
Pagi hari telah tiba, sang Surya kembali menyapa. Cahaya kehangatannya memberi kehidupan bagi semua yang ada di alam semesta.
Cahaya itu bahkan merembet masuk dari jendela kamar yang terbuka, membuat seorang pria yang masih tidur tengkurap di atas kasur merentangkan tangannya, meraba sisi yang ada di sampingnya.
Kosong, dia tak merasakan ada siapa-siapa di sana. Lalu kemana istrinya?
“Eil...” lirihnya sambil terbangun, pandangannya menyapu seisi kamar mencari keberadaan sang istri.
Vir kembali mengingat mimpi buruknya, takut Aileen akan meninggalkannya seperti yang terjadi dalam mimpi itu. Namun aroma masakan yang menyeruak ke dalam rongga hidung, membuat ia menepis jauh ketakutan itu. Ia lalu turun dari ranjang, memakai sendalnya dan segera menunju dapur, yang sudah pasti menjadi asal dari aroma yang menggugah selera itu.
“Hey, sudah bangun?” sapa wanita yang dicarinya ketika melihat ia hendak masuk ke ruang makan.
Dengan wajah bantal belum cuci muka dan belum gosok gigi ia tersenyum lega. Vir berjalan mendekati Aileen yang tengah menata berbagai macam hidangan di sana.
“Maaf, Aku lambat bangun.. Maklum, efek kegiatan semalam. Bumilnya terlalu bergairah..” bisiknya sensual sambil memberi kecupan pada leher sang istri
“Jangan dibilang ih.." ketus Aileen mendegar ucapan Vir, yang menimbulkan semburat merah di wajah dan telinganya, ia malu mengingat betapa liarnya dirinya semalam selalu ingin lagi dan lagi bahkan tak pernah merasa puas. Mungkin bawaan bayi, hmmnt bisa jadi.
“Hahaha kenapa? kamu malu?” ledek Vir sambil berjalan ke arah wastafel kemudian membasuh wajahnya sambil berkumur. “Sama suami sendiri kenapa harus malu..” gumam Vir dengan suara tak jelas akibat berkumur
“Kenapa pakai masker?” tanya Vir heran saat menyadari Aileen menggunakan masker. Pria itu kembali melingkarkan tangannya menyusuri lekuk tubuh sang istri.
“Aku mual kalau cium aroma bumbu.." seloroh Aileen sambil meletakkan gelas di meja.
Ya, walaupun proses masak yang begitu dramatis dengan ia yang selalu mual dan ingin muntah, namun karena merasa kasihan pada suaminya yang rela mengerjakan semua demi dirinya, ia pun memaksakan diri meski harus melawan rasa mualnya yang masih menyerang walau telah mengenakan masker untuk mencegah bau menyengat masuk ke dalam hidungnya.
“Hmmnt, aku bilang juga apa, biar aku yang masak, kau terlalu keras kepala!” Vir mendaratkan sentilan di kening Aileen.
“Ih, sakit..” cebik Aileen tak terima
“Ututuu sorry Mommy, uhhh” Vir menangkup wajah Aileen sambil mengusap lembut kening yang disentilnya tadi.
“Ih, Lebay..” Aileen memukul dada bidang Vir lalu membawa suaminya itu duduk, sedangkan Vir hanya tersenyum geli.
“Makan dulu..”
“Hmmmnt, harusnya aku yang melakukan ini! Bumil harus terima beres..” Vir beranjak dan berbalik membawa istrinya duduk.
Setelahnya Ia pun ikut duduk dan mulai menyendokkan makanan.
Mereka sarapan bersama, satu piring berdua. Dengan Vir yang begitu telaten mengurus istrinya itu. Bahkan Ia pun sudah selesai merapikan semua sisa makanan.
Setelah itu, mereka pun naik ke lantai atas dengan Vir yang terus mengandeng tangan sang istri.
“Moon, Aku boleh pergi dengan Nita dan Risa ya. Mumpung hari minggu..” ujar Aileen ragu-ragu, takut jika Vir tak mengizinkan
“Kemana?” tanya Vir sambil membuka pintu kamar mereka.
“Jalan-jalan ke mall. biasalah, wanita juga butuh cuci mata..”
Vir nampak berpikir, ia berjalan ke atas nakas lalu meraih ponselnya dan mengecek sesuatu di sana.
“Apa aku perlu ikut?”
“Eh, tidak, tidak.. Pria tidak boleh ikut, kami para wanita juga butuh quality time....”Aileen menggeleng tak mengizinkan.
