Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 135


__ADS_3

Para sanak keluarga, rekan, teman dan kolega satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman Ayah Hans. Begitu banyak yang menyayangi beliau, bahkan mengantarnya hingga ke peristirahatan terakhir. Hanya anak bungsunya saja yang tak ikut mengantar kepergian sang Ayah, sebab ia pun tengah berjuang mempertahankan hidupnya di dalam ruangan operasi. Entah bagaimana jadinya bila Vir sadar nanti dan mendapati kenyataan jika Ayah sudah tidak ada, pasti dia akan sangat terpukul.


“Kenapa Ayah harus pergi secepat ini?” Vino masih terisak di sisi makam Ayah, tangannya mencengkram gundukan tanah yang masih basah dan diatasnya terdapat tebaran bunga yang tertabur.


“Aku belum siap menggantikan tanggung jawab Ayah untuk menjaga Ibu. Apalagi sekarang Vir sedang masa kritis yah. Aku harus apa?? Aku...” Vino tak kuasa menumpahkan seluruh isi hatinya. Dadanya begitu sesak, menerima semua ini.


“Yang sabar, Bang! Aku ada di sini, Aku akan ada untuk kalian.” Dito menepuk bahu Vino, berusaha memberi kekuatan pada Kakak dari sahabatnya itu.


Vino menoleh menatap Dito yang masih setia menemaninya. Di sana hanya tersisa mereka saja. Sorot mata Vino seolah mengisyaratkan rasa terimakasih pada Dito. Namun tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Rasanya begitu menyesakkan menghadapi semua ini.


“Aku janji, Aku akan menyusut tuntas kasus ini sampai ke akar-akarnya.” sorot mata Dito menatap lurus dengan nyalang, seakan mengisyaratkan kobaran api yang membara pada dirinya “Aku akan membuat mereka mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatan mereka ini. Bahkan untuk Niko, aku ingin dia menerima hukuman dengan kasus berlapis..”


Vino menarik Dito ke dalam rengkuhan. Kakak Virendra itu, berulang kali menepuk-nepuk bahu Dito untuk memberi dukungan penuh padanya.


Dua pria yang tak harusnya tegar kini begitu rapuh dan hanya bisa saling memberi kekuatan satu sama lain.


“Kita pergi sekarang, Dit. Aku ingin mereka segera dihukum! Aku tidak terima adikku dicelakai seperti ini.”


Dito mengangguk, namun tangganya kembali tergerak dan menepuk bahu Vino.

__ADS_1


“Untuk ini, serahkan padaku saja. Kau temuilah dulu Tanye Melinda, disaat seperti ini dia pasti sangat membutuhkanmu sebagai tempat sandaran, Bang..” ujar Dito perihatin. Ia tak bisa membayangkan bagaimana terlukanya Ibu saat ini. Meski sudah ditemani beberapa keluarga, namun pasti ia membutuhkan sosok anaknya untuk mendampingi. Apalagi saat ini hanya Vinolah yang ia punya. Oleh karena itu Dito terus berusaha membujuk Vino.


Namun pria itu tetap bersikeras untuk ikut ke kantor polisi. Rasanya ia belum lega jika tak bertemu langsung dengan penyebab dari kejadian ini.


...-------...


Aileen, rasanya ia begitu terpukul mendengar berita duka dari Ayah Hans. Hal itu membuat ia berkali-kali menitihkan air mata dan berujung tumbang. Wanita hamil itu begitu drop dan beberapa kali tak sadarkan diri setiap kali tenaganya habis karena menangis. Namun saat sadar, ia tetap berusah memaksakan diri untuk kuat. Agar diizinkan ikut mengantarkan Ayah ke peristirahatan terakhirnya. Walau sebenarnya ia tak ingin meninggalkan Virendra yang baru saja selesai melangsungkan operasi dan sudah dipindahkan ke ruang ICU.


