
“Semalam, ada yang ingin merebut pedang pusaka milik Patih Ragas!” Lembah Manah menjelaskan kepada Wulan sembari menunjuk ke arah bawahan Rambak Selah yang telah diikat menjadi satu pada tiang teras penginapan.
“Patih Ragas terkena satu serangan dari salah satu pemimpin Lowo Abang!” lanjut pemuda itu.
Sontak, perkataan Lembah Manah membuat Wulan kaget. Gadis itu duduk dan menyapukan pandangan ke arah bawahan Rambak Selah yang telah dilumpuhkan, dan memperhatikan luka pada tubuh Patih Ragas.
“Aku akan keluar sebentar!” ucap Lembah Manah beranjak dari duduknya. “Tolong jaga Patih Ragas!”
Lembah Manah berniat membangunkan Wanapati lalu mencari sarapan di luar penginapan. Tak lupa pemuda itu berjaga-jaga jika kemungkinan Rambak Selah akan kembali dengan membawa bala bantuan.
Namun, itu hanya kemungkinan saja, luka yang diberikan Lembah Manah kepada Rambak Selah, tidak mungkin sembuh dalam beberapa bulan saja. Dilihat dari bekas pertarungannya, bisa saja ada tulang yang patah dari tubuh Rambak Selah.
Satu serangan yang mendarat pada perut petinggi Lowo Abang itu juga tidak mungkin sembuh hanya diobati dengan ramuan biasa. Rambak Selah juga butuh pusaka siluman berkualitas tinggi, ataupun ekstrak penempaan tubuh, untuk memulihkan tulangnya yang patah.
“Lebih baik kita melanjutkan perjalanan!” seru Patih Ragas beranjak dari duduknya setelah menyelesaikan sarapan paginya.
Kembali Patih Ragas menjadi kusir kuda. Meski sesekali memegangi dada kirinya, tetapi patih berbadan kekar itu tetap berusaha mengendalikan kereta kudanya dengan pelan.
Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan. Masih melewati jalan tanah dan sedikit berbatu dengan jalan mulai menurun yang semakin curam. Patih Ragas masih tetap fokus mengendalikan kereta kudanya, sementara Wulan di dalam kereta kuda, Lembah Manah dan juga Wanapati di gerobak belakang.
Ketika matahari setinggi satu tombak, mereka bertemu pertigaan, ada papan petunjuk yang bertuliskan jika ke kiri menuju pantai selatan. Dan jika lurus akan menuju ibukota kerajaan. Tentu saja, mengambil jalan yang lurus untuk menuju kerajaan.
Setelah menempuh perjalanan tiga hari dari Pegunungan Mahendra, akhirnya mereka sampai di pintu gerbang Kerajaan Indra Pura. Mereka disambut dengan tembok beton tinggi dan panjang yang membentang dari utara ke selatan. Berbeda dengan Kerajaan Sokapura yang hanya terbuat dari dinding kayu.
Memang, dari segi kekayaan, Kerajaan Indra Pura nomor satu dari tiga kerajaan yang lainnya. Namun, dilihat dari segi kemakmuran, Kerajaan Sokapura yang paling unggul, karena tidak mengambil pajak dari rakyat mereka.
“Dari tiga kerajaan, Indra Pura memang paling kaya!” celetuk Patih Ragas dan membuka tirai kereta kuda. “Namun, kerajaan kitalah yang paling makmur! Ya kan Tuan Putri?”
Memasuki gerbang perbatasan, mereka diperiksa oleh beberapa prajurit. Mereka ditahan oleh prajurit itu, dikarenakan mereka berempat akan dijemput oleh salah satu utusan dari kerajaan.
Ibukota Kerajaan Indra Pura berada di sisi paling timur wilayah kerajaan. Jadi, setelah keluar dari Kerajaan Sokapura, rombongan Lembah Manah langsung memasuki pusat Kerajaan Indra Pura, dengan Pegunungan Mahendra sebagai pembatas wilayah.
__ADS_1
Sembari menunggu jemputan dari pihak kerajaan, mereka berempat memasuki kedai makan yang berada paling dekat dengan pintu gerbang kerajaan.
“Aku mulai bosan!” seru Lembah Manah menggaruk dagunya, ketika hendak memasuki kedai makan. “Aku ingin jalan-jalan sebentar!”
“Kau mau kemana! Hei, Lembah!” geram Wanapati hendak menyusul Lembah Manah, tetapi dicegah oleh Patih Ragas.
“Biarkan saja, Wanapati!” ucap Patih Ragas menahan Wanapati. “Kita tunggu saja di tempat ini!”
