Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 147


__ADS_3

Sepulang dari bertemu Fia dan Niko, Vir lebih banyak diam sepanjang jalan.


“Antar ke cluster Magnolia saja, Pak!" ucap Vir.


Aileen yang mendengar itu hanya menyerngit heran sambil melempar pandang dengan pak supir lewat kaca spion dalam.


“Jadi ini kita ke rumah lama den Virendra, ya?" tanya Pak supir memastikan.


“Iya Pak! Nanti sampai sana Bapak bisa langsung pulang, datang lagi kalau kami minta jemput!” ujar Vir mantap.


“Vir!" Eil mencoba meraih tangan Vir untuk digenggam. “Kita belum izin ke Ibu, kau sedang tidak ingin menginap disana kan?" tanya Eil yang merasa khawatir.


“Tenang saja, Eil, nanti kita telepon ibu atau Vino!" tanpa menoleh, tangan Vir terlihat mengusap lembut tangan Eil. “Aku hanya ingin menenangkan diri di rumah lama kita, Eil!” katanya lagi sambil meyakinkan.


Aileen yang mendengar itu, tak bisa lagi berkata apa-apa. Ia jelas tahu apa yang suaminya rasakan setelah pertemuan dengan Niko dan Fia tadi. Bukan tak mungkin jika Vir tak emosi dan ingin melampiaskan semua kekesalannya disana. Hanya saja ia tahu jika suaminya itu sedang berusaha mengendalikan diri dan tidak mau terbawa emosi, apalagi mengingat dimana mereka berada. Perubahan kecil itu membuat Aileen merasa bangga pada setiap perubahan sikap sang suami.


Kini mobil yang dikendarai sudah berbelok memasuki pintu gerbang cluster di perumahan mereka dulu. Suasana sejuk dan asri langsung menyambut ketika pak supir diperbolehkan masuk setelah memperlihatkan sebuah kartu tanda huni yang Aileen berikan pada seorang penjaga.


Berjalan sejenak dari arah sistem satu gerbang, mobil itu berbelok satu blok lagi di lorong perumahan mereka berada.


Dari jarak yang cukup jauh, Aileen menyerngitkan kening ketika melihat mobil yang dikenalnya tengah terparkir tak jauh di halaman rumahnya, bahkan semakin dekat dan melihat plat mobil yang terparkir ia jadi bisa tahu siapa pemiliknya.


“Kak Vino? Ini mobil kak Vino kan, Vir?" tanya Aileen heran sambil menoleh ke arah Vir yang sedari tadi sedang asyik bersandar pada tangannya yang bersandar di jendela mobil sambil menghadap ke arah kiri, entah apa yang dipikirkannya.


Virendra yang duduk di sisi kiri langsung menatap lurus ke arah mobil, keningnya terlihat mengkerut ketika berusaha membaca plat mobil yang memang sangat ia kenali itu.

__ADS_1


Sedang apa jomblo akut itu disini? tanya Vir dalam hati. Aku bahkan belum memberi tahu jika kami akan pulang kesini dulu.


"“Itu mobilnya kak Vino kan?"


“Eh, iya Eil!" ucap Vir saat Aileen kembali bertanya. Kini mobil sudah masuk ke halaman rumah mereka dan terparkir tepat di carport.


“Sedang apa Kak Vino disini?" guman Eil sambil melepaskan sabuk pengamanannya dan Virendra. Sedangkan Pak supir sudah bersiap menurunkan kursi roda dan segera membantu Vir turun.


Begitu sudah berada di kursi roda, Vir langsung menjentikkan jari seolah ia baru saja mendapatkan ide yang begitu brilian. Membuat Eil langsung merespon dengan tatapan heran.


“Hati-hati!" ujar Vir saat melihat Eil hampir jatuh karena tersandung flat shoes yang hampir terlepas dari kakinya.


“Eh, tidak apa-apa!" Eil tersenyum dengan tangan kanan yang mengusap perut buncitnya sedangkan tangan kiri mengusap bahu Vir yang kelihatan panik karena melihatnya hampir jatuh.


“Lain kali pakai sendal jepit saja, tidak usah pakai sepatu itu lagi!" protes Virendra dengan tangan yang beralih menggenggam tangan sang istri.


