
Setelah melihat Aileen yang sudah tertidur pulas. Vir lalu memutuskan sambungan telepon tersebut kemudian beralih menatap arlojinya, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam waktu Korea Selatan.
Ia kemudian beranjak dari sofa, lalu merapikan semua barang-barangnya. Sepertinya dia akan chek-out dan kembali ke Indonesia lebih awal dari jadwal sebenarnya. Setelah dirasa sudah siap, ia lalu segera menarik kopernya ke luar kamar. Namun saat di lift ia kembali bertemu dengan beberapa kenalannya saat di acara tadi. Dan sepertinya acara telah berakhir hingga hadirin yang lain sudah diperbolehkan kembali ke kamar masing-masing.
“Loh, Anda mau kemana, kenapa bawa koper?” tanya Frsiska heran saat melihat Virendra orang yang baru dikenalnya beberapa jam lalu itu sudah berpakaian rapi sambil menyeret kopernya.
Vir tersenyum sambil melirik kopernya “Saya akan kembali ke Indonesia..”
“Malam ini?” tanya Friska dan Vir pun mengangguk penuh keyakinan
“Bukannya kita masih ada satu hari lagi baru boleh pulang..”
“Istri saya sakit jadi saya harus pulang lebih awal”
Friska nampak terdiam mendengar penuturan Vir, entah apa yang ia pikirkan. Namun sepertinya wanita itu kelihatan terkejut saat mendengar Virendra menyebutkan kata istri.
Oh jadi dia sudah punya istri, Aku pikir belum.. Wanita itu menatap Virendra dengan tatapan yang sulit diartikan.
Apa-apaan aku ini, hampir saja aku jatuh hati pada orang yang sudah beristri.. ujarnya, yang sepertinya saat di acara tadi tidak begitu mendengarkan ucapan Virendra, padahal jelas-jelas tadi ia menyebutkan nama Aileen sebagai istrinya.
“Kalau begitu saya pergi dulu” kata Vir yang mana membuyarkan lamunan Friska.
“Eh, Iya..” Friska tersenyum canggung “Selamat sampai Indonesia, semoga bisa ketemu lagi”
“Terimakasih” Vir membalas tersenyum “Tentu, kita pasti akan bertemu. Kalau sudah di Indonesia jangan lupa mampir juga di Hotel saya” lanjutnya
“Pasti, itu pasti..” sahut Friska.
Setelah itu, Vir pun segera masuk ke dalam lift dengan Friska yang terus menatapnya hingga pintu lift itu tertutup rapat.
..._____...
“Apa?? Jadi Aileen dipecat karena mantan kekasih Vir itu dan dia juga terluka karena terlibat cekcok dengannya” reaksi Ayah Hans begitu terkejut mendegar cerita dari Ibu.
“Aileen yang malang..” lirih Vino yang juga sedang ada di sana, Ia tak memberi respon berlebih selain meras iba pada adik iparnya itu.
“Kita harus memberi wanita itu pelajaran! Aku tidak rela menantu kesayanganku diperlakukan seperti itu” timpal Ibu dengan emosi yang meletup-letup.
Ayah menghela napas berat “Aku pun tidak terima. Tapi jujur, Aku sama sekali tak berselera jika harus berurusan lagi dengan keluarga itu setelah kejadian di masa lalu”
Ibu yang mendengar ucapan Ayah hanya menoleh sekilas dengan tatapan sedih. Entah apa yang mereka sembunyikan hingga Vino pun terlihat terkejut saat mendengar obrolan kedua orang tuanya.
Maksudnya apa? kenapa aku sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan ini, dan reaksi macam apa itu?.. lirih Vino membatin saat melihat raut wajah ibu yang tadinya marah menggebu kini berubah sendu setelah mendengar ucapan Ayah.
“Tapi aku pasti akan menyelesaikan ini. Aku pun tidak rela jika menantuku mendapat perlakuan seperti ini. Apa kata keluarga Candra dan Utama jika tahu hal ini menimpa putri mereka karena hubungan Vir di masa lalu” ujar Ayah dengan sambil menghembuskan napas kasar dan Ibu pun langsung mendekatinya.
Suasana hening sejenak dengan Vino yang menyimpan seribu tanya dalam dirinya atas perkataan Ayah dan Ibunya barusan. Mungkinkah ada suatu rahasia besar yang Ayah dan Ibu sembunyikan. Mungkin bahkan ia dan Virendra pun tak mengetahuinya.
