Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 31


__ADS_3

"Eil bahagialah dengan suami mu nak!


kau keil jangan terlalu asyik sendiri, kau juga harus segera menikah!


Dan kau Bi kurangi keras kepala mu, kau sudah dewasa" kata opa pada ketiga cucunya.


Aileen menangis tersedu-sedu, bahkan disaat seperti ini opanya masih memikirkan hubungannya dengan Vir.


Hembusan nafas opa Haris mulai tidak teratur, ia mulai terengah-engah. garis pada patient monitor perlahan menjadi lurus, menandakan bahwa detak jantung pasien mulai melemah.


Dokter pun mencoba untuk memacu detak jantung pasien menggunakan defibrilator. namun nihil, semua garis pada patient monitor telah berubah lurus.


Semua keluarga terisak, Kedua anaknya Ferdy dan Jessica berdiri di samping ranjang dengan pasangan dan anak mereka masing-masing. Istrinya (oma karina) juga ikut duduk di sisi ranjang mengenakan kursi roda, mendampingi suaminya disaat terakhir.


Oma opa dari Daddy Al juga ada disana, orang tua Vir juga ikut merasakan kehilangan yang mendalam tatkala dokter menyatakan Opa haris telah tiada.


Ruangan itu dipenuhi dengan suara tangis isak pilu dari semua keluarga


.


.


.


Prosesi pemakaman pun sudah dilaksanakan, awalnya pihak keluarga ingin membawa jenazah Opa Haris ke tanah air, tapi karena beliau pernah berpesan bahwa jika suatu saat meninngal ingin di makamkan di negara tempatnya pertama kali bertemu dengan Oma karina, Negara yang menyimpan banyak kenangan, Dimana di negara itu pula ada beberapa kerabat dari almarhum sehingga pihak keluarga pun menyetujui itu.


"Yang sabar ya mom, jika mommy larut dalam kesedihan seperti ini siapa yang akan menghibur mama" Daddy Al berusaha menghibur istrinya yang baru saja kehilangan sang Ayah


"Lihatlah Mama dan Kak Ferdy juga tak kalah sedihnya namun mereka tetap berusaha kuat" tunjuk Daddy Al pada mama mertuanya yang sedang bersama Ferdy tengah berbincang dengan beberapa pelayat yang baru sempat hadir.


"Iya mom, mommy jangan sedih! Kita harus bisa ikhlas agar opa juga tenang di alam sana" Aileen dan Biyan memeluk tubuh mommynya dari samping


Mommy menghela nafas lalu membalas pelukan kedua anaknya..


"Mommy akan berusaha nak" Ucapnya sendu seraya mencium puncak kepala kedua anaknya secara bergantian.


Daddy yang melihat itu ikut tersenyum dan memeluk anak dan istrinya. Sungguh Keluarga yang harmonis


"Oh iya Eil, Mommy lupa, Vir dimana? mommy tidak melihatnya sedari kalian datang" Mommy menatap Aileen


"Iya Eil, daddy juga ingin menanyakan ini tapi tidak sempat karena terlalu sibuk"


"Eh..." Ailen beralih menatap Biyan, mengisyaratkan agar ia tidak lagi jadi ember bocor.


Namun Biyan hanya memutar mata malas seraya mencebikkan bibirnya membuat Aileen melotot padanya.


"Eil kenapa diam?" lanjut mommy yang tak mendengar jawaban apapun dari Aileen


"Eh itu mom, malam itu Vir meeting dengan client penting jadi tidak bisa di tunda, tapi dia akan menyusul" jawabnya asal tanpa tahu Vir sudah dalam perjalanan datang.


Cih dia sudah pandai berbohong! Bahkan dulu dia selalu mengomeli ku jika membohongi mommy dan daddy! Tapi lihatlah dia begitu lancar membual, Ini pasti Vir yang mengajarnya... Byan memicingkan mata menatap sang kakak yang berbohong.


Beruntung Daddy dan mommy tidak banyak tanya jadi Aileen lolos begitu saja.