“Tadi kenapa? Apa kau tahu kenapa kak Vino bisa berada disini?" tanya Aileen yang masih penasaran karena aksi Vir yang menjentikkan jari tadi.


“Apa kau benar-benar tidak tahu?" selidik Virendra yang merasa aneh jika Aileen sama sekali tak memikirkan hal yang sama dengan yang ia pikirkan. Dan benar saja, Eil malah menggeleng seperti orang yang memang tidak tahu apa-apa.


“Sinian!” Vir menggerakkan jemarinya meminta Aileen untuk sedikit menunduk.


Tuk....


“Auwww!" pekik Aileen ketika merasakan sentilan mendarat di keningnya.

__ADS_1


“Iss, Vir!" protes Aileen sembari mengusap keningnya. Sentilan yang Vir layangkan memang agak perih. Namun, bukannya merasa sakit ia justru merasa senang. Tentu saja, sebab melihat suaminya ceria seperti ini membuat ia mengingat sikap Vir yang dulu, selalu menyentil, meski begitu ia tahu jika itu adalah sentilan penuh sayang. Meski begitu ia tetap senang melihat wajah Vir yang tak lagi dipenuhi beban seperti saat berada di lapas tahanan tadi.


“Ututu, sayang! Sakit ya?” Vir nampak terkekeh sambil menarik Aileen lebih mendekat sehingga ia bisa melingkarkan tangan dan menyandarkan kepala tepat di perut sang istri.


“Maaf ya sayang, aku sedikit gemas jadi ingat menyentilmu, aku rindu menyentil istriku!"


Ucapan Vir benar-benar membuat Aileen merasa bahagia, ia benar-benar seperti mendapatkan kembali kebahagiaan yang sempat hilang karena insiden dan dampaknya itu.


“Huuuu, jahat!" hardik Eil dengan tangis dibuat-buat yang mana tak hanya membuat Vir tertawa, bahkan pak supir yang tengha berdiri di tepat di depan mobil, ikut terkekeh melihat tingkah mereka.


“Ih, rupanya sang drama Queen ini semakin lihat berakting! Sepertinya aku harus benar-benar mendaftarkanmu di ajang penghargaan bergengsi!"


Ucapan Virendra jelas membuat Aileen semakin senang. Ia kembali mengingat kenangan ketika hubungan mereka belum akur dulu, dimana Vir selalu mengatakan itu setiap kali ia ikut larut dalam sandiwara yang suaminya buat. Sungguh kenangan yang menyebalkan sekaligus mengharukan sebab penuh dengan perjuangannya yang berusaha meluluhkan dan mempertahankan komitmen dalam pernikahan mereka.


“Kau sudah banyak mengingat kejadian dulu?" Ia menatap Vir dengan penuh haru.


Suaminya itu mengangguk, tangannya beralih menggenggam tangan Aileen yang masih tertempel di wajahnya. Namun, suara dua orang yang berasal dari teras tetangga sebelah kanannya itu membuat suasana yang hampir mengharu biru itu harus berhenti. Secara bersamaan keduanya menoleh pada sosok pri dan wanita yang keluar dari rumah nampak tersenyum penuh kebahagiaan satu sama lain.


“Kak Vino? Mbak Moza?" lirih Aileen dengan wajah terkejut. Berbeda dengan Vir yang nampak biasa-biasa saja


“Itu yang kumaksud, Eil. Siapa lagi yang Vino datangi kalau bukan mbak janda temanmu itu!" lirih Vir yang mana langsung mendapat tepukan dari Aileen karena menyebut Moza dengan sebutan ‘Mbak Janda.'


“Husst!" peringatnya.


“Jadi yang sebenarnya amnesia aku atau kamu wahai istriku?" tanya Vir sambil menahan tawa melihat ekpresi terkejut sang istri.

__ADS_1


“Jevino!" teriak Vir, yang mana langsung membuat Vino dan Moza menoleh. Dua orang itu terlihat seperti pasangan yang kepergok berduaan. Mereka nampak salah tingkah.


“Astaga, wajah kakakku yang terbiasa jomblo ini sangat menggemaskan ketika jatuh cinta!" Vir tersenyum gemas saat melihat Vino dan Moza mendekat dengan wajah tegang.


__ADS_2