Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 146


__ADS_3

“Kalau bisa, saya ingin bertemu langsung dengan saudari Fia dan saudara Niko sekaligus!” Ucap Virendra pada penjaga lapas setelah beberapa waktu yang lalu melakukan beberapa prosedur sebelum diperbolehkan melakukan besuk terhadap narapidana yang ada di lapas tersebut.


Mulai dari pelaporan, penyerahan kartu identitas, melepas seluruh barang bawaan bahkan sampai melakukan penggeledahan hingga beberapa prosedur lainnya.


“Bisanya bertemu salah satu dulu, Pak. Setelah itu baru boleh menemui yang lain!” Ucap petugas yang ada di hadapan mereka


Aileen yang melihat Virendra menampakkan wajah kecewa langsung mengusap punggung Virendra untuk menenangkannya.


“Tapi Pak, saya mohon! Saya benar-benar ingin bicara langsung dengan dua orang itu.”


Bukannya menjawab ucapan Virendra, bapak tersebut segera mengisyaratkan pada dua orang petugas tahanan untuk segera membawa mereka menuju ruang besuk.


“Mari pak, ikut kami!"


“Kita ikuti saja prosedurnya!” Aileen kembali berusaha menenangkan sebelum akhirnya ia mulai mendorong kursi roda Vir mengikuti dua petugas barusan.


Setelah melewati beberapa koridor yang cukup panjang hingga beberapa ruangan, akhirnya mereka tiba di ruangan yang cukup luas yang di jaga seorang sipir pria, kemudian di tengah ruang terdapat sebuah meja panjang dan beberapa kursi.


“Silahkan duduk Pak, Bu!” Ucap salah seorang yang tadi mengantar mereka. Setelah itu dua orang tadi kembali melangkah pergi.


“Mau duduk di kursi ....”


“Di sini saja, Eil!” Belum sempat Aileen menyelesaikan ucapannya, Virendra sudah memotongnya lebih dulu.


Suara denting jam yang ada di ruang besuk menjadi musik alami yang menemani keheningan dalam ruangan itu. Aileen dan Virendra masih sama-sama terdiam sambil menunggu kedatangan salah satu diantara dua orang yang akan mereka temui.


Kecemasan makin menghantui relung hati Aileen ketika suara derap langkah mulai terdengar dan kian mendekat. Ia benar-benar takut Virendra tak mampu menahan emosinya, ia takut sesuatu yang tak diinginkan bisa saja terjadi, mengingat kondisi sang suami belum pulih seutuhnya.


“Vir!” lirih Aileen sambil berusaha meraih tangan Vir yang tengah bertaut tepat di atas meja.


Vir menoleh tanpa mengatakan sepatah katapun, senyum hangat disertai jemari yang tergerak mengusap pipi Aileen seolah mengisyaratkan agar ia tak perlu mencemaskan apapun.


“Harus bisa tahan emosi ya!" Ujar Aileen lagi dengan mata berkaca-kaca.


Belum sempat Vir menjawab ucapannya, keduanya sama-sama dibuat menoleh saat suara seorang sipir muncul di balik pintu.


“Silahkan duduk di hadapan pembesuk!” Salah seorang mulai menuntun seorang pria dengan pakaian biasa, mengenakan kaos berkerah dipadukan celana kain selutut, rambutnya kelihatan agak gondrong. Sedangkan yang satunya seorang tahanan wanita mengenakan baju kaos hitam kebesaran dan celana training panjang. Wajah keduanya tampak tak terurus.


Tak disangka petugas mengizinkan mereka bertemu langsung dengan kedua orang yang sangat ingin Virendra temui. Satu diantaranya tentu adalah Fia.

__ADS_1


“Silahkan, anda punya waktu 30 menit dari sekarang!" Ucap petugas sambil melirik jam di tangannya kemudian berlalu keluar dan duduk bersama petugas yang tadi ada di depan ruangan tersebut.


Berbeda dengan Vir yang terus melemparkan tatapan tajam pada Niko dan Fia yang terus saja menunduk, sejak kedatangan dua orang tersebut Aileen sama sekali enggan menatap penyebab hidupnya dipenuhi luka beberapa waktu yang lalu. Isi kepala Aileen tiba-tiba seperti dipenuhi suara tembakan dan jeritan dimana ia menangisi Vir saat terkena luka tembak akibat dua makhluk tak berhati di depan mereka. Rasanya begitu menyakitkan.


