
Rupanya Gajira memanfaatkan air hujan untuk membunuh Pak Jaya. Gajira memasukkan tenaga dalamnya ke air hujan di sekitar tubuhnya, hingga air hujan menjadi lebih tajam lalu menghujam seluruh tubuh Pak Jaya.
Efeknya tidak menimbulkan luka pada korban, tetapi mampu menghancurkan titik meridian seseorang. Bahkan, bisa menewaskan korban yang terkena jurus aneh itu.
“Bapak, bapak! Kembalikan bapakku!” seru Alang menangis.
Ibu Rawi dan Alang menghampiri Pak Jaya yang sudah tak bernyawa. Dipeluknya sang suami dengan erat, seakan tak rela melepas kepergiannya. Gajira dan Gemala berlalu begitu saja, pergi setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Melihat kejadian itu, salah seorang warga yang bernama Pak Damar berusaha mengikuti Gajira dan Gemala. Pak Damar mencoba mencari tahu dimana persembunyian kakak beradik itu.
Perlahan, Pak Damar mengendap-endap dari balik pohon, menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan Gajira dan Gemala. Hingga sampai di Lembah Kidang, Pak Damar kehilangan jejak mereka berdua. Ya, Gajira dan Gemala ternyata telah lenyap disekitar Lembah Kidang.
“Kemana perginya berandal itu?” lirih Pak Damar berbicara sendiri seraya menyapukan pandangannya ke sekitar Lembah Kidang. “Ahh, lebih baik aku laporkan kejadian ini!”
Pak Damar masih bingung mengapa mereka berdua dengan mudah menghilang begitu saja. Padahal tak sedetik pun pandangan Pak Damar terlepas dari Gajira dan Gemala.
Merasa kehilangan jejak, Pak Damar kembali ke desa dan melaporkan kejadian itu kepada kepala desa.
***
“Ki, Ki Daryoko. Gawat, Ki!” seru Pak Damar memasuki rumah Ki Daryoko tanpa mengetok pintu lebih dulu.
“Ada apa Pak Damar. Tenangkan dulu dirimu!” sahut Ki Daryoko.
“Begini Ki—!”
Dengan napas terengah-engah, Pak Damar menceritakan semua kejadian yang baru saja dilihatnya. Dari meninggalnya Pak Jaya, hingga menuju Lembah Kidang.
Pak Damar tidak berani bertindak sendiri, itu sama saja mengantar nyawanya jika berhadapan langsung dengan Berandal Suro Menggolo.
Menerima laporan dari Pak Damar, Ki Daryoko selaku kepala desa, mengimbau para warganya agar selalu waspada. Kepala desa itu mengutus para petinggi desa untuk berpatroli.
__ADS_1
Ki Daryoko juga mengimbau para warganya untuk menyimpan harta berharga ditempat yang cukup aman, jangan sampai kejadian seperti Pak Jaya terulang lagi.
Mengingat Berandal Suro Menggolo masih berkeliaran di desa, tepatnya masih berada disekitar Lembah Kidang. Mereka sangat berbahaya dan tak segan-segan menghabisi nyawa korbannya.
***
Selang beberapa hari, Desa Tritis aman dari perampokan, tak ada hujan yang menandakan sang Berandal Suro Menggolo beraksi. Dan tak ada pula kabar tentang keberadaan mereka.
Warga desa beraktivitas seperti biasa. Ada yang mengolah sawahnya dan ada pula yang menanam palawija di perkebunan. Suasana desa tenang seperti hari-hari biasanya.
Namun tiga hari setelah kematian Pak Jaya, hujan deras kembali melanda Desa Tritis—menandakan sebentar lagi Berandal Suro Menggolo beraksi.
Benar saja, Gajira dan Gemala menjalankan aksinya. Sasarannya adalah samping rumah Pak Jaya, rumah seorang janda tua yang tinggal sendirian. Dan mudah saja bagi mereka merampas hartanya tanpa perlawanan.
Ibu Rawi yang mengetahui kejadian itu tak bisa berbuat apa-apa. Hanya melihat dari jendela samping rumah sambil menggendong Alang dan meneteskan air mata. Yang jelas Ibu Rawi masih trauma atas apa yang terjadi pada dirinya beberapa hari yang lalu.
Gajira dan Gemala pergi begitu saja tanpa ada yang menghalangi setelah menguras habis harta nenek tua itu.
