
"Iya gue demam,tapi nanti pasti sembuh kalau gue udah lihat Varo."Ucap Zanna.
"Gue aja juga kangen sama Keisha,tapi gue gak selemah lo."Ucap Darren mengejek Zanna.
"Gue bukan lemah ya,gue itu perempuan yang kuat.Tapi sorry nih ya kalau udah bahas soal perasaan gue lemah."Ucap Zanna.
Darren hanya mencibir.
"Btw Keisha kenapa ya kok gak bisa dihubungi nomornya."
"Gue gak tahu,emangnya gak bisa dihubungi?"
Darren menggeleng.
Di tempat lain
Di ruangannya Sasya sedang berdiri di depan jendela ruangannya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara pintu ruangannya diketuk.
"Masuk!"Ucap Sasya dan menoleh kearah pintu.
Pintu pun terbuka,terlihat Bunda Marissa berdiri di sana.
"Tante."Ucap Sasya dan berjalan menghampiri Bunda Marissa.
"Bagaimana kabar kamu,baik-baik saja kan?"Ucap Bunda Marissa tersenyum.
"Iya Tan Sasya baik-baik aja."Ucap Sasya berusaha tersenyum.
"Yasudah ayo kita duduk,ada yang mau Tante bicarakan."Ucap Bunda Marissa.
Merekapun duduk berdampingan di sofa dan berhadapan.
"Tante mau ngomong apa?"Tanya Sasya penasaran dan menatap Bunda Marissa.
"Varo sudah kembali ke Amerika."Jawab Bunda Marissa pelan dan menatap Sasya.
Sasya hanya diam dan menunduk sedih setelah mendengar ucapan Bunda Marissa.
"Tapi kamu tenang saja,Varo enggak akan membenci kamu.Ayahnya Varo juga sudah memberi pengertian kepada Varo,mungkin kalian memang tidak berjodoh."Ucap Bunda Marissa dan memegang kedua tangan Sasya,Sasya pun menatap Bunda Marissa.
"Tante ingin tahu,kapan kamu akan menikah sama Ayah dari anak yang kamu kandung?"Tanya Bunda Marissa,Sasya hanya menggeleng.
"Kenapa,apa laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab sama kamu.Biar Tante saja yang bicara sama dia."Ucap Bunda Marissa tak terima.
"Bukan,bukan begitu Tan."
"Terus bagaimana?"Tanya Bunda Marissa.
__ADS_1
"Sasya enggak minta pertanggung jawaban sama dia."Jawab Sasya pelan.
"Apa,kenapa Sasya?"Tanya Bunda Marissa tak habis pikir.
Sasya pun mulai menceritakan kejadian di hotel malam itu,Sasya tidak menyebutkan nama Ikbal melainkan menyebut dengan nama 'laki-laki itu'.
"Terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya Sya,apalagi setelah anak ini lahir?"Tanya Bunda Marissa.
"Sasya akan pergi dari sini dan membesarkan anak Sasya sendirian,Sasya takut Tan kalau Sasya bilang sama laki-laki itu jika sekarang Sasya hamil anaknya dia gak percaya.Karena kan kondisi dia waktu itu nggak sadar sepenuhnya."
"Kamu mau pergi kemana Sya?"
"Maaf Tan,Sasya gak mau bilang soal itu."Ucap Sasya.
"Yasudah enggak apa-apa,tapi kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu hubungi Tante ya."Ucap Bunda Marissa tersenyum.
"Iya Tan."Ucap Sasya balas tersenyum.
Malam harinya sebelum makan malam
Zanna sedang duduk bersandar di ranjangnya sambil memandangi handphonenya.
"Lo ngapain sih Zanna mandangin handphone mulu?"Tanya Kevin yang sedang rebahan di sofa dan menatap Zanna.
"Gue nungguin Darren video call gue."Jawab Zanna tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone.
"Kalau gitu tadi siang ngapain dimatiin video call nya?"Tanya Kevin.
"Ya enggak apa-apa."
"Baguslah kalau lo udah tahu,yang harus lo lakuin sekarang adalah do'a in gue berjodoh sama Varo."