Virendra terlihat begitu tegar menghadapi dua orang tersebut, sorot matanya benar-benar terlihat seperti seekor singa yang siap menerkam dalam diam. Namun, saat sorot matanya beralih menatap raut wajah sang istri, tatapannya langsung melembut. Jemarinya tergerak untuk meraih tangan Aileen, menautkannya begitu erat di atas pahanya.


“Bahkan di saat seperti ini pun kalian sama sekali tak berniat meminta maaf atas apa yang telah kalian perbuat padaku?” Vir mulai membuka obrolan.


Bukannya mendongak, Fia dan Niko justru makin menundukkan kepala. Seolah di lehernya terdapat kalung yang terbuat dari batu, sehingga untuk menampakkan wajah saja mereka tak mampu.


Virendra menampakkan seringai di ujung bibirnya, rasanya begitu sesak. Namun ia pun harus bisa mengontrol diri. Memangnya apa yang bisa ia lakukan dalam kondisi seperti ini?


“Apa kalian puas telah membuatku jadi cacat seperti ini?”


“Apa kalian puasa hampir membuat anak dan istriku hidup tanpa sosok suami dan ayah?”


“Apa kalian puas sudah merenggut nyawa Ayahku karena peristiwa itu?” Tanya Vir sekali lagi dengan tatapan nanar.


Sedangkan Aileen, ia terlihat berkali-kali menahan ludah mendengar pertanyaan yang Vir lontarkan. Rasanya begitu menyesakkan, tapi ia merasa sangat tak pantas menjatuhkan air mata di hadapan dua bedebah itu. Yang bisa Aileen lakukan hanyalah saling menguatkan dengan jemari yang masih bertaut kuat di bawah meja.


Vir menghela napas kasar, ia masih tak habis pikir melihat dua orang itu sama sekali tak bergeming. Bahkan hati keduanya sama sekali tak terketuk setelah mendengar ungkapan pesakitan yang Virendra alami dan rasakan.


“Vir!!"


Tepat setelah Vir mengucapkan kalimat itu, seonggok tubuh dengan gerakan kilat tiba-tiba sudah bersimpuh di kakinya. Hal itu tentu membuat ia dan Aileen langsung menoleh pada apa yang baru saja Niko lakukan.


“Aku minta maaf!! Aku banyak salah dan terlalu jahat padamu! Aku benar-benar menyesal, Vir!" Ya, ternyata Niko justru melakukan hal tak disangka ini. Sambil bersimpuh dan menitihkan air mata, pria itu mengakui kesalahannya sambil meminta maaf pada Virendra.


“Aku sama sekali tak berhak menyanggah semua yang kau katakan, Vir! Aku memang sejahat itu padamu dan keluargamu. Aku tahu permohonan maaf dan penyesalan ku saat ini mungkin tak bisa merubah apapun, tapi aku barsungguh-sungguh ingin memohon ampun dan mengharapkan maaf dari mu!" Ujar Niko yang masih berusaha memeluk kaki Vir.


Vir terlihat beberapa kali berusaha menyingkirkan Niko dari kakinya. Sepertinya orang yang pernah jadi sahabatnya itu benar-benar menyesali perbuatannya, terlihat jelas dari sorot mata Niko setiap kali ia mendongak memohon maaf pada Virendra. Namun, berbeda jauh dengan sosok wanita yang sama sekali tak menampakkan ittikad baik seperti yang Niko lakukan. Fia yang tadinya hanya menunduk kini justru malah melemparkan tatapan merendah terhadap apa yang Niko lakukan. Sepertinya wanita itu benar-benar hilang empati, ia bahkan sama sekali tak menghaturkan maaf atau kata apapun pada orang yang pernah ia sakiti.


“Niko!" Sentak Fia yang bahkan mulai ikut bersuara.


Suara Fia membuat Niko berangsur mengangkat tubuhnya, sambil mengusap air mata, Niko perlahan menoleh pada Fia. Begitu pun dengan Aileen dan Virendra.


“Kita memang salah! Tapi kau tidak perlu merendahkan diri seperti itu!" Ujarnya dengan suara hampir berbisik tapi tetap bisa terdengar.