Ki Daryoko kembali mendapat laporan, jika ada warganya yang menjadi korban perampokan Berandal Suro Menggolo. Dengan mengumpulkan beberapa petinggi desa, Ki Daryoko menggelar pertemuan tertutup guna membahas masalah perampokan itu.
Kebetulan salah satu petinggi desa ada yang baru saja pulang dari desa sebelah—Desa Buntu. Beliau mendengar bahwa Perguruan Pedang Putih berhasil membasmi Kelompok Girisi yang menculik para gadis di desa.
“Apakah mereka mau!” sahut Ki Daryoko menatap para petinggi desa yang lainnya. “Desa kita jauh dari pusat kadipaten. Takutnya mereka tak mau memberi bantuan!”
“Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu, Ki!” sela petinggi desa yang lainnya lagi.
Mendengar usulan para petinggi desa, Ki Daryoko tampaknya menyetujuinya. Kepala desa itu mengirim utusan ke Desa Buntu, dengan maksud meminta bantuan Perguruan Pedang Putih untuk menghadapi Berandal Suro Menggolo.
“Ki Darmo!” seru Ki Daryoko. “Aku perintahkan kau untuk meminta bantuan ke Perguruan Pedang Putih!”
“Baik, Ki!” sahut Ki Darmo. “Saya mohon undur diri!”
__ADS_1
Segera Ki Darmo meninggalkan perkumpulan itu dan hendak menuju Perguruan Pedang Putih bersama putranya—Mara.
***
Sementara itu di Perguruan Pedang Putih, beberapa murid tengah melakukan uji tanding di depan halaman perguruan. Terlihat Araka memimpin jalannya uji tanding dengan meladeni murid bawahannya.
“Tetua Araka!” seru Ki Darmo memasuki pelataran halaman bersama putranya. “Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda!”
“Ada apa, Ki!” sahut Tetua Araka menyambut Ki Darmo. “Silakan masuk ke paseban. Saya akan memanggil pemimpin perguruan!”
Ki Darmo memasuki paseban dan menceritakan semua kejadian yang menimpa desanya. Pemimpin perguruan dan para tetua mendengar dengan saksama, mereka tak menyangka bisa luput untuk mengawasi sisi selatan, hingga terjadi perampokan di Desa Tritis.
Pemimpin Perguruan Pedang Putih meminta Araka untuk membentuk kelompok kecil dan segera menuju Desa Tritis. Araka sendiri mengusulkan beberapa nama murid yang berbakat untuk membantu mengatasi Berandal Suro Menggolo.
“Guru, izinkan saya membawa Narendra dan Pataksi!” seru Araka kepada pemimpin perguruan.
“Baiklah!” sahut pemimpin perguruan sembari mengelus jenggotnya. “Berhati-hatilah kalian!”
Mereka berlima pergi menuju Desa Tritis. Sementara Eyang Balakosa—pemimpin perguruan, tetap tinggal di pondokannya, untuk memberi arahan kepada para muridnya.
Selang satu hari bergerak, mereka berlima akhirnya sampai di Desa Tritis tanpa halangan apa pun. Rombongan Araka disambut para petinggi desa, dan dipersilakan memasuki paseban di depan halaman rumah kepala desa.
“Saya Araka!” seru Araka memperkenalkan diri. “Dan ini kedua teman saya, Narendra dan Pataksi!”
“Terima kasih, kalian telah sudi mengunjungi desa terpencil ini!” sahut Ki Daryoko.
Ki Daryoko selaku kepala desa menceritakan semua yang menimpa desanya kepada Araka dan kedua temannya. Mereka meminta Araka dan kedua temannya untuk membantu mengatasi masalah dalam waktu satu minggu.
Jika selama satu minggu tidak ada perampokan, mereka diperbolehkan untuk kembali ke Perguruan Pedang Putih.
Atas usul dari Pak Damar, pengintaian dipusatkan di Lembah Kidang, karena Pak Damarlah yang membuntuti dan melihat Berandal Suro Menggolo menghilang di tempat itu.
__ADS_1
“Kalian juga harus waspada. Berandal Suro Menggolo ini adalah dua orang pria bertubuh besar!” ucap Ki Darmo memperingatkan kelompok Araka. “Yang satu membawa golok, dan satunya lagi membawa pedang!”
Akhirnya mereka sepakat untuk membagi tiga kelompok dalam pengintaian di sekitar Lembah Kidang, tempat menghilangnya Berandal Suro Menggolo.