Lembah Manah berjalan-jalan di sekitar perbatasan wilayah yang ramai penduduk melakukan aktivitasnya. Melewati lorong rumah-rumah warga yang pada terasnya banyak terdapat anyaman bambu yang tengah dikeringkan.
Ya, sebagian penduduk di perbatasan wilayah ini berprofesi sebagai penjual anyaman bambu yang digunakan sebagai dinding rumah.
Pada salah satu sudut rumah pengrajin anyaman bambu, Lembah Manah melihat seorang ibu-ibu yang usianya sekitar empat puluh tahun tengah dikerumuni oleh empat orang pria berbadan kekar dan seorang wanita yang sepertinya pedagang kaya.
“Hentikan!” seru Lembah Manah ketika satu pukulan hampir mengenai wajah ibu-ibu berambut panjang itu.
“Siapa kau!” geram salah satu pria yang hampir memukul ibu itu. “Jangan mencampuri urusan kami!”
“Kurang ajar!” Salah satu pria itu melayangkan satu pukulan ke arah Lembah Manah.
Dengan mudah pemuda itu menggenggam kepalan tangan kanan pria bertubuh kekar. Lembah Manah mendaratkan satu pukulan pada perut pria itu, yang membuatnya jatuh tersungkur. Tiga pria lainnya menyerang Lembah Manah secara bersamaan.
Namun, dengan mudah Lembah Manah melumpuhkan tiga pria berbadan kekar itu. Hingga semuanya jatuh terkapar, tetapi tidak sampai menimbulkan luka yang parah, hanya sebatas memberi pelajaran saja.
“Ampun pendekar, ampuni kami!” pinta seorang wanita pedang kaya yang terlihat bos dari empat pria berbadan kekar itu.
“Emm, sebenarnya, kenapa kalian menyerang bibi ini?” ucap Lembah Manah berkacak pinggang.
“Ibu ini—!”
Wanita pedagang itu menceritakan bahwa, ibu-ibu yang mereka kejar telah banyak berhutang dan hendak kabur ketika ditagih. Alih-alih membayar, tetapi ibu itu malah kembali berhutang dengan jumlah yang lebih banyak.
__ADS_1
“Berapa yang harus dibayar bibi ini?” tanya Lembah Manah setelah mendengar cerita wanita pedagang kaya.
“Seratus keping koin emas, pendekar!” sahut wanita pedagang dengan nada ketakutan.
“Ambillah!” Lembah Manah menyerahkan sekantong keping koin emas yang mungkin jumlahnya lebih dari seratus koin emas. “Dan jangan lagi, mengganggu bibi ini!”
Lima orang itu buru-buru pergi meninggalkan ibu-ibu berambut panjang dan Lembah Manah setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
“Bibi! Aku akan mengantar bibi pulang!” ucap lembut Lembah Manah kepada ibu berambut panjang itu.
“Sebelumnya, aku mengucapkan banyak terima kasih, anak muda!” sahut ibu berambut panjang itu.
Sebuah rumah dengan beberapa atap yang bocor dan dinding anyaman bambu penuh lubang, tidak layak untuk disebut rumah. Lembah Manah jadi teringat gubuk tempat tinggalnya yang bahkan tidak lebih baik dari rumah milik ibu berambut panjang itu.
“Maafkan aku, tidak ada kursi untuk duduk!” ucap ibu berambut panjang menundukkan kepalanya.
Selang beberapa saat, beberapa anak kecil keluar dari bilik bagian dalam. Mungkin ada tujuh anak-anak dengan tubuh kurus dan perutnya yang membusung. Tangan dan kakinya seperti terbungkus kulit saja, tanpa ada dagingnya.
“Bibi, apa kau membawa makanan?” ucap seorang anak yang paling besar dengan wajah kusut penuh debu.
“Bibi, aku lapar!” Gadis kecil mendekati ibu berambut panjang itu dengan memegangi perutnya yang busung.
“Bibi, kenapa bibi tidak membawa makanan?” Berkata lagi seorang anak laki-laki yang kondisinya tak jauh berbeda dengan anak yang lainnya.
“Maafkan bibi!” Ibu berambut panjang itu menangis memeluk tiga anak kecil yang mendekatinya.
“Tunggulah sebentar!” Lembah Manah membelai rambut seorang anak kecil dan keluar dari rumah reot itu. “Kakak akan segera kembali!”
Lembah Manah beranjak keluar dengan dada yang sesak, pikirannya kalut dan kusut. Bagaimana kerajaan sebesar ini memiliki sisi kelam yang memilukan?
Banyak pejabat kaya yang ada di kerajaan, tetapi mereka tak memedulikan nasib orang pinggiran seperti anak-anak itu.
__ADS_1