
Flashback On
#Dito
Ardito Bagaskara, Pria tampan dengan sejuta pesonanya yang tak kalah jauh dari pesona Virendra sang sahabat.
Selain tampan dia merupakan seorang sahabat yang baik bagi Vir, begitu pula sebaliknya.
Dito sendiri terkenal dengan cap playboy yang melekat sempurna pada dirinya. Ia sering kali bergonta ganti pasangan, berbanding terbalik dengan sikap Virendra yang begitu setia jika sudah menjalin hubungan.
Sikap players Dito ini bermula ketika mereka masih bersahabat dengan seorang yang bernama Niko. Niko yang lebih dulu terkenal dengan sebutan Playboy akut menularkan sikapnya pada Dito.
Namun seiring berjalannya waktu, perlahan Dito mulai menyadari jika menjadi seorang Players merupakan suatu hal yang buruk.
Ia mulai sadar, lebih tepatnya ketika Virendra sahabatnya dijodohkan dengan wanita yang menurutnya begitu luar biasa, hingga membuat ia bertekat untuk merubah diri agar mendapat jodoh yang seperti istri Vir.
Dari situ ia mulai menanamkan pada diri, jika ingin mendapat jodoh yang baik maka terlebih dulu ia pun harus berubah menjadi baik.
Dan tepatnya ketika ia mencoba mencari jodoh dari platform kencan yang tersedia. Bermula karena keisengan, ia menemukan profil seorang wanita yang menurutnya kepribadiannya sesuai dengan tipe wanita idamannya.
Seiring berjalannya waktu, mereka sering berkontekan, membuat keduanya nyaman satu sama lain hingga memutuskan untuk bertemu di salah satu Resto yang sudah direservasi.
Ardito send to Love Future : Kita ketemu di Resto xx, jam 8.00.. ruangannya sudah direservasi, kalau sudah sampai sebut saja namaku.
Begitu isi pesan terakhir yang Dito kirim sebulan yang lalu sebelum pertemuan pertama mereka.
.
.
#Nita
Arnita Nuriantika seorang perawat di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota. Tepatnya di rumah Sakit Arga Medika.
Dia adalah salah satu rekan dari Aileen yang cukup dekat dengannya. Nita sendiri masih berstatus jomblowers sejati, cukup lama menyandang status jomblo membuat ia berkeinginan untuk segera memiliki pasangan seperti kedua rekannya, yaitu dr Risa dan dr Aileen yang sama-sama sudah memiliki pasangan, bahkan sudah menikah.. Apalagi setiap kali melakukan Dinner bersama, hanya dirinya lah yang tidak memiliki pasangan.
Nita yang terbilang polos mencoba mengunduh aplikasi kencan yang sempat trending dikalangan masyarakat muda. Ia yang terbilang cukup aktif bermedia sosial pun mencoba mengikuti trend tersebut.
Dan tepat sekali, ia menemukan seseorang yang membuatnya nyaman. Baginya, pria yang dikenalnya itu cukup terbilang sesuai dengan kriteria dalam list pencariannya.
Hingga suatu hari, setelah cukup lama melakukan pendekatan, akhirya merek memutuskan untuk melakukan pertemuan pertama kali.
From Ardito Crush : Kita ketemu di Resto xx, jam 8.00.. ruangannya sudah direservasi, kalau sudah sampai sebut saja namaku.
Nita : Oke, aku otw.. begitu balasan pesan Nita pada calon Crush-nya dengan menggunakan emoticon tersenyum lebar, benar-benar menunjukkan seseorang yang sedang kasmaran.
.
.
#Di Restoran
Seorang pria tengah duduk termenung sambil beberapa kali terlihat menghembuskan napas kasar.. Mencoba rilesk sebelum bertemu dengan wanita Love future idamannya, agar segera menyusul kisah cinta Virendra sang sahabat.
Rasanya begitu deg-degan. Sebelumnya, ia sama sekali tak pernah merasakan getaran aneh seperti ini. Oh inikah cinta? dulu bahkan ia tak pernah merasakan hal yang sama ketika bersama old ex-nya.
Apakah begini rasanya ketika mencoba menjalin komitmen yang lebih serius?? oh Dito, sungguh pria yang cute..
Ketika lenguhan napas yang ketiga kalinya itu berhembus, bersamaan pula dengan suara ketukan yang terdengar dari pintu ruangan yang sudah ia reservasi khusus tersebut.
“Permisi, dengan Nona Arnita ada bersama kami..” ucap seorang waiters dari arah pintu
__ADS_1
Deg, getaran itu kian bermaraton. Ia kembali menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menyahut.
“Silahkan masuk..”
Pintu pun terbuka, menampakkan seorang wanita berdress floral dengan rambut hitam ikal, wajah mungil itu dipoles dengan make-up tipis natural, tinggi semampai. Sesuai ekspektasi. Dia cantik, bahkan lebih cantik dari fotonya.
Bahkan Dito sempat dibuat tertegun dengan setengah bibir terbuka.
