
“Apa keputusan anda ini tidak bisa dipertimbangkan lagi? Di sini istri saya tidak bersalah, dia hanya berusaha melindungi diri tapi kenapa malah berujung pemecatan seperti ini!”
“Tidak bisa, Pak. Ini bukan menyangkut siapa yang benar dan salah, melainkan seorang dokter harus bisa bersikap profesional dan bertanggung jawab pada lingkungannya, seorang dokter harus bisa mengendalikan diri agar tidak melakukan kesalahan profesi mengingat ini masih di lingkungan rumah sakit dan dr Aileen melanggar, itu sama sekali tidak dibenarkan.” ujar Pimpinan Rumah sakit yang masih tetap pada pendiriannya.
Setelah Vir memutuskan untuk menemui Pimpinan agar mau mempertimbangkan keputusannya namun yang Vir inginkan tak sesuai, pembahasan itu tak memilik titi temu. Kesabaran Vir mulai hilang, sedari tadi ia mencoba membujuk, namun keputusan pria paruh baya itu tetap sama.
Vir mneghela napas, Ia mengeratkan rahangnya membuat gigi pria itu saling bergesekan tanda menahan amarah. Ia bukanlah pria bodoh yang tak bisa menahan diri dengan langsung menghajar Pimpinan itu, dia masih punya etika apalgi ini menyangkut hukum.
“Anda tenang saja, sanksi yang kami berikan hanya bersipat pemecat sementara, hanya berupa peringatan. Yang bersangkutan masih bisa menjalani profesinya setelah melakukan pembinaan” Pimpinan yang sepertinya mulai jengah itu terlihat mengeluarkan sebuah buku tebal, ia menyerahkan ke hadapan Vir agar dibaca olehnya.
Vir yang mengerti maksud Pria dihadapannya segera meraih buku tersebut. Ia lalu mulai membaca halamannya satu persatu, Vir hanya membaca tiap sub judul yang tertera di setiap lembar.
Pria tampan itu mengusap wajahnya secara kasar saat membaca sebuah judul yang bertuliskan "Tanggung Jawab Dalam Lingkungan Profesi Kesehatan" Ia baru menyadari jika buku yang diberikan itu berisi kode etik Kedokteran. Ditutupnya buku itu kemudian ia meletakkannya di atas meja.
“Apa anda sudah mengerti?” Pria paruh baya itu menatap lekat. Vir hanya mengangguk, memangnya apa yang bisa ia katakan setelah membaca isi buku tadi. Jika dia mengamuk di sini itu sama saja bertingkah konyol, bertingkah seperti itu sama sekali tak menyelesaikan masalah.
Vir memang sudah banyak berubah. Semenjak memutuskan menjalin hubungan yang serius dengan Aileen, pria itu lebih sering mengenyampingkan egonya dengan selalu berusaha berpikir rasional sebelum bertindak. Dengan Aileen ia mampu mengubah pola pikir dan hidupnya menjadi lebih baik, tidak gegabah dalam bertindak sebelum mengetahui suata permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.
Ada rasa penyesalan dalam diri saat tak mampu mempertahankan agar strinya bisa terbebas dari sanksi.
“Sebelumnya saya minta maaf atas keputusan ini, tapi ini hanya bersifat sementara. Pihak rumah sakit sangat menyayangkan hal yang terjadi. Apalagai dr Aileen merupakan salah satu dokter terbaik di sini. Kinerjanya sangat luar biasa, dia memiliki pengaruh yang luar biasa juga..”
Vir hanya menghela napas mendegar itu, Ia tak mampu lagi berkata-kata. Niat hati ingin membuat keputusan itu tidak diperlakukan pada istrinya namun ia justru dibuat kehabisan kata-kata. Ia tak mampu memperjuangkan hak istrinya, mengingat ini sudah keputusan Final yang tak bisa diganggu gugat.
“Saya mohon maaf atas apa yang terjadi!” Vir mengulurkan tangannya saling berjabat dengan Bapak Pimpinan. Pria paruh baya itu tersenyum ramah. Ia cukup tahu alasan permasalahan rumit yang terjadi hari ini.
