Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 102


__ADS_3

#Di kediaman keluarga Utama.


Semenjak mendengar cerita dari Zaky, bahkan melihat kenyataan jika Aileen terluka karena masa lalu Virendra, Daddy Al Menjadi uring-uringan tidak jelas.


Ia merasa telah melepas putrinya di tangan orang yang salah. Bukan! Lebih tepatnya ini semua kesalahan para kakek tua yang menyepakati perjodohan sialan itu. Ingin sekali ia melampiaskan semua amarahnya dan memaki pada mereka tapi sayang sekali, satu diantaranya sudah tiada sedangkan Ayahnya pergi menghadiri acara kerabat.


“Kenapa lama sekali, Ini sudah malam namun mereka belum juga sampai..” Gerutu Daddy Al


“Sayang, sudahlah. jangan seperti ini, Kita bisa bicara baik-baik” Mommy menghampiri daddy yang sedari tadi mondar-mandir seperti setrikaan “Aku rasa Vir dan wanita itu sudah tidak ada hubungan”


“ Wanita itu menyerang Eil hanya karena merasa tersaingi, ini bukan sepenuhnya salah Vir” mengusap lembut punggung Daddy.


Namun Daddy yang terlanjur kesal sama sekali tak menghiraukan ucapan sang istri. Ia tetap ingin segera mengkonfrontasi Vir dan Aileen secara bersamaan. Ia ingin mendengar alasan dominan dari keduanya. Jikalau Daddy menemukan sedikit celah yang masih membuat Aileen terluka maka dengan paksa daddy Al akan meminta Aileen untuk meninggalkannya. Tak ada toleransi, apa lagi memikirkan kesepakatan-kesepakatan yang ada. Sungguh pasangan yang malang.


...______...


Di dalam mobil.


“Kalau butu sesuatu hubungi aku saja, aku akan membantu” ucap Dito


Aileen yang ada di kursi belakang hanya mengangguk sambil berkata “Terimakasih” kemudian menatap ke jalan dengan lalu lintas yang cukup padat hingga mengakibatkan kemacetan parah yang membuat pergerakan mobil begitu lelet seperti keong.


“Wajah mu cukup parah..” Dito kembali menoleh sambil menunjuk wajah Aileen menggunakan dagu dengan telunjuk yang memutar di depan wajahnya sendiri “Yang sabar Eil! Dia memang gila...”


Sangat brutal..hmmnt Aileen yang malang.. lirih Dito


Aileen hanya menyunggingkan senyum tanpa berniat membalas ucapan Dito, apalagi jika harus membahas kejadian yang mengakibatkannya Zonk 2 kali lipat.


Hatinya menjadi tak karuan, dengan pikiran yang terus tertuju pada suaminya yang tengah menempuh penerbangan kurang lebih 7 jam jika tanpa transit.


Entahlah, jauh dari Vir benar-benar membuatnya hilang semangat, Ia merasa kesialan hari ini benar-benar makin bertambah. Suasana hati yang begitu mudah berubah membuat ia ingin menangis saat itu juga, hanya saja ia masih bisa menahannya. Ia tidak ingin lemah dihadapan orang lain. Yeaah, selalu itu yang menjadi patokan, Aileen tak pernah ingin menampakkan kerapuhannya di hadapan siapapun.


Namun seketika matanya berbinar bahagia tatkala melihat jejeran stand jualan di pinggir jalan. Mobil itu sudah bebas dari kemacetan. Melihat jejeran orang yang mengantri di sana membuat gejolak pada dirinya juga ingin merasakan makanan apa yang di sediakan di sana, nalurinya seakan memberontak ingin membeli semua yang ada.


“Stop, stoop..Stop!” teriaknya yang mana membuat pak supir segera menginjak pedal rem dan menepi ke bahu jalan.