Ohh, inikah jelmaan bidadari??
Dito pun berdiri, lalu tersenyum sambil mempersilahkannya duduk.
“Terimakasih..” ucapnya lembut, bahkan mendengar suaranya secara langsung saja hampir membuat Dito meleleh..
(Eaaa, kau sangat berlebihan Dit.. sahut Vir yang sedang berada dipojokkan sambil take gambar🤭)
Nita, dia sempat dibuat salah tingkah dengan perlakuan yang Dito berikan.. Wanita itu begitu terkesan, bahkan merasa telah melakukan pilihan terbaik dengan melabuhkan hatinya pada orang yang tepat.
Makan malam pun berjalan sesuai rencana dengan keduanya yang terlibat obrolan yang cukup intens, salah satunya seperti membahas keseriusan hubungan keduanya.
Hingga sampai pada penghujung acara, suara lantunan musik mulai terdengar. Dito telah mengaturnya sedemikian rupa, agar berjalan sebagaimana mestinya, seperti dinner ala-ala pasangan romantis pada umumnya.
Nita nampak tertegun ketika suara lantunan musik itu menyeruak masuk memenuhi gendang telinganya. Bertalu-talu, seakan menghipnotis tubuh agar segera melakukan gerakan sesuai irama.
“Mau berdansa denganku?” Dito membusungkan dada tegap, layaknya seorang pangeran yang mengajak Putrinya berdansa.
Ah, Nita makin dibuat terkesima, dengan perasaan yang membuncah, perlahan ia menganggukkan kepala.
Dito yang melihat itu pun kian bersemangat, dengan senyuman sumringah ia segera berdiri dan berjalan ke arah Nita sambil mengulurkan tangannya begitu gemulai.
Nita pun berdiri, menerima ajakan itu. Membalas uluran tangan layaknya seorang putri menerima ajakan dansa sang pangeran.
Keduanya terhanyut dalam alunan musik yang membuat acara dansa kian mendebarkan. Langkah keduanya kian terpacu, mengitari lantai ruangan bertabur bunga dan lilin dengan bohlam kuning yang menghiasi setiap sudut ruangan.
Ya, bukan hal sulit bagi Dito mengungkapkan hal dengan lugas, bukankan dia pemain pro dalam urusan menaklukkan wanita? Tapi kali ini berbeda, sorot matanya memancarkan keseriusan yang luar biasa.
“Jika dalam waktu dekat, Aku membawa keluarga ku ke rumah mu, apakah kau akan menerima ku?” tanyaya lagi dan Nita dengan penuh keyakinan menganggukkan kepala dengan senyum yang terurai sepanjang garis wajahnya.
Dito yang seakan mendapat lampu hijau pun dengan spontan mengempalkan tangannya sembari berkata lirih “Yes..” ucapnya girang
Tanpa sadar, perlahan ia mulai mendekatkan wajahnya saat gerakan dansa mereka sama sekali belum terhenti.
Hingga kejadian naas itu pun terjadi, kejadian yang menghantarkan kesalah pahaman.
Dalam hitungan detik, Dito yang begitu senang, hendak mendaratkan ciuman sebagai bentuk peresmiannya. Namun keadaan seakan tak mendukung.
Ujung sepatunya justru tersandung di ujung karpet hingga membuatnya terjatuh pada sofa dengan posisi yang begitu menguntungkan baginya namun menimbulkan kesalahpahaman bagi Nita.
Nita, dia bukannya tak tahu apa yang ingin Dito lakukan saat ia mengangguk menyetujui perkataannya yang terakhir. Ia pun tak ingin munafik, serig melihat adegan itu dan kini seorang Dito, Crush impiannya ingin melakukan hal yang sama, sudah tentu membuat ia ingin merasakan hal tersebut, terlebih lagi tempat dan suasana yang sangat mendukung.
Namun naasnya, kejadian jatuh itu justru membuat ia merasa berada pada situasi mencekam. Mereka jatuh pada sofa dengan posisi paling meresahkan. Dito, Crush impiannya terjatuh tepat di atas tubuhnya, dengan wajah mendarat tepat di dadanya.
Dan bayangan tentang Crush impian dan pangeran berkuda yang akan segera melamarnya lenyap seketika bersama pikiran dan stigma jelek yang telah terpampang nyata di hadapannya. Ia merasa dilecehkan oleh Dito, ketika dia bukannya beranjak namun secara refleks malah menyentuhkan tangannya pada aset berharga miliknya.
Sial!!! bukan ini yang ia inginkan.. Kenapa kesannya ia seperti dilecehkan?? pikiran Nita berkecamuk.
Ia tidak munafik, ia memang juga menginginkan ciuman itu tapi bukan seperti ini.
Dengan seluruh tenaga yang dikerahkan, Nita mendorong Dito dari atas tubuhnya hingga terjengkang.
“Shiit.. Apa yang aku lakukan?" terdengar Dito mengutuki kebodohannya.
