Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 144


__ADS_3

Jemari Aileen yang tergerak menyapukan lipstik ke bibirnya perlahan melambat saat pandangannya tertuju pada sosok dari pantulan cermin yang menampakkan Virendra tengah termenung di kursi rodanya. Wajah lelaki itu terlihat ditumpuki kesedihan dan beban yang dalam.


Aileen tahu, dia pasti sedang merasa sangat tidak berdaya. Virendra begitu merindukan Aileen, tapi keadaan membuatnya tak bisa melakukan apa-apa untuk menyentuh sang istri dan melepaskan kerinduannya. Sebenarnya bisa saja jika semua lebih didominasi oleh Aileen, hanya saja wanita hamil itu pun sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa, mengingat kondisinya yang tengah hamil tua.


“Kondisimu tidak memungkinkan Vir, kalau terlalu banyak gerak nanti bisa berefek pada otot dan saraf belakang yang masih dalam masa pemulihan, itu bisa menghambat proses penyembuhan. Kita tunggu sampai benar-benar pulih, ya!” Begitu kata Aileen tadi saat mencoba memberikan pengertian. Sungguh ia pun sama merindunya, hanya saja kondisi dan keadaan sangat tidak mendukung.


Bahkan saat mengatakan hal itu tadi Aileen sempat menitihkan air mata saat Virendra terlihat bersedih. Sangat jelas di wajah pria itu jika dia merasa sangat tidak berguna. Aileen sadar tidak seharusnya ia mengatakan sesuatu yang bisa menyinggung perasaan Vir. Meski sejak tadi Vir hanya diam, tapi itulah yang makin membuat hati Aileen teriris.


Sambil menghapus buliran bening yang kembali meleleh, Aileen beranjak dari depan meja rias, kemudian melangkah mendekati Vir.


Ia berjongkok di hadapan suaminya yang masih saja menunduk dengan wajah sendu, entah apa yang ia pikirkan. Namun, hal ini benar-benar membuat rasa bersalah dalam diri kian membuncah.


“Hey..!" Lirih Aileen, jemarinya berusaha menggenggam tangan Vir. Tapi saat ia mencoba mencium tangan lebar itu, si pemilik tangan justru menarik diri hingga membuat ia tidak sempat mengecupnya.


“Maaf!" Aileen benar-benar merasa sedih, “Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu, Vir”


“Aku hanya ingin kita berhati-hati agar keadaanmu segera pulih dan kita bisa seperti dulu lagi." Tangannya masih mencoba menggenggam tangan Vir yang terus menghindar agar tidak bersentuhan dengan Aileen.


Bahkan ia kian merasakan sesak saat kata-kata yang keluar dari mulut Vir seperti menghantam telak di dadanya.


“Aku tahu aku tidak sesempurna dulu lagi, Eil.” Pria berwajah sendu itu terus membuang tatapan setiap kali Aileen dengan mata sembabnya melakukan kontak mata.


“Aku sadar akan ketidak berdayaan ku, aku sadar aku sangat tidak berguna. Bahkan mungkin untuk menjagamu saja aku tidak bisa, lalu bagaimana mungkin kau bisa membahagiakan kalian dengan keadaan ku yang seperti ini!"


Sungguh Aileen tak menyangka, ucapannya beberapa waktu yang lalu menggoreskan luka di hati suaminya yang belum benar-benar pulih. Sepertinya pria itu begitu sensitif, terbukti dengan dia yang malah menanggapi ucapan Aileen dengan cara seperti ini.


“Vir, aku tidak bermaksud seperti itu!" Sela Aileen yang mencoba meluruskan maksud.


“Aku pasrah, Eil.." Lanjut Vir yang tak mengindahkan ucapan Aileen.


“Vir, cukup!" sela wanita hamil itu, dengan air mata yang mulai menganak sungai.

__ADS_1


“Aku pasrah kalau kau ingin mencari seseorang yang sempurna, yang mungkin bisa menjagamu dengan baik. Tidak seperti laki-laki cacat seperti ku ini!" Bahkan vir pun ikut tersedu-sedu atas apa yang keluar dari mulutnya.


Aileen yang tak lagi mampu mendengar ucapan Vir, hanya bisa menggeleng sambil menangis tanpa suara. Rasanya sesak sekali mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut orang yang ia cintai. Dalam hati ia menyesal sambil terus merutki diri atas ucapannya yang ternyata menyinggung perasaan Virendra.


“Kenapa aku tidak mati saja saat itu, kenapa aku harus sadar jika harus mengalami hal seperti ini? Kenapa?" Teriak Vir sambil memukul-mukuli pahanya.


“Vir!!" Dengan sesak yang menguar, Aileen mencoba menahan tangan Vir agar tak menyakiti tubuhnya seperti itu.


“Apa gunanya hidup jika tidka bisa berbuat apa-apa dan hanya untuk menyusahakan orang lain!" Seperti orang yang tak bisa mengendalikan diri, layaknya orang yang frustasi, Vir terus berteriak disela isak tangisnya.


“Jangan mengatakn hal seperti itu, Vir!" Aileen berusaha memeluk Vir untuk menenangkannya. Dengan keterbatasan gerak, ia hanya mampu memeluk tubuh Vir dengan setengah lingkaran. Aileen jelas tahu dan mengerti apa yang Vir rasakan saat ini.


