Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 22


__ADS_3

Dia kembali, dia ada di sini, bahkan dia pernah menemui ku. Aku benar-benar tidak tahu jika dialah kekasih dari pria yang sudah berstatus sebagai suami ku itu. Apa yang harus ku lakukan? haruskah aku bertahan atau malah menyerah sebelum berjuang??


Tidak kah ini terlihat seperti sebuah kompetisi? Ah tidak, ini bukan kompetisi, Apa yang aku pikirkan? ini bukanlah sebuah ajang pemilihan pasangan, sekali pun iya, tentu aku akan ke luar sebagai bagian yang kalah karena harus bersaing dengan wanita yang suami ku cintai.


Selepas obrolannya dengan Vir tadi, Aileen kembali ke kamar. Ia meraih diary-nya dan menumpahkan semua keluh kesahnya di sana.


Sungguh Ia dibuat pusing atas sebuah fakta yang baru saja terkuak. Apakah dia menangis? tentu tidak, dia tidak selemah itu, lagi pula apa yang harus ditangisi toh ia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya pada Vir, dia hanya kelimpungan sendiri bagaimana harus mengarungi rumah tangga di atas hubungan yang terlebih dulu terjalin sebelum pernikahan mereka terjadi.


Pulpen itu terus menari indah di sela jemari lentik Aileen, berpacu menumpahkan tinta di atas lembaran putih tak bernoda mengukir setiap ungkapan yang tertuang dari relung hati..


Jika ditanya apakah aku menganggapnya suami? jawabannya tentu iya, sekali pun kami di jodohkan namun Pernikahan ini suci, Aku harus tetap menghargainya, dan jika di suruh memilih bertahan atau berpisah aku benar-benar dilema.


Perpisahaan bukanlah jalan terbaik! Sebab aku salah satu orang yang benci dengan yang namanya perpisahan dan aku adalah wanita yang menjunjung tinggi komitmen dalam sebuah hubungan, Aku hanya ingin satu untuk selamanya. Namun, bisakah begitu?


Tidak kah aku egois menginginkan suami ku hanya satu untuk selamanya, walaupun aku tahu itu tidak mudah, bahkan tidak ada cinta diantara kami. kedengaran begitu konyol mengharapkan hubungan ini selamanya sedangkan tidak ada cinta di dalamnya. Seperti sebuah kapal yang berlayar tanpa nahkoda di tengah luasnya samudera, tak tentu arah harus kemana.


Ini semua terlalu rumit untuk kami. di saat aku sendiri tidak tahu siapa yang akan dicap pelakor dalam hubungan ini dan siapa yang harusnya disalahkan..


Tuhan.. tolong bantu aku, beri aku kekuatan untuk menjalani semua ini.


.


.


.


"Eil, Aileen!! kau dimana?" Vir teriak kesana kemari mencari Aileen, ia menyusuri semua ruangan yang ada di lantai bawah.


Tidak ada yang tahu sejak kapan ia kembali ke rumah, apakah pulang saat larut malam atau bahkan malah menginap di lain tempat.


Vir kembali mencari keberadaan Aileen, entah apa yang membuatnya mencari wanita itu sepagi ini. Namun yang lebih anehnya, biasanya Aileen lah yang lebih dulu bangun, bahkan biasanya sepagi ini dia sudah ada di dapur bergulat indah di sana.


Sudah menyusuri setiap ruangan, bahkan sudah mencari sampai ke halaman depan namun wanita itu tak juga ia temui.


Ada satu ruangan yang belum ia periksa, Kamar! ya Vir berlari menaiki tangga, hendak mencari Aileen di kamarnya.


Vir membuka pintu, menampakkan Aileen yang masih bergelung di balik kain tebal berbulu halus. Ada yang janggal, tidak biasanya Aileen masih tertidur seperti ini, Namun ada yang lebih penting dari itu, membuat Vir menepikan semua tanya dan langsung beranjak ke sisi ranjang.


"Eil, bangun, ayo cepat bangun!" Dia membangunkan Aileen namun dengan cara yang lebih lembut.


Entah dia kerasukan setan apa atau mungkin malaikat sehingga bersikap hangat sepagi ini. Jarang-jarang seorang Virendra bersikap manis pada orang yang katanya tidak disukainya.


