
“Sering-seringlah menginap” ucap Mommy pada Vir dan Aileen yang berpamitan untuk pulang ke rumahnya.
“Ya benar, kalian memang harus sering menginap di sini” Ucap Daddy menimpali
“Ayo By, kita harus segera berangkat” Daddy Al melirik jamnya kemudian berjalan ke arah mobil Alphard yang sudah menunggu di depan sana.
“Semangat By, pasti bisa!” Aileen tahu jika Biyan sangat terpaksa menuruti keinginan Daddym Sebab ia harus ikut ke perusahaan untuk mempelajari banyak hal karena sebentar lagi ia akan diangkat menjadi Wakil CEO untuk sementara waktu sampai bisa menjadi CEO yang sesungguhnya.
Aileen tahu betul jika Biyan sama sekali belum siap mengemban tugas itu.
“ck, jangan mengejek ku” ketus Biyan kemudian segera menyusul Daddy
“Shuut, eil jangan mengganggunya! Dia sedang badmood” tegur Mommy pada Aileen yang terus menertawai Biyan
"Haisst, Biyan itu memang duplikat opa mu saat masih muda” sahut oma Fera yang geleng-geleng melihat tingkah cucu bungsunya itu.
Mereka semua terkekeh mendengar ucapan Oma, beruntung opa sedang pergi main golf jadi tak mendengar apa yang oma katakan.
Setelah mobil Alphard itu pergi. vir dan Aileen juga bergegas pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan keduanya terus mengobrol
“Sikap Biyan itu sama persis dengan sikap ku, dulu aku juga sama sepertinya tapi bedanya aku terlalu membangkang” Vir terkekeh geli mengingat betapa keras kepalanya dia dulu.
“Sekarang juga masih keras kepala”sahut Aileen disela senyumannya, ia senang karena Vir sudah mau menceritakan masa lalunya meskipun berupa hal kecil
“Sekarang beda, dulu tak bisa dikontrol sekarang lumayan bisa mengontrol diri ya kecuali kontrol kendali padamu” Vir Aileen sambil mengedipkan mata, membuat Aileen memukul pelan lengannya.
Mereka terus berbincang satu sama lain, hingga beberapa menit kemudian akhirnya mobil itu sampai di rumah sakit.
“Aku turun dulu ya!” Aileen beralih mencium punggung tangan suaminya.
“Hati-hati, nanti makan siang bersama!” Vir berbaklik mencium puncak kepala istrinya.
Ini merupakan sebuah kebiasaan yang harus dilakukan. hal ini pula yang membuat hubungan keduanya semakin dekat. Karena terbiasa, akan terasa ada yang kurang jika tak melakukan rutinitas itu.
Sepertinya kali ini ucapan yang mengatakan “Cinta akan hadir karena terbiasa” memang benar adanya. Semakin hari hubungan mereka semakin menunjukkan kemajuan meskipun belum ada ungkapan dari keduanya namun Aileen dan Vir terlihat tidak mempermasalahkan itu. bagi Aileen sendiri ungkapan hanya sebuah pemanis, yang terpenting baginya adalah tindakan jika suaminya memang bersungguh-sungguh dalam hubungan ini.
Setelah Aileen turun, Vir segera melajukan mobilnya pergi dari sana.
🍁🍁🍁🍁
Setelah mengadakan pertemuan dengan perusahaan yang akan menjaalin kerja sama dengan perusahaannya, Vir terlihat ke luar dari ruang rapat bersama dengan Dito. Ia memang sengaja meminta sahabatnya itu untuk menemaninya rapat
“Ohiya, bagaimana hubungan mu dengan Aileen?” tanya Dito yang berhalan beriringan dnegan Vir
“Baik, bersamanya tidak seburuk yang aku pikirkan dulu” kedua tangannya di masukkan ke saku celana,. membuat pesonanya tak luntur sedikit pun.
Pak Amran dan seorang sekertaris wanita terlihat berjalan dibelakang Vir dan Dito.
“Aku bilang juga apa, aku yakin sebentar lagi kalian akan seling mencintai” ucap Dito yang merasa senang
“Ku rasa begitu, kehadirannya selalu mencuri perhatianku, Doakan secepatnya!”
