Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 138


__ADS_3

Semua begitu cemas dengan kondisi Vir, bahkan satu persatu keluarga yang lain mulai berdatangan setelah mendapat kabar jika kondisi Vir sudah ada kemajuan.


Dari semua yang ada tak lepas merapalkan do'a, berharap yang terbaik sambil menunggu dokter keluar membawa kabar.


“Aku yakin dia akan sadar.” Lirih Aileen dengan air mata yang terus menetes. Wanita hamil itu tengah berada di dalam rengkuhan Daddy Al.


“Dia begitu senang mendengar cerita tentang anaknya, dia merespon ucapanku setiap kali aku mengatakan anak kami tumbuh dengan baik.” Semua hanya mengangguk penuh harap mendegar ucapan Aileen yang menceritakan semua kejadian saat di dalam tadi.


Sementara itu di dalam ruang ICU, dokter dan beberapa perawat tengah melakukan tindakan pemeriksaan.


“Alhamdulillah.” Ucap dokter Wiguna saat melihat mata Vir perlahan mulai terbuka, bibirnya mulai terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu.


“Apa Pak Vir bisa mendengar saya?” Wajah lega Dokter Wiguna kian tersenyum lebar saat melihat pasiennya mengedipkan mata sebagai bentuk respon pada ucapannya. Dokter dan para perawat tak henti-hentinya mengucap syukur melihat perkembangan ini.


“Perlahan Pak, jangan di paksa. Gerakkan secara perlahan." ucapnya saat melihat Vir kesulitan menggerakkan bibirnya untuk bicara. Ini kondisi yang wajar pada pasien setelah mengalami koma selama ini. Tentu fungsi anggota tubuh akan banyak mengalami penurunan.


“Iya, perlahan, jangan dipaksa ya. Pelan tapi pasti.." Dokter Wiguna tersenyum, berusaha memberi semangat ketika bulir bening terlihat menetes dari matanya.


“Ssaay-ya...”


“Tidak apa, perlahan ya, kita coba sekali lagi." Ucap dokter Wiguna lagi saat Vir mulai terengah, tidak mampu meneruskan ucapan.


“Ga-gaI-, Sa---ya ti--dak bisa..” air mata itu kembali menetes. Vir benar-benar merasa tidak berdaya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, dia juga tidak tahu kenapa dirinya selemah ini. Tubuhnya terasa kaku dan kebas, ia merasakan ruangan itu seakan teputar, sulit baginya untuk menggerakkan tubuhnya, semua seperti terkunci. Bahkan mulutnya pun terasa berat untuk digerakkan.


“I-isttri...Aaan-ak.. S-yaa ttida-k bi-sa me---lind-dungi me-reka..” Air mata Vir kian menetes deras saat merasa sesak menyerang dibagian dadanya, bahkan rasa berat semakin menghampiri kepala di bagian belakang.


Ia tak mampu lagi berkata dan membuka mata, sambil terpejam, Vir berusaha menahan sakit. Bahkan tangannya tak mampu diarahkan untuk memegang dan menunjuk bagian mana yang sakit. Kondisi ini membuatnya begitu tidak berdaya.


Dokter yang melihat itu segera melakukan penindakan dan menyuntikkan obat pereda nyeri.


“Ambil sampel darah pasien untuk persiapan tes lab. Segera lakukan persiapan untuk CT scan."


Begitu mendengar perintah dari dokter Wiguna, salah seorang perawat yang tadi menemani Aileen, bergegas keluar dari sana.


Para keluarga yang melihat kemunculannya dari ruang ICU langsung diberondong berbagai tanya.


“Bagaimana keadaan, anak saya?”


“Bagaimana keadaan menantu kami?"


“Bagaimana keadaan suami saya, sus”


“Bagaimana keadaan adik saya?"


Tanya mereka serentak.


Perawat itu kemudian tersenyum setelah meuntup pintu.


“Alhamdulillah pasien sudah sadar dari koma, dan sedikit demi sedikit menunjukkan perkembangan."


Semua tersenyum haru mendegar kabar itu, bahkan kalimat puji syukur berhenti menggema. Penantian panjang dan hasil doa mereka akhirnya terkabulkan.


