
“Aku selalu berdo'a, smoga hasil persidangan nanti tidak akan mengecewakan, kau akan ke luar sebagai pemenangnya” Aileen membelai lembut punggung tegak suaminya
“Terimakasih atas segala support dan do'anya..! ” Vir mendongak seraya mengelus lembut punggung tangan Istrinya yang masih berdiri di belakangnya.
Memulai sarapan pagi sebelum pergi ke pengadilan. Setelah melewati hari-hari berat dengan menerima gugatan yang dilayangkan Fia. Vir benar-benar tak menyangka jika ucapan wanita itu bukanlah gertak sambel belaka. Dengan hanya bermodalkan surat pinjaman 6 tahun yang lalu, wanita itu berani menggugatnya dengan meminta pengalihan saham hotel atas nama dirinya.
Hal itu membuat pihak Vir dan Dito benar-benar bekerja keras mencari bukti yang sempat hilang, dimana diantara mereka sama sekali tidak ada perjanjian pembagian saham yang akhirnya ditemukan.
Namun Fia, wanita itu terlalu percaya diri untuk berharap memenangkan gugatan. Vir dan Dito sendiri yakin 100 persen jika mereka akan memenangkan gugatan tersebut dan dengan senang hati mengikuti permainan yang Fia ciptakan.
Vir menarik Aileen ke dalam pangkuannya. Aileen yang belum siap dibuat terkejut. Ia menatap lekat wajah Vir yang kini berada begitu dekat di hadapannya.
“Kita makan sama-sama ya, aku akan menyuapi mu” Vir mengecup benda kenyal yang menjadi candunya lalu meraih sendok dan menyuapkannya pada Aileen.
“Moon, Aku bisa sendiri! aku turun ya! Tubuh ku berat, kau bisa kelelahan” Aileen hendak beranjak, namun Vir menahan pinggangnya membuat ia tetap berada di posisi semula
“Diam dan jadilah penurut!” Vir mengusap sisa makanan di ujung bibir Aileen “Aku senang bisa berada dekat seperti ini, jadi duduk manislah!” Vir kembali menyuapi dirinya kemudian tak lupa menyuapi Istrinya
Aileen nampak begitu risih, entah apa yang membuatnya gundah tak karuan.
Ck, kau senang! Tapi aku tidak. aku tidak tahu kenapa aku selalu saja bergairah setiap kali kau sentuh. Aku selalu ingin berakhir di bawah mu, Moon. aku tidak tahu ada apa dengan diriku! Aku hanya berusaha untuk menahan diri, ini masih terlalu pagi dan sangat memalukan jika aku yang menginginkannya lagi..
Gumam Aileen dalam hati, ternyata ia tengah bergairah, dengan menahan napsu setengah mati. Kebiasaan barunya ini sama sekali tak terdeteksi oleh dirinya sebagai seorang dokter yang tak pernah merasakan gejolak hasrat seperti ini.
...🍂🍂🍂🍂...
Sekitar pukul 9:00 Vir dan Aileen barus aja tiba di Pengadilan Negeri kota. Keduanya berjalan bergandengan menuju ruang Sidang.
Di sana sudah terlihat, Dito, Vino, Ayah dan ibu juga dua kuasa hukumnya tengah duduk di bangku tunggu yang berada di sebelah kiri tepat depan ruangan.
Sementara di sana, juga ada Fia yang hanya di temani pengacaranya. Wanita itu terlihat melemparkan tatapan tak suka pada Vir dan Aileen yang begitu mesra.
“Vir, Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk mu nak!” ibu menghampiri Vir, memberinya pelukan hangat untuk menyemangati.
Ayah dan Vino berjalan dan menepuk punggung Vir.
Selang beberapa detik, seseorang datang memberi tahukan jika sidang akan segera dimulai. dimana sidang kali ini merupakan sidang putusan setelah sekitar 14 hari yang lalu pihak penggugat (Fia) dan tergugat (Virendra dan Ardito) diberikan waktu mediasi dan diberi kesempatan mengajukan banding pembuktian. kini merupakan tahap akhir putusan.
Semua orang memasuki ruangan.