Eil mengerjapkan mata, ia mengubah posisi menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang. kali ini ia terlihat sedikit kalem, Ia hanya diam seraya menatap Vir dengan ekspresi datar seolah mengatakan ada apa namun hanya menunjukkan dengan ekspresi tanpa suara.


Pria cerewet yang arogan itu entah sadar atau tidak, ia duduk di sisi ranjang dan begitu dekat dengan Aileen yang tengah duduk selonjoran.


"Kita harus bersandiwara lagi.." ucapnya yang mana membuat Aileen yang masih diam mengernyit bingung


"Tadi ibu menelpon katanya ingin melihat menantunya" berucap dengan wajah menyebalkan seraya meraih handphonenya dan menekan sesuatu di sana "Tadi aku mengatakan kalau kau masih tidur, jadi dia akan menelpon lagi setelah kau bangun"


Aileen menghembuskan nafasnya yang terasa panas. Ternyata ini motif dibalik pencarian Vir, dia hanya ingin mengajak Aileen bersandiwara di pagi buta hanya karena sang ibu.


"Bersiaplah.." Vir mengarahkan ponselnya di depan wajah mereka, Kini ia sudah ikut duduk bersandar sama persis dengan posisi Aileen


Handphone berdering, menandakan panggilan video yang ia tuju telah tersambung, hanya tinggal menunggu jawaban dari balik sana.


"Hey Dear.. Good morning" sapa wanita paruh baya dari balik layar.

__ADS_1


Aileen tersenyum kikuk. Sementara Vir, pria itu menjalankan sandiwaranya seorang diri dengan begitu baik tanpa menyadari lawan mainnya sedang tidak baik-baik saja.


"Ibu berhentilah sok inggris seperti itu" Vir memutar mata malas "Belum genap sebulan di negeri orang tapi ibu sudah lupa bahasa sendiri" protesnya.


Bukan seorang Virendra namanya jika tidak bisa mengkritik hal kecil.


"Haissh kau ini, jiwa kritikus mu itu tak pernah hilang! minggirlah, ibu ingin bicara dengan menantu ibu.."


Vir mendengus kesal karena ibu lebih merindukan menantunya, walaupun begitu ia tetap senang, sebab semenjak menikah dengan Aileen hubungan dengan keluarganya yang sempat seperti kutub utara kembali mencair.


"Ibu apa kabar? Ayah dimana? eheemmnt" Aileen bertanya dengan suara parau


Vir menatap intens wajah Aileen yang begitu dekat darinya, Namun tidak ada yang tahu apa arti tatapan dari seorang Virendra.


Melinda tersenyum, ia senang melihat hubungan putra dan menantunya yang semakin dekat. Padahal ia tidak tahu itu hanyalah sebuah topeng yang menutupi begitu banyak kepalsuan


"Kami semua baik, Ayah sedang bermain golf dengan rekannya"


"Lalu kak Vino ada dimana? bagaimana kabarnya?"


"Vino baik, kakak mu itu sedang berada di kota A"


Vir kembali melemparkan tatapan yang sulit diartikan, entah dia marah karena diabaikan atau malah ia marah karena Aileen menanyakan tentang Jevino. Tidak ada yang bisa menebak ekspresinya, kecuali jika kalian seorang pakar ekspresi.


Setelah lama mengobrol, panggilan pun terputus. Vir menghembuskan nafas lega, akhirnya bisa menyudahi sandiwara yang berlangsung cukup lama yang menguras tenaga dan emosi itu


Vir yang sudah berdiri beralih menatap Aileen yang kembali merebahkan dirinya dan bergelung di balik selimut.


"Kenapa kembali tidur? apa kau tidak ke rumah sakit?" tanyanya heran "Bukankah kau orang yang selalu bangun pagi, tapi kenapa begini? Ah aku tahu kau pasti sudah lelah mengerjakan pekerjaan rumah ya? sehingga ingin bermalas-malasan seperti ini" cecarnya dengan berbagai perkataan yang tidak masuk akal.


Aileen sama sekali tidak merespon setiap ucapan Vir. Hal itu membuat Vir geram, pasalnya wanita yang selama ini selalu menjawab dan membantah ucapannya sama sekali tak bergeming ketika diomeli, membuat Vir merasa heran


"Ayo bangun, kau harus mengerjakan semua pekerjaan rumah setelah itu baru boleh ke rumah sakit" Vir menarik tangan Aileen. Namun ia tersentak ketika tak sengaja menyentuh bagian tangan Aileen yang begitu hangat.