"Kalau begitu pergilah temui mertua mu nak, mereka juga pasti sangat merindukan mu"


"Benar kata mommy mu Eil, pergilah temui mereka" sahut Daddy menyetujui ucapan mommy.


Aileen pun segera beranjak mencari keberadaan mertuanya.


"Ibu, Ayah.." sapa Aileen pada mertuanya yang tengah duduk di teras menyambut Para pelayat yang baru tiba


"Eil" Ayah dan Ibu Vir menoleh, mereka begitu senang melihat menantunya.


"Kemarilah nak, kita bicara di sana! Ibu rindu sekali" Melinda menarik Eil ke taman yang ada di depan rumah.


.


.


.


.


Sekitar jam 1:30 malam Vir baru tiba di kediaman mertuanya di Negara A.


Beruntung mommy yang kebetulan sedang ambil minum di dapur mendengar suara bel berbunyi dan langsung membuka pintu.


Mommy terkejut saat mendapati menantunya berdiri dengan kopernya di depan pitu


"Vir?"

__ADS_1


Vir menoleh, ia tersenyum lalu mencium punggung tangan mertuaya.


"Maaf mom aku baru datang sekarang, aku turut berbelasungkawa atas kepergian opa"


Mommy hanya mengangguk, ia tersenyum bahagia seraya mengusap lembut bahu Vir, tidak disangka menantunya akan datang walaupun sudah terlambat tapi setidaknya sekarang dia sudah ada di sini. Tadinya mommy sempat merasa kecewa karena Vir tidak menyempatkan diri untuk datang bersama Aileen.


Mommy pun mengantarkan Vir menuju kamar yang sama dengan Aileen


"Istirahat lah Vir, kau pasti lelah"


mommy mengetuk pintu kamar tapi tidak ada sahutan, beruntung Aileen tak mengunci pintunya jadi Vir bisa masuk


"Terima kasih mommy"


Vir pun masuk, ia melihat Aileen yang sudah terlelap


"Cih lihatlah dia tidur begitu nyenyak seolah tidak sedang berduka sama sekali" cebik Vir


langkahnya membawanya berdiri di depan meja rias, bercermin sambil melepas jaket yang melekat pada tubuhnya.


"Haihh tentu di sini kami harus tidur berdua lagi" Vir menatap seisi kamar "Aku tidak ingin tubuhku sakit karena tidur di sofa.." ucapnya seraya melengos ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian ia sudah ke luar hanya dengan menggunakan celana pendek dan bertelanjang dada. Ia pun mulai merebahkan tubuhnya di samping Aileen yang sudah terlelap menghadap ke sisinya.


Selamat bertemu lagi wanita menyebalkan yang sudah berstatus sebagai istri ku.. Vir tersenyum menyadari panggilan yang ia berikan pada Aileen.


Ia terus memandang lekat wajah Aileen yang terlelap begitu pulas, mata wanita itu terlihat sedikit bengkak.


Mulutku mengatakan membenci mu namun hari ku selalu hampa bila sehari tak melihat mu..Ahkk perasaan macam apa ini..


Vir menggeleng, ia lalu segera membelakangi Aileen sebab takut jika tak bisa mengontrol diri dan akan membuat harga dirinya runtuh.


"Kenapa rasanya selalu seperti ini setiapa kali di dekatnya"


.


.


Saat pagi hari, Aileen yang bangun lebih awal merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Ia berbalik, samar-samar pandangannya menatap seseorang yang tengah terlelap sembari memeluknya erat, tangannya mengunci rapat, melingkar penuh di perutnya. Sedangkan kaki orang itu mengunci kedua kakinya membuat ia tak bisa terbangun.


Aileen mengerjapkan mata, betapa terkejutnya ia saat menyadari orang yang memeluknya adala Vir


Vir yang masih memgantuk parah hanya menggeleng, ia semakin mendekap tubuh Aileen, kali ini sampai Aileen terperangkap di dalam kukungannya, membuat wajah Aileen menempel mencium dada bidangnya yang sama sekali tidak terbungkus kain.


"Diamlah Eil, aku lelah dan mengantuk sekali!" Katanya yang membuat Aileen menyerngit heran.


