Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 19


__ADS_3

Lama Vir menempelkan bibirnya dengan mata tertutup, tangannya tergerak mengelus tubuh Aileen yang terbalut selimut tebal..


Vir terlihat lebih tenang saat melakukan itu, entahlah apa ia bermimpi sehingga tidak sadar dengan tindakannya.


Tanpa ia sadari, Aileen membuka matanya. Wanita itu terkejut tatkala melihat Vir begitu dekat di depan wajahnya, bahkan bibir pria itu tertempel di bibirnya.


Aileen berteriak..


"Kau?? Virendra... Hiyaaa apa yang kau lakukan??" meloncat turun dari atas ranjang.


Mendengar teriakan Aileen, seketika Vir tersadar. Ia menyadari tindakannya


"Sudah ku bilang jangan lewati batasan itu!!"


Vir yang tertangkap basah merasa Sangat malu. Ia benar-benar mengutuk dirinya yang lepas kendali mencuri ciuman dari bibir wanita yang katanya ia benci.


Bukankah semua hanya omong kosong belaka?


Vir lalu duduk bersandar di kepala ranjang dengan gaya sok cool seolah tidak terjadi apa-apa. Namun tetap saja, ia gelagapan, berusaha mencari alasan yang tepat.


Ia lalu mengernyitkan dahi berpura-pura lugu dan sok polos tidak tahu apa-apa.


"Kau ini bicara apa hah?? kau salah paham. Tadi kau mengigau dan mendekati ku. aku yang setengah tertidur tidak menyadari kau mencium ku, aku mengira itu mimpi, jadi aku diam saja! dan tiba-tiba kau teriak membuat aku langsung terbangun dari tidurku" Vir memutar balikkan fakta, ia mengkambing hitamkan Aileen dalam tindakan konyolnya.


"Aku sadar ternyata itu bukan mimpi, Kau mencium ku"


Vir memicingkan matanya


"Jadi siapa yanga salah?? bukankah aku yang seharusnya marah!" Vir menunjuk Aileen yang berdiri di sisi ranjang. Menghakiminya, seolah wanita itulah yang bersalah


"Kau bersyukur, karena kita berada di rumah keluarga mu jadi aku tidak akan marah-marah bahkan tidak menghukum mu"


Aileen terdiam, Sepertinya dia termakan omongan Vir yang mengelabui dirinya.


Aiih kenapa aku melakukannya, ini sangat memalukan.. selorohnya dalam hati


Tidak apa Eil, ini hal yang biasa terjadi pada sepasang suami istri..kau tak perlu cemas, ini bukan dosa..


Kata suara hatinya yang selalu membela setiap tindakan yang ia lakukan pada Vir.


Aileen yang merasa malu pun melangkah ke kamar mandi.


Sementara Vir, pria itu menghela nafas lega, Ia tersenyum penuh kemenangan sebab berhasil menutupi aibnya..


Sungguh pria yang sangat pandai bersandiwara.


***


Keesokan harinya. Aileen, Vir dan semua keluarga tengah berada di bandara.


"Opa dan oma cepat sembuh ya, aku pasti akan merindukan kalian" Aileen memeluk opa dan omanya


Cihh dia menangis, sungguh pemandangan yang indah. tapi sayang sekali dia menangis bukan karena ku


"Mommy dan Daddy pergi ya nak, sering-seringlah berkunjung melihat adik dan opa oma mu" pesan Daddy pada putri sulungnya


"Vir, tolong jaga Aileen! daddy titip dia"


Vir mengangguk, mengiyakan pesan sang mertua

__ADS_1


Para wanita menangis haru saling melepas perpisahan antara kedua besan itu. Kini mereka semua yang sudah tua mudah terserang penyakit harus melakukan pengobatan seperti yang dialami opa Haris dan Istrinya.