"Apa kau sakit?"


Aileen sama sekali tak bergeming membuat Vir frustasi, ia menghela nafas dalam. Mengarahkan tangannya pada dahi Aileen


Vir meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana lalu kembali fokus pada Aileen.


"Baiklah, karena kau sudah bersandiwara untuk ku, untuk hari ini aku akan mengurus mu"


"Ternyata dokter juga bisa sakit!!" gerutu Vir seraya melenggang ke luar dari kamar


Sementara Aileen yang mendengar ucapan Vir barusam, seketika berbalik dan merenggut kesal


"Dokter juga manusia Vir, kau pikir dokter itu malaikat yang tak bisa sakit??" teriaknya dengan suara parau.


Entah makhluk aneh itu mendengarnya atau tidak, yang penting ia sudah mengeluarkan isi hatinya.


.


.


"Hari ini aku tidak masuk, aku akan menemani wanita sakit ini di rumah!!"


Dito yang baru saja menerima pesan dari Virendra hanya tersenyum setelah beberapa menit memutar otak berusaha memahami maksud dari kata 'wanita sakit ini di rumah' yang ada dalam pesan sahabatnya itu

__ADS_1


"Lihatlah, kau bahkan sudah mulai perduli pada istri mu itu!!" bunyi isi balasan pesan untuk Vir


Ting..


"Bukan perduli, aku hanya membalasnya karena sudah bersandiwara untuk ku di depan ibu.."


Dito kembali tersenyum saat sahabatnya itu begitu cepat membalas pesan darinya.


"Itu sama saja, berawal dari keperdulian hingga berujung saling jatuh cinta.." Dito kembali mengirim pesan


"Cih dasar menyebalkan!! kau selalu saja sok puitis.. Berbicara dengan mu memang tidak akan pernah nyambung!! sudahlah, aku hanya ingin memerintahkan mu untuk mengurus hotelku dengan baik!"


"Kita tidak sedang berbicara Tuan Virendra, kita hanya mengobrol melalui pesan!! L.O.L..!!"


Bisa Dito bayangkan bagaimana raut wajah kesal sahabatnya itu karena balasan pesan darinya.


Dia pun terkekeh dan kembali memulai morning briefing di Angkasa Grand Land Hotel


.


.


.


"Makanlah, aku sudah mau repot-repot membuat kan ini untuk mu" Vir memberikan semangkuk bubur kepada Aileen yang tengah duduk selonjoran di atas ranjang.


Aileen menatap heran pada semangkuk bubur yang Vir buatkan


"Apa aku bisa mempercayai mu?" tanya Aileen yang mana membuat Vir menatap kesal


"Ini tidak ada racunnya kan? Apa jaminannya jika kau tidak berniat jahat padaku" Aileen memicingkan matanya mengintrogasi Vir


"Haissh dasar menyebalkan, kau menuduhku!! bahkan aku sudah berbaik hati berusaha masak agar kau bisa sarapan dan kembali pulih, Ini masakan perdana ku!!!! tapi lihatlah kau malah menuduh ku yang tidak-tidak" protes Vir tak terima


"Ya aku hanya berhati-hati. Apalagi kau kan membenciku, bisa saja kan kau berniat membunuhku" Aileen berucap pelan pada kata-kata terakhir yang ia ucapkan


Vir melotot tak terima.


"Kau pikir aku ini penjahat kelas kakap sampai tega melakukan perbuatan keji itu?? Lagi pula aku hanya benci bukan berarti berniat membunuh! Ah sudahlah cepat makan..!" perintahnya lalu duduk di sofa


Dengan terpaksa Aileen pun memulai menyuap bubur yang Vir buat untuknya.


Matanya memutar ke kiri dan ke kanan saat lidahnya mulai mengecap rasa bubur buatan Virendra yang katanya masakan pertama untuknya.


Hmmmnt lumayan lah untuk mengganjal perut..


"Makan yang banyak!! itu pasti enak karena aku membuatnya mengikuti petunjuk dari YouTube" Vir terus mengoceh sembari bermain handphone


"Kau tidak ke kantor?"


"Tidak.." berucap tanpa menoleh sedikitpun


"Kenapa?"


Hening, tak ada jawaban


"Vir..."

__ADS_1


"Aiii diamlah Aileen, kau berisik sekali!!" ketusnya tanpa menoleh dan masih fokus pada handphonenya


__ADS_2