Dengan point, pada perkara perdata umum sidangnya selalu terbuka untuk umum berbeda dengan sidang perceraian yang sifatnya tertutup. Hal ini terbukti dengan beberapa orang yang ikut masuk, hendak menyaksikan sidang yang akan berlangsung.
Ketika semua orang sudah masuk dan duduk di posisi masing-masing. Di ujung ruangan terlihat Aileen memeluk suaminya. Ia merasa iba, begitu banyak masalah yang belakangan ini dialami suaminya.
“Kau pasti menang, Moon. Kuat lah” Aileen memeluk Vir
“Hey, tidak perlu menangis, selama kau ada bersama ku Everything is gonna be okey. apapun hasilnya selagi kau di sampingnku, aku akan baik-baik saja!” Vir memegang kedua bahu Aileen kemudian mengusap air matanya.
Hati Aileen terenyuh mendengar penuturan Vir. bukannya berhenti , bulir bening itu semakin mengalir deras.
“Sun, kenapa kau secengeng ini?” Vir mendekap erat tubuh Aileen lalu mengusap punggungnya agar ia berhenti menangis.
“Jangan seperti ini, bagaimana aku mau semangat jika sumber kekuatan ku secengeng dan selemah ini?” dengan bibir menempel di puncak kepala Aileen, Vir terus berusaha menghentikan tangisan istrinya.
“Aku tidak cengeng, aku hanya terharu. Apa kau lupa itu?” ketus Aileen
__ADS_1
Yayaya, Vir hanya mengedikan bahunya. ucapan itu selalu ia dengar setiap kali dirinya mengatai sang istri cengeng.
“Kalau begitu berhentilah menangis, Beri aku semangat!” ucap Vir dengan bibir yang dimonyong-monyongkan.
Sambil mengusap pipinya, Aileen Yang mengerti isyarat monyong itu segera menarik dasi Vir hingga membuat bibir keduanya menempel sempurna.
Vir tersenyum simpul saat merasakan bibirnya mendarat sempurna di bibir sang istri.
Aileen mendorong tubuh Vir, ia menoleh ke segala arah. beruntung tidak ada yang melihat aksi mereka.
“Aman..” Aileen menghela napas lega membuat Vir terkekeh kemudian
“Jangan ketawa, Sana pergilah ketempat mu! aku akan duduk di samping ibu..” ujar Aileen saat melihat kursi di samping ibu mertuanya masih kosong, sebab Ayah duduk di samping Vino.
“Jangan duduk di dekat Vino, awas! Jangan macam-macam..” tunjuk Vir yang sudah setengah berjalan namun kembali berbalik.
“Aku akan duduk di sana..” sahut Aileen, yang mana membuat Vir menghentikan langkahnya dengan tatapan menghujam
“Ck, tidak Moon.. sana cepatlah! Hakim sudah menunggu” tunjuk Aileen pada Hakim dan jajarannya yang sudah duduk di mimbar kehormatan.
Dengan wajah datar, Vir kembali melangkah.
...🍂🍂🍂...
“Sidang pengadilan Negeri kota Xx yang memeriksa dan mengadili Perkara Perdata tingkat pertama dalam perkara Nomor 39/Pdt/20xx/PN Xxx. antara pihak Penggugat Fiani Litysha melawan Tergugat Arshaka Virendra Shawan dan Andi Ardito Bagaskara pada hari ini dibuka dan terbuka untuk umum” Hakim ketua membuka sidang dengan mengetuk palu tiga kali.
Sidangpun bermula, dengan para kuasa hukum dan pihak panitera (Pejabat pengadilan yang bertugas membantu hakim) saling mengajukan argument dan berbagai kesepakatan.
Berhubung hari ini merupakan sidang putusan setelah beberapa kali melewati beberapa tahap dan tergugat telah mengajukan banding dan mediasi kini Hakim ketua terlihat membenarkan mikrofonnya dan hendak berbicara.
Dengan ini menyatakan, perihal terkait gugatan yang dilayangkan pihak penggugat dan adapun bukti dalam proses perkara ini, Pihak hakim menyatakan Gugatan saudari penggugat kami tolak sebab tak memenuhi persyaratan. Adapun bukti-bukti yang dicantumkan saudara tergugat dan atas pengakuan para saksi, dinyatakan memang tidak ada unsur pembagian saham dalam perkara ini. Maka dari itu Hakim memutuskan, Gugatan Adinda Fiani Litysha ditolak dengan demikian Hakim menetapkan bahwa Saham Hotel Angkasa Land Hotel ini murni milik Saudara Arshaka Virendra dan Andi Ardito Bagaskara sebagai pemilik sah.
