
"Iya-iya gue minta maaf,mending kita ngomongin hal yang lainnya.Btw,lo gak pengen nih ketemu sama gue sebelum gue pergi dari kota ini."Ucap Darren.
"Enggak."
"Yaelah gitu amat lo,kita semua bakal kuliah di universitas yang berbeda lho.Lo beda kota,gue beda wilayah,Keisha waktu itu pernah gue tanya dia kuliah dimana ternyata dia beda provinsi sama kita,dan Varo malah diluar negri."Ucap Darren.
"Kayaknya gue juga gak bakalan nyaman kalau 1 kampus sama Keisha,walaupun gue sama Keisha beda kelas dan jurusan yang diambil."Ucap Zanna.
"Iya iya iya,yaudah deh kalau gitu.Gue tutup dulu ya telfonnya."Ucap Daren.
Tut
Panggilan telfon pun terputus,Zanna menaruh handphone Mama Nia di atas nakas lalu mengambil bajunya yang berada di atas ranjang dan menaruhnya di kursi yang ada di kamarnya.
Malam harinya
Rianti sedang makan malam sendirian di ruang makan,sambil makan Rianti juga sambil memikirkan isi pesan surat dari Raka.
"Gue harus bisa bujuk Riko buat kerja di perusahaan papanya,kalau Riko nggak mau bakalan makan apa coba gue kalau stok makanan udah habis."Ucap Rianti setelah selesai makan.
Rianti pun pergi ke dapur untuk mencuci piringnya,setelah itu Rianti pergi ke ruang tamu dan mengunci pintu depan.
"Gue kunci nggak ya ini pintu,kalau gue kunci nanti pas Riko pulang gue gak tahu.Tapi kalau nggak gue kunci takutnya nanti ada maling atau orang jahat yang masuk ke dalam rumah,bodoh amat deh gue kunci aja ini pintu."Gumam Rianti.
Rianti pun pergi ke kamarnya setelah memastikan pintu depan sudah terkunci.
Pukul 21.00 malam
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu depan rumah Riko dan Rianti diketuk berkali-kali,perlahan Rianti membuka kedua matanya dan mendengar suara pintu diketuk.
"Aduuhh siapa sih malam-malam begini ketuk pintu,ganggu orang tidur aja."Gumam Rianti kesal.
Rianti pun menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang,Rianti pun berjalan menuju pintu depan dan membukanya.
Ceklek
__ADS_1
Terlihat 2 orang laki-laki berdiri di depan pintu dengan merangkul Riko yang sepertinya sedang mabuk.
"Ini Riko kenapa nih?"Tanya Rianti.
"Dia mabuk."Jawab laki-laki itu yang ternyata adalah Bara.
Bara dan Rian yang mengantar Riko pulang dengan petunjuk dari Riko yang sedang mabuk dan omongannya yang berantakan,setelah tersesat beberapa kali akhirnya merekapun sampai juga di rumah Riko dan Rianti.
"Iya gue tahu dia mabuk,kenapa bisa?"Tanya Rianti sedikit kesal.
"Ya karena dia minum minuman keraslah,ini kami nggak disuruh masuk apa.Berat tahu."Ucap Bara.
"Iya,silahkan masuk."Ucap Rianti membuka lebar-lebar pintunya.
Bara dan Rian pun masuk ke dalam dan membaringkan Riko di sofa ruang tamu.
"Tadi Riko bilang ke kami,kalau tadi pagi Riko pergi ke rumah papanya dan ingin tinggal di sana lagi.Tapi papanya Riko gak izinin Riko tinggal lagi di rumahnya,sebelum Riko mau membantu mengelola perusahaan papanya dengan baik.Akhirnya Riko pergi dari rumah papanya dengan marah dan pergi menemui kami,setelah itu Riko ngajak kami ke bar dan dia minum banyak sekali.Kami cuma minum sedikit."Ucap Bara menatap Rianti dan menjelaskan kenapa Riko bisa mabuk kayak gini.
"Kalian teman baiknya Riko kan?"Tanya Rianti.
Bara dan Rian mengangguk.
