
Pagi hari, setelah mendengar kabar jika Aileen sudah mengalami kontraksi sejak dini hari. Kedua keluarga besar itu langsung bergegas menuju rumah sakit.
Mereka semua sempat khawatir ketika mendapat kabar jika Aileen harus mendapat tindakan operasi caesar akibat pembukaan tak kunjung bertambah, sedangkan air ketuban sudah hampir habis, bahkan tali pusar bayi terpantau melilit dibagian leher bayi setelah melakukan USG. Hal ini membuat dokter harus segera mengambil tindakan.
Kini semua keluarga tengah menunggu di depan ruang operasi.
Sedangkan Virendra, pria itu terlihat memilih menyendiri di ujung ruangan. Ia benar-benar merasa sangat tak berdaya. Bahkan disaat seperti ini ia masih menjadi orang yang tak bisa diandalkan ketika sang istri membutuhkan. Meski mendapat dukungan penuh dari semu keluarga, tapi tetap saja Virendra merasa insecure dengan kondisinya saat ini.
“Untuk apa kau membuat hamba tetap hidup jika harus seperti ini. Menyusahkan dan tidak berguna!" Vir mengusap wajahnya kasar, ia kemudian menunduk sambil memijat pelipisnya beberapa kali. Sungguh ia benar-benar merasa sangat terpuruk.
“Jangan mengutuki keadaan, lebih baik do'akan anak dan istrimu!" Rangkulan dari orang yang tak pernah meninggalkannya sejak dini hari itu membuat Vir meneh dengan wajah sembab.
“Kuatlah untuk mereka, Vir yang kukenal tak selemah ini! Kalau kau lemah, bagaimana istrimu bisa kuat menantang maut di dalam sana?"
Ucapan Dito hampir membuat air matanya kembali lolos.
“Aku tak lebih dari seorang pecundang, Dit! Aku tidak bisa diandalkan!" Kepala Vir semakin menunduk.
Tak ada satu orangpun yang menyadari apa yang terjadi pada Vir selain Dito. Semua tampak diam dengan pikiran masing-masing.
“Ayolah, jangan begini, kuatlah sedikit!" Dito kembali memberikan rangkulan.
Vir mendongak menatap wajah sahabatnya itu. Membuat ia merasa bangga dan haru memiliki sosok Dito yang luar biasa, meski terkadang gesrek tapi Dito sama sekali tak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun.
“Makasih, Dit! Kau terbaik!'
__ADS_1
“Kau juga terbaik, Vir!”
Baru keduanya saling rangkul. Suara pintu dibuka membuat semua yang ada langsung menoleh pada sumber suara.
Terlihat beberapa tim dokter keluar dengan wajah sumringah sambil melepas masker. Kemudian disusul dengan beberapa orang perawat sambil mendorong sebuah branker dan sebuah boks kecil berisi bayi mungil tengah di dorong ke arah yang berbeda.
.....
Beberapa hari setelah melaksanakan operasi, begitu Aileen diperbolehkan pulang. Kedua keluarga besar itu langsung mengadakan aqiqah untuk cucu pertama mereka yang berjenis kelamin laki-laki itu. Aqiqah diadakan di rumah orang tua Virendra.
Rumah yang sudah dihias sedemikian rupa begitu indah dengan tema baby new born benuansa white blue. Foto keluarga kecil Virendra dengan bayi yang namanya dirahasiakan sejak seminggu yang lalu itu terpajang di seantero ruang tempat acara aqiqah akan dilaksanakan.
Bahkan nama Putra pertama Aileen dan Virendra itu juga bisa terbaca dengan jelas dengan adanya rangkaian balon abjad yang terpampang di sudut ruang tempat sebuah boks rotan berisi bayi mungil itu.
Elvandra Zayyan Arshaka, begitu rangkaian nama yang menjuntai di bawah jejeran balon dan bunga yang dirangkai begitu indah.
“Namanya siapa?” tanya seorang ustadz yang akan membacakan do'a bagi buah hati mereka.
“Elvandra Zayyan Arshaka!” sahut Daddy Al antusias.
“Masyaallah, nama yang bagus!' Katanya memuji.
Sementara Aileen dan Virendra hanya bisa menyaksikan semua dengan senyuman mengembang. Tak terasa kini kebahagiaan keduanya makin terasa lengakpa setelah kehadiran baby Elvan.
“Makasih ya, Eil, sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa, terimakasih juga sudah mau berjuang sejauh ini!” bisik Virendra ketika kini mereka tengah menatap malaikat kecil yang ada di depannya.
__ADS_1
“Makasih juga untuk semuanya, cepat sembuh ya, supaya kita bisa main dengan anak kita!” Aileen yang mengenakan warna baju senada dengan keluarga kecilnya langsung menyandarkan kepala di bahu sang suami. Ketiganya nampak serasi mengenakan balutan busana muslim berwarna putih tulang.
“Jangan gerak dulu, pose yang bagus, 1, 2, 3, cekrek!" Suara Biyan yang tiba-tiba hadir jadi potografer dadakan membuat Aileen dan Virendra tersenyum kikuk.
“Bagus kak, jadi poto candid!” kata Biyan sembari menunjukkan hasil jepretannya.
Tentu hal itu membuat sanak keluarga yang lain langsung mendekat ke arahnya. Acara itu di tutup dengan swa foto bersama seluruh anggota keluarga. Mereka semua nampak bahagia menikmati acara yang berlangsung.
...Tamat...
Yey... Alhamdulillah ya, setelah melewati sekian purnama (1 tahun 28 hari) akhirnya kisah Eil dan Vir bisa sampai pada titik ini juga. Ya, walaupun harus ngesot buat ngumpulin mood dan alhasil membuat readers tersayang kecewa karena aku yang suka up semaunya 🙏🏻 (huhuu maafin aku sedalam-dalamnya ya ges ya!😭)
Mohon maaf kalau masih ada banyak kekurangan-kekurangan dalam penulisan dan maafin aku juga kalau ada salah kata sama kalian semua.🙏🏻
Insyaallah kalau nggak besok atau lusa aku akan bikin bonus chapter buat melihat Vir pulih total dan kembali bisa berjalan.
Sekian dari aku, sekali lagi terimakasih banyak buat semua dukungan kalian yang ngikutin sampai akhir🥰. Big hug and big thanks for you all❣️❣️
love you sekebon😘
Btw, nih ada bonus fotonya baby Elvan
__ADS_1
Salam sayang buat ony online sekalian