Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 80


__ADS_3

Hari terus berlalu, hubungan Virendra dan Aileen pun semakin membaik tanpa adanya gangguan dari Fia. Wanita itu seperti menghilang tanpa jejak, entah ia benar-benar telah melupakan Virendra atau hanya ada urusan lain sehingga membuatnya tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Vir sendiri tak ambil pusing, ia tak lagi memikirkan mantannya itu. Meskipun sesekali ia bertanya pada dirinya bagaimana keadaannya sekarang namun karena tak ingin menyakiti hati Istrinya ia membuang jauh-jauh pikiran tentangnya dan mengubur dalam kenangan bersama Fia.


Kini bagi Vir Aileen adalah prioritas utama dalam hidupnya, Ia menempatkan wanita itu di atas segalanya. Walaupun terkadang ia begitu posesif dan tempramen tak membiarkan Aileen berbicara dengan pria manapun. Ia benar-benar membatasi gerak wanitanya.


Hal itu tak jarang membuat Aileen jengah, Ia bahkan dibuat heran dengan tingkah Vir yang seperti itu.


Terkadang Aileen sendiri masih mempertanyakan bagaimana perasaan suaminya itu pada dirinya. Dari sikapnya ia terlihat begitu menyayangi dirinya walaupun sama sekali tak pernah mendengar ucapan cintanya secara langsung.


...«»...


Seorang anak kecil ke luar dari sebuah ruangan dokter. beberapa detik kemudian wanita mengenakan jas dokter dan seorang Ibu menyusul setelahnya, Mereka segera mengejar anak laki-laki yang terus berlari menyusuri koridor.


Anak laki-laki tersebut adalah pasien yang akan Aileen tangani. Dari penuturan Ibunya, anak tersebut sering merasa sakit dibagian tenggorokannya saat menelan dan bahkan sempat kehilangan suaranya.


Dari penuturan tersebut Aileen mendiagnosa ada dua kemungkinan antara Radang amandel dan Radang tenggorokan.


Untuk mengetahui lebih lanjut, dr Aileen segera melakukan pemeriksaan agar bisa memberikan tindakan lanjutan.


Anak laki-laki itu lalu berbaring di kursi pemeriksaan, Aileen segera melancarkan aksinya. Ia mulai menyeka bagian dalam tenggorokan anak tersebut menggunakan sebuah alat dan mengambil sampel cairan yang terdapat di dalamnya dan akan diuji ke laboratorium.


Pemeriksaan tahap pertama telah selesai. Aileen kembali meminta sang anak untuk melakukan tes kedua yaitu tes darah untuk mendiagnosis kesehatan menyeluruh pada pasien. Namun saat melihat Aileen mulai mengarahkan Lancing Device (alat untuk mengambil sampel darah) pada lengannya anak tersebut malah kabur, sepertinya ia takut pada jarum.


Aileen dan Ibu sang anak menemukan anak itu di taman belakang.


Anak itu memasang wajah memelas saat ibunya mulai memarahinya karena telah membuat mereka kelelahan mengejarnya.


“Mom, tak apa!” Aileen menggeleng, ia melarang ibu itu memarahi bocah laki-laki yang menatap penuh iba.


Dengan napas terengah ibu itu mundur satu langkah saat Aileen mulai berjongkok di depan anaknya yang tengah duduk di kursi dengan tatapan mengiba dan rasa takut yang bersemayam dalam dirinya. sorot matanya mengatakan ia tidak ingin di sentuh alat yang tadi Aileen pegang.


“Hey, kenapa lari?” Aileen mengusap lembut rambut ikal bocah laki-laki tersebut.


“Aku takut di tusuk jarum” ucapnya ragu-ragu sambil menatap ibunya yang masih kelihatan marah


“Itu bukan jarum, benda tadi tidak menyakitkan. rasanya hanya seperti digigit semut kecil” Aileen mencoba membujuk namun bocah itu menggeleng.


“Tetap saja, gigitan semut juga tidak kalah menyakitkan” tolaknya yang benar-benar tak ingin jarum menyentuh kulitnya


Aileen tersenyum seraya mengusap rambut anak itu kemudian beranjak berdiri.


“Kita kembali ya sayang, ibu dokter harus kembali memeriksa mu! kau ingin segera sembuh bukan? bukankah kau rindu makan masakan enak ibu dengan lahap?” sekali lagi ibu berusaha membujuk namun anak itu masih saja menggeleng


“Tidak apa mom, jangan dipaksakan! sampel cairan yang tadi sudah cukup. Kalau memang hasilnya tidak cocok kita bisa membujuknya lagi, tapi untuk saat ini lebih baik kita menenangkannya dulu”


Ibu itu pun menyetujui ucapan Aileen, ia segera mengajak anaknya pergi dan akan kembali lagi besok.