Menurut penjelasan dokter yang menangani. Untuk pemeriksaan lebih lanjut dan mengetahui perkembangan pasca operasi sampai pasien sadar harus menunggu hilangnya pengaruh bius yang pengaruhnya bisa hilang paling cepat dua ampai enam jam. Sementara, efek obat bius epidural bisa selama dua sampai tiga hari. Meski begitu, Aileen tetap berharap Virendra segera sadar secepatnya.


Dia memercayakan keadaan suaminya pada dokter dan perawat yang berjaga. Meski dengan perasaan kalut namun ia tetap memaksakan diri untuk pergi. Karena ia pun tak ingin ketinggalan moment mengantar Ayah ke peristirahatan terakhir.


“Aku mau masuk, Biy." lirihnya sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.


“Kita izin dulu, ya.”


Biyan pun mengiyakan keinginan sang Kakak. Namun sebelum itu Biyan harus menemui dokter jaga untuk meminta izin terlebih dahulu, mengingat penjagaan dan jam besuk pasien ICU memiliki batas waktu.


Begitu mendapat izin dan setelah mensterilkan tubuh denga mencuci tangan hingga menggunakan pakaian besuk. Biya mendorong kursi roda memasuki ruangan ICU.

__ADS_1


Ia yang melihat kondisi kakak Iparnya seperti ini pun begitu merasa terluka, apalagi kakaknya. Bagaimana dia tidak begitu terpukul jika seperti ini? Pria yang pernah ia benci akibat ulahnya itu begitu tak berdaya. Biyan merasa menyesal pernah begitu membenci kakak iparnya itu. Rasanya baru kemarin mereka berbaikan namun kini pria itu harus mengalami hal memilukan seperti ini. Tubuhnya ada namun raganya entah ada dimana. Ia hanya mampu berharap dan mendoakan yang terbaik untuk kakak iparnya itu.


Pikiran Biyan terpecah ketika mendengar isakan tangis dari kakaknya. Aileen kembali menangis. Sungguh ia tak mampu melihat tubuh tak berdaya suaminya.


“Vir, Apa kau mendengarkan ku? Hiksss..”


“Bangunlah, apa kau tidak ingin menemani ibu? Dia membutuhkan mu!”


“Bukan cuma Ibu, tapi aku juga membutuhkan mu! Aku ingin kau segera sadar. Kau ingankan, kita akan mengadakan syukuran untuk bayi kita..!!”


Aileen terus meracau sambil menumpahkan seluruh isi hatinya. Tubuh ringkih itu terus berguncang menatap tubuh yang terbaring lemah di ranjang.


Tak ada lagi Virendra yang biasanya Arogan, ceria dan banyak bicara. Kini Pria tampan bermata sipit itu tengah terbujur kaku. Seperti tak ada kehidupan dalam tubuhnya. Sebagian kepalanya terbungkus perban, terutama di bagian tengkuknya. Hampir seluruh peralatan medis terpasang di tubuhnya. Mulai dari selang makanan dan ventilator terpasang di hidung dan mulut. Selang infus terpasang dipunggung tangannya. Sementara kateter terpasang dibagian bawah tubuhnya yang lain. Dia benar-benar tak berdaya.


Monitor yang terletak di samping ranjang menampilkan grafis kinerja organ tubuhnya. Memantau detak jantung dan kadar oksigen di dalam darah juga memantau tekanan darahnya. Tubuh yang biasa kuat iti benar-benar bergantung pada alat medis yang ada. Dia sudah seperti mayat hidup. Ada tapi entah dimana dirinya, hanya seonggok tubuh tanpa jiwa.


Aileen hanya mampu menangisi keadaan menyakitkan itu. Hanya menangis tanpa suara yang bisa ia lakukan, berharap Virendranya benar-benar sadar setelah pengaruh anastesi hilang dari tubuhnya.


..........

__ADS_1


__ADS_2