
"Siapa wanita inisial A itu Vir?" tanya Fia dengan mata yang memerah akibat terlalu lama menangis.
Vir menarik nafas dalam, mendongak menatap langit-langit ruangan. Nafasnya seolah membeku di dalam rongga dada membuatnya kesulitan bernafas, Haruskah ia memberi tahu Fia bahwa wanita itu adalah wanita yang sudah seperti Dewi penolong bagi Fia, wanita yang membuatnya sedih hanya karena sang dewi penolong menolaknya untuk bertemu. Apakah kekagumannya pada Aileen akan berubah menjadi benci setelah ia mengetahui statusnya sebagai istri Vir.
Vir terdiam, bingung harus bagaimana..
"Vir jawab aku...!" suara Fia menggema di ruangan itu.
"Wanita itu Aileen..." lirih Vir sayu
Nama itu??
Fia tercengang, ia yang tadinya buang muka kini beralih menatap Vir.
Apakah ini adalah Aileen yang sama dengan dokter Aileen yang menolongnya?
Jika benar demikian, apa selama ini dokter itu tidak tahu jika aku adalah kekasih Vir? Kami bertemu setengah bulan yang lalu, itu artinya dia sudah menjadi istri Vir..Hatinya kembali tergores nyeri..
"Jangan bilang dia..?"
"Iya, dia orang yang selama ini kau anggap dewi penolong"
Fia tersenyum kecut sembari menggelengkan kepala.
Perasaan kagumnya berubah menjadi benci, tidak ada lagi dewi penolong. Dia bukanlah dewi penolong..!! Kini baginya dia hanya wanita yang merusak hubungannya dengan Vir
Fia tersenyum pedih, Ia bangkit dan meraih tasnya yang tergeletak di lantai.
Berjalan dengan tatapan kosong, langkahnya gontai meninggalkan Vir yang baru saja hendak menggapai tangannya.
"Kau mau kemana?" tangan yang hendak menggengam itu di hempaskan begitu saja oleh Fia, membuat Vir hilang keseimbangan dan hampir terjatuh.
Fia pergi, wanita itu membanting pintu dengan sangat keras.
Vir berdiri, melangkah mendekati semua benda yang bisa menjadi pelampiasan amarahnya, ia beteriak, menumpahkan semua isi hatinya..
Prang...
Suara pernak-pernik berharga yang terpajang di etalase menjadi sasaran empuknya. Ia melayangkan sebuah vas bunga ke arah etalase membuat isinya berhamburan keluar, mengudara bersama serpihan kaca yang melayang sebelum kemudian terjatuh ke atas lantai.
"Arghhhhht..."
Teriakannya kembali menggema, bahkan kali ini begitu kencang bahkan sampai ke ruangan sekertaris, membuat sekertaris itu penasaran dan mengecek apa yang terjadi.
"Tuan, anda kenapa?" tanya sang sekertaris yang sudah berdiri di ambang pintu. Ia mengedarkan pandangannya menatap seisi ruang yang sudah seperti kapal pecah.
"Ke luarlah!! Aku bilang ke luar!" teriaknya membuat si sekertaris gelagapan dan pamit undur diri.
Sementara itu di lantai bawah.
Fia yang baru ke luar dari lift kembali menjadi pusat perhatian para karyawan, matanya yang merah membuat semua karyawan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun mereka hanya memendam dalam hati, takut kembali berghibah karena di sana masih ada Pak Amran.
.
.
.
Malam hari, di halaman rumah sakit.
Seorang wanita masih menunggu di parkiran.
Ia berdiri bersender di depan mobil putih miliknya.
Meskipun seharian bekerja namun ia masih kelihatan begitu fresh dengan balutan kemeja hitam dipadukan kulot putih yang melekat sempurna pada tubuh rampingnya. Sentuhan makeup flawles membuat cantiknya terkesan natural. Sederhana namun elegan, itulah dokter Aileen, istri Virendra yang tak pernah ia lirik sebagai istri sungguhan.
Sedari tadi Aileen tak henti-hentinya melirik jam tangan dan gerbang secara bergantian.
Ya dia sedang menunggu, namun sudah hampir satu jam yang ditunggu tak kunjung datang.
__ADS_1
Dergt,, dergt...
