Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 63


__ADS_3

Saat malam hari, seorang pria turun dari mobilnya. Ia berjalan gontai ke arah pintu.


Tangannya terulur memencet bel yang diselingi beberapa kali ketukan, berharap seseorang segera membuka kan pintu untuknya.


Ia bersender dengan tangan terlipat di dada seraya memandang rintik hujan yang mengguyur malam.


Lama menunggu namun pintu tak kunjung di buka, Ia pun berinisiatif untuk membukanya dan berharap pintu itu tidak terkunci.


Pintu terbuka, menampakkan seorang pria yang tengah berkutat dengan laptopnya di temani dengan teh hangat dan beberapa cemilan yang tersaji di meja.


"Hey Vir" sapa pria itu


"Kau ada di sini sedangkan Aku sudah memencet bel dan mengetuk pintu beberapa kali tapi tidak membukanya! Ck" Vir melempar tatapan sinis pada sang kakak.


"Oh sorry, sepertinya aku terlalu fokus sampai tidak mendengarnya"


Vir melonggarkan dasinya dan berkata lagi "Lain kali jangan pulang lebih dulu sebelum Aku pulang"


"Kenapa?" Vino menatap lekat wajah adiknya yang kelihatan sedikit lusuh "Kau mabuk lagi?" tebak Vino namun Vir tidak menjawabnya dan malah berkata lain


"Tidak baik berduan dengan adik ipar mu, dia istri ku nanti kau bisa tergoda padanya" ucap Vir datar seraya meninggalkan Vino yang terlihat menahan tawa karena ucapannya


Jawaban Vir kedengaran menggelitik.


"Apa kau cemburu?" Ucapnya tanpa menoleh, yang mana membuat Vir menghentikan langkah.


"Bukan cemburu, aku hanya tidak ingin kau tergoda padanya" Vir kembali melangkah


kau jangan sampai tergoda seperti aku yang begitu mudah tergoda pada wanita itu


Huh, Bahkan masakannya pun mampu menggoda ku.. ucap Vir dalam hati sambil melangkah menuju dapur sebab mencium aroma masakan yang sangat menggugah selera.


"Eheemm"


Aileen yang tengah asyik menata makanan di atas meja terlojak kaget karena Vir berada tepat di samping telinganya, wanita itu pun menghela nafas kasar seraya mengusap dadanya "Huh, Astaga kau membuatku terkejut"


Sementara Vir yang tidak merasa bersalah malah menyunggingkan senyum sumringah tanpa dosa.


Aileen lalu meraih punggung tangan Vir dan menciumnya. Ini sudah menjadi kebiasaan bagi keduanya, setiap kali akan berangkat kerja atau sepulangnya dari kerja.


Saat Aileen tengah mecium punggung tangan Vir, pria itu langsung menarik tengkuk istrinya kemudian mengecup mesra keningnya.


Lagi-lagi jantung Aileen di buat berdetak tak karuan, Ia yang merasa gugup menatap Vir dengan tatapan yang sulit diartikan.


Vir memajukan wajahnya hingga berjarak sangat dekat dengan wajah Aileen


"Kenapa, Bukan kah suami istri juga melakukan itu?" ucapnya dengan senyum menggoda


"Hiya, napas mu bau Alkohol..Jangan dekati aku!" Aileen menghibas-hibaskan tangan di depan wajahnya


Vir yang mendengar itu lalu menghembuskan napas tepat di depan telapak tangannya. Napasnya yang terpantul membuat ia bisa merasakan aroma napasnya yang memang sedikit bau alkohol


"Sedikit bau"


Saat di bar, dia memang hanya minum sedikit saja. itulah sebabnya Vir tidak terlalu mabuk berat dan masih sadar.


