
"Vir dimana Eil? Kenapa tidak ikut?" tanya Oma Fera yang baru menyadari tidak ada Vir diantara mereka.
"Dia ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan oma." Lagi-lagi Aileen melindungi suaminya, menyembunyikan aibnya, cukup ia yang Kecewa, Keluarganya jangan. Itulah prinsip seorang Aileen.
"Ada urusan atau memang tidak mau ikut!
?!" celetuk Biyan malas, Kakaknya selalu saja punya alasan untuk menjaga nama baik Virendra.
Aileen yang masih berdiri di kabin, melototkan matanya pada Biyan, mengisyaratkan agar sang adik berhenti bicara. Shakeel yang melihat Aileen seperti itu ikut menyenggol Biyan dengan sikunya, seolah mendukung Aileen walaupun sebenarnya Shakeel juga sudah malas menutupi kebusukan Virendra.
Oma menatap sekilas ke arah Biyan dan Shakeel yang duduk bersama.
"Semuanya sudah siap Tuan dan Nyonya, kurang kebih sekitar 10 menit lagi kita akan segera take off,” kata seorang pramugari yang baru muncul.
Kenapa ada pramugari? Apa mereka ada di pesawat?
Ya, mereka sedang di pesawat. mereka semua akan berangkat menuju Negara A mengunjungi Opa Haris yang katanya sudah sangat kritis. Itulah sebabnya kenapa Aileen begitu terburu-buru seperti tadi.
.
.
.
Vir mengedarkan pandangannya menatap seisi dapur, yang mana setiap harinya ia selalu melihat pemandangan dimana Aileen tengah sibuk menyiapkan makanan untuknya. Akan tetapi hari ini hal itu tidak terjadi, karena wanita itu pergi ke luar Negeri, berpamitan hanya dengan sepucuk surat.
Setelah semalam mencari ke rumah mertuanya namun ia hanya melihat dari kejauhan tanpa berniat masuk ke rumah itu membuatnya tidak menemukan infoa apa-apa di sana.
Saat kembali ke rumah, ia masuk mengecek kamar Aileen dan menemukan sepucuk surat yang berisi.
"Aku Pergi ke Negara A, Kondisi Opa Haris keritis!"
Tadi aku sempat menunggumu di rumah sakit tapi sebelum kau datang aku sudah harus pergi! Maaf jika kau tidak menemukanku di sana.
Oh ya, soal kau tidak ikut, jangan khawatir aku akan mencari alasan yang tepat agar imagemu tetap baik dan tidak tercoreng!
Aku sengaja tidak mengajakmu, sebab aku tahu kau pasti akan menolak pergi bersamaku, karena Fia. Tak apa, aku mengerti itu!
Baik-baik di rumah suamiku!!
Saat kau baca surat ini aku harap kau tidak marah karena aku memanggilmu dengan sebutan suami! Karena kau memang suamiku.
Tidak apa kita tidak saling mencintai, tapi aku akan selalu berusaha jadi istri yang baik untukmu! Karena tidak ada yang namanya Pernikahan bohongan. Ini sungguhan,
Aku akan menutup aibmu sekalipun aku harus berbohong di depan Keluarga ku. Karena tugas istri adalah menutupi aib suaminya!”
God Bless You Husband..!!ヾ(˙❥˙)ノ
^^^Aileen^^^
Vir duduk merenung, mengusap wajahnya gusar. Tangannya masih menggenggam erat surat dari Aileen.
Entah kenapa hatinya seolah bergetar membacanya..
"Kenapa aku merasa kesepian saat dia pergi, padahal aku tahu ini hanya sementara."
Merasa kesepian saat orang yang dibenci tidak ada, perasaan macam apa itu?
Namun ia tetap tak bisa menepis rasa benci yang masih tersisa meskipun mungkin tinggal sedikit.. Masalahnya denga Fia kemarin seolah tergantikan dengan ini, kepergian Aileen membuatnya ketar ketir, gelisah tak karuan.
.
.
.
"Vir ayo makan siang bersamaku, jam makan siang sudah hampir habis." Dito merengek sudah seperti anak kecil yang meminta makan pada ibunya.
Vir sama sekali tak bergeming, ia masih setia menatap layar monitor di depannya tanpa menghiraukan Dito yang sudah seperti cacing kepanasan di sofa.
