Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 120


__ADS_3

“Aku pergi dulu ya...” Vir mengecup kening Aileen yang mengantarnya ke halaman depan.


Ya, siang ini, setelah mendapat telepon dari Ayahnya untuk mengikuti rapat di Angkasa Corp, dengan berat hati ia harus meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Hal yang tidak ingin ia lakukan semenjak mengetahui jika Aileen tengah mengandung calon anaknya.


Walaupun sudah memutuskan untuk mengurangi jam kerja dan akan lebih sering kerja di rumah demi menemai Istrinya, namun ia juga tak bisa mangkir dari pertemuan dadakan seperti ini. karena tugasnya sebagai CEO merangkap Owner Hotel memang harus menghadiri beberapa pertemuan penting, salah satunya seperti sekarang ini. saat Pak Amran asisten Ayah menghubunginya untuk segera datang karena dewan komisaris akan mengadakan rapat dadakan.


“Sungguh tidak apakan jika aku pergi?” pertanyaan itu sudah berulang kali Vir lontarkan setelah menerima panggilan dari Pak Amran.


“Sebenarnya aku tidak rela meninggalkanmu sendiri, tapi ini wajib..” lirihnya yang sudah seperti akan terpisah jauh saja. Bahkan beratnya sama seperti saat mau ke korea waktu itu, begitu dramatis


“Kau memang harus pergi, aku tidak apa-apa Moon, percayalah..” ujar Aileen berusaha meyakinkan


“Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku..! Aku janji, begitu rapatnya Selesai aku akan langsung pulang..” Sekali lagi Vir mengecup kening Aileen yang diakhiri dengan kecupan di bibir


Namun setelah itu, bukannya langsung pergi, Vir justru berjongkok dengan bertumpu pada satu lututnya. Ia mensejajarkan diri di hadapan perut Aileen


“Sayang, Daddy pergi dulu ya Nak. kamu sama mommymu dulu, jangan nakal.. setelah urusan slesai, daddy akan langsung pulang..”


cup..


Vir mengelus dan mengakhirinya dengan kecupan..


“Oke Daddy, aku akan baik-baik saja. daddy hati-hati di jalan”


..._____...


Sesampainya di kantor, Vir langsung menuju ruang dapat. Di depan sana sudah ada pak Amran yang menunggunya.


“Selamat datang Tuan Muda..” seru Pak Amran menyapa dan Vir hanya menganggukkan kepalanya “Tuan Hans sudah menunggu di dalam..”


Setelah Vir masuk, pak Amran pun segera menyusul. Di dalam ruangan terlihat semua jajaran petinggi perusahaan sudah duduk di posisinya masing-masing, ternyata hanya tinggal menunggu dirinyalah baru rapat akan dimulai. Bahkan di sana juga terlihat ada Vino dan utusan dari perusahaan Daddy Al sebagai salah satu dewan komisaris (pemegang saham) yang pernah menanamkan modal saat perusahaan Ayah hampir bangkrut dulu.


“Maaf, Aku terlambat..” ujar Vir


“Tidak apa nak, kami pasti menunggu mu!” sahut Ayah sambil melambaikan tangan agar Vir segera mendekat.


Vir pun mendekat dan langsung disambut pelukan oleh Ayah. “Selamat atas pencapaian mu, Ayah bangga!”


“Terimakasih..” Vir tersenyum mengerti, ia tahu maksud Ayahnya.


Semua yang ada tersenyum melihat interaksi Ayah dan anak itu.


Mereka pun segera mengadakan rapat tersebut, yang merupakan rapat pengawasan dari para dewan direksi untuk pihak pengelola. Dan Vir yang tentunya sebagai CEO di sana memang diharuskan hadir.


...____...


“Sayang, aku barus saja selesai rapat. tapi masih ada urusan yang harus ku selesaikan di hotel.. mungkin akan pulang sedikit terlambat...” ujar Vir sambil menggunakan earphone di telinganya.


“Iya, tidak masalah! kerjakan tugas mu.. Aku baik-baik saja di sini, lagi pula ada Mbak Moza yang menemani..” sahut Aileen dari sebrang sana


Mendengar itu, Vir pun menghela napas lega. Ia merasa tenang jika ada yang menemani istrinya. Pasca mimpi buruk semalam, tingkat kekhawatirannya meningkat drastis jadi 85 persen..


“Ah, syukurlah.. kalau begitu sampaikan terimakasih ku padanya karena sudah menemanimu..”


“Tidak perlu sungkan Pak Vir, saya akan menjaga istri anda..” sahut Moza yang terdengar cekikikan bersama Aileen


Hal itu membuat Vir menyerngit heran, ia belum mendengar Aileen bicara apapun namun bagaimana Moza bisa mendengar ucapannya.


“Teleponnya ku loudspeker jadi mbak Moza bisa dengar..” jawab Aileen yang tahu pasti jika sekarang suaminya itu sedang kebingungan.


“Oh.." sahut Vir ber oh panjang “Sun, sudah dulu ya, Aku sudah mau sampai.. nanti ku telepon lagi..”

