
Setelah beberapa menit mandi, akhirya Vir sudah selesai dengan ritual mandinya. Ia keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, tetesan air dari rambut yang basah, jatuh mengalir di tubuh atletisnya, membuat Aileen yang duduk di sofa dengan makanan yang sudah siap di hadapannya nampak tercengang melihat aura ketampanan sang suami. Pesona itu benar-benar tak terelakkan.
Ia seakan terhipnotis melihat tubuh atletis Vir dengan pesona rambut hitam acak-acakan, dengan air yang terus menetes membuat aura kelakiannya kian terpancar.
“Baju ku mana?” tanya Vir yang berjalan mendekat ke arahnya sambil mengusapkan handuk di rambut.
“Ini...” tunjuk Aileen menggunakan dagu pada kaos dan celana jeans yang sudah ia siapkan tadi.
Baru Vir ingin meraih pakaian tersebut namun sejurus kemudian Aileen sudah menarik tangannya hingga terduduk di sofa sedangkan kini Aileen sudah berdiri di hadapannya.
“Biar ku bantu.." kata Aileen sambil mengambil alih handuk di tangan Vir, kemudian mulai mengeringkan rambut suaminya.
Vir tersenyum dengan perhatian yang istrinya berikan.
“Terimakasih..” ucapnya saat Aileen selesai membantunya mengeringkan rambut.
“Mau pakai hair-dryer tidak?” tanya Aileen yang kini menyisir rambut Vir menggunakan jari tangan.
Vir menggeleng lalu menarik Aileen hingga jatuh di pangkuannya. Ia menenggelamkan wajahnya di dada sang isteri dengan tangan yang melingkar penuh tanpa berbicara sepatah kata pun. Aileen tersenyum melihat tingkah Vir yang lebih kalem dari biasanya.
“Sekarang kita makan dulu ya, tidak enak jika makanannya sudah dingin” Aileen mengerling ke arah beberapa jenis hidangan di atas meja.
“Kalau sudah makan kau harus mandi, Sun” Ujar Vir, sedangkan Aileen sama sekali tak menjawab, ia justru beranjak duduk ke samping Vir lalu mulai menyendokkan nasi ke dalam piring, mereka akan makan sepiring berdua.
...___...
Setelah selesai dengan prosesi makan, Aileen langsung mandi sesuai dengan yang Vir perintahkan. Wanita itu ke luar dari kamar mandi menggunakan bathrobe, lalu tersenyum sekilas ke arah Vir yang masih duduk di sofa dengan wajah datar terlihat memikirkan banyak hal.
“Apa ada kemeja lagi yang bisa ku kenakan?” tanya Aileen saat telah selesai mengeringkan rambutnya. Terlihat ia sama sekali tak mengaplikasikan scin care atau pun men-touch up makeup tipis-tipis di wajahnya. Membuat aura kecantikan alaminya kian terpancar.
Dengan alis bertaut Vir menoleh ke arah sang istri “Ingin memakai baju ku lagi?” tebak Vir
Aileen mengangguk dan Vir hanya tersenyum sambil melirik ke arah kopernya.
“Gunakan sesuka mu! Pilih yang mana saja..”
Dengan wajah bersemangat Aileen lalu berjongkok di sisi sofa, ia mulai membuka koper tersebut dan segera memilah apa yang akan dikenakan.
“Nah, sepertinya aku pakai yang ini saja," Aileen beranjak sambil menempelkan baju kaos berwarna hitam polos ke tubuhnya “Sepertinya akan keren”
Vir hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah absurd isterinya tercinta.
“Celananya tidak?” Vir terkekeh sambil setengah mencibir
“Ku rasa celana mu tidak akan muat untuk ku” sahutnya sambil melenggang menuju ruang ganti. Dan beberapa menit kemudian ia sudah kembali dengan menggunakan kaos hitam kebesaran milik suaminya yang dipadukan dengan celana panjang wanita.