Ting..
Nada pesan masuk, Vir kemudian merogoh benda pipih tersebut dari saku jasnya.
Setelah memeriksa pesan yang masuk, raut wajah Vir tiba-tiba berubah. Ia kelihatan marah, namun entah pesan apa yang baru saja dilihatnya hingga membuat wajahnya murung.
“Aku harus pergi" Vir memasukkan Hanphonenya ke dalam saku.
”kemana?” tanya Dito penasaran
“ke rumah sakit, aku ada janji makan siang dengan Aileen” ucapnya dan melenggang begitu saja
Dito mengerutkan keningnya seraya melirik jam tangannya, Jam baru menunjukkan pukul setengah 11.
”Tapi ini belum jam makan siang” teriak Dito saat Vir sudah berjalan menjauh. Dito yakin jika pesan yang Vir terima ada hubungannya dengan perubahan wajahnya itu.
Dito tak mau ambil pusing, ia akan menanyakannya nanti saat Vir kembali. kini Ia beralih menatap dua orang yang ada di sana.
__ADS_1
“Pak Vir sudah tidak ada, kalau begitu saya ingin pamit kembali ke hotel”
“Baik Pak, silahkan! Kami sangat berterimakasih karena anda sudah memberikan beberapa ide dalam rapat tadi dan itu sangat membantu kami” ucap Amran sedikit membungkuk memberi ucapan terimakasih pada sahabat pimpinan mereka yang sudah mau menyumbangkan ide-idenya dalam rapat tadi.
“Tidak perlu sungkan, ini semua karena Vir, kami sudah seperti saudara wajar jika melakukan hal kecil seperti ini” Dito menepuk pelan bahu pria paruh baya itu.
“Kalau begitu saya permisi dulu”
Dito pun melangkah meninggalkan Amran dan sekertaris yang masih memandanginya hingga menghilang di balik pintu lift.
****
Di sebuah ruangan, terlihat tiga orang wanita tengah asyik berbincang. Dua diantaranya mengenakan jas putih yang merupakan jas dokter sementara yang satunya mengenakan seragam hijau mint yang merupakan seragam khusus suster di rumah sakit tersebut.
Di lihat dari id cardnya, ketiga wanita itu ialah Aileen, Risa dan Nita.
Kedua dokter itu terlihat tengah mewawancarai Nita dengan begitu hebohnya.
“Sudah ku bilang berhenti mencari pasangan di dunia maya, lebih baik cari di dunia nyata bisa langsung berkenalan dan tahu sikapnya seperti apa daripada kenalan melalui chat tapi tidak sesuai” ledek dr Risa pada Nita yang baru saja curhat tentang pengalaman kencan butanya yang mengenaskan dan hampir merugikan dirinya.
“Mau bagaimana lagi, saat chatingam dia sangat asyik. Memang sih dia tampan tapi dia terlalu berani, aku tidak suka pria seperti itu” Nita begidik ngeri jika mengingat kesan terakhir saat dirinya kencan dengan pria yang dikenalnya melalui platform online
“Maka dari itu, lebih baik berhenti. Ucapan kak Risa ada benarnya juga, lebih baik cari jodoh di dunia nyata atau kalau tidak ikut kontes take me out Indonesia saja” Aileen memberi saran yang membuat mereka semua terkekeh geli
“By the way, tapi aku penasaran dengan pria itu, apa segitu buruknya dia sampai kau menolaknya secara kasar” ucap Aileen dengan raut wajah penasaran
“Iya, aku juga penasaran, coba lihat fotonya” sahut Risa tak kalah penasarannya
“Tidak ada, kalian tidak perlu tahu wajahnya seperti apa. Intinya aku tidak ingin mengingatnya, apalagi jika harus bertemu lagi. Amit-amit” Nita mengetuk tangannya di meja lalu beralih ke kepalanya kemudian menghempaskannya. seolah tengah menghempaskan pengalaman buruk itu dari dirinya
Namun Saat tengah asyik berbincang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba membuka pintu.