“Ada apa Eil?” Dito yang mengira ada apa-apa langsung menoleh ke arah Aileen yang masih menoleh ke arah jendela dengan senyum penuh damba. apa yang terjadi? Tanya Dito dalam hati


“Aku ingi itu..” tunjuknya ke arah jejeran stand yang terletak tepat di depan sebuah warung makan, yang di sampingnya berbaris jejeran toko-toko “Banyak yang mengantri, pasti makanannya enak,” tangan Aileen yang hendak membuka hendel pintu langsung berhenti seketika saat mendengar suara Dito


“Biar aku saja, kau tunggu di sini” Dito sudah turun dari mobil sedangkan Aileen yang memang malas untuk berjalan ke sana merasa senang saat mendengar ucapan Dito. Ia seperti mendapatkan angin segar, begitu menginginkan makanan yang ada namun ia terlalu malas untuk menyebrang, membuatnya harus memaksa diri untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


“Mau apa?” tanya Dito yang kini berdiri di depan jendela tempat Aileen duduk


“Semuanya, beli semua yang kelihatan menggugah selera!”


Dito sempat terpaku seper sekian detik dengan jawaban lugas Aileen. Semua? membayangkan berapa banyak makanan yang menggambarkan kata semua membuat Dito menyerngit heran. Apa porsi dan selera makan istri sahabatnya itu memang seperti ini?


“Kenapa? Berubah pikiran ya??” tanya Aileen dari balik jendela yang kacanya turun setengah.


Mendengar itu, secepat kilat Dito menggeleng, Ia tersenyum kikuk “Eh, tidak. Aku akan belikan untuk mu!” Dito segera melangkah, namun belum ada beberapa langkah suara Aileen kembali menghentikannya.


“Pakai ini Dit!” ucapnya sambil memberikan 5 lembar uang merah.


“Tidak usah Eil, anggap saja aku mentraktir mu!”


Aileen tersenyum “Baiklah, lain kali aku juga akan menteraktirmu!”


Dito pun hanya terkekeh mendengar penuturan Aileen yang seolah akan membalas jasanya. “Santai saja! bukankah kita teman. lagi pula suamimu sahabatku. Dia ingin aku menjaga mu. So, its Okey!”


“Ahh iya, Thats Rigt!” Aileen balas tersenyum, dan Dito segera melangkah menyebrangi jalan yang hanya di oleh beberapa pengendara


“Uang ini untuk bapak saja” Aileen menyodorkan 5 lembar uang dengan gambar bapak -proklamator Indonesia- itu pada pak supir dan membuatnya sontak menoleh.


“Eh, ini apa bu?” tanyanya yang tak mengerti

__ADS_1


“Uang!”


Pak Supir itu terkekeh sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal “Hehe, semua orang juga tahu kalau ini uang bu, tapi maksud saya untuk apa?”


“Ooh” Aileen juga ikut terkekeh “Ini uang dari saya, saya kasih untuk bapak karena sudah antar suami saya ke bandara”


“Bapak supir mobil travel Hotel kan?” tanyanya lagi


“Iya bu, mengantar tuan Vir dan Dito memang tugas saya Bu. Dan soal gaji, itu urusan pihak Hotel” Pak supir yang berusaha profesional itu berusaha menolak dengan sopan.


“Ambil saja Pak, anggap ini bonus dari saya. Kalau soal gaji ya itu memang urusan Hotel tapi yang ini beda, anggap saja tip!” ucap Aileen sambil terus menyodorkan uang pada Pak supir.


Supir yang nampak tak enak itu, sama sekali tak bergeming.


“Ayo pak diambil, tangan saya capek seperti ini!”


“Eh, iyaa bu. maaaf!” Supir itu tersenyum kikuk lalu dengan ragu-ragu meraih uang tip pemberian Aileen. “Terimakasih bu!”


“Nah, begitu dong!” Aileen menghembuskan napas sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Sekali lagi terimakasih banyak Bu”


“Iya, sama-sama! santai saja pak, Selow kalau sama saya” Aileen tersenyum simpul “Saya tidak galak seperti suami saya kok Pak!” Ia kembali tersenyum saat mengingat seseorang yang kini sedang jauh di sana, seseorang yang sangat ia rindukan. Yang mampu membuat perasaanya berubah-ubah dalam sekejap, Merasa bahagia dan sendu secara bersamaan.


