Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 109


__ADS_3

Setelah melakukan take off pukul 4.25 (Waktu Korea Selatan) subuh tadi, akhirya pesawat yang Virendra tumpangi sudah landing di Bandara Internasional Indonesia.


Vir berjalan ke arah terminal kedatangan, dimana di sana ia sudah ditunggu oleh Dito yang datang menjemputnya setelah diberi kabar bahwa dirinya sudah berada di bandara.


Dari kejauhan Dito sudah menyambutnya dengan senyuman khas tersungging dari bibirnya yang terkesan mengejek.


Vir memutar mata malas begitu langkahnya berhenti tepat di depan Dito.


“Wiih baru dua hari tidak bertemu kau sudah semakin bening saja..” Dito mengarahkan kepalan tangannya mengudara dan Vir pun melakukan hal yang sama hingga membentuk gerakan tos diantara keduanya.


“Bening, bening.. Memangnya kau pikir aku air” Vir melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya lalu menyelipkannya di kerah baju kaos miliknya yang di lapisi jaket panjang selutut.


“Dasar bodoh, masih saja tidak tahu istilah..” cibir Dito yang kini mulai mengikuti langkah Vir ke luar dari area bandara.


“Kenapa kau pulang lebih awal dari jadwal?” kini langkah Dito sudah sejejer tepat di samping Virendra “Bukannya nanti malam baru akan penutupan..” Dito menatap dengan kening berkerut, karena memang sahabatnya itu pulang lebih dulu, melenceng jauh dari jadwal yang ditetapkan.


“Aku sudah begitu merindukan istriku, memangnya kenapa? toh acara intinya juga sudah selesai..”


“Ck, sudah kuduga.. Kau benar-benar bucin akut” cibir Dito sambil melayangkan bogeman pelan ke lengan Vir.


“Tidak ada yang salah kalau bucin pada isteri sendiri” Vir melirik ke arah Dito sambil mengerlikkan mata “Yang salah itu bucin pada orang lain ketika punya isteri, Itu baru salah besar! Tidak patut dicontoh” timpalnya sekali lagi


Mendengar ucapan sahabatnya itu membuat Dito terkekeh geli sambil berkata “Bukankah kau juga pernah ada di situasi yang sama, mencintai orang lain saat sudah punya isteri..Hahaha..” gelak tawa Dito tak terkontrol, hingga beberapa orang yang menoleh ke arah mereka.


“Itu beda, Ban*sat...!”


Virendra yang tak terima dengan ucapan Dito segera melayangkan tendangannya namun secepat mungkin Dito menghindarinya. Kelakuan keduanya sudah seperti anak kecil, padahal umur sudah hampir kepala tiga, berbanding jauh dengan kelakuannya.


“Sama saja! Kau menyindir dirimu sendiri.. hahahha” ucap Dito sambil terus berlari ke arah parkiran karena kini Vir telah mengejarnya


“Damned Ardito!! ” gerutu Vir sambil menarik kopernya berlari mengejar Dito


“Memang terkadang kita pandai mengatakan sesuatu karena belajar dari pengalaman! dan itu terjadi padamu juga” ejek Dito lagi


“Sialan!! diam Dit, jika tidak kau pulang saja jalan kaki” umpat Vir dengan nada mengancam “Lagi pula kau juga sama, justru lebih parah!!" cibir Vir


Mereka masih saja saling kejar, banyak mata yang melirik ke arah keduanya. Dua sahabat gesrek itu sudah seperti remaja yang lupa umur.


“Apa aku tidak salah dengar? Yang ada aku yang membiarkan mu pulang jalan kaki..” Dito berhenti tepat di samping mobilnya, dengan napas terengah ia setengah menunduk sambil memegangi lututnya. Sudah seperti orang yang baru melakukan olahraga berat saja. Begitu pula halnya dengan Vir, ia pun melakukan hal yang sama seperti Dito.


“Shiiit..Jangan banyak bacot! Ayo cepat masuk” Ucapnya sambil menghembuskan napas kasar “Aku sudah tidak sabar ingin bertemu isteri ku, pasti dia akan senang jika melihat aku tiba-tiba ada di rumah” Vir senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi Aileen saat melihat dirinya sudah kembali lebih awal bahkan tanpa memberi tahunya lebih dulu.