Ketiga wanita itu menoleh, mereka sedikit terkejut melihat seorang pria yang tengah berdiri di sana dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Vir..” lirih Aileen, kemudian beranjak menghampiri suaminya.
Ya pria, itu adalah Vir. Namun yang jadi pertanyaannya adalah kenapa wajahnya terlihat begitu datar tanpa ekspresi. Apalagi yang membuatnya kelihatan menahan emosi seperti ini? Berbagai tanya berputar dibenak Aileen
Sementara Risa dan Nita yang merasa atmosfer ruangan itu sudah berubah sedingin es pun segera beranjak. Nita dan Risa segera ke luar memberikan kesempatan untuk keduanya berbincang.
“Kami ke luar dulu, selamat berbincang” ucap Risa sopan
“Mari Pak” sahut Nita menunduk tak kalah sopannya
Setelah keduanya keluar, Vir sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.
Ia lalu mendorong daun pintu dengan kakinya kemudian tangannya beralih memutar kunci pada pintu itu, ia melakukannya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari wajah Aileen yang kelihatan sangat kebingungan karena tingkah Vir itu.
“Vir, ada apa?” berucap lembut seraya mengelus lengan kekar vir.
Tanpa menjawab Vir langsung mendekap erat tubuh Istrinya, menghirup dalam aroma favoritnya. setelah itu ia menatap lekat wajah Aileen yang kelihatan tidak mengerti apa-apa. Tangannya beralih menarik tengkuk sang istri kemudian ******* bibir merah merekah itu dengan sedikit kasar.
Aileen yang masih merasa heran tetap membalas ciuman itu, ia sedikit kewalahan menghadapi Vir yang membelit lidahnya dengan begitu rakus. Bahkan sampai membuatnya kehilangan pasokan udara.
Vir menghentikan aksinya saat Aileen memukul pelan dada bidangnya.
”Hmmmnp, huhh” Napas aileen terengah-engah.
“Maaf” tangan Vir terulur mengusap ujung bibir Aileen yang basah karena ulahnya
Aileen menggeleng, menandakan jika ia tidak masalah untuk hal itu. Ia lebih penasaran dengan apa yang terjadi pada suaminya.
“Ada apa?” menatap nanar, dari sorot matanya terlihat ada kekhawatiran dan kegelisahan yang membuatnya panik seperti ini.
Namun Aileen tidak tahu apa yang membuat Vir seperti ini.
Vir membawa Aileen duduk di sofa. Sudah seperti ruangannya saja, padahal yang punya ruangan ialah wanita yang ditariknya.
“Ada yang mengirimkan ini” Vir menunjukkan Hp-nya pada Aileen.
Aileen yang duduk di samping Vir menatap wajah suaminya dengan intens, kemudian meraih hp tersebut.
__ADS_1
Pandangannya membulat seketika tatkala melihat foto dari pengirim tanpa nama dan photo profil itu.
“Foto ini?” tanya Aileen heran
“Iya, aku tidak tahu siapa pengirimnya. Aku kesal saat melihatmu bersamanya jadi aku langsung ke sini!”
Mendengar penuturan suaminya, Aileen malah tertawa terpingkal-pingkal sambil menepuk bahu Vir dengan sedikit keras.
Ia tertawa sebab Vir datang hanya untuk memastikan dirinya bersama dengan Zaky atau tidak. Sebab Foto itu menunjukkan Aileen tengah duduk bersama Zaky. Pria dalam foto tersebut terlihat memegang kepala Aileen, membuat Vir langsung naik darah.
Aileen sendiri tidak tahu siapa orang yang kurang kerjaan diam-diam memotret dirinya kemudian mengirimkannya pada Vir hingga membuat pria itu marah seperti ini. padahal kejadian dalam foto tersebut sudah sangat lama.
“Hey, berhenti memukul ku. Tenagamu seperti tenaga kuda” vir menahan tangan Aileen yang terus memukulnya “sekarang katakan, dimana pria itu sembunyi, dia pasti ada di sinikan”
Aileen yang sudah puas tertawa beralih menatap wajah Vir lekat dengan senyuman yang tertahan “Hey Tuan, kau sudah lihat di sini hanya ada kita berdua, memangnya ada siapa lagi?”