“Hmmnt, baiklah.. tapi kau harus hati-hati.. Aku juga mungkin akan pergi ke hotel sebentar” Vir menarik tengkuk Aileen lalu mengecup keningnya.
“Ada sedikit masalah, jadi aku harus ke sana untuk melihatnya..” dengan suara berat, Vir melangkah menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
“Masalah apa?” Aileen menyusul, ikut berjalan di belakang Vir yang kin sedang membuka pintu kamar mandi
“Dapur kebakaran...”
Belum sempat Vir melanjutkan ucapannya, Aileen sudah menyelanya terlebih dahulu. Wanita hamil itu begitu kaget mendengar ucapan sang suami.
“Apa? kebakaran?? Lalu bagaimana? Apa ada korban? bagaimana nasib mereka semua.. Hmmnt pasti kau rugi besar ya...” ujar Aileen dengan wajah memelas, ia bahkan menatap penuh simpati pada suaminya yang kini mulai memutar keran air dan mengisi bathub dengan santainya.
“Makanya kalau orang belum selesai bicara itu di dengar dulu, jangan dipotong!” Vir mencubit gemas pipi istrinya “Kebakarannya tidak merembet kemana-mana, hanya di dapur saja..” lanjutnya
Aileen terdengar menghela napas lega “Ahh syukurlah.. Namanya juga refleks moon, aku khawatir dengan kalian semua..” lirihnya, ia begitu terkejut sebab mengira kebakaran itu mengakibatkan kerusakan yang cukup parah. Tak bisa dibayangkan jika kebakaran itu menghanguskan Hotelnya, mungkin Vir akan dibuat gila. Mengingat perjuangan dan pengorbanannya sampai pada titik ini bukanlah hal yang mudah.
Vir menyunggingkan senyum melihat reaksi menggemaskan istrinya.
“Tak apa, kebakarannya tak begitu parah.. semua sudah teratasi.." Dengan sayang Vir membelai rambut sang istri.
“Mau mandi bersama?” tanya Vir saat melihat Aileen tak kunjung beranjak dari sana, masih berdiri di sisinya yang sedang menuangksn liquid soap dan aroma terapi pada air mandinya.
Aileen tersenyum kikuk sambil mengangkat kedua alisnya.
“Ahh dengan senang hati..” Vir mengulum senyumnya, sudah pasti sedang memikirkan hal enak-enak yang menyenangkan. Dasar laki-laki.!
Ia yang memang bertelanjang dada saat bangun, kini hanya meloloskan kain yang menutup di bawah sana dan hanya menyisakan dalaman merek Calvin Kleim dari bawah sana.
“Sini biar ku bantu..” ujar Vir sambil membantu meloloskan kaos dari tubuh istrinya, dan Aileen hanya menurut saja
“Aku bisa sendiri..” pekik Aileen saat Vir sudah berjongkok di depannya, hendak membantu meloloskan hotpants-nya. Namun Vir sama sekali tak mengindahkan ucapannya, dia terus melakukan apa yang ia inginkan.
“Sudah selesai tuan putri, silahkan mandi..” Vir tersenyum manis, sambil mengulurkan tangannya, ia mempersilahkan agar Aileen segera masuk ke bathup.
“Terimakasih My prince charming..” Aileen mengoda Vir dengan mengecup bibir suaminya itu.
Aileen menggeliat, ia menoleh hingga membuat Vir dengan mudah mencium pipinya “Memangnya apa yang akan terjadi? kenapa bisa selama itu?” tanyanya pura-pura tak mengerti.
Vir ikut terkekeh dengan jawaban sang istri “Sepertinya akan terjadi proses membajak sawah dan menabur benih..”
Aileen pun ikut terkekeh, Ia mulai masuk ke dalam bathtub dengan Vir yang menuntunnya.
“Benarkah?" Senyum tertahan terkatup di bibir Aileen.
“Tentu..” sahut Vir, ia ikut menyusul masuk ke dalan bathub “Kalau penasaran, sini biar kubuktikan..” Vir menarik Aileen hingga terjatuh ke dalam pangkuannya.
dengan napas memburu keduanya saling pandang, mengukur perasaan melalui tatapan yang menghanyutkan.
.
.
Risa, Nita dan Aileen pun tiba di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu.
