KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Perang (18)


__ADS_3

Cahaya putih itu menghilang, diikuti dengan munculnya empat Kitab Pusaka melayang di depan telapak tangan Ki Badra, dengan formasi membentuk lengkungan.


Kitab Air memancarkan cahaya putih, Kitab Bunga memancarkan cahaya kuning. Lalu, Kitab Bulan memancarkan cahaya biru, dan terakhir Kitab Angin memancarkan cahaya abu-abu.


“Bukankah itu empat Kitab Pusaka!” seru Ki Rogojambang dari kejauhan melihat cahaya di telapak tangan kanan Ki Badra.


“Ini gawat!” Dari kejauhan Eyang Balakosa juga melihat empat cahaya di telapak tangan Ki Badra. “Meski hanya empat, tetapi bisa untuk memanggil satu Kitab Pusaka terakhir!”


Setelah Eyang Balakosa berkata demikian, terlihat Ki Tunggul yang tengah duduk bersila untuk memulihkan tubuhnya, tiba-tiba terseret menuju ke arah Ki Badra. Semakin mendekat ke arah Ki Badra, tubuh Ki Tunggul semakin bergerak cepat, seperti terisap oleh sesuatu.


Ki Tunggul mencoba untuk melawan, tetapi isapan itu membuatnya sulit untuk menggerakkan tubuhnya. Lalu, pemimpin Perguruan Jiwa Suci itu mengaktifkan Ajian Karang sebagai pertahanan, tetapi itu percuma saja, Empat Kitab Pusaka memiliki daya isap yang sangat kuat.


Dengan sigap, Ki Badra melepaskan pukulan telapak tangan terbuka tepat di bagian dada Ki Tunggul yang telah mendekat kepada dirinya.


Kitab Tanah terlempar keluar dari saku baju Ki Tunggul yang berada di sekitar dadanya. Kitab itu bercahaya cokelat dan melayang menjadi satu dengan empat kitab lainnya yang terlebih dahulu dijadikan satu oleh Ki Badra.


Sementara itu, Ki Tunggul terlempar beberapa langkah ke belakang dengan mulut mengeluarkan darah, sepertinya Ki Tunggul pingsan.


“Jika kitab ini bersatu, aku tidak akan terkalahkan!” teriak Ki Badra yang diakhiri dengan tawa kerasnya.


“Gawat! Jika Lima Kitab Pusaka bersatu, akan menjadi sebuah senjata yang mengundang kekacauan!” seru Eyang Balakosa sembari batuk kecil dan memegangi dadanya. “Keris Memolo!”


“Apa!” Sontak perkataan Eyang Balakosa membuat semua pendekar aliran putih membelalakkan matanya.


Mereka tak mengira jika Ki Badra menjalankan aksinya dengan sangat rapi. Keris Memolo adalah sebuah keris peninggalan seorang yang sakti mandraguna. Dialah Begawan Kaladete, seorang pertapa yang menciptakan Negeri Yava.


Dulu, ketika Begawan Kaladete menciptakan Negeri Yava, beliau hanya mengibaskan Keris Memolo sebanyak tiga kali. Lalu muncullah daratan dari dasar laut menyembul keluar dalam waktu beberapa embusan napas saja.

__ADS_1


Begawan Kaladete tidak ingin Keris Memolo jatuh ke tangan yang salah. Dan sebelum moksa, beliau memecah keris itu menjadi lima serpihan yang berubah wujud menjadi Lima Kitab Pusaka dan tersebar ke seluruh Negeri Yava.


Kali ini, lima kitab itu melayang satu depa di depan Ki Badra dan menjadi satu. Cahaya yang semula berwarna-warni, kini berubah menjadi cahaya hijau. Semakin lama, cahaya hijau itu semakin redup dan perlahan mendekat ke tangan Ki Badra.


Namun, satu jengkal sebelum cahaya hijau redup itu jatuh ke dalam genggaman Ki Badra. Tiba-tiba sekelebat bayangan merah melesat dan meraih cahaya hijau redup itu.


“Kau memang murid yang dapat diandalkan Badra, hahaha!”


Sesaat setelah bayangan merah itu menampakkan wujudnya, cahaya hijau redup yang hendak diraih Ki Badra berubah menjadi Keris Memolo dan jatuh ke tangan seorang pria yang memakai jubah berwarna hitam—dialah Eyang Angkoro Murko.


Tanpa ada yang menduga, Eyang Angkoro Murko menebaskan Keris Memolo tepat mengenai dada Ki Badra. Darah muncrat dari luka robek yang membuat Ki Badra terlempar ke belakang beberapa depa jauhnya. Tubuh Ki Badra menghantam puing reruntuhan tembok pagar istana dan tewas dengan mata terbelalak.


