menghindar ke samping dan melayangkan satu pukulan ke arah perut pendekar itu. Pendekar aliran hitam itu terlempar ke belakang dan terhenti ketika tubuhnya mengenai tembok pagar istana.
Roko Wulung mengarahkan tangan kanannya ke atas, diikuti cahaya hitam terisap pada genggaman tangan kanan pemuda itu. Lalu sedikit berjongkok dan menarik tangan kanannya ke bawah. Dengan kecepatan penuh, Roko Wulung melesat ke arah pendekar bawahan Bayu Amerta.
BUGH
Satu pukulan mendarat dengan telak pada perut pendekar aliran hitam itu, hingga tembok pagar istana di belakangnya membentuk cekungan tubuh pendekar itu, akibat tekanan yang kuat dari pukulan Roko Wulung. Pendekar bawahan Bayu Amerta tewas dengan luka dalam yang parah.
“Sungguh mengerikan Pukulan Natas Angin itu!” seru Nastiti pada Sangga Buana yang tak jauh dari Roko Wulung.
“Boleh juga!” sahut Sangga Buana.
“Hoi kalian lihat apa!” bentak Roko Wulung karena dipandangi Nastiti dan Sangga Buana. “Fokuslah pada musuh kalian!”
Barani bekerja sama dengan Giandra mengalahkan sepuluh pendekar aliran hitam bawahan Agni Ageng. Dengan kecepatannya, Barani melesat diikuti Pukulan Tangan Seribu yang mengincar wajah lawannya. Sedangkan energi petir milik Giandra membuat lawannya pingsan dalam sekejap.
Di dalam istana kerajaan, para petinggi dan Raja Perwita Agung tampak ketakutan. Dalam benak mereka, kenapa semua itu bisa terjadi? Bahkan salah satu petinggi kerajaan menangis karena merasa ketakutan.
“Jangan panik, semua akan aman di tempat ini!” seru Eyang Balakosa menenangkan mereka.
Namun, seorang pendekar aliran hitam bawahan Agni Ageng berhasil memasuki istana dan mendekat ke arah para petinggi kerajaan itu. Dengan sigap Eyang Balakosa menebaskan pedangnya yang diikuti sekelebat cahaya putih melesat ke arah pendekar itu.
Pendekar itu terlempar keluar istana dengan mulut mengeluarkan darah setelah terkena serangan Eyang Balakosa pada bagian dadanya. Meski berusia tujuh puluh tahun, tetapi pemimpin Perguruan Pedang Putih itu memiliki tenaga dalam yang cukup besar.
__ADS_1
Sementara itu Tiga Bunga Bersaudara diikuti dengan Pranayuda berhasil menahan beberapa pendekar yang akan memasuki pintu istana. Ketiga gadis itu menggunakan formasi bertahan yang kuat dan serangan yang mematikan untuk melumpuhkan bawahan Agni Ageng.
Di sudut lain, Lembah Manah dikurung oleh tujuh pendekar aliran hitam. Salah satu pendekar itu menghunuskan pedangnya ke depan dan berkata, “anak muda, jika kau tidak menuruti Ki Badra, maka kau harus mati!”