Setelah menjemput Aileen ke rumahnya dan bertemu dengan Vir yang memberikan wejangan panjang untuk menjaga istrinya, akhirya mereka pun bernapas lega begitu menginjakkan kaki di pintu otomatis Mall. Dengan suka cita ketiga wanita yang berprofesi sebagai medis itu melangkah menuju eskalator
“Kita mau kemana dulu ini?” tanya Risa saat mereka sudah berada di atas eskalator.
Ketiganya nampak bengong, memikirkan akan kemana. Sebab saat di grup chat tadi, mereka hanya janjian untuk pergi nge-Mall tanpa membuat list kegiatan yang akan dilakukan selama di mall. Ya, demikianlah wanita, makhluk terribet di muka bumi.
“Aku sedang bad mood untuk belanja apa-apa..” sahut Aileen
“Emmnt iya sama, kebutuhan masih lengkap semua..” Nita ikut menimpali
__ADS_1
“Tapi entahlah, siapa tahu nanti berubah pikiran dan malah hilaf..” kini Aileen mulai terkekeh, mengingat betapa besarnya godaan jejeran pajangan di setiap etalase gerai yang seakan menyilaukan mata agar harus dimiliki. Ya, godaan terbesar wanit memanglah berbelanja.
“Hahah iya eh, dasar wanita.. Matanya tak bisa terkontrol jika sudah melihat barang-barang unik” Timpal Nita, dan mereka pun mulai terkekeh bersama.
Mereka pun sampai di lantai 2 Mall, Karena hari Minggu. Suasana jadi lebih ramai, dengan para pengunjung berbagai kalangan, mulai dari remaja, dewasa dan ibu-ibu yang membawa anak mereka jalan-jalan.
“Jadi kita kemana dulu?" tanya Risa lagi
“Bagaimana kalau nonton?” ujar Nita memberi saran.
“Boleh, Katanya hari ini ada jadwal tayang Maleficent 2" Aileen turut menimpali dan menyetujui saran yang Nita beri, bersamaan dengan ponselnya yang berdering
“Itu film Favotritku..” lanjut Aileen dengan ponselnya yang masih saja berdering
“Wah benarkah? kebetulan aku juga suka film itu, apalagi yang main Angelina Jolie” sahut Risa.
“Maka dari itu, berarti kita memang harus nonton..” ujar Nita meyakinkan
Ponsel Aileen masih saja berdering.
“Aku angkat telepon dulu..” ucap Aileen, kemudian segera merogoh tasnya.
Tertera nama sang suami.
“Siapa?" tanya Nita kepo
“Biasa, pak suami..” sahut Aileen sekenanya
Ia lalu menggeser tanda hijau di layar ponselnya kemudian meletakkannya ke telinga.
Aileen : Ya, Halo..
Virendra : Sudah sampai?
pertanyaan Vir itu membuat Aileen memutar mata malas. Sungguh suami yang penuh perhatian, tapi tak seharusnya seperti ini juga.. hmmmn!!
Aileen : Iya, ini sudah ada di mall.. Kamu sendiri dimana? Aileen berbalik bertanya
Virendra : Masih di rumah..
Aileen : Loh bukannya mau ke hotel, kenapa belum pergi?
Virendra : Tidak jadi, kata Dito semuanya sudah beres.. Kalau begitu sudah dulu, aku hanya ingin memastikan apakah kau sudah sampai atau belum.. Have Fun! ujar Vir panjang lebar, sudah seperti bapak-bapak yang memberi anaknya wejangan.
Aileen : Iya makasih, kau juga selamat bersenang-senang di rumah..
Virendra : Love you both .
Belum sempat Aileen menjawabnya namun anggilan itu pun terputus lebih dulu.
“Jadi Nonton?” Aileen beralih menatap Nita dan Risa yang terus menatapnya sedari menelepon tadi.
“Jadi dong..” sahut Risa dan Nita serentak.
Lalu mereka bertiga pun naik eskalator lagi menuju lantai 3 tempat dimana bioskop berada.
Setelah sampai di lantai 3, mereka pun segera menuju loket pembelian. Para pengunjung yang ramai membuat beberapa orang berbaris hanya untuk mengantri tiket. Pengunjung di hari minggu memang lumayan banyak, membuat mereka harus turut mengantri panjang dan mendapat urutan antrian ke 53.
Setelah mendapatkan tiket, masih ada kurang lebih 30 menit sampai waktu film ditayangkan. Akhirya mereka terlebih dulu memutuskan pergi membeli cemilan untuk menemani acara nontonnya nanti.
__ADS_1