Kepada pihak yang merasa keberatan dengan isi putusan tersebut, dapat mengajukan banding dengan tenggang waktu sebagaimana diatur dalam undang-undang. Dengan ini, sidang dinyatakan ditutup” Hakim ketua pun menutup dengan ketukan palu tiga kali.
Mendengar putusan Hakim Vir dan Dito juga pihak pembela nampak bernapas lega. Semua mengusap telapak tangan ke wajah sebagai bentuk syukur.
Sementara Fia, mengembuskan napas secara kasar, Rencana untuk mendapatkan saham Hotel dan Vir Kembali padanya hancur total, Sirna ditelan putusan. wajahnya memerah berkabut emosi.
“Sidang Perkara nomor 39/Pdt/20xx/PN Xxx. pada hari ini tanggal 12 xx tahun 202x dinyatakan selesai. Majelis hakim dipersilahkan meninggalkan ruang sidang, hadirin di mohon berdiri” ucap Seorang panitera.
Semua hadirin pun berdiri dengan para Majelis Hakim yang segera keluar.
Sidang pun berakhir, Pihak Vir nampak bahagia dengan saling berjabat tangan satu sama lain.
“Selamat, Pak! Saya sangat yakin jika anda pasti memenangkannya” Kedua pengacara itu memberikan selamat.
“Terimakasih, ini semua berkat kerja keras anda!” Vir membalas jabatan tangan
“Selamat dek” Vino dan Vir berpelukan ala pria dewasa pada umumnya.
“Vir, Dit, Kami bangga padamu” Ayah dan Ibu menepuk bahu Vir dan Dito
“Selamat ya Dit” Vino beralih memberi ucapan pada Dito
__ADS_1
“Terimakasih banyak Bang, ini semua berkat support kalian” timpal Dito
Semua saling berbaur mengucapkan selamat dan terimakasih satu sama lain.
Sementara Fia dan kuasa hukumnya langsung bergegas ke luar setelah berakhirnya sidang, Ia tak kuasa melihat keharmonisan yang terjalin di dalam sana. Sementara saat bersama Vir dulu ia tak pernah merasakan keharmonisan bersama keluarga mantan kekasihnya itu.
Vir beralih menatap wanita yang sejak tadi berdiri di belakang Ibunya yang asyik mengobrol dengan pengacara keluarga.
Vir menengok, ia tersenyum saat matanya bersitatap dengan wanita yang dicintainya yang juga menatapnya dengan senyum merekah. Ia lalu berjalan menghampiri istrinya.
“Hanya berdiam diri di sini, kenapa tidak menghampiri ku memberikan selamat.. Hmmmnt” Vir merangkul pinggang istrinya yang lebih berisi dari sebelumnya. Ia menggirup aroma favorit dari leher Aileen.
Aileen menahan wajah Vir yang tak henti melakukan itu di depan umum. Walaupun dia menginginkan lebih namun ia masih punya cukup rasa malu untuk menahan diri.
“Aku hanya memberikan kesempatan agar orang lain punya waktu dengan mu, Aku memberi mu kebebasan untuk menerima ucapan selamat sebab saat kita di rumah aku yang akan memberikan ucapan selamat itu” Aileen tersenyum nakal sambil mencolek hidung suaminya
Vir mencengkram erat pinggul istrinya, membuat Aileen memekik tertahankan. Ia menatap seisi ruang dengan orang-orang yang masih asyik berbincang
“Kau semakin liar dan berani. But its okey, aku menyukainya!” Vir mencuri kecupan, membuat Aileen malu-malu dengan hati bergejolak menahan hasrat yang tak pernah padam, membuat ia bingung sendiri pada dirinya yang tiba-tiba seperti seorang maniak se*s.
Yang mana tanpa sadar, kelakuan keduanya tak lepas dari sorot mata Melinda yang tersenyum bahagia melihat keharmonisan putra dan menantunya.