Apa dia sadar sedang memelukku? dia menyebut nama ku itu artinya dia sadar.. tapi kapan dia datang??


Ahh Kapan pun itu aku bersyukur dia datang, jadi tak perlu khawatir jika daddy dan mommy menanyakan keberadaannya lagi.. gumamnya dalam pelukan Vir.


Entah mengapa jantungnya bermaraton seperti ini saat bersentuhan dengan Vir, apalagi wajahnya tertempel rapat di dada bidang pria itu..


Aileen tersenyum simpul, bolehkan sejenak ia melupakan kisah mereka? Ia ingin menikmati pelukan ini, pelukan yang rasanya sagat berbeda dan begitu hangat. Aileen memejamkan mata, menghirup dalam aroma maskulin Vir yang entah mengapa membuatnya begitu menyukai aroma itu, ini kali pertamanya ia begitu dekat dengan pria selain Keluarganya, bahkan berbagi ranjang di kamar yang sama.


Vir yang pertama, pria itu lah orang lain pertama ya g memeluknya seperti ini


ia pernah menjalin kasih namun tidak berlebihan, bahkan ia sama sekali tak mengizinkan pria itu menyentuhnya, hanya sebatas pegangan tangan dan pelukan tak berarti.


Aileen begitu menjaga kehormatan dirinya, mungkin itu sebabnya dulu mantannya lebih memilih berselingkuh dengan wanita yang bisa bebas melakukan apapun, ia meninggalkan dirinya yang menolak untuk melakukan semua hal aneh.


Ternyata begini rasanya berpelukan, seperti merasakan debaran aneh di dada.. apa jika berpelukan dengan semua orang kita akan merasakan debaran aneh ini juga? Pikirnya dalam hati..


"Rasanya nyaman sekali!! Aku menginginkan mu." Vir mengendus aroma rambut Aileen.


Aileen yang mendengar itu dibuat tersenyum dan semakin menghirup dalam aroma tubuh suaminya. Sungguh ia pun merasa nyaman dalam posisi ini.


"Mereka beli dimana?" Aileen mendongak menatap Vir yang tak hentinya bicara dalam keadaan mata terpejam, keningnya mengerut mencerna ucapan Vir


"Dia sadar atau tidak?? Apanya yang dibeli dimana?" Aileen menyerngit heran


"Aku juga ingin punya guling yang seperti ini, memeluknya setiap hari! Bahkan jika bisa di bawa kemana-mana, aku akan membawanya" kembali mengendus aroma rambut Aileen sambil sesekali mengecupnya


Aileen sedikit menjauhkan wajahnya, ia berusaha melepaskan tangan dari kukungan Vir


Plak...


Aileen menampar pipi suaminya itu


"Sialan, dia mengira aku guling" umpat Aileen yang merasa kesal. Ia mengira Vir benar-benar merasa nyaman karena memeluknya, ternyata ia salah, pria itu hanya mengira dirinya guling..


Aileen memalingkan wajahnya, entah mengapa rasanya seperti menelan pil pahit saat mengetahui Vir tak benar-benar merasa nyaman padanya.

__ADS_1


Kenapa harus ambil pusing dengan ucapan orang yang mengigau?


"Dalam keadaan tidur saja dia masih menyebalkan begini" cebik Aileen


Ingin rasanya Aileen beranjak, namun Vir telaru memeluknya erat sehingga tak ada celah untuknya lolos dari pelukannya, Aileen pun hanya bisa pasrah. Hingga akhirnya ia kembali terlelap dalam dekapan Vir.


Beberapa saat kemudian Vir pun terbangun, ia terkejut saat melihat dirinya tengah memeluk Aileen dengan begitu erat.


Beruntung dia tidur..


pikirnya dalam hati yang tidak tahu jika Aileen lebih dulu mengetahui ini


Sepertinya dia akan memutar balikkan fakta seperti yang pernah dia lakukan saat di rumah Opa dulu.


Dia pun memulai aksinya, sok berteriak seolah Aileen lah yang memeluknya. Dasar drama king..