...___...
Vir ke luar dari ruangan pimpinan, Ia berjalan dengan lesu di sepanjang koridor. Ingin menyalahkan Pimpinan tadi merupakan suatu hal yang konyol, sebab Ia pun hanya menjalankan ketentuan yang berlaku. Yang patutnya disalahkan dalam hal ini adalah si pembuat onar. Ya, yang harusnya disalahkan adalah Fia, dia yang menyebabkan semuanya kacau balau bahkan sampai melukai Aileen hingga berujung mendapatkan sanksi.
Langkah Vir terhenti, dengan tatapan yang dipenuhi kilatan amarah Ia menatap nanar ke sepanjang koridor. Napasnya yang berhembus naik turun menandakan ia benar-benar marah.
Kaki panjang itu kembali meneruskan langkahnya, pria dengan tinggi 180 cm itu melangkah begitu cepat hingga membuatnya sampai dengan cepat di meja resepsionis.
“Dimana ruangan pasien yang bernama Fia?” tanyanya dengan wajah datar
“Wanita yang bertengkar dengan dokter Aileen tadi ya, Pak?” Resepsionis yang cukup tahu siapa Vir, mencoba untuk sekedar berbasa-basi.
Vir yang mendengar itu merasa tidak suka.
Bruakk... Ia menggebrak sekat pembatas yang berbentuk meja namun dengan versi yang lebih tinggi. Vir tidak terima istrinya dibicarakan.
“Cepat katakan! Jangan berbasa-basi denganku!” bentaknya, yang mana membuat resepsionis itu gelagapan dan langsung memberi tahu dimana ruangan Fia.
Setelah diberi tahu, Vir langsung menuju ruangan yang dimaksud. Tidak ada yang tahu apa yang ingin dilakukannya, namun dilihat dari tatapan yang menghujam. Ia seperti ingin membantai mantan kekasihnya itu.
Kobaran amarah seolah siap terlampiaskan. Ia mengepalkan tangannya di sepanjang perjalanan. Sorot mata dingin itu bak dikuasai suatau kekuatan besar yang mengobarkan amarah menggebu.
Raga yang dipenuhi amarah itu semakin geram tatkala melalui beberapa orang yang terdengar sedang menggunjingkan masalah yang terjadi hari ini.
“Kasihan sekali ya dokter itu, Aku dengar dia dipecat!” kata seorang wanita yang sepertinya seorang keluarga pasien
“Benar, dia hanya melakukan pembelaan tapi kenapa dipecat!” timpal yan satunya
__ADS_1
“Itu semua karena wanita gila itu! Aku dengar dia hanya mantan kekasih dari suami bu dokter. Sepertinya dia masih belum merelakan mantannya, ck!”
“Cih, wanita mengenaskan!”
“Sangat mengenaskan! Pasti tidak lama lagi dia akan jadi penghuni Rumah sakit jiwa!”
“Hahaha dia akan jadi ODGJ sungguhan” mereka terkekeh sambil saling menimpali
Vir menghentikan langkahnya. Meskipun bukan kalimat menjelekkan namun telinganya tetap saja panas, Ia tidak terima istrinya jadi perbincangan khalayak ramai.
“Berhentilah membicarakan hal itu, jika tidak ingin kalian juga ku masukkan ke Rumah sakit Jiwa!” ucap Vir dengan tatapan menghunus.
Para ibu-ibu itu saling tatap, mereka bergidik ngeri dengan ucapan pria yang tidak dikenalnya itu.
“Cih, siapa dia? seenaknya saja melarang kita berbicara. Memangnya dia siapanya dokter cantik itu..!” Ibu-ibu dengan keahlian nyinyir itu mencebikkan bibirnya khas emak-emak julid penghuni kompleks.
“Untung saja dia tampan.!” Mereka kembali saling menimpali ketika Vir sudah mulai menjauh. Beralih menggunjing orang yang lewat adalah keahlian para ibu-ibu dengan level julid diatas rata-rata.
