
Daddy Al dan Om Ferdy sudah tiba di lokasi. Kedua bapak-bapak itu datang bersama beberapa anggota kepolisian yang akan menangani kasus ini. Setelah dimintai keterangan lanjutan, para anggota Bareskrim mulai menyusuri tempat kejadian perkara guna untuk melakukan penyelidikan.
"Virendra dimana, Biy?" Begitu sampai Daddy langsung menanyakan keberadaan menantunya yang sudah tak terlihat sejak kedatangannya tadi.
“Kakak pergi, Tadi..”
“Pergi kemana?" Dengan nada tinggi Daddy langsung memotong omongan Biyan, yang mana langsung membuat pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Bukan karena kesal dimarahi Daddy, namun pikirannya masih berkelana, memikirkan pergi kemana kakak iparnya itu.
“Tadi setelah menerima pesan, wajahnya langsung tegang. Setelah itu dia menyambungkan lokasi ponselnya padaku." Biyan memperlihatkan titik pada ponselnya. Kening Daddy Al mengkerut melihat itu.
Masalah ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling, entah mengapa kejadian yang sama terulang lagi. Dimana dulu istrinya, ibu dari Aileen dan Biyan pernah mengalami hal yang sama karena ulah seseorang. Sungguh ia dibuat tak habis pikir dengan apa motif dari balik semua ini.
“Bang Fer..” Daddy Al melambaikan tangannya, memanggil om Ferdy.
Om Ferdy yang sedang berbincang dengan kepala Bareskrim pun segera menghampiri.
“Ada apa, Al?" Tanpa basa-basi, Daddy langsung memperlihatkan titik lokasi pada layar ponsel.
“Bisa jadi itu adalah titik lokasi dimana putri Anda berada.." Ucap kepala Bareskrim yaang juga melihat itu. Sebagai seorang perwira tanpa diberitahu pun sudah tentu beliau mengerti apa maksud dari gambar itu.
Tanpa berpikir panjang, semua tim pun dikerahkan menuju lokasi yang mungkin memakan waktu hampir 4 jaman dari pusat kota.
“Al, alangkah baiknya kau memberitahukan besan mu soal ini. Beliau berhak tahu apa yang terjadi pada putra dan menantunya..” Meski tengah dihantui rasa panik, namun sebisa mungkin om Ferdy berusaha mengontrol diri. Sungguh sedari tadi, ia pun begitu memikirkan kondisi putra dan keponakannya juga kondisi Virendra. Namun ia tak ingin memperkeruh suasana dengan menampakkan kesedihan. Ia ingin mereka semua sama-sama kuat.
“Bagaimana kalau bang Ferdy saja yang beri tahu? Aku tidak ingin terlambat menemui anak-anak..”
“Tidak bisa, Al. Kau besannya, tentu dirimu lebih berhak. Mengabarkan berita seperti ini lewat ponsel juga bukan cara yang tepat!”
Mendengar itu Daddy Al pun terpaksa menyetujui saran dari Om Ferdy.
Ia, Biyan dan beberapa orang lain terlebih dulu mampir di kediaman keluarga Hans, ayah Virendra. Sedangkan pihak kepolisian dan Ferdy lebih dulu berangkat menuju TKP.
“Apa?” Ibu Melinda begitu syok mendengar kabar dari Daddy Al.
Sedangkan Ayah Hans langsung merengkuh sang istri yang hampir saja terjatuh. Sementara hanya Vino lah yang kelihatan begitu tenang mendegar kabar itu. Tentu saja, kakak Virendra itu memanglah sosok yang selalu tenang dalam keadaan apapun.
“Yah, Ayah di rumah saja dengan Ibu. Biar aku dan Tuan Al yang pergi..” Vino mencoba mencegah Ayah yang berniat ikut bersamanya.
“Tidak, Ayah harus ikut. Di sini ada para pelayan yang menemani ibu mu! Iyakan Bu?" dengan isak tangis, ibu Melinda mengangguk, mengiyakan.
Mereka pun segera menyusul rombongan menuju TKP. Namun sebelum itu, Daddy Al terlebih dahulu menyarankan agar Ibu Melinda pergi ke rumahnya untuk menunggu kabar bersama keluarga yang lain.