"Kalau lo berjodoh sama gue gimana?"Tanya Kevin usil.
"Gue gak mau kalau berjodoh sama lo."Ucap Zanna cepat dan menoleh kearah Kevin.
"Emangnya setampan apa sih Varo itu?"Ucap Kevin meremehkan.
"Tampan banget,lo aja kalah.Selain tampan dia itu baik dan juga pintar."Ucap Zanna sambil membayangkan wajah tampan Varo.
"Gue juga baik dan pin-."
"Sstt dia video call,ini sama Darren."Ucap Zanna bahagia saat mendapati Darren video call dengan 1 nomor tak dikenal.
Zanna segera mengangkat video call dari Darren dan tersenyum menatap handphonenya,Kevin yang melihat itu hanya menghela nafasnya lalu memainkan handphonenya.
"Hai Na,apa kabar?"Sapa Varo tersenyum.
"Ba-baik,kabar gue baik."Jawab Zanna yang merasa ingin sekali menangis karena akhirnya Zanna bisa melihat Varo,walaupun cuma dari handphone dan tidak langsung.
"Bohong dia Al,lihat kan kalau Zanna itu lagi ada di rumah sakit."Sahut Darren.
"Iya juga ya,lo lagi sakit Na.Sakit apa?"Tanya Varo.
"Demam,tapi sekarang gue udah sembuh kok karena lihat wajah lo."Jawab Zanna.
__ADS_1
"Bisa aja lo,berarti gue obat buat lo dong."Ucap Varo.
Zanna hanya manggut-manggut dan tersenyum.
"Kalau Varo obat berarti gue apa?"Tanya Darren.
"Lo itu orang ketiga yang nggak penting."Jawab Zanna.
Darren di seberang sana hanya diam dan terlihat kesal,sementara Varo tertawa.
"Hahaha lo itu gak berubah ya dari dulu,tetep aja ngelawak."Ucap Varo.
"Kalau lo minta gue berubah gue bakalan berubah kok,lo mau gue berubah kayak gimana.Berubah jadi princess atau berubah jadi menantu idaman Bunda lo."Ucap Zanna.
"Apa,idaman.Yang ada kutukan kali."Sahut Darren dan tertawa,sementara Varo menahan ketawanya.
"Lo kalau mau ketawa,ketawa aja Al gak usah ditahan."Ucap Zanna cemberut.
"Iya iya gue minta maaf,lagian lo juga ada-ada aja sih."Ucap Varo.
"Awas lo ya kalau gue ketemu sama lo dimasa depan."Ucap Zanna.
"Emangnya apa yang bakalan lo lakuin kalau kita ketemu?"Tanya Varo.
"Gue bakalan bawa lo ke penghulu dan mengikat lo dengan tali suci pernikahan."Jawab Zanna santai.
Lagi-lagi Darren tertawa di seberang sana,Varo hanya tertawa renyah.
Kevin yang mendengar ucapan Zanna pun mengerutkan keningnya.
Zanna kok gak pernah gitu ya sama gue,yang ada malah marah-marah mulu'Batin Kevin'
"Apa lagi ini,tali suci pernikahan ahaha.Al lo ikat itu si Zanna sama tali pinggang terus gantung dia di lemari."Ucap Darren.
"Psikopat."Umpat Zanna.
Varo hanya bisa geleng-geleng di seberang sana sambil tersenyum.
"Lo itu kocak banget sih Na,gue gak pernah ketemu sama cewek kayak lo."Ucap Varo.
"Gue itu emang langka dan berharga,jadi yang harus lo lakuin adalah menjaga dan melindungi gue dari orang-orang jahat."Ucap Zanna.
"Daripada menjaga lo mending tidur."Ucap Darren.
Zanna hanya diam dan menatap Darren datar.
Akhirnya obrolan merekapun berlanjut sampai jam 10 malam.
"*Hoammm gue ngantuk banget nih."Ucap Darren.
"Oh iya ya,di sana malam kan ya."Ucap Varo.
"Iya Al,udah jam 10 malam ini."Ucap Darren.
"Yaudah Na lo tidur aja udah malam juga,kapan-kapan kita lanjut ngobrol lagi."Ucap Varo.
__ADS_1