"Jangan hanya karena Fia mengetahui semuanya kau jadi mogok makan! Nanti kau bisa kurus jika tidak makan." Dito masih membujuk dengan kata-kata yang menyebalkan
Tentu Vir sudah menceritakan Semuanya pada Dito, dan respon pria itu jangan ditanya lagi, dia begitu senang karena Fia sudah tahu. Dito berharap Fia membenci Vir karena sudah meninggalkannya menikah dengan orang lain, Dito berharap setelah ini hubungan mereka akan berakhir dan membiarkan Vir fokus dengan rumah tangganya.
"Kau pergilah Dit, aku belum lapar!!"
"Come on Vir, aku tidak bisa makan sendiri! Kau harus menemaniku, Vir ayolah nanti waktunya habis." Rengek Dito sekali lagi, sudah seperti anak kecil yang minta mainan.
Dito berjalan mendekati meja Vir yang masih sibuk dengan pekerjaannya
"Shut up Dit! Aku sibuk, biasanya juga kau selalu mengajak para staf yang bening sebagai cadangan untuk menemanimu makan." Vir menatap sekilas ke Dito lalu kembali fokus pada monitornya. "Lagi pula jika waktunya habis tidak masalah, aku kan bosnya jadi mau makan kapan saja terserah aku"
__ADS_1
"Aihh, kau ini sombong sekali! aku sudah tidak mau kencan dengan sembarang orang lagi, aku ini sudah taubat." Celetuk Dito tanpa menoleh seraya mengutak-atik semua benda yang ada di meja Vir
"Buahaha"
Vir yang mendengar ucapan Dito, langsung menutup laptopnya lalu tertawa terbahak- bahak.
Dito mengerutkan dahi, seolah mengatakan apa yang lucu? Kenapa kau tertawa?
"Sejak kapan kau taubat?" Virendra masih terkekeh sembari melempar Dito dengan sebuah kertas.
Dito menghindari lemparan itu, namun kertasnya malah mengenai dada bidangnya dan jatuh ke paanguannya.
"Aku benar-benar sudah taubat, aku tidak ingin bermain wanita lagi. Sekarang aku akan serius! Aku berharap akan menemukan jodoh yang seperti Aileen." Dito tersenyum penuh arti seraya mengedipkan sebelah mata, tangannya sibuk membuka kertas yang dilempar Vir tadi.
Vir menyeringai sembari menyergit heran.
"Semenjak melihat kau di jodohkan dan mendapat istri seperti Aileen yang bisa segalanya aku malah berharap orang tuaku menjodohkanku juga, siapa tahu sifatnya tidak jauh beda dengan istrimu." Dito terkekeh geli dengan jawabannya sendiri.
Dia memang begitu mengagumi Aileen, bagi Dito, Aileen istri yang baik. Mampu bertahan di tengah rumitnya hubungan mereka, kerasnya Virendra bahkan mampu ia hadapi.
"Kau mengagumi istriku?" Vir melotot, Menatap Dito dengan tatapan mematikan.
"Kau menganggapnya istri?" Dito berbalik bertanya. Membuat Vir mendesah kesal.
"Kenapa tidak, Pernikahan kami sah!"
"Kalau sah jangan mempermainkan pernikahan! Kalau kau menceraikannya aku siap menjadikannya istriku, Aku akan menjadi suami kedua yang baik untuknya." Dito kembali terkekeh menyadari ucapannya yang kedengaran ngaur, tapi itulah faktanya. Ia berniat menunggu Aileen menjadi janda.
Hal itu membuat Vir mendelik sebal. Dito sialan berhasil membuatnya kesal.
"Kau pikir dijodohkan itu enak?" Vir memicing.
“Menjalin hubungan tanpa cinta tidak semudah yang kau bayangkan, semua tidak selamanya berjalan mulus! Sedangkan Pernikahan dengan cinta saja bisa kandas di tengah jalan, apalagi yang tanpa cinta." Kali ini Vir terlihat begitu serius membahas tentang Cinta. Mungkin saja kewarasannya telah kembali.
"Kalau tidak ada cinta aku bisa menumbuhkannya, lagi pula jatuh cinta itu mudah! Jadi aku rasa mudah-mudah saja jika harus dijodohkan. Itupun kalau jodohku seperti Aileen." Dito kembali cengengesan dengan jawabannya yang terkesan konyol. Entah mengapa ia begitu mengagumi Aiileen, sepertinya ia berniat menjadi perebut istri orang, yaitu istri sahabat sendiri.
