
menjelang sore Darren dan Keisha pun pamit untuk pulang.
Zanna pergi ke kamar untuk mandi karena memang hari sudah sore,tanpa Zanna ketahui Varo pun mengikuti Zanna ke kamar mandi dengan perlahan.
Sesampainya di dalam kamar mandi saat Zanna berbalik badan dia terkejut saat melihat Varo.
"Al lo ngapain sih ngagetin aja."Ucap Zanna kesal,untung aja Zanna belum apa-apa di kamar mandi.
"Gue mau mandi."Ucap Varo santai.
"Gue dulu,lo tunggu diluar."
"Gak mau."
"Tunggu diluar Al,1 jam lagi gue udah selesai mandi."
"1 jam,lama banget.Kalau mandi berdua itu akan menghemat waktu."Ucap Varo tersenyum penuh arti.
Tanpa menunggu persetujuan dari Zanna Varo pun langsung menerkamnya,dan mereka berada di dalam kamar mandi kurang lebih selama 2 jam.
Bisa kalian tebak kan Zanna sama Varo ngapain,bisa dong.
Jam makan malam pun tiba
Zanna dengan muka kesal dan ditekuk duduk di kursi meja makan di samping Varo dan berhadapan dengan Bunda Marissa.
"Kamu kenapa Zanna,dari tadi Bunda lihatin kok kayak kesal?"Tanya Bunda Marissa.
"Varo Bun ngeselin,masak Zanna ada di dalam kamar mandi selama 2 jam."Jawab Zanna dengan muka masam.
Varo yang mendengar ucapan Zanna pun terkejut lalu menatap Ayah Nando,Ayah Nando yang kebetulan sedang menatap Varo pun tersenyum penuh arti.
"Ngapain Na?"Tanya Ayah Nando.
"Bersihin kamar mandi."Jawab Varo cepat,sebelum nanti Zanna menjawabnya dengan jujur apa yang sudah mereka lakukan di dalam kamar mandi.
Zanna yang mendengar ucapan Varo pun merasa semakin kesal.
"Yaudah-yaudah,kita makan malam sekarang."Ucap Bunda Marissa.
Akhirnya merekapun makan malam dengan hening.
Tak berselang lama merekapun sudah selesai makan dan pergi ke kamarnya masing-masing.
"Na awas ya nanti kalau lo tidur sampek nendang gue apalagi nyakar."Ucap Varo memperingatkan Zanna.
"Gak ada ya,gue kalau tidur itu anteng dan diam.Kalau posisi gue waktu tidur miring ke kanan nanti pasti bangunnya juga posisi gue masih sama."Ucap Zanna.
"Terserah elu deh,pokoknya lo jangan sampek nyakar gue atau nendang gue kalau tidur."
"Lo itu ngeselin tahu,dasar mesum."Umpat Zanna.
__ADS_1
"Apa,bilang lagi."Ucap Varo.
"Lo itu ngeselin!!!"Teriak Zanna dan melemparkan bantal kearah Varo,Varo dengan sigap langsung menangkapnya.
Varo berjalan menghampiri Zanna lalu menggelitikinya,Zanna yang merasa geli pun tertawa dan meronta-ronta.
1 Minggu kemudian
Hari ini adalah hari dimana Varo dan Zanna,Darren dan Keisha pergi ke Eropa
Mama Nia dan P.Subroto,P.Bobby dan Mama Rita,Papa Dimas dan Mama Renita,Ayah Nando dan Bunda Marissa pun mengantarkan kepergian mereka berempat sampai ke bandara.
"Kalian semua hati-hati ya di sana."Ucap Bunda Marissa.
"Iya Bun."Ucap Varo dan memeluk Bunda Marissa.
"Setelah dari Eropa Bunda ingin Zanna sudah hamil."Bisik Bunda Marissa.
"Semoga saja Bun,Bunda do'a kan saja."Ucap Varo balas berbisik.
Merekapun melepaskan pelukannya.
Akhirnya Zanna,Varo,Darren dan Keisha pun melangkah masuk ke dalam pesawat yang sebentar lagi akan berangkat.
Akhirnya para orang tua yang mengantar kepergian mereka pun pulang.
•
•
•
Pak Irfan pun menatap lekat Dani,memang benar-benar mirip dengan Ikbal.
"Ehemmm,ada apa ya pak kenapa ingin bertemu dengan saya?"Tanya Sasya tak suka pak Irfan terus menatap Dani.
"Saya mau bahas tentang anak saya Ikbal."Ucap pak Irfan ragu.
"Maaf pak saya gak bisa."
