
"Gue minta maaf,gue bukan bermaksud nuduh lo tadi."Ucap Keisha,Zanna tersenyum masam.
"Iya gak papa kok gue ngerti,secara pacar lo itu kan tampan,tajir,baik,populer di sekolah.Jadi wajar sih kalau lo cemburu,apalagi cemburunya ke gue soalnya setiap hari kan gue ketemu dan ke kantin bareng sama Varo."Ucap Zanna tajam.
TIN
"Gue pulang dulu."Ucap Zanna dan berjalan ke arah halaman,dimana Darren sudah menunggunya dan siap untuk pulang.
"Lama banget sih,lo ngapain aja?"Tanya Darren kesal,Zanna pun naik ke motor Darren.
"Gak usah banyak tanya deh,cepet jalan."
Darren pun melajukan motornya meninggalkan rumah Keisha.
•
•
•
Varo baru saja sampai di rumahnya,Varo kehujanan sebentar.Tapi karena hujannya deras Varo pun basah kuyup.
"Aduuuhhh anak Bunda sore banget pulangnya,jadi kehujanan kan."Ucap Bunda Marissa menghampiri Varo di bagasi sambil memberikan handuk,Varo menerima handuk itu dan mengusap-usapkan ke kepalanya.
"Maaf Bun,tadi Varo pergi ke rumah temen."Ucap Varo berbohong.
"Yaudah,sekarang kamu cepet mandi nanti masuk angin."
Varo pun segera berjalan menuju kamarnya dan segera mandi.
•
•
•
Rianti masuk ke dalam rumah dengan jantung yang maraton,Rianti melihat Bima sedang mengobrol di ruang tamu bersama Riko.
Saat Bima melihat Rianti dia langsung beranjak berdiri dari duduknya,berjalan mendekati Rianti dengan tatapan tajam.
Jedaaarrrrr
Plaaaakkk
Bersamaan dengan suara petir yang bergemuruh Bima menampar pipi Rianti dengan keras,Rianti memegangi pipi kirinya yang ditampar Bima dengan air mata yang setetes demi setetes mengalir membasahi pipinya.Riko menatapnya dengan sinis.
"Sekarang apa lagi,hahh?"Tanya Rianti tak kuasa menahan tangisnya.
"Kamu tanya kenapa,temen kamu udah buat Riko babak belur seperti itu?!"Bentak Bima murka.
"Itu salah dia sendiri,dia menarik paksa aku untuk mengikuti dia dengan alasan kamu yang menyuruhnya untuk mengajak aku keluar.Lalu temanku yang melihatku menolongku karena temanku punya hati nurani dan kemanusiaan,tidak sepertimu!!!"Teriak Rianti,Bima mengepalkan kedua tangannya.
"Riko tidak bohong,aku memang menyuruhnya untuk mengajakmu keluar.Dasar tidak tahu diri kamu!!!"Teriak Bima balik.
"Tapi cara dia salah!!!"
Plaaaakkk
Sekali lagi Bima menampar Rianti,Bi Laras yang melihatnya pun langsung berjalan mendekati Rianti dan memeluknya.
__ADS_1
Sementara Riko,dia dengan jahatnya malah menonton sambil meminum teh nya.
"Dasar pembunuh!!"Ucap Bima penuh penekanan.
"Aku bukan pembunuh!!!"Teriak Rianti dan berlari menuju kamarnya.
Riko pun mengerutkan keningnya mendengar teriakan Rianti.
'Apa maksud Bima menyebut Rianti pembunuh''Batin Riko bertanya-tanya'
Bi Laras akan mengikuti Rianti tapi ditahan oleh Bima.
"Bibi kembali ke dapur dan buatkan makanan untuk saya dan calon mantu saya!"Perintah Bima.
"I-iya pak."Ucap Bi Laras akan berjalan menuju dapur,tapi ditahan oleh Riko.
"Gak udah Bi,saya mau pulang aja."Ucap Riko berdiri dari duduknya.
"Diluar masih hujan,mendingan disini dulu sambil nunggu hujannya reda."Ucap Bima.
"Enggak usah,Riko langsung pulang aja."
"Yaudah kalau gitu, hati-hati di jalan ya calon mantu."Ucap Bima tersenyum.
'Cih,aku bahkan tak sudi memanggilnya Om.Apalgi Papa mertua'Batin Riko'
"Iya,Riko pulang dulu."
Riko pun akhirnya pulang dengan memakai jas hujan.