“Yaa untung saja dia tampan jadi kita tidak perlu melawannya!”
Mereka tidak menghiraukan ucapan Vir, Ibu-ibu itu kembali bercerita panjang lebar. Mereka seakan menganut prinsip “Teruslah berghibah hingga dunia berhenti berputar!” Mulutnya terus komat kamit, seperti tak ingin melewatkan setiap moment, Ia akan terus berghibah disetiap Kesempatan dan waktu luang.
..._____...
Wanita yang tengah beristirahat di ranjang rumah sakit itu langsung menoleh saat mendengar pintu ruangannya terbuka.
Wanita dengan goresan yang tak kalah banyak di wajahnya itu nampak tersenyum saat melihat siapa yang datang.
“Vir..” katanya dengan senyum mengembang
Fia dengan tidak tahu malunya malah merentangkan tangannya. Memangnya apa yang dipikirkan oleh wanita itu? Apa dia mengira Vir akan memeluknya dan memberikan belaian setalah apa yang ia lakukan pada istrinya.
“Aku tahu kau masih memperdulikan ku...Ahkkkk!” Fia memekik hebat saat Vir menepis kasar tangannya. Membuat tangan yang dipasangi jarum infus itu mengeluarkan darah.
“A-apa yang kau lakukan Vir? Uhhh lepaskan, ini menyakitkan!” jerit Fia saat Vir mencengkram dagunya secara kasar.
Vir tak menghiraukan seruan Fia, dengan gigi yang digesekkan erat ia makin mempererat cengkeramannya hinga membuat wanita itu mendongak menahan sakit.
“Dengar!!! Selama ini aku tidak pernah kasar kepada mu karena masih menghargai mu. Tapi hari ini, hal itu tidak akan terjadi setelah apa yang kau lakukan pada istriku. Kau melukainya dan aku tidak terima itu” ucap Vir yang memang tak terima melihat luka istrinya lebih banyak daripada Fia.
“Ahhkk, ta-tapi dia juga melukaiku. Lihatlah!” Fia yang kesulitan berbicara mengisyaratkan agar Vir juga melihat lukanya.
“Kau pantas dilukai karena berani mengusiknya!! Lagi pula lukanya lebih parah daripada dirimu, Aku tidak menyangka kau tega berbuat seperti ini, Aku tidak terima kau melukainya, Plaaak!” Vir menghempaskan wajah wanita itu secara kasar dan menamparnya kemudian tanpa belas kasihan..
“Kenapa kau selalu membelanya?” teriak Fia yang merasa geram, Ia memegangi pipinya.
“Dia istriku!!” teriak Vir tak kalah geramnya “Kau melukainya sekaligus membuatnya di pecat!”
Fia terkekeh saat mendengar Aileen dipecat karena ulahnya, Ia begitu senang mendengarnya “Itu yang aku inginkan! Aku ingin dia kehilangan semuanya seperti dia merebutmu dariku!” teriak Fia mulai tak terkendali
“Dasar wanita gila! tak berhati!” Vir tak menyangka jika Fia akan berbuat begini, Ini bukan Fia yang dulu dikenalnya.
“Iya, aku memang gila! Aku gila karena kau mencampakkan ku. Kembalilah padaku, maka aku akan sembuh, aku tidak akan gila lagi.. Hikksss” Fia mulai terisak.
__ADS_1
“Omong kosong!!! Jangan harap itu terjadi, mulai hari ini aku membencimu atas apa yang terjadi pada istriku dan kau harus bertanggung jawab untuk hal itu!”
“Arrrrrrghhh...!” Fia yang tak terima mendengar Vir terus-terusan menyebut nama Aileen segera mencabut jarum infusnya hingga mengeluarkan banyak tetesan darah. Ia beranjak kemudian meraih tiang infus itu lalu menodongkannya ke arah Vir.