"Walaupun sedikit itu tidak baik untuk kesehatan, Jangan menyentuhnya lagi dan berhentilah pergi ke bar!" ketus Aileen


"Ck, Iya bu dokter" berucap seraya mendudukkan dirinya di kursi


"Vir, bersihkan diri mu dulu baru makan" Aileen menarik Vir beranjak kemudian membawanya ke kamar. Sedangkan pria itu sama sekali tidak melayangkan protes apapun saat Aileen menariknya. Dengan senang hati di mengikuti langkah Aileen membawanya


"Mandilah, aku akan menyiapkan pakaian untukmu" Aileen mendorong tubuh Vir masuk ke kamar mandi.


"Ck, apa dia selalu seperti ini? Hmmnt semenjak menikah dia sudah 2 kali mabuk" Aileen yang tak suka pria pemabuk terus menggerutu sebal sambil memilih pakaian untuk suaminya itu.


Selain alasan yang tidak baik untuk kesehatan, baunya yang cukup menyengat itu membuatnya begitu membenci minuman haram itu.


Setelah beberapa menit mandi akhirnya Vir pun ke luar, dia kelihatan lebih segar dengan air yang masih menetes dari rambutnya.


"Pakaian mu ada di ranjang, Aku tunggu di bawah dulu" ucap Aileen yang hendak beranjak namun Vir malah mencegahnya

__ADS_1


"Tunggu aku, kita turun sama-sama" katanya yang sudah selesai memakai celana pendek, dan beralih meraih kaos oblongnya


Aileen yang melihat masih ada tetesan air dari rambut suaminya pun langsung meraih handuk dan mengeringkan rambut itu.


Vir terus menatap lekat wajah Aileen yang sedang fokus pada rambutnya. Samar-samar ia menyunggingkan senyum kecil pada istrinya


"Sudah selesai! sekarang kita makan ya, kak Vino pasti sudah lapar"


Aileen dan Vir pun beranjak menuju ruang makan.


Setelah menyendokkan Vir makanan. Aileen yang tak melihat Vino belum ada di sana segera pergi memanggilnya.


"Kak ayo makan malam dulu!"


Vino yang mendengar suara Aileen lalu melirik jam tangannya


"Eh, iya. Ayo!"


Sesampainya di ruang makan, Vino duduk tepat di depan Vir. Merekapun melalui makan malam dengan keheningan.


Setelah selesai, dua bersaudara itu ke luar meninggalkan Aileen yang kini sibuk membereskan sisa makanan mereka tafu


"Kenapa tidak pulang ke mansion?" Vir duduk di sofa lebih dulu daripada Vino


"Pertanyaan itu terus, Aku bosan mendengarnya" setelah duduk Vino kembali berkutat dengan laptopnya


"Lagi pula apa salahnya jika aku merindukan saudara ku, hmmmnt sepertinya kau ingin mengusir ku secara halus"


"Ck, bukan begitu! Aku juga hanya bertanya Vin lalu apa salahnya?" ucap Vir tak mau kalah


Vino yang sedang sibuk tak merespon ucapan Adiknya itu. Membuat Vir penasaran dan ikut melihat apa yang sedang Kakaknya kerjakan.


"Apa semuanya berjalan lancar?"


"Lumayan, masih banyak kendala! besok aku harus kembali ke Singapura. Arlond yang akan mengurus semuanya di sini"


"Apa yang bisa ku lakukan? Aku akan membantu mu"


Vino tersenyum kemudian menepuk pelan bahu Vir yang duduk tepat di sampingnya.


"Aku senang kau menawarkan bantuan dan aku sangat menghargai niat baikmu tapi itu tidak perlu, Arlond bisa menanganinya. lagi pula kau juga sangat sibuk kan?" ucap Vino yang tidak ingin merepotkan


"It's oke, tapi jika ada sesuatu jangan sungkan memberi tahu ku! Aku akan siap membantu" Vir tersenyum tulus membuat Vino senang, Ia kembali melihat senyum tulus Adiknya yang sudah sekian lama hilang


"Thanks brother" Vino memeluk tubuh Vir


Tom dan Jerry yang sering bertengkar akhirya berpelukan.


