KESATRIA LEMBAH MANAH

KESATRIA LEMBAH MANAH
Lorong (5)


__ADS_3

Kemamang kembali memisahkan nyala api yang menyelimuti tubuhnya untuk membuat butiran-butiran api kecil dengan jumlah seribu, hingga api yang menyelimuti tubuhnya menjadi padam.


Kini tubuh Kemamang seperti tubuh manusia biasa dan tampak gosong kehitaman, dibarengi suhu alam ketiga yang perlahan menjadi sejuk.


“Kak Nawang, kenapa tiba-tiba lorong ini menjadi sejuk?” tanya Sati kebingungan.


“Kak Nawang juga tidak tahu, Sati!” sahut Nawang yang juga merasakan lorong alam ketiga menjadi lebih sejuk dari sebelumnya. “Semoga saja kak Lembah mampu mengalahkan makhluk aneh itu!”


Kembali Kemamang mengarahkan dua tangannya ke depan, diikuti seribu butiran nyala api kecil itu melesat cepat menyerang Lembah Manah.


Melihat serangan Kemamang melesat ke arahnya, Lembah Manah memutarkan Pedang Naga Maruta ke bagian depan tubuhnya, seperti membuat perisai dari pedang yang di gerakkan dengan cepat.


Dalam waktu setengah menit, butiran-butiran nyala api kecil itu terpental ke segala arah, lalu padam dan menghilang dengan sendirinya.


“Tidak mungkin!” seru Kemamang kaget.


Dengan gerakan zig-zag, pemuda itu melesat ke arah Kemamang yang tengah tertegun karena serangannya dapat dihalau dengan mudah.


BLAS!


Sekelebat bayangan hitam menghantam Kemamang dengan kecepatan penuh. Kemamang terseret ke belakang oleh dorongan bayangan hitam itu, dan terhenti setelah tubuhnya menabrak sebuah pohon. Dari mulutnya mengeluarkan seteguk darah.


“Aku mengaku kalah pendekar, mohon ampuni aku!” seru Kemamang dengan badannya bersandar pada pohon yang ditabraknya. “Akan kubiarkan kau lewat dan kuberitahu jalan keluar dari Lorong Katelu ini!”


“Injaklah batu yang berada di bawah pohon besar itu, lalu akan terbuka portal menuju lorong ke empat!” Kemamang menjelaskan bagaimana cara keluar dari lorong ketiga itu.


“Baiklah ,emm, terima kasih Kemamang!” jawab Lembah Manah singkat.


Nawang dan Sati menghampiri Lembah Manah dengan penuh senyuman. Mereka senang Lembah Manah kembali mengalahkan musuhnya.


Setelah kembali menyimpan Pedang Maruta, pemuda itu mendatangi batu yang dimaksud Kemamang, lalu menginjak dengan kaki kanannya dan terbukalah portal menuju alam ke empat tepat pada batang pohon yang besar.


Mereka pun terisap ke dalam portal pada bagian tengah pohon besar dan keluar dari Lorong Alam Katelu.


Lembah Manah, Nawang dan Sati tengah memasuki lorong alam yang ke empat, mereka berjalan beriringan dengan Lembah Manah paling depan diikuti Sati, lalu Nawang paling belakang.

__ADS_1


Pepohonan, langit, rumput dan semuanya berwarna hijau di alam yang ke empat ini.


“Lorong alam ini berwarna hijau, apakah Lampor kembali masuk ke tempat ini?” lirih Lembah Manah berbicara pada dirinya sendiri. “Emm, Nawang apa kamu tidak merasa aneh?”


“Aneh kenapa Lembah?” Nawang malah berbalik bertanya.


“Lorong alam yang ke empat ini, sama warnanya dengan lorong yang kedua saat aku menyelamatkan Sati,” ucap Lembah Manah.


“Iya benar kak, warnanya hijau seperti lorong alam yang kedua,” sahut Sati.


Hingga mereka sampai pada sebuah padang rumput, tiba-tiba Lembah Manah menghentikan langkah kakinya, diikuti Nawang dan Sati di belakangnya. Lembah Manah sedikit terkejut ketika melihat sosok katak yang menghalangi jalan dan membuka mulutnya lebar-lebar.


Katak itu sama seperti katak yang ada di alam tempat Lembah Manah tinggal. Namun, yang membuatnya terkejut adalah ukuran katak itu lima kali lebih besar.


“Ada apa Lembah? Kenapa kau berhenti?” tanya Nawang penasaran.


“Iya kak, kenapa kak Lembah berhenti?” selidik Sati juga ikut bertanya.


“Emm, itu ada katak tapi ukurannya sangat besar!”