Namun Vir sama sekali tak menoleh ke arahnya, pria itu terlihat menunduk sambil menopang dagu di tumpuan sofa. Entah apa yang dipikirkannya. Kerutan di sepanjang kening dengan tatapan kosong membuat wajah tampan itu terlihat seperti tengah ditumpuki beban berat.
Aileen yang tak ingin mengganggu langsung berjalan menuju sisi tempat tidur lalu mengecek ponselnya yang ada di atas nakas. Ia ingin memberikan waktu me time untuk suaminya itu. ia tahu betul jika seseorang juga terkadang membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan diri.
Sejenak keheningan terjadi dengan mereka yang sibuk dengan dunianya masing-masing.
Aileen yang tengah asyik mengecek berita yang berlalu lalang di berandanya, tak menyadari jika Vir tengah menatapnya dengan tatapan intens.
Saat ia menoleh sekilas, tatapan keduanya bertemu. Ia sama-sama melemparkan senyuman penuh arti. Saling menyelami perasaan satu sama lain dengan tatapan yang begitu dalam.
“Apa kau tidak merindukan ku?”
Vir hanya tersenyum mendengar pertanyaan sang istri, dengan senyuman khasnya yang memabukkan.
“Kenapa malah diam di situ?” kini Aileen menatap penuh selidik. Sejak tadi suaminya itu kelihatan berbeda.
“Miss you so much,” lirih Vir dengan suara yang hampir tak terdengar.
Aileen memutar mata malas “Kalau rindu, kemarilah, Jangan berdiam di situ..” katanya yang mulai kesal, sebab sedari tadi, Vir hanya mendiamkannya.
“Kenapa tidak menyentuh ku?” pertanyaan to the point Aileen lagi-lagi hanya diberi senyuman oleh Vir.
__ADS_1
Tidak, bukan itu yang ia inginkan. Yang dia inginkan adalah Vir mendekatinya dan akan memberikannya sentuhan memabukkan yang membuatnya terbang melayang. Tak terelakan, ia begitu merindukan sentuhan itu namun Vir sama sekali tak bergeming. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak” ucap Vir saat melihatnya mulai melemparkan tatapan penuh arti.
“Aku pun begitu merindukan mu..” selanya
Ucapan Vir terjeda sambil menghela napas “Aku hanya takut menyentuhmu, Aku takut membuat kalian tidak nyaman..”
“Terlebih lagi jika bayi kita benar-benar ada di sana” tunjuk Vir dengan arah pandang beralih pada perutnya.
“Astaga, apa kau menahannya hanya karena takut calon anak kita kenapa-kenapa?” tanya Aileen dengan senyuman di kulum
Vir hanya mengangguk
“Hey, tidak apa-apa.. orang hamil bukan berarti tak bisa melakukan itu” ucap Aileen sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda kutip pada kata 'itu'.
“Yang penting cara mainnya tidak brutal..” Aileen terkekeh dengan setengah mencibir.
Kini ia beranjak dan melangkah menuju sofa.
Dengan tindakan impulsif, ia langsung mendudukkan diri di atas pangkuan sang suami yang langsung disambut dengan rengkuhan olehnya.
Vir yang merasa mendapat lampu hijau tak menyia-nyiakan kesempatan, ia segera menyatukan wajahnya dalam - dalam. Kemudian menyesap madu kenikmatan yang begitu ia rindukan.
Selain memikirkan masalah dengan Daddy, tadinya ia juga tengah berusaha menahan diri untuk tak menyentuh sang istri, apalagi jika Aileen benar-benar hamil, ia takut jika menyakiti dua orang sekaligus. mengingat cara main dirinya yang terbilang anti-mainstream. karena ia benar-benar tak tahu cara menghadapi hal demikian, ia yang awam hal seperti itu pun memutuskan untuk menahan diri sebelum tahu ilmunya lebih dalam.
Namun mendegar ucapan sang istri, ia seolah mendapat lampu hijau. Apalagi tindakan Aileen yang begitu impulsif, sungguh memacu adrenalinnya yang kian menggebu.
“Dengan senang hati” Vir melepaskan tautan wajahnya saat merasa pasokan udara kian menipis.