"Temui istri mu, Jangan sampai dia kelelahan karena terlalu rajin!"


Vir pun hanya mengangguk kemudian beranjak.


"Kalau begitu aku ke belakang dulu"


Vino pun mengangguk


"Jangan khawatir, aku tidak akan tergoda pada istri mu. Dia juga adik ku, aku tidak mungkin merebut nya!" Vino terkekeh geli mengingat ucapan Vir saat baru pulang tadi. Ia bisa melihat jika Adiknya itu sangat tidak rela membiarkan istrinya berdua dengan pria lain meskipun dengan saudaranya sendiri.


"****, jangan meledek ku!" umpat Vir sambil berlalu menuju dapur


Sesampainya di sana, Ia berdiri tepat di samping Aileen yang sibuk cuci piring.


Ia terus memerhatikan istrinya yang begitu lihai dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


"Biasanya anak orang kaya menolak untuk melakukan hal seperti ini, tapi kenapa kau malah melakukannya dengan senang hati?" Vir yang sedari awal sengaja tak memakai jasa ART untuk membuat Aileen menderita malah dibuat bingung dengan wanita yang ada di depannya ini, bukannya mengeluh dan menderita dia bahkan melakukannya dengan senang hati.


"Aku berbeda! Dan aku bukan wanita manja, ini pekerjaan menyenangkan dan aku suka itu" sahut Aileen yang tengah sibuk membilas peralatan makan yang sudah ia basuh dengan sabun pencuci piring.


Vir dibuat gemas dengan jawaban yang istrinya berikan.


"Apa aku harus cari pembantu untuk membantumu?"

__ADS_1


"Terimakasih, tapi itu tidak perlu. Aku masih bisa mengerjakan semuanya"


Vir hanya mengangguk seraya mencebikkan bibirnya.


"Bagaimana kalau besok kita ke sauna... Melakukan banyak pekerjaan tentu kau membutuhkan relaksasi juga bukan? tawar Vir


Aileen yang sudah lama tidak pergi ke tempat seperti itu pun langsung tersenyum gembira, Ia begitu senang Vir mengajaknya. Apalagi kebetulan sekali ia ingin melakukannya sejak lama, hanya saja tidak ada kesempatan untuk pergi. Mengingat Mommny-nya belum kembali karena biasanya mereka pergi bersama.


"Kalau begitu, kita pergi besok sore. Aku akan menjemputnmu"


Lagi-lagi Aileen hanya mengangguk.


***


"Tidurlah, pasti kau sangat lelah seharian bekerja dan sampai di rumah kau juga masih mengerjakan semuanya!" Vir membawa wanita itu ke dalam pelukannya.


Walaupun jantungnya bermaraton namun bagi Aileen tidur dengan posisi seperti ini sangatlah nyaman. Entah sejak kapan ia mulai terbiasa tidur dalam pelukan Vir namun ia tidak memungkirinya jika dirinya pun menginginkan itu.


Dalam satu hembusan nafas saja dia sudah memejamkan mata dan berlayar ke alam mimpi.


Vir tersenyum melihat Aileen yang sudah tertidur sambil mencium dada bidangnya.


Vir yang tak bisa tidur terus menatap langit-langit kamar. Ia tak menyangka jika hari ini akan tiba, hari dimana hubungannya dengan Fia benar-benar sudah berakhir.


Walaupun kenangan bersama wanita itu belum sepenuhnya hilang dari hatinya namun ia akan berusaha menguburnya dan melupakan semuanya demi wanita yang ada di sampingnya saat ini.


Entah perasaan macam apa yang ia miliki, ia sendiri pun tidak tahu. Kata benci yang pernah ia lontarkan itu berubah menjadi rasa nyaman yang membuatnya terbiasa berada di dekat Istrinya.


