
Varo menaruh baskom nya di atas meja dan berdiri dari duduknya,Varo pun berjalan menghampiri Sasya.
"Yaudah ayo kita ke rumah."Ajak Varo saat sudah berdiri di samping Sasya.
"Ngapain?"Tanya Sasya menatap Varo.
"Makan siang,Bunda tadi nyuruh gue buat ajak lo makan siang bareng di rumah."Jawab Varo mengacak-acak rambut Sasya.
Sasya menaruh handphonenya di atas meja lalu memeluk Varo dengan erat.
"Lo gak bakalan ninggalin gue kan Al?"Ucap Sasya.
"Gue gak bakal ninggalin lo,lo kenapa sih."Ucap Varo yang merasa aneh dengan sikap Sasya.
"Gue gak papa,yaudah ayo kita pergi ke rumah lo."Ucap Sasya melepaskan pelukannya.
Sasya mengambil handphonenya dan memasukkannya kedalam tas,Sasya berdiri dari duduknya sambil menyangklet tasnya.
Varo dan Sasya melangkah pergi dari ruangan Sasya menuju parkiran,sesampainya diparkiran Varo segera menaiki motornya,diikuti Sasya.
Varo pun segera melajukan motornya pulang.
"Berhenti Al."Ucap Sasya saat dia melihat ada orang yang menjual siomay sedang mangkal di pinggir jalan bersama dengan gerobaknya.
"Ada apa?"Tanya Varo menepikan motornya dan berhenti.
"Gue mau itu."Ucap Sasya menunjuk pedagang siomay yang ada di seberang jalan.
"Siomay?"Tanya Varo menoleh kearah Sasya,Sasya mengangguk.
"Yaudah ayo gue beliin."Ucap Varo.
Sasya pun turun dari motor,diikuti Varo.
Pandangan Sasya hanya fokus pada gerobak siomay yang ada di seberang,air liur Sasya serasa menetes melihat itu.
Sasya pun melangkah akan menyebrang tapi pergelangan tangannya ditarik Varo,Sasya pun menatap Varo.
"Lo kalau nyebrang lihat-lihat dulu dong Sya,banyak kendaraan yang lewat."Ucap Varo saat melihat Sasya akan menyebrang,tapi tidak menoleh ke kanan dan ke kiri.
Sasya pun hanya nyengir.
Varo melihat ke sekitar,saat tak ada kendaraan yang lewat Varo dan Sasya pun menyebrang dan menghampiri gerobak siomay itu.
"Pak,siomay 1."Ucap Varo pada si bapak penjual.
"Baik mas,sebentar saya buatkan."Ucap bapak penjual itu dan membuatkan Varo siomay.
Tak berselang lama siomay pun sudah jadi.
"Enggak usah pakai kantung kresek pak,gitu aja."Ucap Sasya.
Bapak penjual itu pun memberikan siomay nya yang berada didalam plastik kepada Sasya,Sasya pun menerimanya.
Varo pun membayar siomay nya.
"Ayo Sya kita pulang."Ucap Varo saat sudah selesai membayar.
__ADS_1
Varo menoleh ke sampingnya tak ada Sasya,Varo pun melihat ke bawah.
Terlihat Sasya sedang duduk di pinggir trotoar sambil memakan siomaynya.
"Ayo kita pulang."Ucap Varo sekali lagi,Sasya pun mendongakkan kepalanya.
"Bentar,gue habisin ini dulu."Ucap Sasya.
"Makan sambil jalan aja Sya."
"Enggak mau,gue maunya makan di sini!"Ucap Sasya tegas.
"Baiklah."Ucap Varo pasrah.
Sasya pun lanjut makan.
Tak berselang lama Sasya pun sudah menghabiskan siomaynya dan berdiri dari duduknya,Sasya membuang plastik bekas siomaynya di tempat sampah yang berada tak jauh darinya.
"Ayo."Ucap Sasya.
Merekapun menyebrang jalan,Varo segera menaiki motornya diikuti Sasya.
Varo pun segera melajukan motornya pulang.
Tak berselang lama kemudian
Motor Varo memasuki halaman rumah,Varo memarkirkan motornya di halaman.
Sasya pun turun dari motor,diikuti Sasya.
Merekapun melangkah masuk kedalam rumah.
"Iya Tante."Ucap Sasya tersenyum.
"Yasudah ayo sekarang kita makan siang,Ayah sudah lapar."Ucap Ayah Nando berdiri dari duduknya.
Akhirnya merekapun pergi ke ruang makan untuk makan siang.
Sementara itu
Zanna,Laila,P.Subroto dan Mama Nia juga sedang makan siang,mereka makan dengan hening.
"Kamu enggak pergi keluar gitu Na,jalan-jalan."Ucap Mama Nia saat mereka semua sudah selesai makan.
"Nanti sore aja ma,Zanna mau ajak Laila pergi ke taman."Ucap Zanna.