Ia merogoh handphone nyaa dari tas Channel brand ternama yang tergantung ditangannya.
"Halo.." sapanya ramah
"Halo Eil, ini aku Dito!"
"Iya aku tahu kok, di sini ada namanya!"
Yang menelepon bukan yang diharapkan.
Namun ia tetap berusaha tersenyum, padahal percuma saja karena yang menelepon pun tak akan melihatnya.
"Hehhe aku kira kau tidak menyimpannya..
ohiya apa kau dan Vir jadi datang? aku sudah menunggu sejak jam 7:00 di Restoran xxx! Aku sudah menghubungi Vir tapi dia tidak mengangkatnya jadi aku menelpon mu"
Ya Dito memang sudah berangkat lebih awal, ia begitu girang ketika Virendra mengajaknya makan, dia memang suka makan gratis. Namun bukan hanya itu alasannya, ia senang apalagi Vir mengatakan akan mengajak Aileen. Tentu Dito Bahagia mendengarnya, itu berarti hubungan dua insan Tuhan itu sudah ada kemajuan.
Sepertinya dia akan menjadi shipper garis keras antara Aileen dan Virendra, entah mengapa Dito begitu mengagumi istri Vir itu. Bahkan dari hubungan Vir dia jadi terinspirasi untuk tidak lagi menjalin hubungan sembarang, ia memilih menjadi jomblo yang menanti takdir, berharap suatu saat bisa mendapat jodoh seperti Aileen. Sungguh konyol bukan?
"Aku juga sedang menunggunya sedari tadi!"
"Ciee kau menunggu suami mu ya! Ah sayang sekali, seandainya aku yang jadi suami mu! pasti sekarang kau sedang menunggu ku" Dito terkekeh dari balik telepon, membuat Aileen mengernyit heran dengan ucapan sahabat suaminya itu..
"Ehemmmmt.." Aileen berdehem membuat Dito yang cengengesan dibalik telepon langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ehh.." Dito menggaruk tengkuknya
"Ah kalau begitu sudah dulu ya, aku hanya ingin menanyakan itu! Sampai ketemu di Restoran"
"Ah iya sampai ketemu juga!"
Setelah panggilan terputus, Aileen pun kembali setia menunggu tanpa tahu yang ditunggu akan datang atau tidak.
"Belum pulang Eil?" sapa seorang pria paruh baya yang merupakan pimpinan Rumah Sakit.
"Belum Pak, saya masih menunggu suami saya" Aileen tersenyum ramah, ia menunduk menghormati sang pimpinan
"Kalau begitu saya duluan ya..!"
Aileen terus menatap mobil pimpinan yang sudah ke luar pekarangan rumah sakit dan berbaur dengan kendaraan lain di tengah jalan.
Handphone Aileen kembali berdering. Ia lalu segera mengangkat panggilan itu.
____________
Aileen melongo, seolah tak bisa berkata-kata mendengar ucapan seseorang dari balik telepon. Dengan tergesa-gesa ia membuka pintu mobilnya dan melaju meninggalkan halaman parkir dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah ia segera turun dan membuka pintu, Aileen berlari menaiki tangga lalu menghilang di balik pintu kamar.
Entah apa yang yang dikatakan si penelepon sehingga membuatnya terburu-buru seperti ini.
Setelah beberapa menit kemudian Aileen pun ke luar sambil menyeret kopernya, pakaiannya sudah berganti menjadi lebih kasual dan mengenakan hoodie abu-abu dan celana jeans levis. Ia berjalan perlahan menuruni tangga.
Tidak ada yang tahu bagaimana raut wajahnya saat ini, ia menggunakan masker jadi tidak bisa ditebak.
Mobil itu kembali melaju meninggalkan rumah
Apa yang terjadi? Mau ke mana dia? Kenapa pergi membawa koper? Apakah ada hubungannya dengan Vir?
.
.
.
Sementara itu Vir yang tertidur dalam keadaan duduk di pojokan pun terbangun, Ia mengedarkan pandangan menatap ruangan yang sudah seperti kapal pecah. Dia ketiduran sejak setelah menghancurkan ruangannya sendiri.
__ADS_1
Ia beranjak, melangkah menuju meja kerjanya.
Matanya terbelalak ketika melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dari Dito.