•
•
•
Zanna dan Darren juga kehujanan di jalan.
"Darren berhenti dulu,kita neduh!!"Ucap Zanna memeluk Darren dari belakang dengan erat.
"Nanggung,bentar lagi sampek!!"Ucap Darren.
Jedaaarrrrr
"Iiihhh,gue bilang berhenti terus neduh!!"Ucap Zanna sambil mencubit pinggang Darren dan sedikit di pluntir.
"Aaauuu,iya-iya.Itu di depan ada halte,kita berhenti disitu!!"
Zanna pun melepaskan cubitannya,tak lama motor Darren berhenti di sebuah halte bus.
Saat Zanna turun dari motor ada kilat,Zanna yang takut pun memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.
Lalu berjalan menuju kursi halte.
Sreeet
Bruukkk
Zanna terjatuh karena tersandung kakinya sendiri,tentu saja jatuh.Orang mana yang berjalan dengan mata tertutup.
__ADS_1
Jedaaarrrrr
Saat Zanna akan berdiri terdengar suara petir yang begitu keras,Zanna pun menutup telinganya rapat-rapat dan tak jadi berdiri.
Sungguh,Zanna ingin menangis.Tapi malu karena ada Darren.
"Hahaha,lo datang dari abad berapa sih.Kalau jatuh tuh segera berdiri."Ucap Darren dan membantu Zanna berdiri.
"Lo itu-."
Jedaaarrrrr
Zanna yang terkejut + takut pun langsung memeluk Darren erat dan menenggelamkan wajahnya di dada Darren.
Tanpa disadarinya Zanna mulai terisak,Darren pun mengerutkan keningnya dan berusaha melepaskan pelukan Zanna.Tapi tidak bisa,karena Zanna terlalu erat memeluknya.
"Zanna,lo kenapa?"Tanya Darren bingung.
"Hiks,gue takut Ren hiks."Jawab Zanna terisak.
"Apa,takut.Takut apa?"Tanya Darren.
"Gue takut disambar petir."
"Apa,hahaha.Seorang Zanna yang pemarah,judes dan ngeselin takut disambar petir."Ucap Darren malah tertawa,Zanna yang menjadi kesal pun melepaskan pelukannya.
"Ya iyalah,kalau disambar petir mati lho."Ucap Zanna berkaca-kaca.
Darren pun menuntun Zanna untuk duduk di kursi halte,untung aja di halte cuma ada mereka berdua.
"Petir itu saudara kita lho."Ucap Darren membuka pembicaraan,Zanna pun menoleh ke arah Darren.
"Apa,saudara.Jangan aneh-aneh deh lo,mentang -mentang lo anak tunggal petir lo anggap saudara."Ucap Zanna.
"Gue gak aneh-aneh,guru SMP gue yang bilang.Kalau petir itu saudara kita."Ucap Darren menoleh ke arah Zanna,sehingga mereka saling tatap.
"Bagaimana ceritanya coba,kalau petir itu saudara kita?"Tanya Zanna meremehkan.
"Lo pernah demam kan?"Tanya Darren,Zanna mengangguk.
"Saat kita demam bukankah kita merasa bahwa tubuh kita seperti terbakar gitu,kalau di dalam tubuh kita gak ada api.Yaudah,mati deh kita."Jawab Darren menjelaskan.
"Gue gak terlalu ngerti,ada yang lain nggak?"Tanya Zanna.
"Ada,sekarang angin.Lo pernah niup sesuatu kan?"Tanya Darren,Zanna mengangguk lagi.
"Saat lo niup sesuatu,bukankah ada angin yang keluar dari mulut lo.Kalau gak ada angin yang keluar dari mulut lo,mau sekeras apapun lo niup sesuatu ya gak bakalan bisa.Hampa,kosong."Jelas Darren,Zanna manggut-manggut.
"Kok lo masih inget sih,kata-kata guru lo waktu SMP?"Tanya Zanna.
"Ingatlah,bahkan gue ingat-ingat.Karena itu nasihat dari guru gue."Jawab Darren.
"Ada nasihat yang lain nggak?"Tanya Zanna.
"Ada,tapi sekarang gue mau pulang karena hujannya udah reda."Jawab Darren berdiri dari duduknya dan berjalan menuju motornya,diikuti Zanna dengan bibir yang mencibir.
Darren pun melajukan motornya ke rumah Zanna.
Tak lama kemudian,Zanna pun sudah sampai di depan rumahnya dan turun dari motor Darren.
__ADS_1