...___...
Di gedung tua yang gelap, nampak seperti kastil terkutuk, Niko dan Fia juga para pengawalnya tengah berdiri menatap Virendra yang juga belum tersadar sejak tadi.
Kini Aileen tengah berdiri sambil dipegangi oleh dua orang berbadan paling kekar. Sedangkan Shakeel, pria itu hanya terduduk pasrah setelah beberapa waktu yang lalu melakukan pemberontakan ketika melihat Aileen diperlakukan dengan kasar dan dipegang seperti tawanan yang sangat tidak berarti. Sungguh itu menggores hatinya, Ia merasa begitu tak berdaya. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menanti keajaiban agar ada pertolongan yang datang.
“Ck, Virendra sialaan! Kenapa lama sekali tidur?? Apa kau pura-pura mati karena takut menghadapi kenyataan pahit ini?” tanya Niko dengan nada mengejek, setelah itu disusul gelak tawa dari komplotannya.
“Shiit, jangan mengatakan hal seperti itu padanya!" Seru Fia yang merasa tak terima Niko mengolok orang yang dia cintai.
“Seloww!" Ujar Niko dengan angkuhnya sambil mengangkat kedua tangan.
Sementara Aileen yang mendengar itu hanya bisa menitihkan air mata. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Matanya terus menatap nanar pada Vir yang sejak tadi belum juga sadarkan diri.
Namun secarik senyum terbit dari bibirnya ketika melihat tubuh yang begitu dicintainya itu mulai menggeliat, disusul dengan mata yang mengerjap, perlahan mulai terbuka. Oh, syukurlah..
__ADS_1
“Vir?" Bahkan Fia yang tadi duduk dengan angkuhnya langsung tersenyum ketika melihat pria pujaannya mulai sadarkan diri.
“Lepaskan dia!" perintah Niko itu langsung dilaksanakan oleh komplotan biadap itu.
Aileen yang melihat Vir kembali diseret, hanya bisa menangis dan merintih pilu. Rasanya begitu sakit melihat orang yang begitu dicintainya sama sekali tak berdaya seperti ini.
“Ahkkk..” Pekik Vir saat kini Niko menepuk-nepuk wajahnya yang dipenuhi luka memar.
“Tolong jangan lakukan itu!!" teriak Aileen meronta-ronta.
“Diam!" Sentak dua orang yang memeganginya sambil mencengkram lengannya. Sangat menyakitkan.
“Eil, ku mohon diamlah!” Sahut Shakeel disertai dengan wajah sendu tak berujung. Sungguh ketidakberdayaan yang nyata. Hanya bisa berteriak tanpa melakukan perlawanan.
Aileen yang mendengar itu mulai memelankan suaranya, dengan tersedu-sedu ia terus menatap pada suaminya yang juga menatapnya dalam diam.
“Vir sayang.. Kau tahu aku begitu mencintaimu kan? Kau tahu aku tak bisa hidup tanpa mu kan?” Fia melangkah mendekati Vir sambil memegangi rahang pujaan hatinya yang kini sudah berstatus suami orang itu.
Cinta tak sampai membuat Fia benar-benar gila dan hilang akal. Dia rela menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan Virendra kembali. Oh sungguh wanita yang begitu ambisius. Tanpa memikirkan konsekuensinya, ia rela melakukan hal seperti ini, memaksa Vir kembali ke pelukannya seperti saat dulu.
Sungguh hati Fia begitu sakit menerima kenyataan pahit yang menerpa kisah percintaannya. Ia begitu mencintai Virendra lebih dari apapun, namun dengan mudahnya pria itu berpaling dari cintanya. Mencintai wanita pilihan orang tuanya dan mencampakkan dirinya ke dalan lubang derita.
Ia tak bisa menerimanya, Vir adalah pria yang ia cintai. Tentu harus jadi miliknya. Kerasnya hati dan ambisi yang luar biasa membuat ia gelap mata dan melakukan cara licik hanya demi menjadikan Vir miliknya.
Kata-kata Cinta tak bisa dipaksakan sungguh tak berlaku bagi Fia. wanita itu benar-benar gila. Dia sudah gila.