“Fi!" Sentak Niko tak suka. Ia tak habis pikir, mengapa kehidupan kelam di penjara tak membuat wanita itu berubah atau bahkan menyesali perbuatannya. Bukan hal tak mungkin jika Fia pun pernah mendapat perlakuan tak mengenakkan dari Petugas atau bahkan narapidana yang lain, sama seperti yang ia alami dan bahkan hal itu lah yang membuat Niko menyadari semua perlakuan buruknya terhadap orang lain. Tapi kenapa dia berbeda? Pikir Niko sambil menggeleng kecil melihat tingkah Fia.

__ADS_1


“Merendah seperti apa maksudnya?" Vir yang tertarik mendengar omongan Fia langsung melepas genggamannya dari tangan Aileen kemudian melipat kedua tangan di atas meja.


“By!” Lirih Aileen dengan begitu lembut sembari memeluk lengan suaminya disertai dengan usapan kecil.


Virendra menoleh sambil mengangguk, ia mengisyaratka pada Aileen bahwa ia tak akan tersulut emosi. Kemudian Vir pun kembali melanjutkan ucapannya.


“Apakah meminta maaf pada orang yang pernah kau sakiti merupakan perbuatan hina?” Sarkasnya dengan agak mencondongkan kepala.


“Vir!" Berbeda dengan Fia, Niko justru semakin malu mendengar ucapan Virendra. ia kembali menitihkan air mata sambil menunduk.


“Aku memang salah, Vir!”


Suasana sempat hening sejenak mendengar penuturan Fia ya g terlihat begitu serius, bahkan wanita yang sedari tadi enggan melemparkan tatapan pada Aileen itu kini mulai berani menatapnya.


“Aku memang salah atas semua yang menimpa mu ... ” Ia menjeda ucapannya, “Tapi hal itu sepenuhnya bukan salahku, tapi hal itu juga salahmu!”


“Fia, kau jangan gila!" Sentak Niko.


Sementara Vir, ia benar-benar menepati janjinya untuk berusaha tetap tenang. Berbeda dengan Virendra yang dulu, dimana dulu ia begitu cepat tersulut emosi. Sepertinya masalah benar-benar mengajarkan banyak hal dan membawa perubahan besar padanya.


“Kalau saja Virendra tak pernah menikahi wanita ini, kalau saja dia tak meninggalkanku dan malam itu kau mau kembali padaku, tentu semua tak akan begini Vir!" Ujar Fia yang mulai menitihkan air mata, “Bahkan aku pun tak akan pernah berada di tempat mengenaskan ini!"


“Fia!" Aileen yang sedari tadi bungkam benar-benar merasa tersulut mendengar ucapan wanita itu.


“Fi! Tolonglah, tolong mengerti situasi dan sadari kesalahan kita!" Ujar Niko berusaha mengingatkan.


Berbeda dengan Reakai Aileen dan Niko, Vir justru hanya menggeleng sebagai bentuk tanggapan terhadap ucapan Fia. “Aku, datang kemari bukan untuk mendengar ucapan seperti ini, Fiani Litisya!" Ucap Vir penuh penekanan dengan telunjuk menunjuk-nunjuk permukaan meja.


“Niatku baik, hanya ingin mendengar permohonan tulus dari kalian atas apa yang pernah kalian lakukan! Tapi kau ... Aku bahkan sama sekali tak melihat raut penyesalan di wajahmu!"


“Tidak seperti itu!” Pungkas Fia


“Kau hanya menegaskan seolah dirimulah yang paling terluka tanpa memikirkan sebesar apa luka yang kau lemparkan pada orang lain, semenderita apa orang lain karena ulahmu!" Ucap Vir penuh penekanan.


“Aku sebenarnya menyesal, aku menyesal telah membuatmu seperti ini!" Sergah Fia lagi.


“Jangan terlalu merasa diri yang paling terluka, karena kau bahkan belati bagi orang lain!”


“Vir!!" Lirih Fia.

__ADS_1


“Waktu habis!!!” Kemunculan sipir menjadi akhir perbincangan diantara mereka. Bahkan masih banyak yang ingin Virendra katakan pada makhluk tak tau diri yang ada di hadapannya itu, terutama Fia. Tapi keterbatasan waktu harus menjadi sebuah penutup.


__ADS_2