Kisah Cinta Zanna

Kisah Cinta Zanna
Calon Imam


__ADS_3

"Ck,ngapain sih lo di sini.Pakek ngagetin segala lagi."Ucap Zanna kesal.


Darren pun tertawa dan duduk di sebelah Zanna."Ini kan tempat umum siapapun boleh datang,lagian lo bengong aja.Masih mikirin Varo sama Keisha?"Tanya Darren.


"Kepo."Jawab Zanna ketus,Darren pun hanya menghela nafas pelan.


"Yaudah kalau gitu,gue pulang aja."Ucap Darren berdiri.


"Yeee sana pulang,gue juga berani pulang sendiri."Ucap Zanna masih dengan nada ketus.


"Yaudah,gue pulang nih."


"Pulang-pulang aja sih sana,bikin orang emosi aja!"


Darren tertawa melihat Zanna emosi dan dia berjalan menuju motornya yang terparkir,dan melajukan motornya meninggalkan taman.


Zanna pun memutuskan untuk pulang juga.





Zanna sudah sampai di rumahnya dan dia langsung menuju kamarnya,Mama Nia baru saja berangkat ke tempat les-lesan karena hari ini hari Senin.


Saat Zanna akan ke kamar mandi,dia tak sengaja melihat buku diarynya tergeletak di atas meja belajarnya.


Zanna mengambilnya dan berjalan menuju ke luar gerbang.


Zanna menyobek-nyobek bukunya hingga menjadi tak karuan lalu dia lemparkan ke tong sampah yang ada di depan rumahnya.


"Gue harus bisa lupain Varo,setelah lulus sekolah gue pasti gak akan ketemu Varo lagi."Gumam Zanna.Zanna pun kembali masuk ke dalam rumah.





Varo mengantarkan Keisha sampai di depan rumahnya,sebenarnya Keisha menolak di antar sampai depan rumah tapi Varo memaksa.Keisha pun hanya mengiyakannya dengan pasrah.


"Makasih Al."Ucap Keisha saat sudah turun dari motor.


"Iya sama-sama."Jawab Varo tersenyum,yang mana itu malah menambah ketampanannya.


"Ini siapa Sha?"Tanya Mama Rita tiba-tiba yang sepertinya habis dari supermarket belanja.


"Oohh,d-dia teman aku Ma."Jawab Keisha gugup,inilah mengapa Keisha tak mau diantar Varo sampai rumah.Karena pasti setelah ini Mama Rita banyak tanya.


"Tante,saya Varo temennya Keisha."Ucap Varo turun dari motor dan menyalami Mama Rita.


"Gak masuk ke rumah dulu?"

__ADS_1


"Enggak usah Tan,makasih Varo pulang dulu.Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."Jawab Mama Rita dan Keisha serentak.


Varo pun menaiki motor sportnya,memakai helm dan segera melajukan motornya meninggalkan rumah Keisha.


"Itu tadi kelas berapa temen kamu?"Tanya Mama Rita sambil menata belanjaannya di dapur.


"Kelas 12 Ma,anak IPA juga.Emang kenapa Ma?"


"Gak papa,Mama suka aja sama dia.Udah tampan,baik sopan lagi.Kamu kalau bisa pepet terus jadi calon imam."Jawab Mama Rita.


"Mama apaan sih,nikahnya ntar-ntar aja.Keisha mau kuliah dulu terus jadi pengacara,baru setelah mapan dan sukses mikirin pendamping hidup."Ucap Keisha cemberut.


Tapi di dalam hatinya dia mengaminkan ucapan Mama Rita,dan berharap Varo memang jodohnya kelak.


"Keisha ke kamar dulu Ma."Ucap Keisha beranjak berdiri dan menuju kamarnya.





"Assalamualaikum."Ucap Varo dan masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam."Jawab serentak 2 perempuan yang ada di ruang tamu,Varo pun terkejut melihat Sasya ada di rumahnya.


"Ini temen sekolah kamu kan Al?"Tanya Bunda Marissa,Varo mengangguk.


Tiba-tiba ponsel Bunda Marissa berdering,Bunda Marissa mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas meja.


Ternyata suaminya yang telfon,Bunda Marissa segera mengangkat telfonnya.Sementara Varo masih berdiri di ambang pintu.