"Vir andaikan opa mu masih hidup, pasti dia akan bahagia melihat keluarga kita menyatu" kata Opa Haris


"Benar Vir, opa mu pasti sangat bahagia melihat kau dan Aileen sudah menyatu Seperti ini" sahut opa Surya


Sebenarnya Virendra enggan membahas masalah perjodohan yang sudah terjadi ini. Namun ia harus tetap bersandiwara dan menghadargai kedua orang tua itu


"Kalian semua baik-baik di sini, jika suatu saat aku pergi maka aku akan pergi dengan keadaan bahagia" kata opa Haris yang membuat haru


"Pah jangan berbicara seperti itu" Kata Ferdy


Mereka semua pun saling memberi pelukan berharap takdir masih bisa mempertemukan kembali.


Setelah Opa dan oma, Mommy dan daddy juga Om Ferdy dan Tante Syella berangkat. Kini di sana hanya tinggal Aileen, Virendra, Biyan, Shakeel juga Oma Fera dan opa Surya.


"Ayo opa, oma biar Eil dan Vir antar pulang" kata Aileen merangkul tubuh kedua tua renta itu


"Kau sungguh ingin mengantar opa dan oma kak? Apa orang ini tahu cara menghormati orang tua?" ejek Biyan yang mana membuat Vir tersulut emosi, ia mengepalkan tangannya.


Namun Aileen berusaha menggengam bahu Vir, takut terjadi perkelahian di tempat umum, apalagi di sana masih ada orang tua.


"Hey Bi, kenapa berbicara seperti itu? dia ini suami Aileen, kakak mu juga" sahut oma Fera


Biyan menatap malas, Kenapa semua orang selalu membela bedebah ini. Tidak kah mereka tahu dia adalah pria menjengkelkan. Pikir Biyan


"Bi.." Shakeel berusaha menenangkan Biyan


"Haisshht"


"Bi sudah ya, lebih baik kamu dan Keil pergi mengecek Restauran Mommy ya dek, bukankah hari ini kau Free jadi bisa mengurus resto dulu" bujuk Aileen


"Biyan kau tidak usah ke resto dulu, selama daddy mu pergi Opa ingin kau belajar di perusahaan bersama dengan Sam. Ayo pergilah! perintah Opa


"Dan kau Keil, ajar adik mu ini.. dia harus segera mengambil alih kepemimpinan Perusahaan" ucap Opa sedikit berpidato


"Tapi opa, Aku.." Biyan yang ingin melakukan penolakan langsung di sanggah oleh opa


"Tidak ada tapi-tapian Bi..! Vir, Eil ayo antar kami pulang"


Biyan sendiri belum kepikiran untuk memimpin perusahaan sebesar itu di usianya yang masih muda, namun apa boleh buat. Ia pun tidak bisa menolak titah kakeknya itu.


Vir pun hanya tersenyum menatap Biyan dan Shakeel secara bergantian, lalu ia dan Aileen segera menggandeng opa dan oma menuju mobil.


"Menyebalkan!!" cebik Biyan


"Sudahlah!! kau ini sensitif sekali.." Keil juga menarik Biyan pergi dari sana


***


Dito terlihat menuangkan segelas minuman beralkohol yang telah di racik oleh bartender.


Vir memang akan selalu menerima ajakan Dito untuk minum saat merasa dirinya terlalu banyak pikiran dan masalah, Ia melakuakn itu hanya untuk menghilangkan setres.


Namun hanya minum, tidak melakukan hal-hal aneh lainnya. Karena ia memegang prinsip teguh, tak boleh tidur dengan wanita sembarangan kecuali sudah menikah.


Ya, dia mulai mengenal minuman saat beranjak dewasa, karena saat itu pula orang tuanya mulai membanding-bandingkan dirinya dengan sang kakak, membuat mentalnya down dan merasa terbuang, sehingga membuatnya tumbuh menjadi pria arogan dan melakukan semua sesuka hatinya.