Aileen menghela napas, Ia mengusap wajahnya kasar kemudian duduk di kursi.


Menghadapi pasien anak-anak memang memerlukan tenaga dan strategi yang ekstra untuk membujuknya


Saat tengah duduk Aileen menyerngit heran saat tangan seseorang menyodorkan sebotol air minum padanya.


Aileen mendongak dan menghela napas saat melihat siapa si pemberi minum.

__ADS_1


Dr Wandi, si dokter kandungan yang selalu mendekatinya dan memanggilnya dengan sebutan Aileen tanpa ejaan yang benar.


“Minumlah, berlari membuat mu mengeluarkan banyak keringat dan kau membutuhkan banyak cairan sebagai gantinya..” dr Wandi tersenyum saat Aileen mengambil minuman dari tangannya


“Thanks!” Aileen meneguk air minum yang langsung menghilangkan dahaganya.


Ia memang sangat haus, namun tak punya tenaga untuk segera kembali ke ruangannya.


“Boleh duduk?” Melihat Aileen yang tak menjawab membuat dr Wandi langsung duduk tanpa persetujuan.


Aileen menggeser posisi duduknya hingga mepet di ujung kursi. Ia risih berada begitu dekat dengan pria lain, namun ia juga tak bisa mengusirnya. Mengingat dr Wandi lah yang memberinya minum.


Dr Wandi mulai berbasa-basi pada Aileen yang hanya sesekali menjawab setiap ucapannya dengan singkat, padat dan jelas.


“Apa ada waktu untuk dinner dengan ku?”


“Tidak” ucap Aileen ketus membuat dr Wandi menelan ludah kasar dengan jawabannya.


Dari awal aku sangat tertarik dengan wanita satu ini, dan sekarang aku semakin dibuat penasaran..


“Kenapa?” tanya dr Wandi dengan wajah berseri-seri


“Suami ku pecemburu, dia akan membantai mu jika berani mengajak ku Dinner”


Meskipun dia mengizinkan pun aku sama sekali tak berniat dinner denganmu! Aileen memutar mata malas.


“Kita bisa pergi tanpa sepengetahuannya, hanya dinner untuk saling mengenal”


Melihat Aileen yang sama sekali tak menjawab membuat dr Wandi memiringkan wajahnya menatap Aileen yang sedari tadi melempar tatapan ke beberapa pasien yang ada di taman itu.


Bukannya menatap wajah Aileen, dr Wandi malah dibuat terkejut saat pandangannya bersitatap dengan wajah pria yang berada tepat di depan wajahnya.


Pria itu mencondongkan tubuhnya dari belakang diantara Aileen dan dr Wandi.


“Aku akan mencongkel matamu jika berani menatap istri orang seperti itu! Dan akan mendonorkannya pada seorang tuna netra yang membutuhkan”


Aileen yang mendengar suara itu sontak berbalik, ia terkejut mendapati suaminya yang tiba-tiba ada di sana.


Dr Wandi gelagapan, dilemparnya tatapannya ke arah pohon yang ada di depannya


Vir berjalan memutari kursi, Ia menarik Aileen berdiri hingga terperangkap dalam pelukannya.


“Vir, sejak kapan kau ada di sini?” Aileen menatap wajah Vir yang masih melemparkan tatapan mematikannya pada dr Wandi.


“Sejak makhluk ini mengajak mu dinner” ujar Vir dengan begitu mendominasi.


Aileen menelan Salivanya dengan kasar, Vir mendengar semuanya. Itu artinya dia juga mendengar ucapan Aileen yang mengatakan dirinya pecemburu. Aileen merasa nyawanya sedang terancam, mengingat kemarahan Vir saat cemburu sangatlah mengerikan.


Dr Wandi bersikap sok ramah seolah ingin menjinakkan banteng yang siap menyeruduknya telak.


“Tuan anda salah paham, saya mengajak dokter Aileen dinner agar bisa lebih dekat dengan anda, Saya salah satu pengagum anda Tuan Virendra, bukan begitu dr Aileen?” dr Wandi tersenyum canggung.


Membuat Aileen melempar tatapan tak suka, Ia benar-benar tak habis pikir dan sangat tak menyangka ternyata di belahan bumi ini ada seorang dokter kandungan yang bersikap nyeleneh seperti ini.

