
Virendra masih saja menatap lekat wajah Aileen yang sudah tertidur pulas di balik layar ponselnya. Ada perasaan tenang setiap kali menatap wajah itu.
Namun, kini ia benar-benar merasa begitu berbeda. Perasaannya berkecamuk. Gundah-gulana menerpa jadi satu, bagai kopi yang larut bersama gula dalam panasnya air yang melebur jadi satu. Ia bahagia bisa menatap wajah yang begitu dirindukannya itu, namun pahit lebih terasa sebab jauh darinya juga menghantarkan perasaan tak karuan kian mencuat ke permukaan.
Ingin rasanya ia mempersingkat waktu agar bisa kembali secepatnya, berkumpul dengan belahan jiwanya tentu akan jauh lebih baik daripada saat ini.
Sekali lagi dikecupnya layar gawai tersebut, entah sudah yang keberapa kali namun ia tak juga mengakhiri panggilan itu.
Mungkin karena sudah terlalu lama, Ia pun mengakhiri panggilan tersebut. Toh Aileen tersayangnya pun sudah tidur.
Di letakkannya ponsel itu di atas nakas kemudian beralih melirik arlojinya. Tak terasa waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 subuh.
“Huaaaammpt..” Ia menguap bersamaan dengan otot-otot tubuh yang direnggangkan. Tanpa berniat mandi atau ganti baju terlebih dahulu, Ia lebih memilih kembali merebahkan tubuhnya ke atas kasur. Tak butuh waktu lama, sudah terdengar suara dengkuran halus yang menandakan jika Ia sudah berlabuh ke alam mimpi, lelah telah mengantarnya tertidur dalam sekejap.
...__...
Cahaya mentari pagi menembus dari balik gorden yang disibakkan oleh seseorang. Membuat Aileen yang masih terlelap mengerjapkan mata perlahan.
“Pagi sayang..” ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja membuka gorden. Ia berjalan ke arah Aileen yang kini duduk bersandar di kepala ranjang sambil merenggangkan oto-otot tubuhnya.
“Pagi Mom..” jawabnya dengan senyuman termanis.
Ya, wanita itu adalah Mommy. Melihat Aileen yang bahkan tak ikut sarapan membuatnya langsung menengok putri sulungnya itu.
“Mommy pikir kamu sakit, makanya tidak ikut sarapan!” Mommy duduk di ranjang sambil memegang kaki Aileen yang duduk berselonjoran.
“I'm okey mom, tadi malam tidurnya memang agak lambat” ujarnya sambil memasang charger pada ponselnya yang Lowbat dari semalam.
“Kenapa? ” tanya Mommy heran
Namun bukannya menjawab, Aileen malah tersenyum kikuk membuat Mommy ikut tersenyum. Tentu ia tahu jawabannya.
“Mommy juga dulu begitu. Kalau Daddy pergi pasti jadi Insomnia” Mommy mengedipkan mata membuat senyum di wajah Aileen kian melebar.
“Vir sampai jam berapa?” tanya Mommy lagi
“Jam 1..” Aileen masih menunduk sambil memeriksa notifikasi yang masuk, membuatnya tersenyum kikuk sembari membaca pesan dari orang yang berada jauh darinya.
Virendra : “Hari ini ada acara dengan seluruh Hotelier yang hadir, ada sedikit sharing and talking sebelum nanti malam masuk ke acara inti. Mungkin baru pegang Hanphone jika ada waktu luang.. Jangan lupa nonton live-nya nanti malam ya Sun😘.. ”
“Ohya sama satu lagi, jangan lupa minum obat! Kalau mau ke luar atau mau sesuatu minta Dito jemput, aku sudah menyuruhnya untuk mengantar mu kemanapun itu..!” Aileen makin dibuat tersenyum, pesan kedua suaminya membuatnya merasa begitu diperhatikan.
“ Aku cinta kamu😘!”
Senyum terus menghiasi bibirnya, setiap pesan dari Vir benar-benar mampu membuatnya bergetar.
“Ehemmmnt, yang lagi LDR-an sampai tidak menghiraukan keberadan Mommy di sini..” sarkas Mommy sambil mencoba mengintip layar Ponsel Aileen.
Aileen tersenyum kikuk sambil meletakkan Ponselnya, Ia belum sempat membalas pesan dari Vir. Ia akan membalasnya nanti setelah mengobrol dengan mommy.
