
“Pemeriksaannya sudah selesai ya, dok?” tanya perawat itu berbasa-basi saat melihat Aileen dan Virendra ke luar dari ruangan dr Wandi.
“Iya, Sus..” Aileen tersenyum ramah “Kalau begitu, saya pamit dulu ya..”
“Iya, dok.. Hati-hati di jalan, sapai ketemu dipemeriksaan selanjutnya!"
Setelah itu, Ia dan Vir pun ke luar dari ruangan tersebut.
Dan tepat saat membuka pintu, Aileen sedikit tercengang saat melihat Dito yang tengah duduk di kursi tunggu.
“Hey.." sapa Dito lebih dulu sambil ber-highfive dengan Vir lalu berpelukan ala pria dewasa pada umumnya.
“Hey..” balas Vir sambil menepuk pundak Dito
Aileen masih menatap Dito dengan kening mengkerut, ia sedikit terkejut dengan kehadiran tiba-tiba sahabat suaminya itu.
“Dito?” tanya Aileen pada Vir dengan wajah bingung sambil menunjuk Vir dan Dito secara bergantian
“Eh, Tadi Vir meminta ku kemari..” sahut Dito
“Iya, tadi aku memintanya datang karena ingin menyuruhnya menjadi supir kita..” celetuk Vir yang mana membuat Dito mengumpat kesal.
“Shiitt.. Sudah ku duga” Gerutu Dito dengan bibir mencebik sedangkan Vir hanya terkekeh melihat reaksinya.
Sepertinya kehadiran Dito cukup menghibur dan membuatnya senam wajah sejenak, setelah di dalam tadi ia terus saja memasang wajah datar demi berhadapan dengan dr Wandi.
Sementara Aileen, ia terlihat tak suka dengan jawaban Vir yang hanya memanggil Dito repot-repot kemari hanya untuk menjadikannya supir. Jika benar seperti itu, sungguh ia tak akan setuju.
“Kenapa harus merepotkan orang lain? lagi pula kau bisa menyetir sendiri kan.." sunggut Aileen
“Bumil tidak boleh marah-marah, tidak baik untuk kesehatan..” bisik Vir sambil menarik Aileen ke dalam rengkuhannya.
“Kita masih di rumah sakit, tolong jaga sikap anda Tuan Virendra” dengan wajah memerah Aileen melepaskan tangan Vir yang melingkar pada tubuhnya. Sungguh ia bingung dengan perasaannya yang begitu cepat berubah.
“Dito sama sekali tidak akan merasa di repotkan jika menyangkut keponakannya.. iyakan Dit?" Vir mengerlingkan matanya
“Yes.." sahut Dito asal
Dito yang baru mencerna ucapan Vir, kini baru mulai mengerti setelah beberapa detik berlalu.
Apa? Keponakan? Dito kembali berbalik menatap tulisan yang tertera di pintu
dr Wandika Kusuma Sp.O.G.. Apa Aileen benar-benar hamil? tanyanya dalam hati.
“Vir, katakan.. Apa yang ada dipikiran ku benar adanya?” Dito menatap nyalang
Sementara Aileen, makin dibuat heran dengan pertanyaan ambigu Dito.
Sedangkan Vir, ia terlihat begitu bersemangat, bersiap untuk menjawab pertanyaan Dito saat dirinya sendiri sama sekali tak mengerti.
Inikah yang disebut dengan istilah 'Jika sudah sefrekwensi, jangankan berbicara, baru saling tatap pun dua sahabat sudah akan saling mengerti satu sama lain' Ibarat memiliki ilmu telepati, demikianlah yang terjadi antara Virendra dan Ardito.
“Itu memang benar.. I will be a baby, Dit. my dream come true..” ucap Vir girang.
Sementara Dito, wajah pria itu terlihat begitu berseri dengan semangat 45 yang membara. Benarkah? sebentar lagi ia akan memiliki keponakan..
Dito lalu memeluk tubuh sahabatnya.
“Dan aku akan menjadi om-om, Vir.. aku akan memiliki keponakan dari mu!!” sunggut Dito tak kalah bersemangat
“Congrats, Vir.. Aku ikut bahagia mendengarnya!!” Vir dan Dito masih saling berpelukan, berbagai kebahagiaan satu sama lain.
“Thanks, Dit..."
__ADS_1
Kini Aileen mulai memahami maksud dari obrolan ambigu keduanya. Ia bahkan ikut terharu melihat persahabatan yang terjalin diantara mereka. Aileen bisa melihat jika persahabatan yang terjalin itu lebih dari sekedar sahabat biasa melainkan sudah seperti interaksi antar saudara. Bisa dilihat dari cara Dito yang turut bahagia mengharu biru mendegar kabar kehamilan dirinya.