Vir yang melihat itu membulatkan mata tak percaya atas apa yang Fia lakukan. Wanita itu semmakin mendekat dengan menghibaskan tiang infus yang cukup berat. Seakan tak merasakan sakit pada tangannya yang berdarah, sekuat tenaga Fia terus mengarahkan tiang infus itu pada Vir.
Vir berjalan mundur, ia tak menyangka Fia akan berbuat segila ini. “Apa yang kau lakukan? Apa kau benar-benar gila, hah?” ucap Vir sambil menahan tiang infus yang mulai melayang ke arahnya.
“Hahaha iya, aku memang gila! Aku gila karena mu, maka dari itu mari menggila bersamaku! Aku tak bisa memilikimu, maka wanita itu juga tidak boleh memilikimu!” Mata Fia memerah dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Vir yang juga sudah hilang kembali menarik tiang infus itu lalu mendorongnya ke arah Fia. Tenaga yang dimiliki Fia tak seberapa, tentu ia akan kalah menghadapi tenaga dalam dari seorang Virendra.
Fia tesunkur, ia jatuh pada ujung meja nakas. Tangannya terarah memegangi keningnya yang terasa perih. Wanita itu memekik hebat saat melihat tangannya dipenuhi cairan merah dari keningnya.
Bukannya merasa iba, Vir malah tersenyum puas saat melihat Fia terluka. Jiwa iblis pada pria itu membuatnya kehilangan rasa kemanusiaannya. Ia merasa puas karena Fia mendapatkan luka yang sama persis seperti istrinya.
“Lihatlah, Tuhan memberikan mu karma secara tunai tanpa dicicil!” Vir hanya tertawa tanpa berniat membantu.
“Kau jahat Vir, kau tega padaku!!”
“Aku memang jahat, aku puas melihat mu memiliki luka yang sama seperti luka yang kau berikan pada istriku!”
“Arghhht! berhenti menyebutnya, Aku tidak suka!” teriak Fia sambil terus memegangi keningnya.
“Astaga, nona!” seorang suster yang kebetulan lewat dan mendegar suara teriakan Fia langsung masuk mengecek keadaan pasien. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Fia duduk bersimpuh dengan luka di keningnya. Ditambah lagi, ruangan itu kelihatan kacau berantakan.
“Tuan, apa yang anda lakukan!” Suster itu membawa Fia ke ranjang lalu memasangkannya infus.
“Saya tidak melakukan apa-apa, dia sendiri yang berbuat ulah!” ketus Vir
Tidak lama setelah bitu dokter pun datang memberi penanganan.
“Tuan, saya mohon tolong jangan membuat kegaduhan! Pasien terkena gejala gangguan mental. Penderita memang akan cenderung mengalami gangguan pada emosi, pola pikir dan perilakunya. Jadi saya harap anda tidak memperkeruh suasana!” Jelas dokter yang mengira Vir adalah keluarga pasien.
Vir sedikit tercengang mendengar penjelasan dokter tersebut, namun ia sama sekali tak perduli. Dia sudah hilang respect pada Fia.
“Saya sama sekali tidak perduli, kalau begitu bawa saja dia ke Rumah Sakit Jiwa. itu akan jauh lebih baik!”
Dokter spesialis kedokteran jiwa (Psikiater) itu tercengang dengan jawaban menohok yang Vir berikan.
“Pasien masih bisa ditangani dengan psikoterapi tanpa harus dirujuk ke Rumah sakit Jiwa” Mendengarnya Vir terlihat tak peduli.
“Bukankah anda ini keluarga pasien, seharusnya anda bi...”
“Saya bukan keluarganya!” Vir yang tahu maksud dokter itu segera menyela ucapannya dan berlalu pergi.
“Kalau bukan, apa anda bisa menghubungi keluarganya untuk datang kemari?”
“Tidak bisa!” ucap Vir acuh tanpa menoleh membuat dokter itu menggeleng dengan jawaban yang ia berikan.
...❤️❤️❤️❤️...
**Happy Reading!!
__ADS_1
Jangan lupa komen dan Likenya..
Btww maaf ya kalo garing, otakku mumet soalnya 🙃**