"hiyaa eil apa yang kau lakukan??" Berteriak seperti yang Aileen lakukan saat ia mencium bibir wanita itu.


Aileen yang terlelap seketika terbangun karena suara bariton Vir


Aileen menatap aneh pada Vir yang memasang wajah marah seraya menatap dirinya.


Baru Vir ingin melayangkan protes Aileen telah lebih dulu menyelanya.


"Apa?? Kau ingin menuduh ku yang memeluk mu lagi??" Ketus Aileen seraya duduk menghadap Vir yang tengah menatapnya aneh


"Memang kenyataannya seperti itu, tadi saat kau tidur kau memelukku" berdalih seolah dirinya lah yang ternodai


"Jangan seenaknya Vir, Aku bangun lebih dulu daripada dirimu!! Kau yang memeluk ku lebih dulu, bahkan begitu erat sehingga aku tak bisa melepaskan diri ku"


Aileen yang tidak terima pun memukuli Vir menggunakan bantal


"Hey, kau beraninya memukul ku..hentikan Aileen"


"Tidak akan, sebelum kau minta maaf! Kau yang memeluk ku lebih dulu" Aileen tak menyerah, ia terus memukuli Vir dengan bantal


"Iya tapi hentikan dulu pukulannya Aileen" Vir menahan tangan Aileen yang terus memukulinya


"Minta maaf dulu.. kau selalu saja memojokkan ku, seolah aku lah yang menginginkan mu" kata Aileen tak terima


"Hentikan dulu.."


Vir menahan tangan Aileen hingga membuat Mereka jatuh bersamaan dengan posisi saling tindih, Aileen di bawah tubuh kekar Vir.


Mereka saling tatap, merasakan ada getaran aneh diantara dada mereka.


Udara kamar terasa panas seketika. Baru kali ini Vir menatap Aileen penuh damba, matanya berkabut gairah saat menatap belahan dada Aileen yang sedikit terekspos karena ia tindih.


salivanya tercegat di rongga leher, membuatnya kesulitan bernafas.


Ia semakin merasakan dorongan hasrat yang tinggi dalam dirinya.


Biar bagaimanapun Vir tetap lah pria normal yang punya hasrat saat dalam kondisi seperti ini, terlebih lagi waktu dan tempat sangat mendukung, mereka sedang di atas kasur dengan posisi saling menindih, sudah pasti gairah itu akan hadir tanpa diundang.


Vir menutup matanya, wajahnya perlahan mendekat..


Aileen yang merasakan gelagat aneh pada Vir pun mendorong tubuh suaminya hingga terlentang di atas kasur. Ia beranjak lalu melempari Vir yang mematung menggunakan bantal, membuat Vir tersadar dari lamunannya.


"Hey bernainya kau melempar ku" .


Ia kesal dan berbalik melempar Aileen yang sudah menghilang di balik pintu kamar mandi


Damn!! apa-apaan dia, kenapa begitu sensitif. Baru seperti ini saja sudah bangun!! Umpat Vir pada juniornya yang mulai mengeras di bawah sana.


Ia mengutuki dirinya yang seperti terhipnotis setiap kali kontak fisik dengan Aileen.


Baru semalam saja tidur bersama, benteng pertahanannya hampir bobol.


Perasaan macam apa ini?? Pikirnya dalam hati.


"Bahkan aku sama sekali tidak pernah seperti ini saat bersama Fia, walaupun hanya berdua. Namun kenapa saat dengannya aku benar-benar tidak bisa menahan diri" Vir menggeleng mengusir gelanyer aneh yang ada di bawah sana..


Sementara itu di dalam kamar mandi.


Aileen masih bersandar di pintu.


Ia memegangi dadanya yang masih bergemuruh hebat karena kejadian tadi.


"Maafkan aku Vir, aku tidak bermaksud menolak mu.. Aku hanya belum siap! terlebih lagi kau masih mencintai wanita lain.."


Melihat tatapan Vir yang berkabut gairah seperti tadi, Aileen tahu jika Vir berhasrat padadnya. Namun ia tidak ingin melakukan itu sebelum ada cinta diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2