__ADS_1
“Lalu dimana Aileen sekarang? tolong panggil dia kemari, aku ingin mengobrol” ucap Ayah kembali membuka obrolan
“Sepertinya dia sudah tidur, katanya tadi ingin menonton acara penghargaan suaminya” ucap Ibu yang mana tanpa sadar membuat semuanya terdiam dan saling tatap kemudian.
Tatapan ketiganya bertemu dan seolah memikirkan hal yang sama yaitu dengan pikiran yang tertuju pada Acara yang Vir hadiri.
“Sepertinya acaranya sudah berakhir tapi kita bisa menonton siaran ulangnya” ucap Vino memecah keheningan pada acara saling lempar pandang itu. Ia tahu apa yang Ayah dan Ibu pikirkan, tentu mereka juga Ingin menyaksikan dan penasaran apakah Hotel adiknya masuk dalam kategori nominasi atau bahkan mungkin menjadi pemenang.
“Ayo cepat putar siaran ulangnya!” ucap Ayah antusias
Vino pun mulai menyalakan tv dan mulai menyambungkan dengan ponselnya untuk menyaksikan acara siaran langsungnya karena acara live siaran di Tv tentu sudah berakhir.
“Semoga Angkasa Land memenangkan slalah satu nominasi” timpal Ibu penuh harap. Lalu tiga keluarga itu pun mulai menyaksikan acara tersebut.
...____...
#Di Bandara Internasional Incheon
Setelah memesan tiket dadakan dengan jam penerbangan pukul 4:25 dini hari, waktu Korea Selatan. Rasanya Vir sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang istri dan akan secepatnya menemaninya untuk melakukan pemeriksaan.
Dengan raut wajah gusar, ia terlihat sudah begitu tak sabaran ingin segera berangkat. Sementara waktu take off baru akan dilakukan 2 jam lagi.
Vir duduk di sofa sambil terus menscroll Ponselnya. Setelah bosan bermain-main dengan gadget ia pun meletakkan benda pipih itu di atas meja sofa. Kini pandangannya tertuju pada sepasang kekasih yang sepertinya juga akan melakukan penerbangan. Sepasang kekasih itu terlihat begitu harmonis dengan tangan yang terus saling bertaut satu sama lain. Keduanya berjalan ke arah Sofa yang tak jauh dari dirinya.
Melihat interaksi keduanya membuat Vir jadi semakin merindukan sang istri. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya saat melihat pria itu mencium kening wanitanya sambil meraih sesuatu dari saku celananya lalu memberikannya pada sang wanita. Si wanita yang diberikan sesuatu itu nampak begitu bahagia.
Hingga pada akhirnya saat sudah duduk di sofa, Pria itu terlihat menyematkan sesuatu pada leher wanitanya.
Hal itu membuat Vir mengusap wajah kasar “Ck, Astaga aku hampir saja melupakan sesuatu...” Gerutunya sambil bersandar di sandaran sofa dengan wajah mendongak ke atas.
“Bisa-bisanya aku tidak kepikiran membelikan oleh-oleh untuk istriku” Vir memijat pangkal hidungnya. Selama 2 hari di Korea benar-benar membuat pikirannya kacau, Otaknya yang dipenuhi dengan Aileen hanya bisa memikirkan bagaimana caranya agar bisa pulang lebih awal hingga membuatnya tak sempat untuk berjalan-jalan keliling Seoul atau bahkan kepikiran untuk membelikan sesuatu pada Istrinya itu.
Setelah menghela napas panjang, Vir lalu meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada kolom pencarian Google Maps
“Toko Souvenir terdekat” tulis Vir pada pencaharian pertama
“Toko Khusus pernak-pernik wanita terdekat” tulisnya lagi pada pencaharian kedua dan masih banyak pencaharian-pencaharian berikutnya.
Setelah dirasa menemukan beberapa tujuan, Vir pun melangkah ke luar dengan menitipkan barangnya pada petugas bandara terlebih dahuku. Ia ke luar menuju terminal stasiun kereta cepat, Tentunya setelah mengalokasikan waktu terlebih dahulu agar bisa kembali tepat sebelum waktu keberangkatan.
Setelah melakukan berbagai macam prosedur, Ia pun mulai naik ke atas kereta yang sebentar lagi akan membawanya kembali ke pusat Kota Seoul. Semua itu dilakukannya hanya agar dapat mencari oleh-oleh yang tidak mengecewakan untuk Aileen-nya tercinta.
...-----...
Keesokan harinya, Aileen terbangun lebih awal saat matahari sama sekali belum menampakkan sinarnya. Hal pertama yang dilakukannya setiap bangun tidur tanpa ada sang suami di sampingnya adalah mengecek ponselnya, namun sama sekali tak ada notifikasi dari orang yang selalu ia rindukan itu.