"Cih," Vir berdecih sebal mendengar tuturan Dito yang tidak masuk akal baginya.
Sedari tadi Dito masih memegangi kertas yang Vir lempar, Ia baru menyadari jika kertas yang ia pegang itu adalah sebuah surat.
Dito pun memicingkan mata, berusaha membaca kertas surat yang sudah terkoyak itu.
Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang tak tertahankan.
Vir yang tidak mengerti langsung merampas kertas yang Dito pegang, ia membacanya lalu memasukkannya ke dalam saku Jas.
Dito terkekeh geli, ia menyadari jika yang membuat Vir enggan makan dan malas bergerak sejak tadi adalah karena ternyata Aileen sedang ke luar negeri.
Sementara Vir, ia mengutuki kebodohannya yang tanpa sadar melemparkan surat itu pada Dito.
"Vir, Vir jadi kau sedang galau?" Dito mulai mengejek.
“Jadi kau galau bukan karena Fia mengetahui semuanya, tapi karena Aileen pergi dan hanya menitipkanmu kata-kata indah ini." ejek Dito dengan tawa tertahan.
"Jangan sembarangan, aku tida galau! Lagi pula siapa yang galau hanya karena dia. Aku kan membencinya."
"Sudahlah Vir, apa yang kau sembunyikan dariku? Aku ini tahu segalanya tentangmu, kenapa tidak kau susul saja dia?" Dito menyarankan ide brilian.
"Berhentilah membual, Dit. Siapa yang akan menyusulnya! Aku sibuk." Virendra melengos sebal.
"Ya, ya ya."
Dito pun hanya terkekeh geli.
Sungguh seorang Virendra gengsinya sudah mendarah daging. Punya seribu alasan untuk menyanggah setiap ucapannya. Meski begitu, Dito juga punya seribu alasan untuk membalas ucapan Virendra. Ya, mereka memang duo somplak yang kompak.
.
.
Di negara yang jauh di sana.
Aileen, Biyan, Shakeel dan Oma opanya baru saja tiba di rumah sakit tempat opa Haris di rawat.
Pintu terbuka, menampakkan beberapa keluarga yang berkumpul di sana! Tidak hanya orang tuanya dan orang tua Shakeel tetapi di sana juga ada kedua mertuanya.
Mereka semua saling berpelukan melepas rindu karena lama tak bersua.
Orang tua Vir yang mendapat kabar Opa Haris keritis juga sama seperti Aileen, ia langsung menuju ke negara tempat Opa Haris menjalani pengobatan.
Banyak yang ingin Melinda tanyakan pada Aileen, apalagi melihat tak ada putranya yang hadir di sana. Namun ini bukan saat yang tepat jadi ia membiarkan menantunya menemui Opa nya dulu.
__ADS_1
Setelah itu mereka yang baru datang pun mendekati Opa yang terbaring lemah di branker rumah sakit.
"Cucu-cucu ku!!" Suara parau itu menerima pelukan dari ketiga cucunya.
"Opa yang kuat yah, Kami ada di sini!!" Kata ketiga cucunya bersamaan
"Opa sayang kalian bertiga" katanya terbata-bata
Semua keluarga terus mendampingi Opa yang sudah mulai kesulitan bernafas. Dokter juga sudah tidak bisa apa-apa lagi, "Semua obat sudah tidak bisa masuk, kita hanya bisa pasrah dan ikhlas menunggu waktunya tiba" jelas sang dokter
Semua terisak pilu, ada yang membacakan ayat suci Al-Qur'an seraya mengelus tangan sang opa.
Ibu melinda menarik Ayah Hans ke luar ruangan.
"Kenapa Vir tidak ikut? kakek mertuanya sedang keritis , kenapa dia membiarkan istrinya pergi seorang diri" ucap Ibu di sela sendunya
Ayah menggeleng.
"Aku juga tidak tahu, Tanyakan saja pada Aileen kenapa suaminya tidak ikut! Anak itu memang sangat keterlaluan" Ayah berdecak kesal
"Ayah ini bagaimana sih, Kita tidak bisa menanyakan Aileen soal ini, dia sedang bersedih! Ini tidak tepat" Ibu tidak habis pikir dengan saran Hans yang tidak masuk akal
"Ah aku lupa sayang.." Ayah menghela nafas "Kenapa tidak menanyakan langsung pada Vir?"
