Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 130


__ADS_3

Sebuah mobil sport yang melaju begitu kencang berhenti tepat di depan gedung tua yang sudah terbengkalai. Decitan rem mobil itu begitu nyaring memekakan telinga.


Seorang pria keluar dengan tampilan acak-acakan.


Matanya langsung tertuju pada beberapa lampu yang menyala di sana. Satu di bagian depan gedung dan yang satunya lagi berada di sekitar an lantai empat. Hal itu memembuat mata sulit mencari jalan yang bisa dilalui akibat minimnya pencahayaan. Kesan menyeramkan begitu menyeruak, namun pria tampan dengan penampilan lusuh itu sama sekali tak gentar. Entah apa yang dicarinya, tengah malam begini datang ke gedung bekas pabrik yang sudah lama terbengkalai itu.


Dengan bermodalkan senter ponsel, pria berkemeja putih itu memasuki area gedung tersebut. Sebelum itu ia membungkuk dan meraih sebuah besi bekas potongan baja yang berserakan di sana. Dengan tekat bulat dan kuat, langkah mantapnya masuk dan terus berjalan. menyusuri setiap sudut gedung.


“Eil!! Aileen.. Kau dimana sayang? Ini aku.. Aku datang menjemput mu!” Teriak pria itu yang kini sudah naik ke tangga yang ada. Area gedung begitu kotor, banyak barang-barang bekas pabrik yang berserakan di sana.


“Keil, Shakeel! Apa kalian mendengar ku? Tolong jawab..” Teriaknya dengan volume suara yang begitu kencang.


“Siapapun, jawab aku! Apa di sini ada orang?”


Pria itu adalah Virendra, selepas menemrima pesan misterius yang berisi “Datang ke Gedung Xx, jalan xx, jika ingin istri dan sepupunya selamat! Temui aku seorang diri!” Begitu bunyi pesan yang entah siapa pengirimnya.


Tanpa berpikir panjang, ia pun langsung pergi menuju alamat yang tertera.


Langkah panjang itu terus menyusuri setiap ruang yang ada. Kesan menyeramkan kian menerpa, namun sama sekali tak menyurutkan semangatnya untuk mencari keberadaan sang istri.


Ketika ia mendongak ke atas, matanya langsung tertuju pada lantai yang darinya terpancar sebuah cahaya temaram. Dengan perasaan yakin, ia kembali melangkahkan kaki dan menaiki tangga selanjutnya.


Begitu sampai di lantai selanjutnya, masih ada satu lantai lagi untuk bisa sampai di lantai yang ada lampunya itu. Telinganya menangkap sebuah derap langkah diiringi dengan tepukan yang kian mendekat.


Tentu itu membuat ia waspada, Vir menghentikan langkahnya. Genggamannya ia eratkan pada potongan besi panjang yang dipungutnya tadi. Senter ponsel ia arahkan ke sembarang arah untuk melihat siapa yang datang.


“Wow, Virendra...”


“Binggo!! Welcowe to your Hell, Virendra!”


Vir menoleh ke sumber suara yang tidak asing baginya. Dari pintu sebelah kiri yang ada di depannya, Ia bisa melihat soso pria yang tadi sempat berkelahi dengannya di acara reunian tengah berdiri di sana, didampingi dua orang berbadan kekar.


Di tambah satu tepukan lagi, ia lalu menoleh ke pintu sebelah kanan. Dimana ia bisa melihat sosok wanita yang begitu dikenalnya tengah menatap dengan tatapan penuh amarah dan kebencian.


“Kalian!!” tuding Vir dengan amarah yang siap meledak. Ia sama sekali tak menyangka jika dua Orang yang pernah ada di masa lalunya itu tega melakukan ini untuk menyerang dirinya. Bahkan tega menculik Aileen, istrinya yang tengah mengandung. Tapi apa motif dibalik ini Semua? Ia sama sekali tak mengerti.


“I miss you so much, Vir!” Wanita itu merentangkan tangannya dengan senyum smirk terpancar dari bibir merah merekahnya “Peluk aku, maka akan ku bebaskan mereka!”


“Jangan mimpi!" Sentak Vir. Ia benar-benar dibuat geram “Mana istriku, mana Shakeel? Dimana mereka?" Gertak Vir dengan tatapan menghujam di tengah kegelapan.


“Wih, jangan emosi!" Wanita itu tersenyum mengejek.


“Virendra, Virendra! Dalam keadaan begini pun kau masih sombong..!” sahut Pria yang dikenalnya itu.


“Istrimu tidak akan ke neraka jika kau ingin menuruti keinginan ku!”


“Fia!!!" Suara Vir kian menggema.

__ADS_1


Pria yang dikenalnya itu justru kian tertawa puas saat melihat dirinya berteriak seperti tadi "Wow, benar-benar suami yang sangat menyayangi istrinya! Tapi sayang sekali, kau selalu menyukai wanita bekas ku! Bukan begitu Fia?”