Entah mengapa tiga hari begitu terasa lama, Rasanya iapun sudah tak sabar ingin bertemu dengan Virendra nya tercinta.
__ADS_1
Aileen menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjang, ia melangkah menuju kamar mandi. Setelah mencuci muka, ia berdiri di depan cermin sambil memerhatikan wajahnya. Ingatan tentang peristiwa muntah-muntahnya semalam yang kembali terjadi terus berputar di memory ingatannya, serta ucapan blak-blakkan sang suami yang mengatakan dirinya mungkin saja mengandung pun terus bertebaran bagai kapas yang tertiup angin, membuat hati dan perutnya bagai dihinggapi ribuan kupu-kupu yang membuatnya tergelitik senang.
Ia pun tak menafikkan ucapan sang suami, karena kali ini firasatnya sebagai seorang dokter pun meyakini hal itu. Bahkan sebagai seorang wanita yang masa period nya datang terlambat jauh membuat ia makin yakin jika dirinya memang tengah mengandung.
Rasanya ia sudah tak sabar menunggu kedatangan Vir agar mereka bisa segera memastikan apakah malaikat kecil itu benar-benar sudah bersemayam di dalam perutnya.
Aileen tersenyum sambil memutar-mutar tubuhnya di depan cermin. Di tariknya kemeja besar Vir kebelakang hingga membuat lekuk tubuhnya terukir nyata.
“Memang sedikit lebih berisi” ia menynetuh perutnya dan mengelusnya perlahan “Pipi ku juga makin cuby” katanya sambil menepuk-nepuk pipinya
Setelah puas dengan aksi random yang ia lakukan, Ia pun segera ke luar kamar tanpa berniat mengganti bajunya terlebih dahulu.
Entah apa yang terjadi jika Vir melihatnya ke luar menggunakan pakaian minim seperti itu, yang hanya menutupi bagian atas tubuhnya hingga beberapa centi ke bawah paha. Benar-benar seksi.
Ini bukan kebiasaannya. Namun jika benar ia tengah mengandung, bisa jadi ini merupakan pengaruh hormon pada Ibu hamil. Namun tetap saja, sudah pasti Vir tidak akan rela membiarkan kemolekan tubuh istrinya dinikmati orang lain meskipun itu wanita sekalipun..
“Pagi semua” sapanya saat tiba di ruang makan, dan di sana pun terlihat Ayah dan Vino yang sudah duduk namun sibuk dengan pikiran masing-masing
“Pagi juga” sahut semua orang
Semua menoleh ke arahnya, termasuk ibu yang baru ke luar dari dapur di susul dengan para pelayan
“Maaf, aku terlambat ya..” Aileen menarik kursi lalu mulai duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Vino.
Vino tercengang melihat kecantikan sang adik ipar.
Vir, istri mu cantik sekali.. gumam Vino dalam hati, namun secepat kilat ditepisnya pikiran itu. Ia tak ingin membuat Vir kecewa, apalagi jika Vir tahu ia menatap miliknya seperti tadi mungkin adiknya itu akan kembali mengibarkan bendera peperangan.
“Tidak, Eil...” sahut Ayah “Kami baru saja akan memanggil mu” Aileen tersenyum mendengar ucapan Ayah
“Luka di wajahmu sudah mulai hilang!” seru Ibu sembari memerhatikan goresan di wajah Aileen yang memang mulai samar-samar.
“Obatnya memang ampuh untuk menghilangkan bekas luka” sahut Aileen
Semua keluarga jelas tahu baju siapa yang sedang dipakai oleh Aileen. Namun mereka tak ingin menanyakan hal yang sudah mereka tahu jawabannya. Sudah pasti karena Aileen merindukan suaminya itu.
Mereka pun muemulai sarapan pagi dengan khidmat.
Setelah selesai makan, kini Ayah dan Vino bersiap untuk pergi bekerja bersamaan dengan Aileen yang berpamit untuk kembali ke rumah keluarganya.
“Ibu pikir kau akan menginap di sini sampai Vir pulang” kata Ibu yang seolah tak rela jika Aileen harus segera pulang.
Aileen memeluk tubuh wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu keduanya itu “Kalau Vir datang, aku janji akan datang lagi untuk menginap” ucapnya yang tak ingin Ibu kecewa
“Ibu akan menagih itu” Ibu tersenyum lalu Kembali saling peluk dalam waktu yang cukup lama.
“Ayo Eil, biar aku antar” ucap Vino yang sudah siap.
__ADS_1
Lalu ia pun masuk ke mobil Vino bersamaan dengan mobil Ayah yang melaju lebih dulu.