“Hehe..” Pak supir tersenyum kikuk mendegar ucapannya


“Kenapa pak? Suami saya gakak ya kalau di Hotel” katanya lagi, yang ingin tahu bagaimana tanggapan bawahan Vir tentang sikap sang Suami saat bersama bawahnya. Setidaknya pembahasan tentang Vir mampu meredam kerinduannya yang begitu membuncah.


Belum ada sehari tapi aku sudah begitu merindukanmu. sebenarnya kau manusia atau apa Vir? kenapa kau bisa membuat ku seperti ini..Aileen tersenyum dalam lamunannya, Tak bisaku bayangkan bagaimana hidupku jika tanpanya..


“Eh, a-anu Bu..” ucap Supir itu ragu-ragu membuat Aileen semakin terpancing ingin tahu lebih dalam.


“Bilang saja Pak, rahasia bapak aman sama saya!” Aileen terkekeh


Aman apanya? ibukan istrinya.. hmmm


“Tidak bisa dibilang galak juga sih bu, Karena tuan hanya akan galak pada...”


Omongan Pak Supir menggantung seketika saat Dito tiba-tiba masuk dengan beberapa kresek belanjaan sambil menyela ucapannya.


“Siapa yang galak...?”


...---...


Seorang Pria tengah terlelap di dalam Cabin First Class pada sebuah pesawat ternama Indonesia dari maskapai penerbangan nomor satu dalam negeri, dengan tulisan besar di body pesawat ‘RAJAWALI INDONESIA’


Pria yang tengah terlelap itu tiba-tiba terbangun karena telinganya terasa berdenging.


“Ahh, sial! siapa ini yang berisik sekali?” Vir menoleh ke kursi yang ada di sampingnya, yang mana seseorang temannya sedang tidur.


“Ck, siapa yang berani sekali mengataiku galak?” ucapnya menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mencari sumber suara yang terdengar mengatainya galak.


“Jika mereka tidur lalu siapa yang berbicara tadi?” tanyanya sambil membenarkan posisi dan hendak tidur kembali karena waktu yang di tempuh masih sekitar 6 Jam.


“Sepertinya aku hanya bermimpi, hmmmt” Ia pun mulai memejamkan mata, namun sebelum itu, ia terlebih dahulu menatap foto seseorang yang menjadi wallpaper handphone-nya.


“Miis you everytime and i forever yours!” dikecupnya wajah cantik wanita itu lalu mulai berlabuh di alam mimpi bersama dengan suara lantunan mesin pesawat yang mengalun seperti musik membuatnya langsung terlelap,


..._____...


“Siapa yang galak?” tanya Dito yang baru masuk, samar-samar ia mendengar obrolan antara keduanya, namun ia tak tahu pasti apa yang dibahas.


Pak Supir yang juga segan terhadap Dito langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dito merupakan separuh pemegang saham hotel yang merangkap sebagai Asisten sekaligus sahabat Bos utamanya, jadi bukan tidak mungkin jika Dito akan menyemprotnya jika berani berkata buruk tentang Virendra.


“Itu, tadi Pak supir bilang istrinya galak. iyakan pak?” Aileen dengan senyum tertahan mengerlikkan matanya melalui pantulan spion yang dilihat oleh pak Supir

__ADS_1


“Ooh” Kata Dito “Ini pesanan anda Nyonya Virendra!” Ia menyerahkan 10 kantong kresek yang terdiri dari berbagai jenis makanan pada Aileen


“Terimakasih Dit” Aileen berbinar senang


“Sama-sama! Kalau kau senang pasti Vir juga akan senang” Dito tersenyum simpul “Semuanya sesuai permintaanmu, Aku membeli semua menu yang ada”


“Okee, Sekali lagi Thaks ya Dit” Aileen mengecek satu persatu pesanannya.


“Santai saja Eil, jangan sungkan! Ayo pak, jalan!” seru Dito


“Kemana pak?”


“Emmmnt, kemana ya? ” Dito nampak mengingat-ingat alamat rumah keluarga Aileen, yang ia sendiri belum pernah ke sana sebelumnya.


