
“Sungguh tidak marah?” Vir berjongkok di hadapan istrinya, menatap lekat wajah Aileen, dan wanita itu hanya mengangguk dengan senyum menyejukkan “Kau melihat semuanya?”
Lagi-lagi Aileen hanya mengangguk seraya mengelus pipi Vir yang kelihatan cemas.
Ya, aileen memang melihat semuanya dari awal, hanya saja ia ingin melihat bagaimana cara Vir menghadapi Fia. Dan Ia sangat tak menyangka saat Vir bersikap tegas pada Fia dan membela dirinya.
Awalnya Aileen nyaris kecewa sebab mengira Vir masih memiliki hubungan terselubung dengan Fia, namun saat Vir menggebrak meja dengan suara meninggi ia malah tersenyum. Itu artinya suaminya tidak sedang berkamuflase saat di depannya, tetapi dia memang sudah tidak memperdulikan Fia lagi. Hal itu membuat Aileen semakin tertarik untuk melihat drama yang terjadi diantara keduanya. dan benar saja, terlihat beberapa kali Vir menyuruhnya pergi namun Fia sama sekali enggan beranjak. Hingga membuat Aileen hilang kesabaran dan menghampiri mereka.
Vir yang mendengar penjelasan Aileen dibuat geram sebab istrinya itu telah mengerjainya “Kau tahu semuanya, tapi kenapa malah berpura-pura marah padaku! cih, dasar drama queen" cebik Vir sambil melayangkan sentilannya, Ia masih setia berjongkok sambil menatap lekat wajah cantik Istrinya.
Berjongkok di tempat umum hanya karena ingin meyakinkan wanitanya merupakan suatu hal yang langka dilakukan oleh seorang Virendra. Dan ia melakukan itu hanya untuk Aileen seorang.
“Moon, aku ragu apakah ku benar-benar menyayangi ku atau tidak, huh.. kenapa selalu menyentilku?” protes Aileen sambil mengusap keningnya.
Bukannya minta maaf, Vir hanya terkekeh sembari menarik lengan Aileen ke arah Kasir lalu ke luar dari Cafe.
“Moon, aku belum selesai makan!” protes Aileen saat Vir malah membawanya ke parkiran
“Selera makanku sudah hilang, aku hanya ingin memakanmu!”
Aileen menghela napasnya, ia merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja jika sudah mendengar ucapan horor itu.
Aileen mundur satu langkah, pikiran tentang bercinta di mobil kembali menghampiri. Ia takut Vir akan nekat mengajaknya bercinta di area parkir ini. Dia tidak segila itu walaupun tak bisa dipungkiri percintaan mereka kemarin memang terasa berbeda.
Aileen menggeleng, mengutuki pikiran kotornya yang menikmati sensasi percintaan kemarin.
“Kita pulang ya Sun, aku merindukan mu” Vir mencuri satu kecupan dari bibir sensual istrinya yang masih terpaku.
Vir mebukakan pintu untuk Aileen.
“Tapi ini belum jam pulang sayang, nanti aku bisa dipecat.."
“Itu jauh lebih baik!" ucapan Vir membuat Aileen menepuk bahu pria itu. Bagaimana mungkin ada seorang suami yang begitu senang jika istrinya dipecat.
“Kenapa bicara seperti itu? Hiiss... Apa kau senang jika aku dipecat secara tidak hormat?” Aileen yang hendak masuk kembali menghadap Vir yang masih setia berdiri di depan pintu mobil
“Dengarkan Aku My Sunshine! Jika kau dipecat maka itu merupakan sebuah anugerah! Karena apa? Karena kau bisa terhindar dari dua makhluk yang selalu mengganggumu itu!”
“Makhluk apa lagi?” Aileen sama sekali tidak mengerti dengan ucapan suami anehnya
“Lihat gedung itu! Kau tahu di sana ada orang sok baik dan di gedung itu ada makhluk tidak tahu diri yang selalu mengganggumu!” tunjuk Vir pada kantor Zaky dan gedung rumah sakit secara bergantian.