“Jadi Eil tidak tahu jika kau pulang hari ini?”


Namun bukannya menjawab, Vir justru berucap ketus sambil memintanya membuka pintu.


“Ck, sudah jangan banyak tanya! Ayo cepat buka pintunya..”


...____...


Setelah beberapa menit berkendara akhirya Virendra dan Dito tiba di kompleks perumahan elite, tepat depan rumah mewah milik mertuanya.


Satpam penjaga gerbang pun langsung membukakan gerbang saat melihat wajah dirinya yang tersenyum ramah dari dalam mobil.


Mobil Dito itu berhenti tepat di halaman rumah, Terlihat dua mobil terparkir di sana. Satu mobil Alphard putih yang sering Opa dan Oma Aileen gunakan dan yang satunya Mobil suv, pajero sport hitam metalik yang sering dikendarai oleh ayah mertuanya.


“Kau tak mengajak ku masuk? Siapa tahu di dalam ada wanita yang bisa di ehemmnt” ujar Dito setelah menurunkan koper dari bagasi.


Ini memang kali pertama bagi Dito medatangangi kediaman keluarga Aileen.


Vir melemparkan tatapan mencebik ke arah Dito yang selalu saja bersemangat jika soal wanita “Kau tidak usah masuk, Aku mau langsung istirahat!” Vir mengambil alih kopernya dari tangan Dito


“Lagi pula di sini tidak ada wanita muda, yang adanya para pelayan yang sudah berumur, memangnya kau mau??” sambungnya


“Hmmmmnt sepertinya dalam pecariaan ku kali ini akan sedikit memakan waktu lama..” ucap Dito dengan wajah lesu.

__ADS_1


“Ck, sungguh mengenaskan!” cibir Vir yang tahu arah pembicaraan Dito. Pasti yang dimaksud adalah pencarian jodoh.


“Sana masuklah! untuk kali ini aku tidak akan menganggu. Aku mau langsung pulang, Hayati lelah Zainuddin..” Dito menghembuskan napas kasar sambil merenggangkan tangannya ke atas.


“Baikalah, kau pulang lah Hayati! Aku harus masuk dulu” Vir menepuk bahu Dito sambil terkekeh geli karena meladeni celetukan unfaedah sahabatnya itu.


“By, Zainuddin! Bersenang-senanglah, karena pasti kau sudah lama tidak diservice kan.. Jadi nikmatilah, aku akan melihat trofinya nanti saaat kita bertemu di Hotel” Dito yang sudah masuk di mobil tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan alisnya.


Namun bukannya menhyahut, Vir malah mengibaskan-ngibaskan tangan, mengusir Dito agar segera pergi..


“Ck, Zainuddin tak berakhla” cebik Dito sambil menginjak pedal gas dan mobil itupun berlalu pergi.


Virendra beralih menatap bangunan besar di depannya. Ia mulai menarik napas dalam, seolah bersiap menghadapi sebuah rintangan yang akan menghadang di dalam sana.


Entah mengapa perasaannya jadi berubah tak karuan, Ia yang seharusnya bahagia karena akan bertemu sang istri justru kini malah berubah menjadi gundah gulana.


Vir menutup mata dan kembali menarik napas dalam untuk yang kedua kalinya. Setelahnya ia lalu mulai melangkah masuk.


Saat mengetuk pintu, ia disambut oleh seorang pelayan yang tersenyum ramah padanya. Pelayan itu ingin mengambil alih kopernya.


“Tidak usah bi, biara saya saja..” katanya sambil tersenyum ramah. Entah mengapa ia tiba-tiba berubah menjadi ramah seperti itu


Ia pun kembali melangkah, namun saat hendak menaiki tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Ayah mertuanya yang kebetulan baru ke luar dari ruang kerjanya yang berada tepat di sisi tangga.


Vir menelan ludah kasar saat melihat tatapan tak bersahabat dari Daddy Al. Ayah mertuanya itu menatap dengan tatapan penuh aura intimidasi.