“Percayalah, di balik semua ini pasti ada hikmah yang bisa kita ambil. Tuhan tidak akan memberi ujian pada mereka yang tidak mampu.”


“Aku juga tidak mampu, Eil!" Sentak Vir, tanpa sadar ia mendorong tubuh Aileen hingga sedikit tersungkur ke lantai. Wanita hamil itu hanya bisa meringis sambil memegangi pinggulnya dan berusah beranjak.


Vir yang sama sekali belum sadar atas apa yang ia lakukan, terus berteriak mengeluarkan isi hatinya. “Apa Tuhan pikir aku mampu melewati semua ini? Ayah ku meninggal dan kondisi ku malah seperti ini saat kau dan anak kita membutuhkanku. Aku harus apa? Aku hanya merasa diriku tidak lebih seperti beban dalam hidup kalian semua!" Ucapan panjang lebar Vir harus berhenti saat ia menyadari Aileen tengah mendesis, menahan sakit di are bokong akibat terhempas ke lantai tadi.


Dengan sekuat tenaga Vir berusaha bertumpu pada pegangan kursi roda, dengan sedikit kekuatan, ia berhasil turun dari kursi roda. Menggunakan tangan, Ia merangkak layaknya bayi menuju sisi Aileen yang tak jauh dari tempatnya berada.


“Apanya yang sakit?" Dengan wajah mengkerut penuh kekhawatiran, ia menangkup wajah Aileen, semua inci tubuh istrinya itu ia periksa.


Bukannya menjawab, Aileen malah menangis sejadi-jadinya. Dihadapkan pada situasi ini membuat Vir turut menangis juga. Tangannya tergerak meraih kepala Aileen, kemudian ia mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada wajah wanita yang ia cintai itu. Vir benar-benar menyesal atas tingkah konyol yang baru saja ia lakukan.


“Apa aku menyakitimu?" Vir kembali menangkup wajah Aileen yang masih menangis sendu, ia menatap lekat wajah yang makin hari makin berisi itu.


“Apa Daddy juga menyakitimu, nak?" Tangan Vir beralih mengusap perut Aileen, kemudian disusul dengan ciuman setelahnya.


“Maafkan Aku, Eil.. Maafkan sikapku barusan!!" Lirih Vir, ia langsung membawa Aileen ke dalam dekapannya, memeluknya erat sebagai bentuk rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam.


“Dasar bodoh! Tidak berguna! Kenapa kau menyakiti istrimu, hah???" Vir terus mengumpati dirinya sendiri. “Maafkan aku ya, Eil, maaf!" Jemarinya terus tergerak mengusap rambut panjang Aileen dengan penuh sayang.

__ADS_1


“Vir!" Lirih Aileen, wajahnya ia telungkupkan dalam-dalam di bahu sang suami.


Vir yang mendengar suara lirih dari Eil, lantas meregangkan pelukannya. Sambil memegang bahu Aileen, Vir menatap wajah syahdu itu, sembari menunggu apa yang ingin Aileen katakan.


“Maaf!" Satu kata yang keluar dari mulut Aileen langsung membuat Vir kembali mendekapnya dengan erat.


“Aku minta maaf, aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung perasaanmu, Vir! Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu dalam masa penyembuhan mu ini." Ucap Aileen terbata-bata dengan isakan yang tertahan.


“Aku mohon jangan mengatakan hal seperti tadi lagi!" Aileen benar-benar tidak sanggup mendengar ucapan Vir barusan. “Bagaimana mungkin aku bisa menjalani hidup lebih baik jika tidak bersama mu!"


“Sekali lagi aku minta maaf jika ucapanku menyinggung mu!" Aileen kembali mengulang permohonan maaf yang sama.


“Tidak sayang, tidak. Kau tidak bersalah, aku yang berlebihan!" Ujar Vir yang menyadari kesalahannya. “Tidak seharusnya aku bersikap seperti ini.” Lirihnya lagi, sambil terus mengecup puncak kepala Aileen.


Keduanya sama-sama saling berpelukan di atas karpet lantai, tepat di samping tempat tidur berukuran king size itu. Kamar dan rentetan perintilan yang ada menjadi saksi kejadian yang mengharu biru diantara keduanya itu


“Kau tidak tahu bagaimana hancurnya aku saat melihatmu terbaring tidak sadarkan diri waktu itu, Vir." Perasaan sesak kian mencuat di relung hati Aileen setiap kali mengingat saat paling berat dalam hidupnya.


“Tolong jangan mengatakan hal-hal seperti itu lagi!"


“Semua orang punya ujiannya masing-masing, dan mungkin ini adalah ujian untuk kita, Vir!"


Virendra, hanya bisa terdiam sambil mendengarkan apa yang Aileen ucapkan tanpa meregangkan pelukannya sedikitpun.


“Percayalah, Tuhan pasti sedang menyiapkan sesuatu yang indah untuk kita. Kalau kita bersabar dan mau menghadapi semu bersama sampai akhir!" Aileen menarik napas dalam hany untuk menghirup aroma favorit dari pria yang ia cintai.


“Tetaplah kuat Vir, kau tidak sendiri. Aku, anak kita dan keluarga yang lain akan selalu mendampingimu!"


Tak ada sepatah katapun yang mampu Vir ucapkan, ia benar-benar terharu mendengar ucapan Aileen.


...♥️♥️♥️♥️...

__ADS_1


__ADS_2