“Kamu bahagia sama Vir ya, Eil?” Mommy menatap lekat wajah putrinya, bukannya tidak tahu. Ia bisa melihat jika Aileen begitu mencintai suaminya itu, namun Mommy hanya ingin mendengar langsung dari mulutnya.
Aileen mengangguk “Aku bahagia Mom, Walaupun di awal aku sempat berjuang sendiri dan pada akhirnya hubungan kami berujung seperti ini” Aileen terdiam sejenak sambil mengingat hubungan rumit mereka di awal pernikahan dulu
“Benar-benar tidak disangka, dulu Eil sempat pesimis, mengingat Vir begitu mencintai wanita itu. Tapi..” Aileen melirik Mommynya sambil tersenyum
“Aku selalu ingat pesan Mommy, Semua ucapan Mommy bikin Eil semangat. Dan hubungan Mommy dan Daddy bikin Eil punya komitmen untuk mempertahankan semuanya.. Makasih ya Mom, Mommy selalu jadi support system terbaikku, Mommy panutanku” Aileen berhambur kepelukan Mommynya. Memeluk tubuh wanita yang selama ini selalu jadi panutannya, bahkan semua wejangan yang mommy berikan membuatnya mampu bertahan di tengah sikap kerasnya Vir.
Dengan perasaan yang mengharu biru, mommy membalas pelukan putrinya. Ia memang tahu jika Aileen merupakan anak yang tidak pernah ingin membagi bebannya kepada siapapun, selagi ia merasa dirinya masih bisa mengatasi semuanya. Dan terbukti, putrinya itu mampu menghadapi semuanya sendiri.
“Kamu berhak menerima ini sayang, ini merupakan buah kesabaran mu. Eil memang kebanggaan keluarga..” Mommy membelai rambut Aileen
“Mommy bangga karena kamu bisa bertahan..” Ucap mommy lagi. Anak dan Ibu itu masih saling berpelukan.
__ADS_1
Ibu memang orang yang selalu mengerti apa yang kita rasakan meskipun tak harus menceritakan semuanya. Dia memiliki insting yang kuat tentang semua hal yang terjadi pada putrinya.
“Ohiya, eil. Mommy lupa. Tadi Ibunya Vir sempat menelepon” Aileen mendongak menatap Mommy.
Mommy pun menceritakan jika tadi Ibu Melinda memang sempat menelepon untuk menanyakan keberadaan Aileen. Ibu yang mendengar Virendra terbang ke Korea tanpa Aileen membuat keluarga mereka sedikit khawatir.
“Sepertinta ibu Vir menghawatirkan mu, Eil. Pergi temui dia sayang, Ibu Vir mengira kau tinggal sendiri di rumah, bahkan sempat meminta Vino untuk menjemputmu ke rumah kalian..” ucap Mommy menjelaskan.
“Katanya dia sempat menghubungi mu, tapi nomor mu tidak aktif” sambung Mommy lagi.
“Tadi Ponselku memang lowbat mom..”
“Iya Mommy tahu, lebih baik kau temui Ibu mu. Dia juga pasti khawatir, sepertinya dia mengira kalian punya masalah makanya Vir pergi sendiri”
“Mandi lah dulu, setelah itu sarapan dan jangan lupa minum obatnya” Mommy beranjak dari tempat tidur
“Nanti biar Biyan yang mengantar mu” lanjut mommy lagi saat sudah di ambang pintu.
“Loh, bukannya Biyan sedang ke kantor?”
“Tidak, tadi dia izin sama Daddy. katanya ingin mengobrol denganmu”
Aileen tersenyum mendengar ucapan Mommy, ia tahu apa yang Biyan inginkan. Sudah pasti adiknya itu akan mengintrogasinya tentang pertanyaan semalam yang belum sempat ia jawab.
Selepas Mommy ke luar, Aileen kembali meraih ponselnya. Dengan bersemangat ia membuka pesan dari Vir lalu membalasnya satu persatu.
Aileen : ”Semoga memenangkan salah satu nominasi nya.. Aku doakan yang terbaik.. Aku pasti nonton!”😘
“Jangan menyusahkan Dito, itu tidak perlu! Di sini juga ada banyak Supir kok. Lagi pula aku kan punya dua ajudan, Ada Shakeel dan Biyan” Dengan penuh semangat Aileen memencet tanda kirim kemudian kembali mulai mengetikkan pesannya.