“Shitt!” Umpat Fia tak terima


“Jaga bicara mu, Niko!” Vir berteriak murka, Ia sama sekali tak terima Niko mengatai istrinya seperti itu “Sebenarnya apa yang kalian inginkan manusia biadab? Kenapa kalian melakukan ini pada istriku?” Vir mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencengkram Ponsel dan potongan besi itu dengan amarah yang siap meletup-letup.


“Kami hanya ingin kau melakukan sesuatu!”


Vir mengerutkan keningnya, menunggu kelanjutan ucapan dari Fia dan Niko. Dua manusia yang bertabiat biadab dan memiliki satatus sama dalam hidupnya, yaitu sama-sama mantan. Yang satunya mantan sahabat dan satunya lagi mantan kekasih dari seorang Virendra. Yang bahkan tega merencanakan rencana licik ini untuk dirinya.


“Tinggalkan wanita itu dan kembali lah bersamaku, maka kami akan membiarkannya keluar hidup-hidup!” Fia mengajukan tawaran dengan senyum percaya diri.


“Dan satu lagi..” Baru Vir ingin menimpali, Niko sudah lebih dulu menyelanya “Alihkan seluruh saham Hotel atas namaku!” Pria bernama Niko itu tersenyum mendelik


“Kami sudah menyiapkan semuanya!” Niko dan Fia sama-sama menunjukkan dua berkas yang berbeda.


“Ini adalah surat pengalihan saham!"


“Dan yang ini surat perceraian!" Keduanya sama-sama tersenyum.


“Kami sudah menyiapkan semuanya!”


Bukan kaleng-kaleng, ini merupakan rencana yang sudah disusun sedemikian rupa.


“Tanda tangani keduanya, maka semua Selesai! Kau bisa melihat wanita itu keluar hidup-hidup!”


“Bukankah kau begitu mencintainya? jadi sudah pasti kau tidak ingin melihatnya berakhir tragis bukan?"


Seandainya dia tak menerima ajakan reuni itu! Seandainya dia tak membiarkan Aileen pergi! Mungkinkah semuanya akan baik-baik saja? Mungkinkah semua ini tidak akan terjadi? Tentu dia hanya akan menghabiskan hari dengan istrinya tercinta, menemaninya setiap waktu sambil menanti kehadiran buah hati mereka. Sungguh rencana yang sempurna. Namun, terkadang hidup tak selamanya berjalan sesuai keinginan?


Sayang beribu sayang, semua hanyalah sebuah perandaian. Demikianlah hidup, manusia hanya bisa mengikuti alur kehidupan yang sudah disiapkan sang Pencipta. Pahit ataupun manis sama saja, semua akan tetap dilalui tanpa ada kata menyerah.


“Katakan! Apa kau bisa memenuhi keinginan kami?”


Vir menggeleng dengan senyum dipaksakan. Kemudian berkata “Jangan mimpi! Aku tidak akan menuruti keinginan tamak kalian yang biadap itu!"


“Jadi kau sama sekali tak mementingkan keselamatan istri tercintamu itu?” Niko dan Fia saling tatap dengan seringain licik “Baiklah, itu artinya kau sudah siap membawa pulang jasad istrimu!”


“Jangan coba-coba menyentuhnya!” Teriak Vir nyalang “Secuil saja tubuh istriku terluka, aku akan membuat kalian berdua berakhir! Jika tidak berakhir di penjara maka nerakalah yang akan menjadi tempat abadi mu!"


Fia dan Niko semakin dibuat tertawa. Dua hati yang dibutakan oleh dendam itu benar-benar sudah tertutup. Tak ada lagi nuraninya sebagai seorang manusia. Mereka sudah tak pantas lagi disebut manusia. Memberikan pilihan yang sama sekali tak ada keuntungan di dalamnya. Sungguh dua manusia jelmaan iblis.


“Baiklah!" Niko menjentikkan jarinya “Serang dia!"


Dua pria berbadan kekar itu pun bersatu menyerang Vir dengan brutal. Jika dilihat dari kondisi Fisik. Sekuat apapun Vir, dan seberani apapun dia, tentu akan kalah jika berhadapan dengan dua algojo sekaligus. Tubuh dua pria itu sama persis seperti tokoh Rambo yang perkasa.


Perkelahian pun terjadi, Sekuat tenaga Vir mencoba untuk bertahan dan melawan sampai titik darah penghabisan, atau paling tidak sampai bantuan tiba.

__ADS_1


Sedangkan dua makhluk tak berhati itu hanya tertawa melihat kejadian di depannya.


Dengan perasaan puas yang membuncah, Ingatan mereka kembali tertuju pada kejadian dimana Fia dan Niko kembali dipertemukan setelah sekian lama.


Flashback On


Kedua insan yang juga pernah menjalin kasih itu kembali dipertemukan saat Fia baru keluar dari Rumah sakit, pasca depresi yang ia alami setelah kejadian berkelahi dengan Aileen pada saat itu.