"Baiklah,mendingan sekarang kalian istirahat saja dulu."Ucap P.Subroto.
Zanna mengangguk dan berdiri dari duduknya.
"Tunggu Zanna,ini kan belum diberesin."Ucap Laila.
"Sudah enggak apa-apa Laila,biar Tante saja yang beresin.Kamu istirahat saja di kamar."Ucap Mama Nia.
"Tapi Tan-."
"Udah Laila gak papa,ayo kita pergi ke kamar.Zanna sama Laila pergi ke kamar dulu ya ma,pa."Ucap Zanna menarik pergelangan tangan Laila dan mengajaknya pergi dari ruang makan.
__ADS_1
Zanna pun tidur di kamarnya,sementara Laila tidur di kamar tamu yang letaknya berada tepat di sebelah kamar Zanna.
•
•
•
Setelah makan siang Varo,Sasya,Ayah Nando dan Bunda Marissa pun berkumpul di ruang tamu mengobrol santai.
"Ayah mau kalian segera menikah."Ucap Ayah Nando tiba-tiba.
Suasana yang tadinya hangat dan penuh dengan kekeluargaan tiba-tiba menjadi hening.
"Apa maksud Ayah?"Tanya Varo mengerutkan keningnya.
"Iya,Ayah mau kalian segera menikah."Jawab Ayah Nando.
"Kenapa Yah,bukannya Varo udah bilang kalau Varo akan menikahi Sasya saat Varo udah lulus kuliah?"Tanya Varo bingung.
"Karena Sasya hamil."Ucap Bunda Marissa pelan dan menatap Varo serta Sasya bergantian.
Varo dan Sasya yang mendengar perkataan Bunda Marissa pun merasa sangat terkejut.
"A-apa Bun,Sasya hamil?!"Ucap Varo terkejut.
Sementara Sasya hanya diam,bingung mau berkata apa.
"Iya Al Sasya hamil,kamu kan yang sudah menghamili Sasya."Ucap Bunda Marissa.
"2 tahun Bun,2 tahun Varo udah gak pulang.Gimana caranya Varo bisa menghamili Sasya,dan Bunda harus tahu kalau Varo gak akan ngelakuin hal itu sebelum adanya ikatan pernikahan!"Ucap Varo yang merasa sedikit marah.
"Ja-jadi bukan kamu Al pelakunya,terus siapa?"Tanya Bunda Marissa,Varo hanya menggeleng.
Varo memegang kedua bahu Sasya yang duduk di sampingnya dengan erat,Sasya hanya menunduk tak mau melihat Varo.
"Tatap mata gue dan jawab pertanyaan dari gue,lo hamil anak siapa!"Ucap Varo pelan penuh penekanan dan menatap tajam Sasya yang menundukkan kepalanya.
"Nggak ada Al,Tante Marissa pasti bohong."Ucap Sasya lirih dan dan memberanikan diri untuk menatap Varo.
"Tante enggak bohong Sya,Ayahnya Varo bahkan juga sudah tahu kalau kamu hamil."Ucap Bunda Marissa.
Varo dan Sasya pun menoleh kearah Bunda Marissa.
"Kamu ingatkan saat kamu muntah-muntah setelah makan siang disini,setelah itu kamu pingsan.Tante segera membawa kamu ke rumah sakit dengan dibantu pak Banu dan pak sopir,setelah sampai di rumah sakit dokter yang memeriksa kamu mengatakan kalau kamu sedang hamil.Dan usia kehamilan kamu sudah memasuki usia 3 bulan,kenapa dari awal Tante enggak bilang kalau kamu sedang hamil karena Tante pikir ini ulahnya Varo.Jadi Tante akan mengatakan yang sebenarnya saat Varo pulang dan sekalian menyuruh Varo untuk menikahi kamu sebelum perut kamu membesar,tapi ternyata ini semua bukan ulahnya Varo."Ucap Bunda Marissa menjelaskan sambil berlinang air mata.
Ayah Nando yang duduk di samping Bunda Marissa pun merangkul Bunda Marissa untuk menenangkannya.
Varo melepaskan tangannya dari pundak Sasya dan menatap Ayah Nando.
"Jadi ini hal penting yang ingin Ayah sampaikan pada Varo?"Tanya Varo.
Ayah Nando hanya mengangguk tanpa melihat Varo.
"Al dengerin gue,itu semua kecelakaan."Ucap Sasya menangis dan memegang lengan Varo.
Sasya sungguh tak menyangka jika dirinya sekarang sedang hamil,dan yang pasti Sasya hamil anaknya......Ikbal.
__ADS_1
"Kecelakaan atau bukan gue gak peduli."Ucap Varo tanpa menoleh kearah Sasya.
"Berarti lo gak bakalan ninggalin gue kan Al?"Tanya Sasya berharap.