“Daddy..” Vir menunduk sopan lalu mengulurkan tangan untuk memberi salam hormat padanya.


Dengan tatapan yang masih sama, Daddy membalas uluran tangan Virendra.


“Baru datang?” tanyanya dengan suara bariton khas bapak-bapak.


Vir tersenyum canggung sambil mengangguk “Iya Dad..”


Entah mengapa rasanya begitu berbeda, mengapa menghadapi Daddy Al lebih menyeramkan dibandingkan menghadapi Ayahnya sendiri atau bahkan beberapa preman sekaligus. Sejak awal, tatapan yang Daddy berikan selalu mendobrak benteng keberaniannya.


Vir yang tahu betul arah pembicaraan Ayah mertuanya itu pun hanya mengangguk mengiyakan.


“Jadi, apa...”


Belum sempat Daddy meneruskan kalimatnya, seorang wanita terlebih dahulu menyela ucapannya. Membuat Vir merasa beruntung dengan kehadiran dewi penolong yang hadir tepat saat ia hendak di eksekusi.


“Mas..” wanita itu adalah Mommy Jessica. Mommy melangkah mendekati Daddy


Vir mendongak sambil menghela napas. Terimakasih Mom, mommy memang the best..


“Vir, kau ada di sini?” tanya Mommy heran, sebab yang ia tahu Vir masih di Korea dan akan kembali setelah tiga hari.


Virendra hanya mengangguk, sudah seperti pria kalem tak seperti bawaannya yang biasanya banyak bicara.


“Menantunya baru datang, bukannya disuruh istirahat malah diajak ngobrol” celetuk Mommy yang tadi samar-samar sempat mendengar obrolan keduanya.


Daddy menghela napas kasar “Aku hanya bertanya sedikit, lagi pula apa salahnya! Vir bukan pria manja yang mudah lelah hanya karena penerbangan 7 jam.. Iyakan Vir?”


Vir tersenyum kikuk, dengan sangat terpaksa ia harus mengangguk mengiyakan. Jika tidak, harga dirinya di depan daddy akan semakin jatuh tenggelam ke dasar jurang.


Padahal sebenarnya ia begitu lelah, apalagi semalam, setelah selesai acara ia yang sama sekali belum sempat istirahat langsung memutuskan untuk kembali lebih awal setelah melihat kondisi istrinya yang sempat muntah-muntah. Sangat menghawatirkan baginya.


“Mas, biarkan Vir istirahat dulu.. Kasian dia, lagipula dia juga pasti merindukan istrinya” Mommy mencoba memberi pengertian “Bicaranya nanti saja ya, setelah Vir istirahat”


Mommy tahu betul apa yang akan suaminya lakukan pada Vir, sudah pasti ia akan langsung mencecar Vir mengenai masalah tempo hari yang jelas-jelas bukan sepenuhnya kesalahan Vir. Mommy yang tak ingin hal itu terjadi pun mencoba untuk mencegah.


Namun kali ini sepertinya sudah tidak bisa, sebab Daddy semakin ngotot. Ia terlihat tak mengindahkan saran dari Mommy.


“Vir sekarang jawab dengan jujur, setelah itu kau baru boleh pergi ke kamar”

__ADS_1


Daddy yang masih saja bersikeras membuat Vir menghela napas, ia berusaha berbesar hati menghadapi ayah mertuanya itu.


“Tentu, Daddy boleh tanya apa saja..” ucap Vir pasrah


“No, Dad..” Mommy menggeleng namun Daddy tetap tak bergeming. Dengan tatapan tajam yang kian menghunus ke arah Virendra.


“Apa...”


“Vir cepat pergi temui istrimu, jangan hiraukan ucapan Daddy! Aileen dari pagi kelihatan lesu, sepertinya dia sakit..” ucap Mommy begitu saja, Ia menyela ucapan sang suami, membuat Daddy menatap tak suka dengan kening mengkerut.