"Jadi beberapa hari yang lalu kau pernah bertemu dengan Niko?" tanya Dito yang baru mulai meminum wine racikan sang bartender handal

__ADS_1


"Iya, dan yang lebih parahnya dia hampir membocorkan semuanya pada Fia..


Jika saja dia tidak mengetahui rahasia ku yang sudah menikah mungkin aku sudah menghajarnya" celoteh Vir di tengah minumnya.


"Sudah ku bilang Vir, jalani hubungan yang normal saja. Hubungan mu dengan Fia ini banyak membawa dampak buruk. lihat mulai dari retaknya hubungan kita dan Niko, ya walaupun awalnya memang Niko lah yang berbuat salah"


"Sekali lagi kau mengatakan hal itu, aku tidak akan memberi mu bonus untuk bulan ini". ancamnya.


bicaranya sudah mulai meracau tidak jelas karena pengaruh alkohol yang berkadar tinggi.


"Baiklah, aku tidak akan membahas itu lagi" Dito yang belum terlalu mabuk berusaha memahami kondisi.


Dito memang sengaja untuk tidak banyak minum agar tetap bisa mengontrol dirinya juga Vir yang tengah mabuk.


Pikirkan saja apa yang akan terjadi jika mereka berdua dalam pengaruh alkohol secara bersamaan, yang ada wanita malam di sana akan dengan mudah menguasai tubuh mereka.


"Ini semua karena Aileen, jika saja aku tidak menikah dengannya masalahnya tidak akan serumit ini, aku hanya perlu meyakinkan orang tua ku untuk menikah dengan Fia.


Soal Niko, jangan sekali-kali menyebutnya di depanku" Sambungya


"Terserah kau saja, bicaralah sesukamu!! kita lihat saja nanti sampai kapan kau mampu membenci istri mu itu" gumam Dito yang membiarkan Vir mengeluarkan semua isi hatinya


Setelah cukup lama minum, Dito pun mengantarkan Vir pulang.


Ia mengetuk pintu rumah, namun tak ada jawaban. sepertinya Aileen belum pulang, mobil wanita itu juga belum ada di halaman.


Dito merogoh semua saku celana dan Jas Vir namun tak menemukan kunci di sana.


Ia pun meraih handphone Vir, lalu mengirim nomor telepon Aileen ke handphonenya,


lalu mulai mendial nomor wanita itu.


"Halo, ini siapa?" kata seorang wanita dari balik telepon


"Ini aku Dito, sahabat sekaligus Asisten Virendra" ucap Dito menjelaskan sedetail mungkin


Sementara Aileen di balik telepon hanya mengerutkan kening seraya memutar mata malas.


Bisa tidak jangan terlalu sedetail itu huh,, cukup menyebut nama mu saja aku sudah tahu siapa dirimu. Apa sebegitu bangganya dia menjadi sahabat sekaligus Asisten si makhluk aneh.. Gerutu Aileen dalam hati


"Halo, halo?? apa masih ada orang.." kata Dito yang tak mendengar sahutan dari Aileen


"Ya halo, maaf tadi aku tidak fokus. Ada apa ya Dito menghubungi ku?"


"Ini aku hanya ingin menanyakan dimana kunci rumah? Aku sedang mengantar Vir, namun kami tak bisa masuk karena tidak menemukan kunci"


Memangnya apa yang terjadi pada makhluk aneh itu sehingga harus diantar pulang..


"Halo, apa kau mendengarkan aku?"


"Eh iya, Kuncinya ada di bawah Vas bunga yang ada di atas meja teras"


Dito melirik ke arah meja, lalu memampah Vir dan meraih kunci dari bawah Vas bunga


"Ah iya sudah ketemu, terimakasih! kalau begitu aku matikan dulu teleponnya, selamat malam.."


Tuuut


Di sisi lain, Aileen yang baru mendapat telepon dari Dito, pikirannya tak henti-henti tertuju pada Vir yang katanya di antar pulang, membuat ia menyimpan berbagai banyak tanya dibenaknya.

__ADS_1


__ADS_2