“Untuk info lebih lanjut bisa tunggu setelah kami melakukan observasi dan Ct scan.”


“Saya pamit dulu, bapak, ibu. Mari." Ucap perawat itu ramah.


Aileen yang mendengar itu langsung menangis haru sampai sesegukan, berpelukan dengan ibu yang juga tak kalah bahagianya mendengar berita ini.


Perawat tadi sudah kembali dengan beberapa perawat lain dan masuk ke dalam ICU. Tidak lama setelahnya, mereka kembali keluar sambil mendorong branker yang diatasnya terlihat jelas Vir tengah membuka mata tapi sama sekali tak menoleh. Pandangan pria itu terlihat begitu kosong dengan peralatan medis yang melekat pada tubuhnya tak sebanyak saat ia masih dalam keadaan koma.

__ADS_1


Semua yang melihat itu kian tersenyum haru, orang yang ditunggu selama enam bulan ini akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.


Aileen tak diperbolehkan mengantar Vir ke ruang khusus Ct scan, hanya Daddy Al, Vino dan Dito lah yang pergi menemani.


Sementara Biyan dan Shakeel ikut dengan Mama Syella membeli makan.


Ibu dan Mommy duduk di kursi yang sama. Sedangkan Aileen sedang bersama Nita dan Risa. Ya, kedua wanita itu datang menghampiri setelah mendapat kabar soal kondisi Vir dari perawat yang bertugas menjaga Vir tadi.


“Kau harus semangat Eil, suamimu sudah sadar, dia pasti bangga melihat kalian sehat seperti ini." Risa merangkul Aileen sambil memberi usapan pada punggung wanita hamil itu.


“Iya kak, Dia pasti sangat merindukan kalian. Ini berkat doa istri yang soleh seperti mu." Timpal Nita.


Support dari kedua sahabatnya itu membuat Aileen tersenyum haru. Ia tak menyangka hari ini akan benar-benar tiba, penantian dan do'a-do'anya di jawab oleh Tuhan. Dia tak perlu lagi mengkhawatirkan apa yang selama ini mengganggu pikirannya. Dimana perasaan takut melakukan persalinan tanpa Vir di sampingnya. Sungguh dia tidak akan mampu melewati itu semua saat pikirannya harus terbagi dengan keadaan suaminya itu. Tapi kini keadaannya sudah lebih baik, itu membuat Aileen lebih tenang dan bersyukur. Meski ia tahu betul apa saja resiko yang bisa terjadi pasca koma, tapi ini lebih baik daripada melihat orang yang ia cintai tidur tak berdaya seperti beberapa bulan ini.


...🍂🍂🍂...


Begitu selesai melakukan ct scan dan tes lab. Vir sudah dipindahkan ke ruang perawatan sambil menunggu hasil ct scan dari ahli radiologi. Sementara Daddy dan Vino lebih dulu berada di ruangan Dokter wiguna untuk mendengar penjelasan lebih lanjut. Berhubung baru hasil lab yang keluar, dokter Wiguna memilih menjelaskan kondisi Vir saat pertama kali sadar sambil menunggu.


“Pasien terus menyebutkan soal dirinya yang gagal melindungi anak dan istrinya.”


“Kondisi ini bisa dikatakan sebagai amnesia anterograde. Pasien tidak bisa membentuk ingatan baru, hanya mengingat kejadian sebelum mengalami cedera.”


“Apa itu artinya dia mengira dirinya tidak bisa menyelamatkan istrinya?" Tanya Daddy Al, penasaran.


Dokter Wiguna mengangguk, “Bisa jadi, karena tadi pasien hanya mengatakan hal itu sambil menitihkan air mata.”


Dokter Wiguna terus menjelaskan tentang Amnesia anterograde yang dialami Vir. Dimana, amnesia ini disebabkan oleh trauma otak, seperti pukulan ke kepala. Sehingga penderita tidak dapat mengingat informasi baru, meskipun dapat mengingat informasi dan peristiwa yang terjadi sebelum cedera. Persis seperti penjelasan dokter Wiguna, dimana Vir hanya mengingat saat dirinya tidak bisa melindungi Aileen dan calon bayi mereka dengan baik. Padahal jelas dengan pengorbanannya, Aileen dan calon bayi mereka bisa selamat dari tembakan yang justru mengenai tubuhnya.