__ADS_1
Ia yang begitu mudah tergoda, merasa sudah begitu mampu menahan diri untuk tidak menyentuh Nita, karena baginya wanita itu sangatlah berharga. Namun karpet sialan itu justru mengacaukan semuanya, hingga membuatnya terjatuh berada tepat pada posisi yang paling mencekam. Ibarat berada di atas puncak gunung indah tanpa melakukan pendakian, yang artinya ia terjun bebas dari ketinggian lalu tiba-tiba mendarat di atas gunung terindah itu. Sudah tentu ia tak bisa menahannya lagi, tangan sialan itu dengan tanpa permisi malah meremasnya penuh kenikmatan.
Damn it..
“Aku tidak suka caramu!! Ternyata kau setidak sopan itu!!” cibir Nita sambil menamparannya, lalu merapikan dress dan penampilannya.
“A-aku..” sela Dito terbata-bata “I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, Aku tidak sengaja..!” lanjutnya dengan posis masih tergeletak di lantai akibat dorongan Nita tadi.
“Ck..” Nita mengibaskan tangannya “Aku tidak pernah mengharapkan pria yang kurang ajar untuk menjadi pasangan ku..”
Nita meraih tasnya kemudian pergi meninggalkan Dito secara tidak hormat.
“Shitt...” Dito mengusap wajahnya kasar “Ini smua karenamu karpet sialan..” umpat Dito seraya memukul-muku karpet tersebut.
Setelah kejadian itu, Ia dan Nita sama sekali tak pernah berkontekan. Wanita itu memblokir semua tentang dirinya, membuat ia sulit untuk menghubunginya.
Kencan buta yang berawal dari keisengan itu benar-benar membuatnya tak karuan, hubungan penuh drama itu masih melekat hingga kini, tersimpan abadi di memori otaknya, bahkan lebih berkesan daripada hubungan yang pernah dijalin sebelumnya.
Insiden kesandung karpet itu membuat hubungan mereka menguap begitu saja. Melenyapkan harapan yang pernah keduanya gantungkan.
Flashback Off
Masa sekarang...
Setelah Aileen mendegar cerita versi dari Nita, kini ia dan Vir tengah mendengarkan cerita versi Dito.
“Aku simpulkan ini hanya sebuah kesalahpahaman..” begitu kata Aileen saat mendengar cerita dari Nita
“Iya, dari cerita mu, Aku bisa menyimpulkan jika kau dan teman suami Aileen itu sudah hampir meneruskan hubungan ke jenjang yang lebih serius..” dr Risa pun ikut menimpali
Namun Nita sama sekali tak mengelak, Ia juga mengakui keseriusannya. Namun karena insiden tersebut ia justru merasa ilfeel pada Dito. Seperti katanya yang sudah-sudah, ia tak suka pria yang terlalu berani apalagi sampai seperti itu.
Dan kini, Virendra, Dito juga dirinya tengah berada di mobil. Sesuai keinginan Vir, ia tak hanya memanggil Dito cuma-cuma, melainkan untuk dijadikan supir dadakan. Ia sempat tak setuju, namun bukan Vir namanya jika ia mau mendengar.
Sungguh Dito yang malang, harus menyetir untuk orang lain. Sedangkan mobilnya di diamkan di parkiran rumah sakit.
“Titip mobil saya, mas!! Nanti saya ambil..” ujar Dito pada tukang parkir ketika mobil miliknya mulai ke luar dari area parkir.
Mobil mulai melaju..
“Kalau masih ada rasa, perjuangkan, Dit..” Vir menepuk bahu Dito dari belakang.
Namun Dito hanya terdengar menghela napas kasar, sama sekali tak berniat menyahut.
“Jadi, dia itu teman mu, Eil?" tanya Dito setelah beberapa saat terdiam
“Iya..” Aileen menyandarkan kepala pada bahu sang suami "Kalau mau serius, biar nanti ku bantu..”
Namun lagi-lagi Dito hanya terdiam.
“Oiya, Vir jadi kau benar-benar belum ingin mengumumkan kabar bahagia ini pada keluarga mu?” tanya Dito ketika mengingat obrolannya dengan Vir tadi saat menunggu Aileen saat pergi bersama dengan Risa dan Nita.
Dengan kening berkerut Aileen mendongak menatap Vir. Ia penasaran.
“Iya, Aku ingin mengumumkannya seminggu lagi, bertepatan dengan acara peresmiaan sekaligus syukuran..”
Aileen masih belum mengerti dengan ucapan Vir, ia kembali mendongak.
Vir mendaratkan kecupan di keningnya “Aku ingin melakukan peresmian hubungan kita dan di situ kita akan mengumumkan tentang kabar bahagia ini. Biar ada surprise untuk keluarga”
Kini ia pun mengerti, Aileen yang merasa senang makin mengeratkan pelukannya dengan Vir yang tak henti-henti mendaratkan kecupan di wajahnya.
__ADS_1
“Persiapkan semuanya, Dit..”
“Asiaaap Bro.. serahkan semua padaku..”