Niko yang awalnya masih kesal pada Fia yang waktu dulu pernah berkhianat dengan Virendra, sahabatnya. Pun merasa bersimpati setelah mengetahui penyebab dari depresi Fia tak lain dan tak bukan adalah karena Vir.


Niko yang pernah mencintai Fia pun tersadar betapa besar perasaan mantanya itu pada Vir, hingga ia pun memutuskan untuk memaafkan Fia dan mencoba berbicara padanya saat pulang dari Rumah Sakit. Dari saat itu, hubungan keduanya kembali terjalin. Bahkan dalam beberapa minggu, kondisi Fia mulai membaik atas bantuan Niko.


Niko yang masih memiliki Dendam pada Vir pun mengajak Fia untuk bekerja sama dan membalas kelakuannya. Namun tak disangka, Fia justru malah merencanakan hal nekat di luar dugaan. Awalnya Niko sempat menolak, mengingat Aileen juga pernah mengisi hatinya. Namun pada saat itu Fia berhasil membujuk.


“Ini hanya rencana, Kita tidak harus sungguh-sungguh melakukannya. Cukup untuk menggertak Vir saja. Aku yakin dia tidak akan rela jika wanita itu terluka, dia akan kembali padaku dan kau akan mendapatkan saham Hotelnya!” Begitu kata Fia mengiming-imingi


Hingga mereka pun mengatur berbagai macam siasat untuk menjalankan rencana itu. Mulai dari rencana Reuni, memasukkan obat perangsang kemudian tidur dengan Virendra pun sudah disusun sedemikian rupa. Namun nyatanya Aileen justru ikut, jadi tidak mudah baginya menggunakan obat perangsang. Sebab sudah tentu Aileen akan selalu ada di sisi Vir. Walaupun kenyataannya, Vir memang tidak meminum apapun di sana.


Fia yang pada saat itu sudah terlanjur kesal, beralih menyusun renca lain. Dan pada saat yang tepat ia melihat Aileen keluar, disitulah awal rencana penculikan itu bermula. Strategi sempat berubah, meski begitu misinya tetaplah sama, yaitu membuat Vir meninggalkan Aileen hingga kembali padanya dan memberikan dua pilihan yaitu mengalihkan saham hotel atas nama Niko.


Oh, benar-benar rencana yang terorganisir dengan matang.


Flashback Off


...----...


Betapa terkejutnya Aileen dan Shakeel saat melihat sosok yang dikenalnya dalam keadaan babak belur tengah diseret oleh dua orang berbadan kekar.


“Vir!! Lirih Aileen dengan air mata yang mulai deras. Ia senang bisa melihat suaminya ada di sana, namun hatinya pun terluka melihat keadaan mengenaskan sang suami yang sudah patsi baru saja mengalami kekerasan persis yang Shakeel alami.


“Tolong, tolong jangan sakiti suami ku, hikss..!” Aileen meronta-ronta, berusaha melepaskan ikatan yang tak mungkin bisa dilakukannya “Lepaskan kami, biarkan kami pulang, huhuuuuu!”


Aileen jelas tahu jika suaminya pasti sedang berniat menyelamatkan dirinya. Namun keadaan justru berbalik, Vir yang seorang diri sudah tentu tak akan menang melawan orang-orang berbadan kekar itu.


“Jangan sakiti suamiku, huhuuuuu.. Kami salah apa? Apa yang kalian inginkan?” Aileen semakin terisak saat melihat Virendra diikat dalam keadaan berdiri. Kemeja putih yang suaminya itu kenankan tak lagi berwarna sama, coklat dan merah sudah membaur jadi satu. Sangat lusuh dan acak-acakan. Bahkan luka di wajahnya begitu banyak.


Bahkan Shakeel pun terlihat menitihkan air mata begitu melihat Vir diseret dengan keadaan lebih mengenaskan darinya.


“Virendra bodoh! dasar bodoh! Kenapa kau datang sendiri, hah? Kenapa tidak datang membawa polisi?” sentak Keil yang sedang berusaha menumpahkan kekesalan sekaligus rasa kasihannya pada Vir yang mengalami luka lebih parah.


“Hey diam!" Bentak bos penjahat itu.


Tidak lama setelah itu, Niko dan Fia muncul dengan seringaian licik yang terus terpancar di bibir keduanya.


“Kalian?” Tangis Aileen semakin pecah saat mengetahui siapa dalang di balik kejadian ini.


“Kenapa melakukan ini?” lirih Aileen dengan isakan yang kian menjadi.

__ADS_1


Sementara Shakeel yang juga tahu siapa dua orang itu. Meski tak begitu tahu namanya, namun ia tahu jika wanita itu adalah mantan kekasih Virendra yang pernah ia dan Biyan pergoki dulu. Sedangkan pria itu, ia jelas tahu jika dia adalah mantan kekasih Aileen.


Apa dunia begitu sempit, hingga dua orang ini tega melakukan hal seperti ini! Shakeel menggeleng, tak habis pikir dengan apa yang terjadi.


__ADS_2