Teriak katak itu dibarengi dengan tanah yang bergetar dan katak itu mengubah wujudnya menjadi makhluk setinggi tiga meter.


“Apa! Makhluk apa ini!” seru Lembah Manah sembari bergerak ke belakang, diikuti dua temannya.


“Aku Semoro Bumi, aku penunggu Lorong Kapat ini. Siapa pun yang berhadapan denganku pasti akan mati, hahaha!” Lagi-lagi teriakan makhluk itu di barengi dengan tanah yang bergetar.


Makhluk itu bernama Semoro Bumi, raksasa setinggi tiga meter dengan wujud manusia setengah katak. Tubuhnya berlendir, dengan sela-sela jari tangan dan kakinya berselaput, tetapi kepala dan wajahnya seperti manusia biasa.


Jika Semoro Bumi tertawa, maka tanah di sekitarnya akan bergetar seperti gempa bumi dalam jarak beberapa langkah saja.


“Ada perlu apa kau memasuki Lorong Kapat ini?” tanya Semoro Bumi.


“Anu, saya hendak menumpang lewat tuan!” sahut Lembah Manah.


“Tidak bisa, kalian harus mati!” ucap Semoro Bumi sembari mengayunkan tangan kanannya mengarah pada mereka bertiga.

__ADS_1


Untuk sementara, Lembah Manah berhasil menghindar dibarengi Nawang dan Sati.


“Nawang, Sati, kalian bersembunyilah di balik pohon itu!” pinta Lembah Manah menunjuk sebuah pohon besar di samping kirinya.


“Baik!” sahut Nawang dan Sati bersamaan.


Lembah Manah mengambil kuda-kuda bersiap untuk menghadapi serangan Semoro Bumi.


Setelah serangan awal tak berhasil, Semoro bumi mencoba serangan kedua. Makhluk itu mengayunkan tangan kirinya mencoba meraih tubuh Lembah Manah. Namun, lagi-lagi pemuda itu berhasil menghindar.


Mereka beradu pukulan hingga beberapa kali, saling jual-beli serangan hingga beberapa jurus. Kadang Lembah Manah menyerang terlebih dahulu dan kadang Semoro Bumi menyerang pemuda itu.


Pada satu kesempatan, Semoro Bumi tertawa dan diikuti dengan bergetarnya tanah yang dipijak Lembah Manah. Pemuda itu masih bisa berdiri walaupun sedikit menahan keseimbangan.


Semoro Bumi tertawa lebih keras yang membuat tanah di sekitarnya bergetar lebih hebat dari sebelumnya. Kali ini Lembah Manah terjatuh lalu di injak oleh Semoro Bumi. Pemuda itu terkunci di bawah kaki Semoro Bumi dan tak bisa bergerak.


“Tamatlah riwayatmu anak muda!” seru Semoro Bumi.


“Kak Lembah!” teriak Sati yang mencoba berlari mendekati Lembah Manah, tetapi masih bisa di tahan oleh Nawang.


“Jangan Sati, jangan, itu terlalu berbahaya!” ucap Nawang yang tengah merangkul Sati.


“Gerbang kedua, terbukalah!”


Tiba-tiba seluruh tubuh Lembah Manah diselimuti cahaya berwarna hitam. Semoro Bumi yang merasa kakinya kepanasan, sontak mengangkat kaki kanannya dan terhuyung ke belakang


Kini, tubuh Lembah Manah telah terbebas dari injakan kaki Semoro Bumi. Pemuda itu melompat dengan memanfaatkan tanah sebagai pijakan dan menghujani pukulan tepat pada perut Semoro Bumi.


Tubuh Semoro Bumi terdorong ke belakang lalu tertahan oleh pohon besar, tetapi Lembah Manah masih menghujaninya beberapa pukulan. Hingga mulut Semoro Bumi mengeluarkan darah, pemuda itu baru menghentikan pukulannya.


“Aku mengaku kalah anak muda, aku akan membiarkanmu lewat,” ucap Semoro Bumi.


“Tunjukkan padaku dimana jalan keluar dari lorong ini!” sahut Lembah Manah.


“Baiklah anak muda, tekanlah batang pohon besar itu. Nantinya akan terbuka portal menuju lorong ke lima!” ucap Semoro Bumi dengan menunjuk sebuah pohon besar yang ada di sebelah kirinya.

__ADS_1


Nawang dan Sati berjalan mendekati Lembah Manah yang tengah menuju pohon besar di samping kiri Semoro Bumi. Lalu pemuda itu menekan tepat di tengah batang pohon besar itu dan terbukalah portal pintu keluar dari Lorong Kapat yang langsung menuju lorong alam ke lima.


__ADS_2