"Kalau gitu boleh dong gue minta tolong."Ucap Rianti.
"Kalian bujuk Riko supaya mau bekerja di perusahaan papanya ya."Ucap Rianti.
"Maaf,kalau soal itu kami gak bisa bantuin."Ucap Bara.
"Kenapa,itu kan juga demi kebaikan Riko sendiri?"Tanya Rianti mengerutkan keningnya menatap Bara.
"Karena kami semua tahu kalau Riko nggak mau kerja di perusahaan papanya,papa Riko udah kaya ngapain Riko susah-susah kerja.Dan kami gak akan memaksa atau membujuk Riko untuk melakukan hal yang enggak dia sukai."Jawab Bara.
"Tapi kan yang kaya papanya Riko,bukan Riko.Lagian nih ya,kalau papanya Riko udah tua siapa yang bakal nerusin perusahaan kalau bukan Riko.Kalau Riko nggak mau belajar dan bekerja di perusahaan papanya mulai dari sekarang,terus gimana nasib perusahaan papanya Riko kalau papanya Riko udah tua dan gak bisa ngapa-ngapain atau saat sudah meninggal."Ucap Rianti tak terima.
"Ya tapi-."
"Aahhh udah deh,kalian gak bakalan ngerti apa yang gue maksud.Mending sekarang kalian pergi."Ucap Rianti memotong ucapan Bara.
"Iya,kami pergi.Gak usah marah-marah gitu dong."Ucap Bara dan melangkah pergi dari sana diikuti Rian.
Braaakk
__ADS_1
Rianti pun menutup pintu dengan sedikit kesal.
"Cantik juga ya istrinya Riko,gue sampai gak bisa berkata banyak tadi."Ucap Rian.
"Enggak tuh,biasa aja."Ucap Bara dan melangkah pergi dari sana menuju motornya yang terparkir di halaman,diikuti Rian.
Iya,istrinya Riko cantik,galak dan tegas.Hemmm gue suka itu'Batin Bara'
Di dalam rumah
"Ngeselin banget itu temennya Riko,gue emang harus berusaha sendiri ya buat bujuk Riko."Ucap Rianti sambil menoleh ke arah Riko.
Rianti berjalan menuju kamar Riko dan mengambil selimut,Rianti berjalan kembali menghampiri Riko dan menyelimutinya.
Rianti memandangi sejenak wajah Riko yang sudah tertidur,Rianti berjalan menuju kamarnya dan pergi tidur.
Keesokan harinya
Rianti menghampiri Riko yang masih tidur di sofa dan membangunkannya.
"Riko,Riko bangun."Ucap Rianti sambil mengguncang bahu Riko pelan.
Tapi tak aja jawaban,jangankan jawaban,pergerakan aja gak ada.
"Riko bangun,udah pagi!!!"Teriak Rianti di telinga Riko.
Riko terkejut dan langsung beranjak duduk,Riko menatap Rianti yang sedang berdiri di sampingnya.
"Lo apa-apaan sih,pagi-pagi teriak?!"Ucap Riko kesal dan mengacak-acak rambutnya kesal.
"Lo yang apa-apaan,udah pagi masih aja tidur.Kerja sana."Ucap Rianti.
"Daripada lo nyuruh gue kerja,mending lo aja yang kerja.Gue mau lanjut tidur."Ucap Riko berdiri dari duduknya dan berjalan pergi menuju kamarnya,tak lupa Riko juga membawa selimutnya.
"Riko awas lo ya kalau gue udah kerja,gak bakalan gue bagi-bagi duit gue!!"Teriak Rianti kesal.
"Terserah,gue gak peduli!!!"Balas Riko.
Rianti pun hanya mendengus kesal.
Beberapa minggu kemudian
__ADS_1
Setelah sarapan Zanna pun bersiap-siap untuk pergi ke kota sebelah,Zanna sedang berada di dalam kamarnya memasukkan baju-bajunya ke dalam koper.
"Oh iya baju gue."Gumam Zanna dan menoleh ke arah kursi yang ada di dalam kamarnya,dimana baju yang dia pakai ke restoran waktu itu Zanna taruh di sana.