Setelah menunggu hampir setengah jam, akhirya hasil ct scan pun keluar. Dokter Wiguna mulai menjelaskan bagian-bagian tubuh Vir yang mengalami penurunan fungsi organ pasca koma. Dimana pada hasil tersebut menyatakan jika Virendra mengalami gangguan pada otot dan saraf yang terhubung kebagian otak yang sempat mengalami benturan sehingga mengakibatkan cedera parah. Bahkan di bagian anggota tubuh yang lain, terutama pada kaki terdapat gumpalan darah. Menurut dokter ini merupakan salah satu komplikasi yang terjadi akibat koma.


“Ini maksudnnya apa, dok?" Tanya Daddy to the point saat ia sama sekali belum mengerti.


“Mohon maaf sebelumnya, jika penjelasan saya kurang jelas. Kalau begitu biarkan saya mengulangi." Dengan wajah ramah, dokter Wiguna kembali menjelaskan.


“Sedangkan ini, terdapat gumpalan darah. Terjadi karena terlalu lama tidak bergerak hingga mengalami pembekuan." Jelasnya lagi sambil menunjuk bagian betis hingga pergelangan kaki kiri Vir.


“Ini adalah jaringan penghubung antara otot, saraf, dan tulang. Ketika salah satu jaringan tersebut mengalami gangguan, maka ..." Daddy dan Vino terlihat tegang menunggu kelanjutan ucapan dokter Wiguna.


“Mohon maaf sebelumnya, dengan berat saya harus mengatakan, akibat dari hal ini bisa menyebabkan ... kelumpuhan."


Ucapan dokter Wiguna mampu membuat raut wajah Daddy dan Vino berubah saat itu juga.


“Kita berdoa saja, semoga hal ini hanya bersifat sementara ... Bukan permanen."


Daddy dan Vino mengangguk sembari memijat pangkal hidungnya. Rasanya begitu menyakitkan mendegar fakta ini. Tapi setidaknya ini lebih baik daripada harus melihat Virendra terbaring tak sadarkan diri seperti enam bulan belakangan ini.


“Kita perlu melakukan kontrol pada dokter bedah saraf untuk melakukan fisioterapi, atau mungkin terapi okupasi yang diharapkan bisa membantu untuk pemulihan fungsi organ yang menurun.”


“Lakukan yang terbaik, dok. Saya ingin menantu saya lekas pulih.”


Dokter Wiguna mengangguk penuh keyakinan “Kita do'akan yang terbaik untuk pasien.”


...🍂🍂🍂...


Sementara itu, Aileen. Ia begitu antusias saat melihat Virendra dipindahkan ke ruang rawat. Senyum tak henti-hentinya terpancar dari wajahnya yang sayu, natural tanpa make-up.


Ia begitu tidak sabar ingin menemui suaminya. Tapi sayang, perawat menyarankan untu tidak menjenguk lebih dulu, agar pasien bisa beristirahat dengan tenang.


Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya dia sudah diperbolehkan masuk, bergantian dengan anggota keluarga yang lain. Aileen lebih memilih menemui Vir diantrian paling akhir setelah semua keluarga selesai, agar ia lebih leluasa mengatakan banyak hal pada Vir, bertiga dengan calon bayi mereka.

__ADS_1


“Temui kebahagiaan mu, kak." Ucap Biyan disela senyumnya.


Aileen mengangguk, dengan penuh semangat ia melangkah masuk. Senyuman itu kian mengembang saat melihat suaminya tengah menatap ke arahnya. Meski Vir tidak menunjukkan reaksi apapun, tapi ditatap seperti itu saja dia sudah begitu senang. Orang yang selama enam bulan ia tangisi dan rindukan itu telah kembali membuka matanya. Dia tidak akan sendirian lagi, akan ada orang yang membelai dan mengusap perutnya seperti saat dulu. Bayi mereka juga pasti akan bahagia bisa mendengar suara Daddynya.


