
“Tolong aku! Jangan!”
“Bunuh mereka!”
Teriakan demi teriakan terdengar di sebuah pelataran halaman perguruan bela diri. Denting pedang saling beradu, sayatan demi sayatan, tusukan demi tusukan, dan korban berjatuhan menjadi salah satu malam yang mencekam.
Bau amis darah menyeruak hidung, yang membuat siapa pun bergidik ngeri.
“Bunuh mereka semua, jangan sampai ada yang kabur!” teriak salah satu pendekar aliran hitam yang membuat para bawahannya semakin gencar melancarkan serangan pada pendekar aliran putih.
“Hahaha, kalian tak kan bisa lari!” seru salah satu pendekar aliran hitam lainnya yang lagi memojokkan seorang pendekar aliran putih.
“Jangan! Aku mohon ampuni nyawaku!” pinta pendekar aliran putih yang tubuhnya penuh luka sayatan pedang.
“Ha, apa! Mengampuni nyawamu!” Setelah berkata demikian, satu tebasan pedang mendarat pada leher pendekar aliran putih itu hingga membuatnya meregang nyawa.
“Habisi mereka semua!” teriak pendekar aliran hitam itu sembari mengibaskan pedangnya yang penuh darah pendekar aliran putih. “Aku akan kembali ke ketua Badraya!”
Seorang pria berpakaian serba hitam dengan gambar kalajengking merah di bagian punggungnya, melesat ke arah kawanannya, pendekar aliran hitam yang tengah mengeroyok salah satu pendekar dari Perguruan Mawar Merah dan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
“Ketua Badraya, apakah urusan kita sudah selesai!” seru pendekar aliran hitam itu.
“Sebentar lagi!” sahut pria berbadan kekar yang merupakan ketua dari Perguruan Kalajengking Merah. “Ayo bergabunglah. Bunuh keparat ini!”
Badraya bersama beberapa bawahannya masih saja menebaskan pedangnya pada salah satu pendekar dari Perguruan Mawar Merah. Ya, pendekar itu adalah Ki Mekoro—pemimpin Perguruan Mawar Merah.
“Aahhkk!” teriak Ki Mekoro menerima tebasan demi tebasan dari Badraya dan beberapa bawahannya.
Ki Mekoro jatuh berlutut dengan pedang tertancap di tanah yang menopang tubuhnya. Pria tua itu menerima banyak tebasan pedang, hingga tak mampu lagi bertahan. Satu tendangan mengarah wajah Ki Mekoro yang membuatnya jatuh tersungkur.
“Hahaha, tamatlah riwayatmu. Tua bangka keparat!” seru Badraya menginjak wajah Ki Mekoro yang jatuh telentang.
Satu tebasan merobek leher Ki Mekoro dari mata pedang Badraya, hingga membuat pria tua itu meregang nyawa di tangan pemimpin Perguruan Kalajengking Merah.
__ADS_1
Badraya mendongakkan kepalanya dan mengangkat tangan kanannya yang menggenggam pedang ke atas, seolah telah mendapatkan kemenangan.
Para pendekar bawahan Badraya diam terpaku melihat kekejaman pemimpinnya. Mereka bergeming satu sama lain dan saling tatap.
“Hidup Ketua Badraya!” seru salah satu bawahan Badraya yang diikuti oleh pendekar bawahan yang lainnya.
“Cukup!” sahut Badraya menghentikan teriakan para bawahannya. “Kuras harta mereka dan bakar tempat ini. Aku tak mau ada sisa-sisa dari Perguruan Mawar Merah!”
***
Sementara itu di dalam hutan, dua orang pemuda berlari dengan napas terengah-engah. Pemuda yang di depan tampak membawa kelinci buruannya pada tangan kanan dan kirinya. Sementara pemuda yang di belakang membawa tombak dan panah.
“Ayo kejar aku!” seru pemuda yang depan. “Kau terlalu lambat! Aku sudah tak sabar ingin menunjukkan hasil buruanku pada ayah!”
“Hoi! Tunggu!” sahut pemuda yang belakang. “Awas kau ya!”
Dengan cepat, pemuda yang berlari di depan menuju ke arah bukit kecil di depannya. Namun, tiba-tiba pemuda itu menjatuhkan kelinci buruannya. Hal itu membuat pemuda yang berlari di belakang dengan cepat menyusul pemuda yang depan.
“Ada apa Lesmana! Apa yang ter—!”
“Hah!” Pemuda yang di depan—Lesmana merengek kecil. “Hah!” teriaknya hendak berlari menuju sumber kobaran api.