“Tidak mungkin, sungguh dia bukan manusia!” umpat Eyang Balakosa menanggapi perbuatan Eyang Angkoro Murko.


Lembah Manah melesat dan menghujani Eyang Angkoro Murko dengan beberapa jurusnya. Eyang Angkoro Murko hanya menghindar sembari bergerak pelan ke belakang. Bahkan, tangan kanan Eyang Angkoro Murko dilipat ke belakang seraya menggenggam Keris Memolo.


Kali ini Lembah Manah membuka Gerbang Kegelapan untuk menyerang Eyang Angkoro Murko. Pukulan kedua tangannya lebih cepat dari sebelumnya, hingga Eyang Angkoro Murko terpaksa menggunakan Keris Memolo untuk bertahan.


Satu tebasan hampir mengenai perut Lembah Manah, jika saja pemuda itu tidak menghindar melompat ke belakang. Eyang Angkoro Murko menebaskan Keris Memolo, diikuti cahaya hijau melesat cepat ke arah Lembah Manah.


Lembah Manah tidak ingin mengambil risiko, pemuda itu melompat ke samping kiri untuk menghindari serangan Keris Memolo. Lembah Manah sepenuhnya tahu bahwa, Keris Memolo memiliki kekuatan mengerikan, apalagi ditambah Eyang Angkoro Murko yang memiliki tenaga dalam sangat besar.


Sesaat setelah mendarat pada permukaan tanah, Lembah Manah melesat ke arah Eyang Angkoro Murko berniat menyerang dengan satu pukulan.


Berhasil! Satu pukulan telapak tangan terbuka mendarat pada perut Eyang Angkoro Murko dan membuatnya terhuyung ke belakang. Apa! Hanya terhuyung.


“Apakah kita hanya akan menonton!”

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Patih Ragas yang telah pulih, melesat dengan menebaskan Pedang Pethit Sawa pada perut Eyang Angkoro Murko. Luka sayatan tipis membuat Pimpinan Lowo Abang itu melihat lukanya sendiri dan hanya tersenyum tipis.


“Serangan seperti ini hanya membuatku geli!” seru Eyang Angkoro Murko menatap Patih Ragas.


Beberapa saat kemudian, muncul asap tipis pada luka sayatan di perutnya, dan setelah asap itu menghilang, luka pada perut Eyang Angkoro Murko kembali pulih.


“Apa!” Patih Ragas terkejut melihat kemampuan Eyang Angkoro Murko.


Tombak Putih yang telah kembali ke tangan Ki Jaladara, dilemparkan ke arah Eyang Angkoro Murko, berharap dapat memberi luka pada tubuh pimpinan Lowo Abang itu.


Tombak itu melesat cepat, hingga yang terlihat hanya sekelebat bayangan putih membidik jantung Eyang Angkoro Murko.


Namun, tepat satu jengkal sebelum tombak itu mengenai dadanya, Eyang Angkoro Murko menghalau dengan Keris Memolo, Tombak milik Ki Jaladara terlempar jauh dan menancap pada permukaan tanah.


“Sudah aku katakan, kalian tidak akan menang melawanku!” seru Eyang Angkoro Murko hendak menebaskan Keris Memolo.


Namun, sebongkah batu yang memanjang muncul dari dalam tanah tepat di samping kanan dan kiri Eyang Angkoro Murko. Itu adalah serangan Ki Rogojambang yang menghantam tanah di depannya, hingga muncul gelombang kejut mengarah Eyang Angkoro Murko.


Kedua tangan Eyang Angkoro Murko terkunci oleh bongkahan batu memanjang milik Ki Rogojambang. Dengan cepat, Lembah Manah melesat dan mendaratkan satu kepalan tangan kanan pada dagu Eyang Angkoro Murko.


Tubuh pimpinan Lowo Abang itu terlempar ke atas setelah Ki Rogojambang melepaskan jurusnya. Tak berhenti sampai di situ, Lembah Manah menghujani Eyang Angkoro Murko dengan berbagai pukulan, hingga membuat tubuh Eyang Angkoro Murko semakin melambung ke atas.


Lembah Manah menyambut Eyang Angkoro Murko dari atas, lalu mendaratkan satu serangan dengan siku tangan kanannya, tepat pada perut Eyang Angkoro Murko. Pemimpin Lowo Abang itu terjun bebas dari ketinggian dan mendarat kasar pada permukaan tanah.


Asap debu mengepul menyelimuti tempat di mana Eyang Angkoro Murko terjatuh. Sepertinya Pimpinan Lowo Abang itu tidak akan selamat, mengingat Lembah Manah menggunakan seluruh kemampuannya.


“Tamatlah kau, orang tua keparat!” umpat Ki Rogojambang memandangi kepulan asap tempat Eyang Angkoro Murko terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2