Namun seketika wajah Ibu berubah drastis tatkala matanya menelisik ke arah pintu. Ibu lalu melepaskan lingkaran tangannya dari lengan Ayah. Ia segera keluar tanpa sepengetahuan Semua yang ada.
Entah kemana tujuannya, namun Ibu terlihat menahan emosi yang membuncah.
“Berhenti!” ucap Ibu lantang saat berada di koridor yang jaraknya lumayan jauh dari ruang Sidang.
Suara tinggi Itu menghentikan langkah dua orang wanita yang berada di depannya.
Wanita itu menoleh. Melinda dengan gaya angkuhnya perlahan mendekat, sorot mata tajam wanita sosialita sangatlah mengerikan, Melinda mengedarkan tatapan mengintimidasinya pada dua wanita di depannya.
Namun bukannya takut, satu wanita yang lebih muda dari wanita setengah baya yang bersamanya hanya melemparkan senyum mengembang, menandakan dirinya punya cukup nyali menghadapi wanita sosialita seperti Ibu Melinda yang terkenal angkuh ketika menghadapi orang yang tak disukainya.
“Halo, mantan calon ibu mertua!!” kata Wanita itu, Ia melipat kedua tangannya. Dengan tatapan memicing yang tak kalah angkuhnya ia berdiri tegak dihadapan Melinda yang disebutnya sebagai mantan calon Ibu mertua.
Ya, dia adalah Fia dan satu wanita itu adalah pengacaranya.
“Cih, Saya bahkan tidak pernah menganggap mu sebagai calon menantu!” ujar sinis Melinda pada Fia
“Ah iya, saya sampai lupa jika Nyonya ini salah satu penyebab hancurnya hubungan saya dengan Vir. Pria yang pernah sangat-sangat mencintai saya" Fia mencebik tak suka
“Dia hanya pernah mencintai karena kau hanya persinggahan bukan tempat menetap!” sarkas Ibu tak kalah menohok
“Walaupun begitu, tak bisa dipungkiri jika Vir pernah sangat mencintai saya dan memperjuangkan cinta itu sampai rela melawan keluarganya sebelum akhirya terjebak pada Cinta Dr Sialan itu! bukankah begitu Nyonya Melinda Shawan?” balas Fia tak kalah menohok membuat Ibu geram ingin menjambaknya. Namun ia masih punya kesadaran, mengingat ini masih di Pengadilan. Yang Ada ia akan langsung diadili jika bertindak bodoh dengan menghajar jal*ng kecil dihadapannya.
“Jaga Ucapan mu Jal*ng kecil! Jangan menyematkan kata sialan pada Menantu kebanggaan keluarga kami, Dia Berlian kami, keberuntungan yang mampu menyatukan keluarga Shawan. tidak seperti dirimu, sebongkah batu kali yang hanya bisa merusak pola pikir putraku” Hardik Ibu sambil terkekeh geli.
Dengan geram Fia mengepalkan tangannya. Wanita tua dihadapannya ini selalu saja merendahkan dirinya.
Sementara Bu pengacara hanya diam planga-plongo jadi penengah setia tanpa mau mencampuri urusan pribadi client-nya.
“Ah, Ckckck. Saya terlalu membuang waktu dengan berbicara kepada mu! Dengar! saya sebagai Ibu Vir. memperingatkan jangan pernah mengusik hidup putraku dengan istrinya. Dia sudah bahagia dan melupakan mu! Jika berani menggangunya, jangan harap hidupmu akan baik-baik saja. Aku tahu siapa keluarga mu, Aku bisa saja mengahancurkan kalian dalam sekejap! Ingat, kau tidak hanya berhadapan denganku, tapi juga berhadapan dengan Keluarga Utama dan Chandrawinata. Kau pasti tahu siapa mereka” Melinda Melayangkan telunjuknya ke bahu Fia kemudian berlalu pergi.
Fia menepis bahunya dengan kasar “Wanita tua sialan! beraninya kau! Lihat saja, apa yang bisa kulakukan! Aku tidak perduli siapa kalian" Teriak Dia yang tak kalah geramnya.
__ADS_1
..._________...
Like&Coment..🙏