Sebelum Lesmana berlari lebih jauh lagi mendekati kobaran api. Pemuda yang di belakang mencoba menghentikan Lesmana dengan menggenggam tangan pemuda itu. Dengan kemampuannya, pemuda yang belakang tahu, jika telah terjadi pembantaian di perguruannya.
“Lepaskan aku kakang Samaruti!” seru Lesmana mencoba melepaskan tangannya dari genggaman pemuda di belakangnya yang bernama Samaruti. “Aku harus melihat keadaan ayah, ibu dan saudara yang lain!”
Lesmana masih berusaha melepaskan genggaman tangan Samaruti. Dari sudut matanya tampak butiran-butiran air yang perlahan mulai menetes di pipinya.
Malam itu bulan bersinar terang, menjadikan setiap pergerakan seseorang dapat dilihat dengan mata biasa.
“Tidak! Kita tidak bisa kembali ke sana, Lesmana!” sahut Samaruti dengan genggaman yang semakin erat. “Itu terlalu berbahaya!”
Samaruti tahu, pembantaian itu hanya dilakukan oleh Perguruan Kalajengking Merah, yang mencoba menguasai Kadipaten Kabaman.
__ADS_1
Dengan bantuan dari perguruan-perguruan kecil yang lainnya, mereka terlebih dahulu menghancurkan Perguruan Mawar Merah untuk menjalankan aksinya.
Meski kedua perguruan itu sama-sama berada di Desa Tambak yang masih dalam wilayah Kadipaten Kabaman, tetapi keduanya saling bertentangan. Mengingat kedua perguruan itu berada pada jalan yang berbeda.
Pada akhirnya, Lesmana hanya pasrah terdiam di atas bukit. Samaruti tahu apa yang dirasakan tuan mudanya itu dan memegang pundak Lesmana dari belakang lalu berkata, “sebaiknya kita meminta bantuan ke Perguruan Tombak Putih!”
Samaruti memeluk Lesmana dari belakang, berusaha untuk menenangkan tuan mudanya itu seraya memandang kobaran api yang semakin membesar.
Sejak kecil Lesmana dan Samaruti selalu bersama. Meski Samaruti hanya seseorang yang melayani Lesmana, tetapi Lesmana yang seorang putra dari pemimpin Perguruan Mawar Merah telah menganggap Samaruti sebagai kakaknya sendiri.
Samaruti sendiri seorang pemuda yang kehilangan orang tuanya sejak kecil. Lalu dibawa Ki Mekoro ke Perguruan Mawar Merah untuk diasuh dan dibesarkan.
“Kalian akan merasakan akibatnya, karena telah menghancurkan perguruanku!” geram Samaruti mengeraskan rahangnya.
***
Di sebuah kedai makan yang jauh dari pusat kadipaten, beberapa warga tengah membicarakan tentang kehancuran Perguruan Mawar Merah.
“Apa kau sudah mendengar kabar tentang hancurnya Perguruan Mawar Merah?” seru salah satu warga yang mengabaikan hidangan di hadapannya.
“Ya! Aku sudah mendengarnya. Mengerikan!” sahut warga yang duduk di sampingnya sesaat setelah meneguk teh. “Bahkan, Perguruan Kalajengking Merah mengambil alih pendopo desa. Mereka membantai seluruh keluarga Eyang Kabalani!”
Setelah membakar habis Perguruan Mawar Merah, semua warga juga sudah tahu tujuan Perguruan Kalajengking merah. Ya, mereka akan menguasai Kadipaten Kabaman, lalu merambat ke Sokapura.
“Aku mendengar pemimpin Perguruan Mawar Merah tewas di tangan pemimpin Perguruan Kalajengking Merah!” ucap salah satu warga yang lainnya yang duduk melingkar dalam satu meja.
“Lalu! Siapa yang memimpin di pendopo Desa Tambak?” tanya warga lainnya lagi.
“Ya siapa lagi kalau bukan Badraya, pemimpin Perguruan Kalajengking Merah!” tutup warga itu.
Obrolan empat orang warga itu, di dengar oleh dua orang pemuda yang tengah menyantap makanannya. Mereka adalah Lesmana dan Samaruti, yang berpakaian seperti warga biasa dengan memakai caping yang sedikit menutupi wajahnya.
Kedua pemuda itu hendak meminta bantuan ke Perguruan Tombak Putih yang berada di sisi paling timur Kadipaten Kabaman.
__ADS_1
“Baguslah! Badraya berhasil membunuh Ki Mekoro dan merebut Perguruan Mawar Merah!” seru seorang pria tua tiba-tiba memasuki kedai makan itu. “Itu juga peringatan untuk para pendekar aliran putih, agar bergabung tanpa melakukan perlawanan!”