“Aku akan lembut” ucapnya saat tangannya bergerak membantu melepaskan kaos hitam miliknya yang melekat sempurna pada tubuh sang isteri.
Desiran hangat mulai menjalar dalam tubuh keduanya. Kerinduan dalam hati seakan memberi getaran yang berbeda. Kian membuncah dan menggebu..
Terlebih lagi ketika Aileen merasakan tubuhnya mulai melayang saatVir merengkuhnya menuju tempat tidur.
...___...
“Sungguh tidak apa?”
“Apa ada yang sakit?”
“Maaf aku terlalu bersemangat...”
Pertanyaan itu telah Vir lontarkan berulang kali saat keduanya terkulai bersama setelah menaklukkan puncak tertinggi pada kenikmatan yang membawanya mengangkasa.
Dan Aileen pun selalu memberikan Jawaban yang sama. Berusaha meyakinkan jika dirinya memang tak kenapa-kenapa. Memangnya apa yang akan dirasakan selain kenikmatan yang tiada tara. Kenikmatan yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
“Aku tidak apa sayang, percayalah. Aku baik-baik saja" begitu kata Aileen meyakinkan
Saat itu pula Vir terdengar menghela napas lega sambil kembali melingkarkan tangannya pada tubuh si pemilik hatinya. Menenggelamkan wajah dalam-dalam pada ceruk leher nan wangi semerbak yang menjadi tempat terfavoritnya.
Suasana hening sesaat. Hanya ada saluran tindakan, seolah mengungkapkan jika keduanya begitu saling mencintai.
“Hey, apa ada masalah?” setelah bosan berdiam diri, Aileen menangkup wajah suaminya lalu mengusap rahang tegas yang mulai sedikit kasar itu “Apa terjadi sesuatu?”
Vir Menatap lekat manik indah milik Aileen.
“Jika ada masalah, cerita. Jangan dipendam sendiri..” ujar Aileen lagi. Ia tahu betul. sedari tadi, suaminya itu tengah ditumpuki beban berat.
Namun bukannya menjawab, Vir justru menyatukan wajahnya dalam-dalam.
“His.. Moon.. aku bertanya, bukannya dijawab malah seperti ini.." gerutu Aieen sambil mendorong pelan wajah Vir.
Vir terkekeh, dengan mata terpejam ia menelusupkan kepalanya ke dada sang istri “I'm okey”
“Jangan mencoba membohongi ku!! Kau pikir aku tidak tahu, hah?” Aileen kembali menarik wajah Vir hingga kembali menatapnya.
__ADS_1
“Cepat ceritakan..!” Aileen menatap lekat netra pemilik hatinya itu, berusaha mencari kejujuran di dalamnya. “Bukankah suami istri harus saling berbagi. Entah itu suka maupaun duka, kita harus menghadapi bersama..”
Vir mengusap wajahnya kasar sambil kembali menunduk. Dari lubuk hati yang paling dalam, sungguh is tak sanggup menemui Daddy Al, terlihat jelas kilatan amarah pada pria paruh baya itu begitu besar. Ia hanya takut jika karena masalah tempo hari Ia tak bisa membawa Aileen pulang bersamanya.
“Lihatlah, kau menghindari kontak mata dengan ku..” cebik Aileen sambil kembali menangkup rahang tegas itu.
“Hey, ada apa?” tanyanya begitu ingin tahu dengan tatapan selembut sutra.
“Kita pulang ya..” Vir menatapnya dalam
“Aku takut kau akan lupa jalan pulang..” Lirihnya lagi yang mana hampir membuat Aileen terkekeh
“Kita pulang sekarang, Aku yakin rumah sudah sangat merindukan mu..”
“Rumah merindukan Aku dan kamu.."
Aileen menghela napas dalam dengan senyuman di kulum. Tangan lentik itu menyusuri garis wajah pemilik hatinya yang terlihat kian menawan.