“Jangan lupa jaga kesehatan, hari ini aku akan ke rumah Ibu. Di antar Biyan pastinya” balas Aileen kemudian meletakkan ponselnya lalu melangkah menuju kamar mandi.
...----...
“Goresannya masih kentara ya?” tanyanya lagi namun Biyan hanya melirik sekilas, lalu mulai menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya ke luar dari halaman rumah.
“Hati-hati Tuan Muda..” sapa pak Sigit, security yang bertugas jaga gerbang.
Biyan hanya mengangguk sekilas sambil menaikkan kaca mobilnya.
“Jadi orang jangan terlalu cuek Biy, tidak baik. Nanti cepat tua..” Cibir Aileen yang melihat sikap Biyan masih seperti biasa.
“Bukan cuek, kak. Hanya ingin irit suara!”
“Ck, dasar raja ngeles” sunggut Aileen “Biy, kau belum menjawab pertanyaan ku, Haissh” ujar Aileen yang masih setia bercermin, menatap setiap goresan pada wajahnya.
“Pertanyaan apa?” Biyan si pria cuek itu benar-benar membuat Aileen mendengus kesal, adiknya itu memang selalu menyebalkan seperti ini. Selain sikapnya yang cuek, ia bahkan sering tak menghiraukan pertanyaan orang lain.
“Wajah ku Biy! huh, astaga apa kau sepikun itu..?" Aileen menoyor kepala Biyan, namun pemuda itu segera menghindar “Apa goresnya masih parah?”
“Oh itu..” sahut Biyan singkat membuat Aileen mencebik kesal “Aku akan menjawab jika kau juga memberi tahuku apa penyebabnya. Dari semalam, aku bahkan belum tahu apa yang menyebabkan wajah mu seperti Zombie begini!”
Aileen pun hanya menghela napas mendegar ucapan Biyan. Ia lalu meletakkan cerminannya ke dalam tas dan akan menceritakan kronologis tragedi yang mengakibatkan wajahnya seperti ini bahkan sampai mendapat Scorsing.
“...Its the **** Girl!! Apa dia gila? Shiit!!” Pemuda itu memukul stir kemudi sebagai bentuk kekesalannya. Biyan begitu kesal mendengar penuturan sang kakak,l “Dan kau sampai di scorsing! Ini sebuah penghinaan kak! Ck, aku tidak terima..”
“Tidak masalah Biy, lagipula aku masih bisa kerja kok! Anggap saja sedang dapat jatah cuti..” Aileen terkekeh sambil mencoba menenangkan Biyan.
“Jadi ini semua bukan karena Vir? Vir sialan tidak melakukan KDRT padamu..” Biyan yang panas makin gencar mengintrogasi Aileen, sudah seperti detektif handal.
“Memangnya yang bilang Vir KDRt siapa? Itukan hanya opini mu sendiri” Aileen memutar mata malas.
“Ya, aku pikir dia yang melakukan itu, diakan pria brengsek, Hmmnt..”
__ADS_1
“Shuuut, jangan mengatai suamiku brengsek!” Aileen mendaratkan sentilan ke telinga Biyan, dan kali ini tepat sasaran. Biyan tak lagi bisa menghindar
“Ck, lagi-lagi membelanya..” Biyan mengusap telinganya yang terasa panas akibat sentilan Aileen
“Kenapa kau tidak ikut bersamanya, dia ke Korea kan?”
“Kau ingin mempermalukan ku, masa iya aku harus ikut dengan wajah seperti ini. Yang ada orang-orang akan mengira aku Zombie teraniaya sama seperti pikiran nyeleneh mu itu. Cih..” Biyan terkekeh mendengar ucapan Aileen.
Sambil terus fokus mengemudi, ia pun berkata “Kenapa tidak, Kau kan bisa perawatan di sana. Secara, Korea kan terkenal tuh dengan perawatan yang super duper canggih..”
“Hiyaa, Biy!! Saran macam apa ini..” Biyan pun kembali terkekeh sambil menghindari sentilan Aileen yang sepertinya ketularan kebiasaan suaminya yang suka menyentil.