__ADS_1


“Oke, baiklah.. Kalau begitu selamat bekerja My beloved husband, We Love you.. ” ucap Aileen dengan setengah berbisik, mungkin agar Moza tak mendengar ungkapan cintanya


“Love you both, more than anything..” timpal Vir sebelum menutup panggilan itu.


Sesampainya di depan Lobby, Vir langsung menyerahkan kunci pada security untuk membawa mobilnya ke basement.


Lalu Ia pun segera masuk. Sepanjang jalan, semua staf yang ditemui menyapanya dengan hormat, Ia yang memang jadi lebih ramah membalas setiap sapaan itu dengan senyuman dan kadang membalasnya dengan ucapan.


Setibanya di lantai tempat dimana ruangannya berada, ia langsung menuju ruangan Dito terlebih dahulu.


“what happen?” ucapnya begitu pintu terbuka menampakkan Dito yang tengah sibuk mengerjakan sesuatu.


“Is there something urgent?”


Dito melirik Vir dengan kening mengkerut, bibir mencebik seolah tengah mengejek sahabatnya itu.


“Cih, iggris kesasar..” cibirnya saat Vir sudah duduk di kursi depan mejanya.


“Apa telingamu merasa terbebani jika aku menggunakan bahasa Inggris?” ketus Vir tak suka


“Ck...” Dito berdecak sambil mengarahkan laptopnya pada Vir.


Virendra yang melihat rekaman cctv itu seketika mengernyitkan keningnya. Sambil menghembuskan napas kasar.


“Astaga..” lirih Vir memukul pelan keningnya lalu mengusap rambutnya gusar setelah melihat rekaman cctv yang memperlihatkan adanya kobaran api di dapur hotel dalam durasi waktu yang singkat, namun itu tetap menghawatirkan apalagi jika sampai ada korbannya.


“Kapan kejadiannya? kenapa bisa sampai begini?”


“Tadi malam, sebelum jam makan malam. Mereka sedang memasak namun salah satu selang tabung gas itu ternyata mengalami kebocoran hingga menimbulkan kejadian seperti itu..” jelas Dito dengan suara berat.


“Beruntung tidak ada korban, dan kejadian ini juga sama sekali tidak diketahui oleh para tamu.. Semua aman terkendali, hanya saja kita baru melakukan perbaikan serta pembaruan ulang..”


Belum sempat Dito menyelesaikan ucapannya, Vir sudah menyelanya terlebih dahulu.


Dito hanya bisa terdiam mendengar omelan dari Vir, yang sahabatnya itu katakan memang benar adanya, jika tidak ada kelalaian mungkin kebakaran itu tidak akan terjadi.


“Jika sampai ada tamu yang tahu dan melihat kejadian ini. Itu bisa saja berpengaruh pada kualitas layanan dan akan berdampak pada penilaian terhadap hotel.. Citra kita akan rusak!! ini termasuk kelalaian..” seloroh Vir panjang lebar


Vir kembali menggeleng kecil sambil kembali memutar ulang rekaman tersebut, dimana seorang chef tengah memasukkan sesuatu yang sepertinya ayam tepung ke dalam wajan, namun tiba-tiba percikan api menyambar ke arah bagian yang terdapat kebocoran selang penghubung gas, hingga terlihat para staff dapur panik berhamburan dan langsung meraih Apar dan menyemprotkannya pada api tersebut. Terlihat cukup lama mereka menyemprotkan Apar tersebut dengan salah seorang nampak mematikan kompor untuk mencegah penyebaran api pada ruangan yang sudah di penuhi dengan gas yang menyebar.


Beruntung api itu bisa segera dipadamkan saat seseorang terlihat hendak memecet tombol darurat..


“Bagaimana hal ini bisa terjadi, Apa pihak Steward tidak pernah melakukan pengecekan?..” Vir menutup laptop tersebut lalu menggesernya pada Dito


“Aku ingin lihat dapur, Ayo!” ucap Vir dinging setelah beranjak dari duduknya.


Dito yang melihat kilatan emosi pada wajah datar Vir, sama sekali tak memberi sanggahan apapun. Ia tahu betul jika Vir sedang marah soal Hotel, ia hanya perlu diam apalagi kejadian yang seharusnya tidak terjadi ini sama sekali tak bisa di tolerir.


Dua sahabat itu pun pergi menuju lantai 2, tepat dimana bagian dapur berada.


Setibanya di sana, semua orang yang ada di dapur langsung menunduk hormat saat melihat Virendra dan Dito.


Suasana dapur nampak ramai, dengan para petugas yang tengah mengganti semua bagian yang dilahap api.


“Mana pihak steward?” dengan dada membusung Vir mengangkat dagunya menoleh ke beberapa staf berseragam hitam kombinasi merah maron yang berdiri di sana.


Sementara Dito yang tahu betul apa yang akan dilakukan sahabatnya itu hanya menghela napas. Seperti yang sudah-sudah, Vir memang terkenal tegas selalu memberikan hukuman pada setiap kesalahan kecil untuk mendisiplinkan para stafnya. Ya, Vir memang lebih tegas dibandingkan Dito yang memang terbilang tidak tegaan.