Dia mengingat sesuatu, malam ini ia ada janji makan malam dengan Aileen dan Dito.
"Shittt,, kenapa hari ini begitu banyak masalah" Vir menggerutu sebal, Ia merasa hari ini merupakan hari yang berat.
Vir melirik arlojinya. Sudah hampir jam 10, entah Aileen masih menunggunya atau sudah pulang, setidaknya ia ingin mengeceknya dulu.
Ia lalu menyambar kunci mobilnya dan berjalan ke luar.
Gedung itu nampak sunyi, hanya menyisakan beberapa karyawan saja yang sedang lembur.
Sesampainya di parkiran Vir pun masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya ia sampai di rumah sakit.
"Dokter Aileen dimana?" tanyanya lagi pada Resepsionis yang siang tadi ia tempati bertanya.
"Beliau sudah pulang beberapa jam ya..."
Belum sempat resepsionis menyelesaikan ucapannya Vir sudah melenggang pergi.
Wajahnya terlihat gusar, seperti orang yang kehilangan arah. Siang tadi bermasalah dengan sang kekasih sedangkan malam ini dengan istrinya. Sungguh berat perjalanan hati seseorang yang menjalin dua hubungan dalam satu hati.
Tapi kenapa ia mencemaskan Aileen? Apa dia takut jika istrinya itu akan kecewa karena dirinya mengingkar janji. Bukan kah dia membencinya? Entahlah...
"Kau dimana Dit?" tanyanya pada Dito yang ada di sebrang sana
"Haiissh kau ini kemana saja hah? Aku sudah menunggu sejak tadi" ucap Dito yang kedengarannya begitu kesal
"Kau jangan mengomeli ku!!" Ketus Vir berbalik memarahi Dito "Apa Aileen ada bersama mu?"
Pertanyaan yang tidak masuk akal, kenapa menanyakan Istrinya pada orang yang tidak tepat
"Kenapa bertanya pada ku, kau kan suaminya! seharusnya kau yang lebih tahu"
"Aku sudah menghampirinya ke rumah sakit tapi dia tidak ada di sana" berbicara seraya menjentikkan jarinya pada setir kemudi, ia menggigit bibir bawahnya. Jika saja ada yang melihat mungkin akan tergoda karenanya yang terlihat begitu sexy dengan menggigit bibir nya.
"Mungkin dia sudah pulang karena bosan menunggu mu yang tak kunjung datang" Ucap Dito malas
Vir menghela nafas dalam.
"Aku ada di rumah tapi dia tidak ada, mobilnya pun tidak ada!" ucap Vir seraya menatap rumah mereka dari dalam mobil.
"Aku juga tidak tahu Vir, sudahlah aku mengantuk, aku ingin tidur.." ucap Dito yang kedengarannya ngantuk parah dan sambil menguap
"Hey Dit jangan dimatikan dulu, aku belum selesai"
"Haiissh kenapa kau menanyakannya padaku, kau pikir aku tahu segalanya!! Aku saja yang menunggu mu malas apalagi dia, tadi kami sempat telepon, dia juga menunggu mu, kami hanya bicara sebentar setelah itu sama-sama kembali menunggu mu sampai kedinginan" cebik Dito kesal dari balik telepon
"Eh tunggu dulu, tapi kenapa kau mencarinya? Bukan kah kau membencinya, tapi kenapa hanya karena tidak menepati janji kau kelimpungan seperti ini??" Dito mulai terkekeh, ia menyadari sesuatau yang ganjal.
"Damn it!! Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya merasa tidak enak karena sudah ingkar! Kau tahukan aku tidak seperti itu" ucap Vir membela diri
"kau ini memang aneh Vir, ingkar janji makan malam tidak masalah, yang penting bukan janji pernikahan yang kau ingkari, hehehe" Dito malah terkekeh. Sepertinya ia sengaja mengatakan itu untuk sedikit menyindir Vir.
Dan benar saja, mendengar ucapan Dito, Vir merasa panas
"**** off Dito.!! (Persetan!!)" umpat Vir lalu memutus panggilannya dengan Dito.
Kemudian kembali melajukan mobilnya, tujuannya saat ini adalah rumah sang mertua.
.
.
.
__ADS_1
Nah loh Kok bawa koper?
Ada yang tau Aileen mau kemana??😅😅