“Bisa sajakan kau menyembunyikannya di toilet” ketus Vir
“Kalau begitu silahkan cari” ucap Aileen mempersilakan. namun suaminya itu sama sekali ta bergeming.
Bagaimana tidak, sejak tadi melihat Aileen sedang bersama temannya itu membuatnya sadar jika di sini memang tidak ada siapa-siapa selain mereka.
Aileen menghela napas dengan senyum hangat yang menghiasi bibirnya, ia kemudian kembali meraih Hp suaminya.
“Coba perhatikan baik-baik, apa di foto ini sama persis dengan ruangan ini atau bahkan sama dengan warna gedung ruamah sakit ini?”
Vir menggeleng, “sekarang perhatikan pakaianku? Apa pakaian yang aku kenakan sama dengan pakaian yang ada di foto ini?”
Vir kembali menggeleng seperti anak kecil yang sangat penurut karena menginginkan sesuatu dari ibunya.
Ia beralih memerhatikan pakaian istirnya yang saat ini sedang mengenakan outer blouse berwarna maroon dilapisi jas putih yang dipadukan dengan celana kulot hitam. Sangat berbeda dengan yang di foto. Di sana Aileen mengenakan jumpsuit panjang berwarna coklat muda
Aileen tersenyum kemudian menyentil Kening suaminya, membuat Vir melotot seolah mengatakan beraninya kau.
“Hey, apa seorang pengusaha muda nomor satu Indonesia benar-benar tak mengenali hotelnya sendiri, ini hotel mu sayang bukan rumah sakit!” Aileen memperbesar foto tersebut yang memperlihatkan latar foto tersebut yang di dindingnya terpampang nyata icon Angkasa Land Hotel.
“Aku tidak tahu siapa yang memotret kemudian mengirimkannya padamu tapi foto ini sudah agak lama, Vir!”
Vir menghela napas, ia benar-benar tak bisa berpikir jernih begitu menerima pesan tersebut, ia sendiri dibuat bingung dengan reaksinya yang berlebih dan takut jika Aileen bersama pria lain.
“Maaf” Vir memijit Pangkal hidungnya “Aku akan mencari tahu siapa orang kurang kerjaan yang memotret dan mengirimnya padaku”
Aileen masih tersenyum seraya menatap lekat wajah suaminya, Aileen mendekatkan wajahnya tepat di hadapan Vir.
“Apa kau cemburu?” tanyanya
Vir mengernyitkan dahinya atas pertanyaan yak berbobot itu. “Aku sama sekali tidak mengenal istilah cemburu” mencebikkan bibir seraya menyentil keningnya istrinya.
“katakan saja, aku tahu kau cemburu. jika tidak mana mungkin reaksimu sangat berlebihan begini” masih berada di depan wajah Vir dengan kepala yang dimiringkan.
Vir si pria arogan yang tak pernah mengakui perasaannya selalu mencari cara agar tak terlihat kalah meskipun di depan istrinya sendiri.
Pria itu malah mencium bibir Aileen yang tengah tersenyum di hadapannya.
Cup.
Aileen dibuat melongo
“Apa kau ingin menggoda ku? Baiklah kita akan melakukannya disini” Vir tersenyum sinis seraya bergerak melepaskan jasnya.
Niat hati ingin membuat suaminya terpojok malah dirinyalah yang harus menyerah, Aileen tidak ingin melakukannya di rumah sakit, itu sangat memalukan. Pikirnya
Ailen menghela napas dan kembali membenarkan posisi jas pria licik di hadapannya itu
Vir tersenyum penuh kemenangan, ia melirik jamnya.
“Ayo makan siang” Aileen mengangguk mengiyakan. Sepertinya ini lebih baik daripada berdiam diri di sini dan membuat Vir berbuat yang lebih
Ia hapal betul tingkah suaminya yang selalu ambil kesempatan dalam kesempitan
Vir yang memang sudah lapar segera menggandeng tangan Aileen ke luar dari sana.
__ADS_1