“Hey, dengar..” Aileen tersenyum sembari mengeratkan cengkraman lembutnya pada rahang Vir
“Bagaimana mungkin aku lupa jalan pulang.. Saat Hatiku sudah tersesat dalam labirin cintamu yang tak kunjung kugapai...” ucapan Aileen terdengar begitu serius dengan tatapan dalam yang mengunci
“Cih..” Vir berdecih sebal saat menyadari maksud perkataan istrinya. Bukannya merasa tenang, ia malah makin dibuat gundah.
Tawa Aileen pecah seketika, demi melihat reaksi Vir saat dirinya mengucapkan kata-kata puitis dengan makna tak menyenangkan.
“Hey, aku bercanda...” sela Aileen mencoba menenangkan.
“Aku serius, kau malah seperti ini..” Ucap Vir tak suka.
“Aku takut kau tidak akan pulang bersamaku..”
Aku takut jika saja Daddy tak mengizinkan kita bersama..
Aileen mengernyitkan dahi mendengar ucapan Vir. Ia mengusap lembut rahang pria itu, seolah mendapat kode dari perkataannya, ia pun berkata “Apapun yang terjadi, kau akan tetap menjadi tempat ku pulang..” ucap Aileen yakin
“Kita sudah melangkah sejauh ini, Aku tidak akan goyah sekalipun semesta mulai berusaha memisahkan kita..”
“Angin, Badai sekalipun tak akan mampu memisahkan kita..” ucap Aileen dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bisa ditebak, pasti Daddy sempat mengatakan sesuatu pada suaminya itu hingga ia menjadi seperti ini.
“Kau bisa lihat bagaimana Aku bertahan sampai saat ini...! meskipun di awal tidak mudah, tapi bukankah aku bisa melewatinya?”
“Apa yang kau takutkan tak beralasan, Vir..” bukan hanya dirinya, bahkan mata Vir pun mulai terasa panas. Pria itu hanys terdiam seribu bahasa.
“Saat hubungan kita belum berlandaskan cinta pun aku bisa bertahan hingga kita jadi seperti ini.. Lantas dengan alasan apa kau berpikir aku akan diam jika saja Daddy mulai meragukan mu disaat kita sudah sama-sama saling mencintai..” bulir bening itu kian mengalir deras.
Sedangkan Vir, sungguh tak mampu berkata-kata lagi. Tenggorokannya seakan tercegat, Yang Aileen katakan memang benar adanya. Ia tak perlu takut ataupun mengkhawatirkan apapun.
Wanita di depannya, bukanlah wanita sembarang yang gampang menyerah. Dia adalah wanita tangguh, jelmaan Wonder Woman yang berhasil menaklukkan hatinya.
Aileen itu adalah wanita yang menjunjung tinggi komitmen di atas segalanya, bahkan ia mampu bertahan seorang diri saat dulu ia menyakitinya. Lantas sekarang, mengapa ia harus takut sedangkan sudah ada cinta di antara keduanya. Tentu itu akan semakin mudah untuk melewati semuanya bersama.
“Percayalah, kau akan tetap menjadi pilihan ku untuk pulang. kau akan menjadi satu-satunya rumah utamaku setelah keluarga ku..” ucap Aileen meyakinkan.
Ia lalu merengkuh tubuh tegap pemilik hatinya itu. Menyalurkan kekuatan pada Virnya yang sedari tadi hanya diam dengan mata berkaca-kaca sambil mendengarkan semua ucapannya.
“Aku mencintai mu Eil..” lirih Vir dengan suara hampir tak terdengar saat dalam pelukan hangat menenangkan dari sang istri.
“Sangat mencintaimu..” Lirihnya lagi, dan Aileen hanya membalas ungkapan itu dengan usapan lembut di punggungnya.
“Appa pun yang terjadi, jika kita tetap bersama semuanya pasti akan baik-baik saja..”Aileen menghela napas dalam “Trust me, everything will be fine ”
“Tetaplah di sisi ku sampai akhir..” Vir membalas pelukan itu begitu erat..
“Aku cinta kamu. lebih dari apapun...” balas Aileen
__ADS_1