Kini adegan peluk memeluk antar dua sahabat sejati itu sudah berakhir.
Dito beralih mengulurkan tangan pada Aileen. Memberikan ucapan selamat
“Selamat Eil, kau akan jadi ibu.. Kalian akan jadi orang tua.. Aku turut bahagia!”
“Terimakasih banyak..”
“Boleh peluk juga tidak?" Dito mengedipkan mata pada Vir sembari melirik ke arah Aileen secara bergantian.
“Silahkan kalau berani..! tapi setelah ini, aku pastikan kau akan langsung masuk ruang jenazah..!” Vir melemparkan tatapan menghujam
“Wuihh, Ganas sekali bapak ketua! bercanda bro..” Dito mengangkat tangan membentuk tanda V “Aku bahkan belum bahagia Vir, aku masih belum menemukan jodohku” ucap Dito dengan intonasi yang dibuat sesedih mungkin
“Cih..” Vir berdecih sebal
“Jangan galak-galak lah moon, kasian Dito.. Dia sudah rela kau repotkan, hanya untuk datang kemari..” sela Aileen
“Santai saja Eil, aku sama sekali tidak merasa direpotkan jika itu menyangkut dirimu..” Dito tersenyum sok ramah membuat Vir melayangkan toyorannya
“Tupai licik..!” protes Vir tak terima
Mereka bertiga pun terkekeh bersama, begitu heboh dan seakan lupa tempat dimana mereka berada, sebelum akhirnya tersadar dan menutup mulut masing-masing saat melihat orang yang berlalu lalang mulai melempar tatapan aneh. Bahkan perawat yang ada di dalam ruangan dr Wandi pun ikut menampakkan diri dari balik pintu. Penasaran dengan apa yang terjadi.
“Ternyata masih di rumah sakit, guys..” sahut Vir dengan wajah merah menahan tawa.
“Yaps.. tadi ku kira sedang di rumah ternyata di rumah sakit guys..” timpal Dito tak mau kalah dan mereka bertiga kembali terkekeh namun dengan volume yang lebih kecil.
“Jangan ribut, Guys.. Nanti aku bisa di skorsing untuk yang kedua kalinya karena dikira membuat keributan di rumah sakit..” Celetuk Aileen yang ternyata juga tak mau kalah dari dua pria itu.
Vir dan Dito yang tahu ucapan Aileen adalah sebuah sarkasme pun kembali terkekeh mengingat kasus yang menimpa Aileen beberapa waktu lalu.
Denga tertawa sumbang, tangan Vir terulur menarik Aileen ke dalam pelukannya. Ia masih begitu merasa bersalah dan menyesali kejadian yang menimpa istrinya itu.
Namun di tengah keheningan yang terjadi beberapa saat itu. Aileen melepaskan pelukannya saat mendengar suara yang begitu dikenalnya kian mendekat.
“Dr Aileen panutan ku..” Aileen terkekeh mendengar suara itu
“Issh, lebay..” seru suara yang satunya lagi.
Tentu kalian tahu siapa pemilik suara itu. Yeaa, siapa lagi kalau bukan suara Arnita Nuriantika S.Kep, Ners dan Drg Risa Anggraini. Duo partner setianya di rumah keduanya ini.
Tadi saat di jalan, Aileen memang sempat mengirimkan pesan pada grup chat yang diisi oleh mereka bertiga. Mendengar Aileen yang akan datang berkunjung pun membuat dr Risa dan Nita begitu bersemangat, bahkan tadi saat masih bekerja, keduanya begitu tidak sabar untuk segera bertemu dengan Aileen.
“dr Aileen Zavierra, I miss you so much..” lirih Nita saat mulai memeluk tubuh Aileen, bahkan tak menghiraukan dua orang pria yang ada di sampingnya
“Issh, Nita makin hari makin sakit jiwa..” celetuk dr Risa.
Ya, demikianlah Nita. dia memang yang paling konyol diantara mereka.
Aileen membalas pelukan itu dengan senyuman mengembang
“I miss you both..”
Aileen melepaskan pelukan dari Nita lalu beralih memeluk dr Risa.
“Apa kabar Eil, kami begitu merindukan mu..”
“Aku baik mbak, Aku juga rindu kalian..” keduanya masih saling melepas kangen.
Sementara dua pria itu, saling tatap sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Vir dan Dito saling melempar tatapan seolah mengatakan 'Apakah pertemuan seorang wanita akan selalu sedramatis ini?'