"Kembalilah padaku Vir, aku tahu kau tidak akan rela melihat ******* itu menderita! Tinggalkan dia untukku Vir, maka akan kubiarkan dia hidup!”
Aileen menggeleng mendegar perkataan Fia, sungguh hatinya dibuat sakit dengan perkataan wanita itu. Apakah dia sudah benar-benar gila hingga dengan entengnya berbicara seperti itu tanpa memikirkan perasaan wanita lain.
“Diam kau *******!" Seru Fia nyalang sambil melempar Aileen dengan bola besi yang dipegangnya sedari tadi. Namun untung benda tersebut sama sekali tak mengenai tubuh Aileen. Jika tidak, entah apa yang terjadi.
“Fiaa!!" teriak Vir geram. ia yang sedari tadi diam, tak terima ketika melihat Fia melakukan hal itu.
“Bagus..” Fia bertepuk tangan dengan senyum sinis tersungging “Jadi kau hanya akan berbicara ketika dia terancam? Sejak tadi aku sudah coba berbicara baik-baik padamu namun kau sama sekali tak merespon ku, Vir!" Fia berjalan menghampiri Vir.
“Karena kau gila Fi!! Semua ucapan mu tidak ada yang benar!" Teriak Vir tepat dihadapan Fia. namun hanya itu yang bisa ia lakukan sebab, dua orang itu terus memegang tangannya.
Sementara Niko, dia hanya senyum menyaksikan drama yang terjadi.
“Kau mengatai ku gila?" Fia tak terima dengan ucapan Virendra.
“Kau memang gila, mata hati mu sudah tertutup. Kenapa kau jadi orang jahat seperti ini? kau menyekap kami, memperlakukan Kami seperti tahanan mu!" Teriak Vir geram, dengan amarah yang sama sekali tak bisa tersalurkan.
“Aku melakukan ini karena mu, kau mencintainya dan lebih memilih dia daripada aku. keluarga mu menyukainya, kemudian kau meninggalkanku untuk dia!" teriak Fia tak kalah geramnya.
Vir tak mampu lagi berkata kata, berbicara dengan Fia sama seperti bicara pada batu. Nuraninya telah mati!
“Aku tidak mau berbasa basi lagi, aku hanya ingin satu hal.” Fia melangkah meninggalkan Vir, ia pergi ke meja samping Niko duduk dan meraih sesuatu di sana “Tanda tangani ini dan kembali padaku! masalah selesai.." ucapnya sambil membuka dua buah berkas yang diambilnya itu.
“Serahkan hotel mu pada Niko, tinggalkan semuanya. Maka kita akan memulai hidup baru di luar negeri. Jauh dari orang-orang yang tak menginginkan kita menyatu. Kita bisa hidup bahagia bersama!" wanita itu tersenyum begitu licik.
Vir kembali menggeleng, tentu ia tahu siapa yang Fia maksud. Siapa lagi jika bukan ornag tuanya yang selama ini memang paling menentang hubungan mereka. Namun ia sama sekali tak habis pikir, apakah wanita itu sama sekali tak memahami arti kata 'Cinta tak bisa dipaksakan' Kenapa dia begitu berambisi seperti ini. Tentu itu membuat Vir hanya bisa menyesali pertemuannya dengan Fia, ia tak menyangka jika hubungannya dulu bisa berdampak seperti ini bagi kehidupannya sekarang. Ia begitu menyesal pernah menentang keputusan orang tuanya, hanya demi wanita yang seperti ini.
“Tidak.." Vir menggeleng penuh keyakinanakin “Aku tidak akan meninggalkan istri dan keluarga ku hanya untukmu! Dan satu lagi, Aku tidak akan menyerahkan hotelku pada siapapun. Itu usahaku, usaha yang ku rintis dari nol.." Vir beralih menatap Niko dengan tatapan merendahkan.
“Aku tidak akan menyerahkan satu persen saham pun pada orang yang tidak tahu malu sepertinya! " Vir berdecih, ia meludah sambil menatap geram pada Niko.
__ADS_1
“Bangs*at!” Niko yang tak terima di rendahkan pun mulai berteriak kesetanan.