“Hy." Meski Vir tak membalas sapaannya, namun Aileen tetap menampakkan senyuman dan duduk sisana. Dengan Vir yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Aku senang kau sadar. Aku begitu merindukan mu." Air mata Aileen mulai menetes tak tertahankan.


“Kenapa menangisiku? Kau siapa? Apa kau juga keluargaku?" Tanya Vir dengan terbata-bata.


Hal itu membuat Aileen tersenyum di sela tangisnya, tanpa diberitahu ia jelas mengerti kondisi apa yang dialami suaminya saat ini. Amnesia! Ya, jelas Vir pasti mengalami amnesia anterograde yang membuat ia tak mengingat tentang dirinya.


Hal itu tak membuat Aileen menyerah, dia juga dokter, tentu tidak sulit baginya mengetahui dan danghadapi kondisi ini.


“Karena kamu suami ku!” Lirih Aileen dada bergetar.


Namun sekali lagi, Vir malah memberi respon sebagaimana orang amnesia pada umumnya.


“Jangan mendaga-ngada.” Ucap Vir dengan napas berat, kemudian membelakangi Aileen secara perlahan.


Aileen tidak marah, mendengar suaranya dan melihat Vir bisa melakukan pergerakan seperti ini saja merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Dia tidak menyerah, Aileen segera mengitari ranjang dan berdiri di hadapan Vir yang masih memasang wajah datar.


“Tapi aku memang istrimu." Ucap Aileen lagi.


“Tidak mungkin, istriku sudah tidak ada. Aku gagal melindunginya, dia pergi dengan anak kami karena aku bodoh."


Air mata Aileen semakin menetes mendegar ucapan Vir. Rasanya begitu haru mendengar pengakuannya yang mengira jika dia tak bisa menjaga mereka dengan baik. Sikap Vir yang seperti ini membuat Aileen teringat akan sikapnya saat awal pernikahan mereka dulu, Vir yang datar dan sering ketus ketika berbicara padanya.


“Tapi aku punya bukti." Ucap Aileen dengan isak tangis yang makin menjadi.


“Lihat," Secepat mungkin Aileen mendahului Vir yang ingin bicara. Aileen menunjuk satu cincin di tangannya. Ya, dia masih menggunakan cincin yang Vir berikan saat dari Korea waktu itu.


“Di sini ada nama kita. Namaku Aileen dan namamu Virendra, kan?”


Vir mengangguk, mengiyakan.


Dia hanya diam saat Aileen memperlihatkan ukiran di dalam cincin itu.


“Dan aku juga punya ini.” Aileen mengeluarkan dua cincin pernikahannya dari dalam tas, tangannya meraih cincin yang sama dari tangan Vir. “Lihatlah, di situ ada inisial kita.”


Begitu melihatnya, Vir kembali menatap wajah Aileen dengan tatapan yang berbeda.


“Aku juga punya foto pernikahan kita.” Aileen memperlihatkan beberapa foto pernikahannya hingga beberapa foto mereka dalam beberapa moment.


“Tapi bagaimana bisa?” Lirih Vir dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Hal itu mampu membuat Aileen semakin terisak.


“Bukankah kalian tidak ada karena aku tidak bisa menyelamatkan ..."


Aileen menggeleng sambil menutup mulut Vir menggunakan telunjuk.


“Tapi aku memang istrimu, Aku selamat dari kejadian itu. Aku dan anak kita bisa selamat karena pengorbananmu, kau melakukannya hingga kondisi mu seperti ini.” Lirih Aileen dengan air mata yang kian berderai. Ia mulai mendaratkan pelukannya pada Vir. Dan betapa bahagianya ia saat Vir membalas pelukan itu.


“Benarkah?" Lirih Vir dengan suara tercekat menahan isak tangis sambil mendaratkan ciumannya di ceruk leher Aileen yang setengah menunduk untuk memeluknya.


...........


Hy, hy, maafkan diri ini yang jarang up karena suatu hal😅✌️. Aku usahain buat rajin lagi ya🙌🙌


Btw, sambil nunggu Aileen Virendra up, yuk mampir ke sini juga.

__ADS_1



Insyaallah ceritanya nggak mengecewakan, kalau nggak percaya. Yuk diintip!!🤭


__ADS_2