"Hallo Assalamualaikum Yah."Sapa Bunda Marissa saat panggilan terhubung.


".............."


"Astaga,Bunda lupa.Ini Bunda akan segera kesana sekarang."Ucap Bunda Marissa panik dan segera mematikan sambungan telfon.


"Al,Bunda harus anterin makan siang Ayah kamu.Kamu obati dulu luka Sasya ya."Ucap Bunda Marissa mengambil tupperware yang sudah siap di atas meja,dan langsung nyelonong pergi begitu saja.


Selepas kepergian Bunda Marissa Varo dan Sasya saling memandang,Varo perlahan berjalan mendekat dan duduk di samping Sasya.


Dia mulai mengobati luka di tangan Sasya dengan teliti,Sasya terus memandang wajah Varo yang begitu tampan dan dekat dengannya.


Bodoh banget gue dulu ninggalin Varo'Batin Sasya'


"Al."Panggil Sasya pelan.


"Apa?"Jawab Varo masih fokus pada luka Sasya.


"Gue minta maaf."Ucap Sasya pelan,Varo menghentikan kegiatannya dan memandang ke arah Sasya.

__ADS_1


"Gak usah dibahas,itu masa lalu."Ucap Varo beranjak dan berlalu pergi,Sasya tahu pasti Varo sudah memaafkannya karena dia bukan tipe orang pendendam.


Sasya pun pulang,tidak.Dia tidak pulang ke rumah,dia akan pergi ke rumah Rianti dulu.


Sasya pun menaiki taxi menuju ke rumah Rianti.





"Ini uangnya pak,makasih "Sasya pun turun dari taxi dan berjalan pincang menuju gerbang rumah Rianti.


"Astaga,lo habis nyungsep dimana Sya?"Tanya Rianti heboh,kebetulan dia sedang duduk santai di teras sambil memainkan hp nya.Rianti pun menghampiri Sasya.


Dia melongo melihat luka yang ada di kaki dan tangan Sasya.


"Heh,malah bengong lagi.Cepet bukain gerbangnya panas nih!"Ucap Sasya kesal karena Rianti hanya bengong saja.


Rianti pun segera membukakan gerbang untuk Sasya.


"Sini-sini gue bantu."Rianti membantu Sasya berjalan ke ruang tamu.


"Lagian lo itu ngapain sih,kok bisa luka kayak gitu?"Tanya Rianti sambil mendudukkan dirinya di sofa di hadapan Sasya.


"Gue tuh tadi saat pulang sekolah,pas gue mau nyebrang jalan ada mobil yang nyrempet gue.Ternyata itu Bundanya Varo."Jawab Sasya heboh.


"Terus-terus gimana?"Tanya Rianti antusias.


"Terus gue-sebentar.Gue angkat telfon dulu."Ucap Sasya yang merasakan hp nya bergetar di dalam saku roknya.


Rianti pun beranjak dan berjalan ke dapur untuk membuat 2 minuman dingin.


Saat dia kembali ke ruang tamu dengan membawa 2 gelas sirup dingin,dia melihat Sasya menangis tersedu-sedu.


Rianti menaruh 2 gelas yang berisi sirup ke atas meja.


"Sya,lo kenapa.Ada yang sakit,kaki lo yang sakit apa tangan lo yang sakit?"Tanya Rianti cemas dan berjongkok di hadapan Sasya.


"Orang tua gue,me-mereka kecelakaan.Dan sekarang mereka sedang berada di rumah sakit Bintang Harapan."Jawab Sasya.


"Kita ke rumah sakit sekarang."


Merekapun pergi ke rumah sakit menaiki taxi,Sasya tidak berhenti menangis sepanjang perjalanan.


30 menit kemudian


Mereka sudah sampai di rumah sakit,suara langkah kaki tergesa-gesa menggema di koridor rumah sakit.


Tepat saat mereka sudah sampai di depan ruang rawat UGD seorang dokter keluar dari ruangan itu.


"Keluarga P.Jayadi?"Tanya seorang dokter laki-laki itu.

__ADS_1


"Iya,saya putrinya.Bagaimana keadaan orang tua saya?"Tanya Sasya harap-harap cemas.


"Maaf,dengan berat hati saya mengatakan kalau kedua orang tua anda sudah meninggal."Ucap dokter itu menundukkan kepalanya.


__ADS_2