__ADS_1
Nita yang masih menatap interaksi antara dr Risa dan Aileen pun mencoba untuk berbalik ke arah suami Aileen yang ada di belakangnya, ia akan mencoba menyapanya sambil menunggu Aileen dan Risa selesai melepas kangen.
Proses menoleh Nita, seakan ber-Slowmotion dengan gaya yang terkesan lambat. Bahkan helaian rambut Nita yang tidak ikut dikucir seakan melambai terkena angin sepoi-sepoi, padahal jelas di sana sama sekali tak ada kipas angin atau angin kencang. Yang ada hanya udara dari udara penyejuk yang sama sekali tak bisa menerbangkan rambut seperti yang ada pada adegan film saat pemeran utamanya menoleh lambat.
Dan kiamat seolah terjadi saat itu juga ketika tatapan Nita bertemu dengan sosok yang begitu tidak ia harapkan berada di sana.
“Ka-kau..?” tunjuk Dito tak percaya
“Makhluk tak beretika???” pekik Nita dengan suara naik beberapa oktaf
Vir mengernyit heran melihat interaksi keduanya yang sama-sama melempar tatapan peperangan.
Mendengar suara kegaduhan dari Nita dan Dito membuat Aileen dan Risa segera menyudahi acara temu kangennya.
Mereka pun sama-sama heran saat melihat interaksi antara Nita dan Dito.
“Kenapa kau ada di sini? sana pergi jauh-jauh dari sini.. kau pasti mengikuti ku kan..” hardik Nita pada Dito, ia sama sekali tak memberi kesempatan untuk Dito berbicara.
“Hey jangan terlalu percaya diri, ini tempat umum! Siapa saja boleh kemari.. Cih tingkat percaya dirinya sungguh unlimited." cibir Dito tak mau kalah.
“Dih, Dasar manusia tak beretika.. sana pergi!!” usir Nita sambil mendorong tubuh Dito.
Vir, Aileen dan dr Risa makin dibuat bingung dengan apa yang terjadi. Kenapa mereka bisa saling kenal? tanya mereka pada hati masing-masing
“Eh, kenapa menyuruhku pergi.. memangnya ini rumah sakitmu”
“Iya ini rumah sakit ku.. Tempat kerjaku!” sanggah Nita tak mau kalah
“Cih, sombong sekali..”
Aileen yang melihat itu tak bisa lagi menahan diri untuk tak menyela bahkan menayakan sesuatu.
“Stopp.. jangan bikin keributan di sini!" ucap Aileen menengahi “Dan kau Nit, apa lau ingin berujung seperti ku karena membuat keributan di sini?”
Mendengar ucapan Aileen, Nita menghembuskan napas kasar. Tentu ia tak ingin itu terjadi.
Sedangkan Vir yang sepertinya mulai memahami situasi malah terkekeh setelah mengingat sesuatu. Sudah dibilang, jika sudah sefrekwensi bahkan hanya dengan saling tatap pun seseorang sudah dapat saling memahami.
“Jangan bilang, dia wanita yang pernah kau ceritakan..” bisik Vir.
Dito pun hanya menghela napas kasar sambil melempar pandangan kesembarang arah membuat Vir semakin yakin dengan dugaannya.
“Ck, kenapa dunia begitu sempit?" cibir Vir, Ia menepuk bahu Dito sambil menatap Aileen dengan senyuman penuh arti.
Aileen yang melihat itu, beralih menatap Dito dan Nita secara bergantian. Keduanya sama-sama menunduk.
“Apa kalian saling kenal?” tanya Aileen.
“Iya.."
“Tidak..”
Dito dan Nita sama-sama memberi jawaban berbeda membuat Aileen dan dr Risa makin bingung namun hanya Vir lah yang malah tertawa terbahak-bahak.
“Nit, kau mengenalnya?" kini Risa yang bertanya langsung pada Nita.
Nita terlihat mengangguk sambil berkata lirih pada Aileen dan Risa “Dia orang yang pernah ku ceritakan pada kalian..”
Aileen dan Risa melongo tak percaya mendengar pengakuan Nita.
“Jika kalian ingat tentang kencan buta, maka dialah orangnya..” sambung Nita dengan wajah menunduk. Ia sama sekali tak menyangka jika orang yang pernah ia kencani itu adalah orang yang juga kenal dengan Aileen bahkan juga terlihat dekat dengan suaminya.
What?? bagaimana dunia bisa sesempit ini? Sebegitu peliknya kah kisa percintaan seorang Ardito dan Arnita..
__ADS_1
Benarkah, mereka adalah sebuah kebetulan yang pernah dipertemukan takdir melalui kencan buta...
Ah, entahlah..