"Pembicaraan kita pasti akan sangat serius,lebih baik Dani kamu titipkan kepada salah satu karyawan dan menjaganya,saya tidak menerima penolakan."Ucap pak Irfan.
"Baiklah,tunggu sebentar."Ucap Sasya dan menitipkan Dani kepada Wanda untuk menjaganya,setelah itu Sasya pun kembali lagi ke ruangannya dan duduk di sofa di hadapan pak Irfan.
"Langsung saja,Ikbal sudah menceritakan semuanya.Kejadian di hotel beberapa tahun lalu."Ucap pak Irfan.
Sasya hanya diam dan menatap pak Irfan.
"Saya minta maaf atas apa yang sudah dilakukan Ikbal sama kamu,kamu pasti menderita akan hal itu.Saya ingin tahu,apakah Dani itu memang anaknya Ikbal?"Ucap pak Irfan.
Sasya hanya diam beberapa saat dan menatap pak Irfan.
__ADS_1
"Kalau saya bilang iya bagaimana,apakah pak Irfan akan percaya begitu saja?"Ucap Sasya yang tak ingin menyembunyikan lagi anak siapa Dani sebenarnya.
Mengingat Dani yang selalu bertanya kemana dan dimanakah keberadaan papanya itu membuat Sasya merasa sangat-sangat sedih.
"Percaya,saya percaya 100 persen.Terlepas dari Ikbal yang telah menodai kamu,melihat wajah Dani yang begitu mirip dengan Ikbal sudah membuat saya yakin kalau Dani itu adalah anaknya Ikbal.Dan lagi,saya juga tidak pernah mendengar kalau kamu sudah menikah,ataupun mengetahui dari media sosial."Ucap pak Irfan.
"Saya memang belum menikah,tapi waktu itu saya sudah berniat akan menikah dengan orang yang saya cintai.Tapi impian itu harus hilang lenyap begitu saja saat Ikbal menghancurkan semuanya."Ucap Sasya menerawang jauh ke depan.
"Maafkan Ikbal,saya janji akan membuat Ikbal bertanggung jawab dan menikahi kamu secepatnya."
"Enggak perlu,saya enggak memerlukan itu sama sekali.Hidup berdua bersama dengan Dani sudah cukup untuk saya."Ucap Sasya menolak.
"Kamu memang tidak butuh,tapi Dani butuh.Saya yakin kalau Dani pasti menanyakan dimana papanya,dan saat itu kamu pasti berbohong tentang papanya."Ucap pak Irfan.
Sasya hanya diam.
"Saya mohon,menikahlah dengan Ikbal.Ini semua juga demi Dani,kalaupun kamu enggak cinta sama Ikbal tidak masalah yang terpenting kan Dani.Tapi kamu pasti tahu kan kalau cinta itu tumbuh dengan seiring berjalannya waktu,siapa tahu lama-lama kamu dan Ikbal bisa saling mencintai."Ucap pak Irfan lagi.
Sasya hanya diam dan menatap pak Irfan.
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu ruangannya Sasya diketuk.
"Masuk!"Ucap Sasya menoleh kearah pintu.
Pintu terbuka,terlihat Wanda dan Dani berdiri di sana.
"Maaf Bu kalau saya mengganggu,ini tadi Dani merengek minta ke sini ketemu sama Bu Sasya."Ucap Wanda.
"Iya tidak apa-apa."Ucap Sasya.
Dani pun melangkah mendekati Sasya.
"Nak,kamu mau ketemu sama papa?"Ucap pak Irfan tiba-tiba dan menatap Dani.
Sasya yang mendengar ucapan pak Irfan pun terkejut dan menatapnya,Wanda yang sebenarnya penasaran tapi sepertinya tidak sopan jika menguping pembicaraan orang jadi Wanda memutuskan untuk pergi.
"Ketemu sama papa?"Tanya Dani menatap pak Irfan,pak Irfan tersenyum dan mengangguk.
"Memangnya Om ini siapa,Om kenal sama papanya Dani.Dani aja gak pernah ketemu sama papa."Ucap Dani,Sasya yang mendengar ucapan Dani lagi dan lagi merasa sedih.
"Jangan panggil Om,panggil saja kakek.Papa kamu itu adalah anak saya,bagaimana apa kamu mau ikut sama kakek menemui papa kamu?"
"Mau,Dani mau kek.Boleh kan ma?"Ucap Dani menatap Sasya,Sasya hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya merekapun pergi ke rumah pak Irfan untuk bertemu dengan Ikbal,Sasya walaupun masih merasa berat jika Dani bertemu dengan Ikbal dia mencoba untuk bersikap biasa saja dan tenang.
__ADS_1