“Ta-tapi..” sela Vir bingung, ia benar-benar bimbang ingin menuruti siapa. Kini Vir yang biasanya memberi perintah harus menerima permintaan dan perintah bersamaan dalam satu waktu yang membuatnya bingung dan kelabakan menentukan pilihan. Sebab keduanya adalah Ayah dan Ibu mertuanya.


“Mommy bilang temui istrimu sekarang!!”


“Mom..” bentak Daddy


“Mas, Vir harus ketemu dengan Eil.. Apa kau tidak tahu putrimu itu begitu merindukan suaminya!”


“Aku hanya ingin bicara sebentar saja dengan Vir, Apa salahnya?” Daddy Al masih ngotot


“Salahnya adalah waktunya yang tidak tepat..” Mommy pun tetap bersikeras membela Vir.


Sementara Vir terlihat menggaruk tengkuknya menyaksikan kekacauan yang terjadi.


“Vir, Ayo pergi ke kamar mu! Temui Aileen”


Daddy memutar mata malas sambil menghela napas.


“Vir, mommy bilang pergi lah! Kau harus istirahat..”


Vir pun memutuskan untuk segera menemui istrinya, sebab ia pun begitu merindukan wanita itu.


“Kalau begitu aku ke kamar dulu, setelah itu aku pasti akan langsung menemui Daddy untuk menjawab semua pertanyaan yang akan Daddy berikan” ucap Vir lalu mulai melangkah menaiki tangga.


Mommy dan Daddy terus menatap punggung tegak Vir yang mulai menghilang di lantai atas.


“See..” Mommy menengadahkan tangan menunjuk ke atas “Dia kurang bertanggung jawab apa?? Kalau memang dia laki-laki pengecut pasti dia tidak akan kembali setelah mendapat kesempatan bebas. Tapi lihatlah, Vir justru berkata akan langsung menemui mu setelah bertemu dengan Aileen” Mommy menatap lekat wajah Daddy, berusaha mencari simpati dari suaminya itu.


“Jadi apa yang harus diragukan? Masalahnya tak perlu diperbesar begini...!” ucapan Mommy membuat Daddy termenung sejenak.


“Ck, tetap saja!! Kenapa kau selalu membelanya..” ucap Daddy sedikit ngegas sebelum akhirnya sama-sama terdiam setelah mendengar suara dua orang yang datang menghampiri.


“Ada apa ini?” tanya Opa Surya


“Ada masalah apa? Kenapa kalian bertengkar di bawah tangga?” timpal Oma Fera.


Oma dan Opa Aileen itu baru saja tiba pagi tadi, Mereka sampai di rumah tidak lama setelah Vino memgantar Aileen pulang.


“Apa kalian tidak malu jika ada pelayan yang melihat. Sudah mau punya cucu masih saja bertengkar, tidak malu pada umur, Hmmmnt” cibir Oma Fera lagi


“Contohi kami, sudah tua tapi makin harmonis..Iyakan Pah?” tanya oma sambil merangkul lengan Opa Surya dengan mesra.


Hal itu membuat Mommy dan Daddy saling tatap dengan tatapan menahan tawa.


“Ahh, bukan begitu! lepaskan” Opa Surya menepis tangan sang istri membuat Oma Fera menggerutu sebal.


Sementara ekspresi Mommy dan Daddy kini berubah merah padan menahan tawa.


Katanya harmonis, baru seperti itu sudah bertengkar.. ucap Daddy dan Mommy dalam hati


“Ada masalah apa Al?” tanya Opa yang kelihatan begitu penasaran.


“Bukan apa-apa..” sanggah Daddy yang tak ingin membuat Ayah dan Ibunya khawatir.


“Jangan bohong! Kau tahukan Papa tidak suka dengan kebohongan” ucap Opa Surya sambil menghentakkan tongkatnya ke lantai membuat semua tersentak termasuk Oma Fera yang memang begitu mudah terkejut.

__ADS_1


“Jessica ada apa? Apa yang kalian sembunyikan?” Opa Surya beralih menatap Mommy..


Mommy dan Daddy pun saling tatap, sepertinya mereka harus menceritakan masalah yang terjadi beberapa hari yang lalu.


__ADS_2