Mereka baru kepikiran untuk menghubungi putranya, Ibu pun merogoh handphone nya dari dalam tas lalu menghubungi Vir
"Iya bu, ada apa?" Tanya Vir dari balik telepon
"Ada apa-ada apa kata mu..? Kau yang ada apa Vir? Kenapa kau tidak ikut bersama istri mu!! Kakek mertua mu sedang kritis" Omel mama yang mana membuat Vir menjauhkan handphone dari telinganya.
"Kau kenapa?" Bisik Dito yang melihat Vir menjauhkan handphonenya
Vir tak berniat menjawab Dito, ia hanya menggeleng dan kembali berbicara
"Kenapa ibu tidak tanyakan pada Aileen?" Katanya yang membuat Ibu semakin naik darah
"Kenapa harus tanya Aileen jika sekarang Aku bicara dengan mu" teriak ibu yang mendapat senggolan dari Ayah agar sedikit mengecilkan suara, mengingat mereka sedang di rumah sakit. Beruntung bahasa mereka berbeda dengan bahasa orang di sana, jadi tidak akan ada yang mengerti.
"Lagi pula semua orang tengah bersedih, tidak ada sempat untuk mengobrol" lanjut ibu.
Tadinya Vir yang sempat berprasangka buruk pada Aileen yang katanya ingin melindungi dirinya malah belum mengatakan apa-apa. Namun setelah mendengar ucapan ibunya kini Vir mengerti.
"Kenapa kau tidak ikut Vir?"
"Semalam aku meeting bu jadi tidak sempat ikut" ucap Vir berbohong, melindungi dirinya sendiri daripada harus ribut dengan sang ibu
"Kemarikan hpnya biar aku yang bicara" Ayah meraih hp dari tangan ibu
"Kau keterlaluan sekali Vir, Ayah tidak mau tahu kau harus segera ke mari!! Suami macam apa yang tega tidak menemani istrinya di saat seperti ini" Ayah mulai melayangkan kata-kata mutiaranya.
Vir kembali mengusap telinganya yang tuli seketika saat mendengar ocehan sang Ayah. Dan Dito, jangan ditanyakan lagi, saking keponya ia mendekatkan telinganya pada Vir membuat Vir beberapa kali mendorong kepalanya.
"Shitt, baik lah Ayah aku akan langsung ke sana!"
"Kau naik pesawat pribadi saja agar cepat sampai!! Kebetulan pesawatnya sedang di situ"
"Iya" ucap Vir yang mulai jengah, ia pun memutus panggilan secara sepihak membuat Ayah berenggut kesal.
"Anak itu sama sekali belum berubah!! Beda sekali dengan Vino.."
"Sudahlah Ayah jangan terus membeda-bedakan mereka!! Setidaknya selama sudah menikah dia jadi lebih baik dan penurut" Ibu mengusap lembut punggung Ayah dan kembali masuk ke dalam ruangan
Sementara itu kembali ke Grand land Hotel
"Jadi kau akan pergi?" tanya Dito
"**** iya, kaukan sudah dengar semuanya kenapa masih bertanya!!"
"Baguslah itu artinya kau tidak akan galau lagi"
"Cih..jika tidak dipaksa aku juga tidak akan pergi" katanya. Sungguh tupai licik!! beruntung ayah memaksanya untuk pergi jadi ia tak perlu repot-repot menyembunyikan gengsinya untuk menyusul Aileen. Padahal sedari tadi ia tangah memikirkan untuk menyusulnya ke sana.
"Ayo antar Aku ke bandara!" Vir beranjak dari posisinya
"Sekarang?"
Vir menatap Dito yang akhir-akhir ini bertingkah seperti orang bodoh.
"Tahun depan!!" Sahut Vir
"Kau yakin Vir?" tanya Dito dengan raut wajah begitu serius..
__ADS_1
"Hiyaa Dito sialan!! Kenapa kau menjadi idiot seperti ini semenjak meninggalkan para wanita mu itu!!" Sekarang Ardito, Se-ka-ra-ng" umpat Vir yang begitu kesal, Ia mengeja kata 'Sekarang' agar Dito lebih paham.
Dito pun hanya terkekeh, ia lalu merangkul tubuh sahabatnya yang mulai emosi dan menariknya ke luar.