__ADS_1


“Kalau mau dinner, dinner saja sendiri! Jangan mengajak istri orang! Jika saya lihat anda melakukannya lagi saya akan membuat anda kehilangan suara untuk berbicara!” Vir menarik Aileen pergi meninggalkan dr Wandi yang tercengang atas ucapannya.


Ia merinding sendiri dengan ancaman Vir.


“Bereskan barangmu! dan ikut denganku” ucap Vir dengan dada yang masih naik turun, sepertinya ia masih marah. Jika tidak mengingat ini rumah sakit mungkin Vir sudah hilang kendali dengan menghajar dr Wandi hingga babak belur.


“Ke-kemana?”


“Jangan banyak tanya sun, lakukan saja perintahku”


“Tapi ini belum waktunya pulang”


“Cih, apa kau membantah suamimu? ckckck” Vir berdecak kesal.


“Apa kau marah?”Aileen mendekati Vir, ia bergelanyut manja dilengan pria itu “Vir, bukankah kau dengar semuanya? Lalu kenapa marah padaku”


“Panggil Aku moon!” Vir menyentil kening Aileen yang tengah menatapnya lekat.


Aileen meringis kesakitan, di saat marah seperti ini pun pria itu masih memerhatikan panggilan yang bagi Aileen merupakan panggilan Alay. Aileen sendiri tak bisa menolak saat Vir menemukan ide panggilan untuk keduanya, pria itu mewajibkan Aileen untuk memanggil dirinya Moon sedangkan ia sendiri akan memanggil Aileen Sun.


Aileen sendiri mengutuki dirinya yang pernah dengan bodohnya membuat sebuah perumpamaan menggunakan nama benda langit yang malah membuat suami anehnya itu tertarik untuk menggunakannya sebagai panggilan sayang diantara mereka.


“Mulai sekarang panggil aku Moon dan aku akan memanggil mu Sun! Kau Matahari ku dan akun Bulanmu” ucapan itu terus terngiang-ngiang di telinga Aileen saat Vir menyampaikan ide gilanya


“Sun, dengarkan aku! semua ini salahmu, kalau saja kau tak meresponnya dia tidak akan berani duduk di dekat mu dan mengobrol lebih lama! Kau yang memberikan peluang untuknya!” Vir mencengkram pipi Aileen, satu tangannya mulai melingkar di pinggul langsing istrinya


“Moon, tadi aku..” belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya Vir sudah ******* bibirnya dengan begitu rakus.


Aileen yang belum siap membuat dirinya kesulitan mengimbangi belitan lida* Vir yang bermain dengan begitu ganasnya.


Vir mengabsen setiap inci rongga mulut Aileen, menyesap madunya dengan begitu rakus. lidahnya menjulur menyapu semua yang ia inginkan.


Aileen oun begitu, tangannya mulai menjalar naik meremas rambut suaminya, Ia benar-benar dibuat melayang dengan permainan bibir Vir yang membuat tubuhnya meremang menikmati pergulatan lidah itu.


Gigitan kecil Vir berikan sebagai penutup ciuman panas mereka.


“Aku tidak bisa bercinta di sini, di sini bau obat” Vir mengecup kening Aileen, Ia berjalan mundur seraya merapikan rambutnya yang berantakan karena tangan nakal istrinya.


Aileen mengerdikkan alisnya menatap Vir. Ucapan Vir seolah mengatakan bahwa dirinya baru saja mengajak pria itu bercinta.


“Bersiaplah, ikut Aku ke hotel! kita lanjutkan di sana!” Bisikan sensual Vir membuat bulu kuduk Aileen meremang.


“Kita akan mencari sensasi baru” Vir tersenyum arti sambil mendorong tubuh Aileen untuk segera mengambil tasnya.


Dengan berat hati Aileen segera berkemas.


...«»...


Nah, nah, si Sun sama Moon mau cari sensasi baru untuk apa nih?🤣🤣 sepertinya mereka akan bercocok tanam di tempat yang lain. kan bosan di ladang mulu,🤭 sekali kali pen coba bercocok tanam di luar angkasa gitu😅


Btw, jangan lupa tinggalkan jempol kalian biar aku makin semangat.. percaya atau nggak jempol kalian tuh Semangat akohh buat lanjutin cerita ini, jadi jangan pelit-pelit untuk mendaratkan jempol kalian ya gays.. Gak komen gak apa, yg pnting jempolnya ada😅


❣️❣️

__ADS_1


__ADS_2