“Perumahan Elit pondok Elegan, Blok A, nomor 190, ya Eil?” ujar Dito yang mencoba mengingat alamat yang sempat Vir beritahukan “Jalan Yos Sudarso, kan?”


Aileen hanya mengangguk mengiyakan sambil meraih satu tusuk sate kambing yang begitu menggugah selera.


Dito bisa melihat dari spion, jika selera makan istri Vir itu benar-benar diluar dugaannya. Tubuh langsing, ideal dengan penampilan seperti ini membuat Dito sempat mengira jika ia tak memiliki selera makan yang banyak apalagi sampai mau jajan sembarang seperti kaum elit pada umumnya. Namun yang dilihatnya sangat berbanding terbalik dari ekspektasinya. Wanita itu justru memposisikan diri seperti orang-orang biasa pada umumnya.


Beberapa saat kemudian, Mobil itu sudah memasuki perumahan Elit yang dimaksud dan berhenti tepat di depan rumah dengan gerbang bertuliskan Blok A No 190.


“Ini untuk anak bapak dan ini untukmu!” Aileen memberika masing-masing satu kantong kresek pada Dito dan Pak Supir.


“Tak usah, Eil. Kau bawa masuk saja”


“Iya bu, saya juga tidak usah” sahut Pak supir.


Namun Aileen tetap bersikeras agar mereka menerimanya “Ayo diambil, Aku beli banyak begini juga untuk dibagi-bagikan. lagi pula ini juga masih ada 8 bungkus..” tunjuk Aileen pada kresek yang digenggamnya


“Ayo diambil, jangan ditolak” sambunngya.


“Hmmmnt” Dengan terpaksa Dito dan pak Supir menuruti keingin Aileen


“Makasih Bu!” Aileen yang mendengarnya hanya menggangguk sambil berlalu ke luar.


“Ayo mampir dulu!” kata Aileen yang sudah berdiri di luar sambil memperbaiki posisi slingbagnya.


“Lain kali saja, Eil. ini sudah hampir larut”


“Ya sudah, kalau begitu aku masuk dulu! Saya duluan pak!” ucap Aileen ramah pada Pak supir.


“Eh i-iya bu, sekali lagi terimakasih” teriaknya saat Aieen sudah menghilang di balik gerbang.


“Istri Tuan, baik sekali ya Pak!” ucap Pak Supir sambil mulai mengemudi


“Dia memang baik, Vir sangat beruntung memilikinya” Pak Supir hanya mengangguk mendengar ucapan Dit


“Rencananya saya juga mau cari wanita yang seperti itu” Dito mulai menghayal sambil senyum-senyum tidak jelas


“Memangnya masih ada ya pak?”


Dito menyerngit heran, ia yang tadinya menutup mata sambil membayangkan calon jodohnya langsung menatap tajam ke arah pak supir. Omongan menohoknya barusan seakan sebuah tombak yang menghantam telak batu pijakan yang menjadi harapannya.


“Maksudnya?” Dito yang merasa tak didukung mulai membara namun supir menyebalkan itu sama sekali belum peka akan situasi.


“Maksud saya, memangnya zaman sekarang masih ada ya orang kaya yang seperti itu. Tadikan bapak mau jodoh yang sama persis seperti ibu, Menurut saya yang benar-benar mirip itu tidak ada” katanya tanpa menoleh


“Aisssh, bapak ini kenapa berbicara begitu. lagi pula yang bilang sama persisi siapa?” ucap Dito tak terima.


“Tapi, saya benarakan pak..Di dunia ini ti..”


Sia-sia, ucapan bapak supir mengambang begitu saja saat Dito langsung memotongnya.


“Cukup, cukup.. Jika tidak bisa mendukung lebih baik bapak diam, mau gaji bulan ini saya potong?” ancam Dito membuat Pak supir itu menggaruk tengkuknya

__ADS_1


“Eh, i-iya pak! Maaf! Eummnt, semoga Pak Dito bisa punya jodoh seperti Ibu Eil.”


“Terlambat Pak, terlambat..!” Dito memutar mata malas.


__ADS_2