Ragu-ragu seorang pria yang sepertinya kepala divisi Steward mengangkat tangan.


Semua nampak menahan napas, menunggu apa yang akan Vir lakukan setelahnya. Sudah bisa ditebak, selain terkena semprotan pasti kepala Stewart itu akan mendapat sedikit pukulan sayang.

__ADS_1


“Lain kali harus lebih selektif, untuk kali ini saya masih bisa mentolerir. Tapi jika kejadiannya terulang, kamu tahu apa konsekuensinya buka?” ucap Vir sambil menepuk pipi pria itu.


“Kalau perlu lakukan pengecekan setiap hari, apalagi ini menyangkut nyawa banyak orang..” peringat Vir lagi


“Baik Pak, mulai hari ini saya akan lebih teliti..” jawabnya dengan kepala menunduk.


Vir pun hanya menjawab dengan anggukan.


Sedangkan Dito, nampak heran melihat perlakuan Virendra. Tidak Biasanya, sahabatnya itu bersikap pemaaf seperti itu. dia sangat berbeda, pikir Dito.


...____...


Vir mulai menata hidangan yang dibelinya saat pulang dari Hotel.


Masih sama seperti kemarin malam, Vir sama sekali tak membiarkan Aileen melakukan apapun. Meskipun telah dihinggapi dengan masalah kebakaran yang terjadi di hotel namun ia tetap berusaha memberikan yang terbaik pada istrinya, rasa lelahnya sama sekali tak berarti apa-apa demi melayani istrinya itu.


Entah sampai kapan, namun ia begitu menikmati perannya sebagai suami dan calon Ayah siaga yang selalu ingin melindungi Aileen dan bayi yang ada di dalam perutnya.


“Apa semuanya baik-baik saja?”


Vir yang masih mondar mandir menyiapkan piring beserta perlengkapan makan lainnya hanya menoleh sekilas.


“Apanya?”


“Urusan di hotel dan di kantor. Baik-baik saja kan?” celetuk Aileen sambil mulai meraih piring lalu menyendokkan nasi


“Baik.. Tidak ada masalah serius. untuk perusahaan, dewan komisaris hanya ingin melihat laporan dan presentasi saham bulan lalu..” sahut Vir yang kini mulai duduk di samping Aileen.


Aileen hanya mengangguk mengerti “Kita satu piring saja ya..” ia mulai mengambil semua lauk pauk yang ada


Vir hanya menggangguk setuju “Biar aku yang suap..” imbuhnya seraya mengambil alih piring dari tangan istrinya lalu mulai makan bersama.


Setelah selesai makan, Vir lalu membereskan semuanya dan tidak lupa memberikan Aileen suplemen penambah darah yang harus diminum tiap hari selama hamil.


“Makasih Daddy, Mommy dan aku menyayangimu..” lagi-lagi Aileen menirukan suara anak kecil sembari mengelus perutnya dan memegang kedua lengan Vir yang masih berdiri di hadapannya, wanita hamil itu duduk mendongak menatap Vir yang masih sibuk merapikan kotak obat miliknya lalu menyimpannya di lemari.


“Daddy juga sayang kalian..” selorohVir setelah menyimpan kotak tersebut.


“Sun, aku mau itu..” ucap Vir sambil mengerlikkan matanya


“Aku juga mau..” Aileen balas mengerling dengan senyum mengembang


Vir terkekeh melihat Aileen yang ternyata juga menginginkan hal yang sama seperti dirinya.


Dengan sedikit tergesa-gesa, Vir langsung menyambar bibir ranum istrinya yang masih duduk di hadapannya.


Suara decapan pun menggema di ruang makan itu, Vir melakukannya dengan begitu lembut. Membuatnya terbang mengangkasa, menikmat sentuhan memabukkan yang juga menjadi candunya.


“Jangan di sini..” cegah Aileen saat tangan Vir mulai tak terkontrol, bergrilya di sekujur tubuhnya, bahkan hendak menyibakkan kaos yang ia kenakan.


Ya, beberapa saat terakhir ia memang begitu suka mengenakan kaos, apalagi jika itu kaos milik suaminya.


“Padahala aku ingin merasakan sensasi baru di ruang makan..” ucap Vir setengah terkekeh sambil mengangkat tubuh Aileen ke dalam gendongannya.


Bugh..


“Mesum boleh tapi jangan lupa tempat..!" cibir Aileen sambil memukul lengan suaminya. Ia mengalungkan tangannya di leher Vir, saat pria itu sudah membawanya menaiki tangga.


________________________________________


Ket :

__ADS_1


Steward yaitu jabatan seseorang yang tugasnya mengurus alat-alat yang ada di kitchen, bar, restauran dan banquet pada suatu hotel termasuk untuk kebersihan kitchen. 


Apar yaitu alat pemadam kebakaran berbentuk tabung kecil yang bisa dijinjing.


__ADS_2