“Seharunya kau tahu diri, aku tidak melaporkan tindakan mu 7 tahun yang lalu saja kau sudah perlu bersyukur, kau tidak mendekam dipenjara seharusnya kau berterima kasih padaku.."
Sementara Shakeel yang mulai mengerti pun merasa jijik dengan dua perilaku licik dan biadab dua makluk yang berjenis mantan itu, diapun menyahut “Cih, sama sama otak kotor! koruptor dna tukang peras!”
“Diam bangs*at!" pekik Niko yang merasa sangat terhina.
“Vir.." teriak Fia. kelihatannya wanita itu mulai geram. Ia yang merasa kesal langsung berlari menampar Aieleen. Ia merasa Aileen lah yang berhak menerima semua amukannya. Wanita gila itu selalu merasa Aileen lah penyebab perubahan sikap pada Vir.
Plaak ..“Ini semua karena mu!"
“Fiaaa!” teriak vir nyalang.
“Jangan sentuh dia!" Shakeel ikut teriak melihat Aileen ditampar
Namun wanita gila itu sama sekali tak merasa bersalah, sambil terkekeh ia berkata “kenapa? kau tak ingin aku menyentuhnya? Maka dari itu, ayo tanda tabgani surat ini dan ikut bersamaku! jika tidak aku akan habisi dia!" Fia yang merasa kesal pergi mendekati Niko, ia meraih satu senjata api dan dari jarak 3 meter menodongkannya pada Aileen yang tengah dipegang oleh dua pria di samping tempatnya di ikat tadi.
“Fiaa! ku mohon jangan lakukan itu!” Vir menggeleng sambil terus memohon. Sedangkan Shakeel hanya bisa meringis dan mengutuki apa yang Fia lakukan.
“Maka dari itu, kau harus memilih ku, Vir! Kembalilah kepada ku!” dengan wajah angkuhnya Fia masih menodongkan senjata. Yang apa bila melesat, bisa melenyapkan dua nyawa sekaligus.
Sementara Aileen hanya bisa terus-terusan terisak dalam cengkraman dua pria berbadan besar itu.
“Kenapa kau beubah mejadi wanita mengerikan seperti ini? Tolong jangan lukai dia, lukai aku saja! Kau kesal padaku bukan? Makan ayo cepat tembak aku...”
“Vir!" teriak Fia tak suka, sebab Vir rela menukar dirinya hanya demi menyelamatkan Aileen, sungguh ia tak bisa menerima itu semua.
“Aku tidak akan bisa meninggalkannya, aku mencintainya! Apa kau tidak mengerti, Cinta sama sekali tak bisa dipaksakan! Kenapa malah melakukan hal seperti ini?”
“Aku tidak perduli! Aku tidak butuh ceramah darimu! Cepat ambil keputusan, maka dia akan tetap hidup!"
DOORR..... Fia menarik platuknya dan menembakkannya ke sembarang arah.
“Anj*ing!!!!!" Vir berteriak sambil terus memberontak “KAU WANITA GILa! Biadab, aku tidak akan pernah sudi kembali padamu.. Jangan harap! Sikap mu seperti iblis!”
“Arrrrrggght, lepaskan Aku bang*sat!!!!”
“Cih, banyak drama!" Cebik Niko sambil terus mengepulkan asap rokoknya.
Dengan rasa sakit yang begitu dalam mendegar ucapan dari Vir, Fia langsung terkekeh setelahnya “ Ahahahaha, Vir kau masih saja keras kepala?” Fia terkekeh sekaligus menangis secara bersamaan “Kau masih saja memilihnya daripada aku!”
Fia menarik napas dalam “Baiklah, jika itu keputusan mu! Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku!” Fia kembali menarik pelatuknya dan mengarahkannya ke arah Aileen.
Sepertinya hati nuraninya benar-benar sudah tertutup kabut hitam yang menyesatkan. Hmmmnt
“TIDAAKKKKK!!!!!”
“AILEEN......!”
DOOOOR.......
Doooor....
Dalam hitungan detik, suara tembakan sebanyak dua kali menggema di gedung tua itu. Timah panah melesat, keluar dari peraduannya.
...---------...
__ADS_1