Saking sibuknya bergelut dengan pikirannya sendiri sampai membuat Vir tak menyadari Aileen yang sedang menatap heran ke arahnya.


"Vir" lirih Aileen yang mana membuyarkan lamunan pria itu


Vir menatap Aileen yang masih berada dalam pelukan.


"Kenapa belum tidur?"


"Aku belum mengantuk, Kau sendiri kenapa malah bangun?"


"Aku mau minum" Aileen beranjak dan meraih gelas air yang ada di atas nakas.


Setelah selesai, Ia lalu membuka ikat rambutnya dan membiarkannya tergerai.


"Eil.."


Aileen beralih menatap Vir yang kini duduk bersandar di kepala ranjang.


"Kau maukan agar kita belajar untuk saling mencintai" ucap Vir dengan begitu serius.


Aileen sedikit terkejut mendengar ucapan suaminya. Ia menatap nanar, berusaha mencari kebohongan di sana, hanya saja yang terlihat hanya ketulusan yang terpancar dari mata sipit suaminya itu.


Tanpa di suruh pun aku sudah belajar mencintai mu lebih dulu, Aku selalu berharap hati mu akan terbuka hanya untukku Vir. kedengarannya memang egois, tapi itulah kenyataannya, aku bersungguh-sungguh dalam hubungan ini. gumam Aileen dalam hati


"Eil" ucap Vir yang melihat Aileen hanya terdiam.


"Bagaimana dengan Fia?" balas Aileen hati-hati, ia takut suaminya akan marah jika menyangkut soal wanita yang ia cintai itu.


Vir menghela nafas berat kemudian memegang kedua bahu istrinya itu. "Hubunganku dengannya sudah berakhir, Aku mengakhirinya demi pernikahan kita!" ucap Vir sendu


Aileen bisa merasakan apa yang Vir rasakan. Ia mengerti, ini merupakan suatu keputusan yang berat untuk Vir, namun ia juga tak ingin munafik sebab dirinya pun senang mendengar hal ini. Karena Itu artinya Virendra bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Meskipun ia tahu, saat ini Fia pasti sangat sedih dan terpukul. Bisa dipastikan wanita itu akan sangat membenci Aileen karena Vir sudah memilihnya.


Aileen masih terdiam, bergelut dengan pikirannya sendiri. Haruskah ia senang di atas hati orang lain yang terluka?


"Eil, mari memulai semuanya! Mulai saat ini Aku akan belajar menjadi suami yang baik untuk mu, maaf jika dari awal sikap ku tidak baik. Tapi mulai saat ini aku akan memperbaikinya. Kita akan sama-sama bertahan sampai rasa itu benar-benar tumbuh di antara kita" ucap Vir begitu tulus, kini tangannya beralih menggengam tangan istrinya itu


Mendengar hal itu, sungguh Aileen tak mampu berkata-kata lagi. Ia sangat bahagia. Saking bahagianya, rasanya air matanya akan siap menetes namun itu bukan lah dirinya, wanita ini terlalu sulit untuk menumpahkan air mata di depan orang lain jika bukan karena kedukaan pilu. Ia terlalu gengsi terlihat menangis apalagi terlihat lemah di mata orang lain.


Dengan mata berkaca-kaca Aileen mengangguk pelan, Ia menyetujui niat baik suaminya. Bukankah ini yang diinginkan dari awal? Apakah perjuangannya untuk bertahan benar-benar telah menuai hasil, meskipun belum sepenuhnya saling mencintai namun setidaknya ia senang karena tidak berjuang seorang diri lagi. kini keduanya akan sama-sama berjuang untuk memupuk cinta itu agar segera tumbuh.


Melihat Aileen yang menyetujui keinginannya membuat Vir pun merasa lega dan senang. Ia pun memeluk erat tubuh istrinya sesekali mendaratkan ciuman di kepalanya.

__ADS_1


Akankah awal yang baru segera di mulai, semoga mereka benar-benar bersama...


__ADS_2