Suasana kembali hening beberapa saat. Suasana siang hari membuat pengendara yang lalu lalang tak sepadat pagi hari, membuat mobil Biyan melaju tanpa adanya hambatan.
“Kita mau kemana?” tanya Biyan yang memang tidak tahu kemana arah tujuan mereka.
Sebab Mommy hanya memberi tahunya untuk mengantar sang kakak “Biy, Nanti antar kakak mu..!” Bagitu kata Mommy. Ia yang memang memutuskan untuk tidak masuk kantor hanya untuk meluangkan waktu dengan kakaknya pun menyetujui permintaan Mommy tanpa banyak tanya.
“Ke rumah orang tua Vir, kau tahu alamatnya kan!”
“Iya..” Ucap Biyan tak bersemangat.
“Ohiya Biy, wanita yang waktu di rumah sakit itu siapa? Apa dia calon adik iparku?” tanya Aileen penuh selidik dengan senyuman tertahan sebab melihat raut wajah Biyan yang berubah pias dan panik seketika.
“Bukan siapa-siapa! Hanya orang tidak penting..”
“Benarkah? Tapi kenapa dia memanggil mu 'babe'? tanyanya lagi yang mana membuat Biyan mendelik sebal.
“Ck, diamlah kak! Berhenti membahas itu” Biyan memutar mata malas, berusaha menghindari segala kemungkinan yang akan membuatnya terpojok “Bukankah kita sudah sepakat, rahasia kita aman jika kita sama-sama tutup mulut” Biyan mencoba mengingatkan perjanjiannya waktu itu.
Membuat Aileen malah terkekeh geli “Apa kau bisa dipercaya?”
“Ck, tentu! Memangnya jika aku tidak tutup mulut sampai detik ini, kakak pikir Daddy akan tetap diam seperti saat ini...”
“Ah, baiklah. Kau memang bisa dipercaya! Ternyata Adik ku sudah dewasa..” Aileen beralih memeluk Biyan yang tengah mengemudi
“Idih, sejak kapan kau jadi selebay ini! Lepaskan Aku kak, ini bahaya” Biyan mendorong tubuh Aileen agar berhenti memeluknya.
Sambil cengengesan, Aileen pun melepaskan pelukannya dan kembali duduk manis di kursinya.
“Sepertinya kau sudah gila karena merindukan suamimu..”
...____...
Sementara itu, di Negeri Ginseng yang jauh di sana. Virendra yang tengah mengobrol dengan para hadirin yang lainnya selalu mencuri kesempatan untuk melirik ponselnya, menunggu balasan pesan dari wanita yang dicintainya.
“Mari bersulang Tuan Vir..!”
ucap seorang pria dalam bahasa Inggris sambil menyodorkan segelas Champagne.
“Eh, Maaf Saya tidak minum!” Bukan tidak ingin, Sebenarnya Ia begitu ingin mencoba Champagne yang merupakan minuman anggur putih yang terkenal dari Prancis itu, hanya saja ia selalu mengingat perkataan Istrinya yang pernah melarangnya. Entah mengapa ia begitu penurut, meskipun ia tahu apa resikonya, tentu ia akan di cap cemen dan kampungan jika tak ikut berpesta minuman seperti rekan lainnya.
“Come On, Kita rayakan bersama-sama pesta ini sebelum menjelang acara inti malam nanti..” seseorang masih berusaha membujuknya
Namun sekali lagi Vir menolak dengan sopan, Ia lebih tertarik melihat pesan dari notifikasi yang masuk pada ponselnya. Ia pun berpamit untuk menghindari kerumunan sejenak. Ia berjalan ke arah ruang yang sedikit sepi.
Dengan bersemangat Vir membuka ponselnya kemudian membaca satu persatu dari balasan pesan itu.
Dia yang awalnya tersenyum, seketika malah mencebik kesal saat mendapati Aileen tak menjawab balasan cintanya.
Sungguh Vir si pria perfectsionis yang menginginkan segala sesuatu dalam bentuk yang paling sempurna, salah satunya yaitu pesan yang harus dijawab secara detail, sedangkan Aileen sama sekali tak membalas pesan cintanya. Entahlah, mungkin ia lupa.
“Ck, apa-apaan dia. Kenapa tidak membalas ungkapan cintaku..”
__ADS_1