Aileen yang mulai mengerti malah tersenyum, sikap suaminya saat cemburu sangatlah menggemaskan.
“Aku tidak rela kau berdekatan dengan bedebah sialan itu! Lebih baik kau dipecat atau kita buat rumah sakit yang dekat dengan Hotel dan kantor jadi kau bisa selalu ada di dekat ku dan aku bisa menghampirimu setiap waktu..” Vir tersenyum dengan saran yang ia berikan
Tuk..
Aileen menyentil kening Vir
“ck, kau!!”
“Kalau mau berbicara tolong dipikirkan dulu Tuan muda! Aku tahu itu hanya akal-akalanmu, mencari kesempatan dalam kesempitan!”
“Kenapa tidak? Apa kau perlu bukti? Aku bisa membangunkan rumah sakit untukmu!”
“Ah sudahlah, bualanmu semakin lancar sayang! Aku tahu kau bisa segalanya tapi dari pada membahas ini lebih baik kita pulang saja” Kini Aileen yang mendorong tubuh Vir hingga masuk ke dalam mobil. Ia merebut kuci mobil dan melangkah ke arah kursi kemudi.
Berlama-lama meladeni ucapan suaminya yang tidak ada habisnya membuatnya hilang akal dengan segala bualan yang Vir ucapkan.
“Ck, Apa yang kau lakukan? Aku sama sekali tak pernah di supiri oleh wanita” ucap Vir saat melihat Aileen duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
Namun Aileen hanya tersenyum tanpa menghiraukan ucapan suaminya.
“Sun, jangan balap-balap! bahaya!”
__ADS_1
“Aileen, Aku bilang berhenti, ya berhenti! apa kau ingin membuat ku mati muda? Hey nona Utama, kenapa kau keras kepala sekali, hah? Eil...hentikan Eil.. Biar aku yang mengemudi.!” teriak Vir yang kelihatan ketakutan saat Aileen melaju begitu kencang. Ia sering melajukan mobil lebih cepat dari ini, namun entah mengapa ia merasa takut saat Aileen yang melakukannya.
Aileen sendiri terus mengemudi tanpa menghiraukan suaminya yang kelihatan tegang, Ia sangat puas melihat ekspresi ketakutan dari Tuan penyentil dan pemarah itu.
...➖➖➖➖➖...
Setibanya di rumah, Vir kembali disibukkan dengan beberapa pekerjaan yang belum selesai. Ia yang enggan kembali ke kantor pun mengerjakannya semuanya dari rumah.
Pria itu terlihat begitu serius di ruang kerjanya.
Urusan dengan Angkasa Corp telah selesai. Ia terlihat menerima telepon dari Dito.
“Ada apa?” ucap Vir saat menyambungkan earphone-nya. Fokusnya masih tertuju pada layar monitor.
“Kau dimana? Hari ini ada laporan pembukuan..” ucap Dito dari sebrang sana
“Aku di rumah..! Lakukan saja, kau kan bisa menanganinya”
“Ck, Vir! sejak kapan kau jadi pemalas, jam begini sudah pulang...”
“Aku lelah, Dit” ucap Vir alakadarnya
Di balik telepon, Dito mencebik tak percaya. Ia tahu itu hanya akal-akalan Virendra. Semenjak serius dengan Aileen ia berubah jadi pria aneh yang akan gila jika sedetik saja tak melihat wajah wanita yang pernah ia benci itu.
“laporannya secara Viirtual saja! Kau harus terlibat”
“Baiklah, aku ganti baju dulu” Panggilan pun terputus. Vir bergegas menuju kamarnya untuk mengambil kemeja dan dasi. karena tidak mungkin ia melakukan meeting menggunakan kaos biasa.
Selepas kembali dari kamar, terlebih dahulu Vir menghampiri Aileen yang tengah sibuk di dapur. Ia benar-benar tak bisa jika saedetik saja tak menyentuh wanitanya itu.
Aileen yang tengah sibuk, menoleh saat merasakan tangan melingkar di perutnya, Ia menempelkan pipinya pada wajah Vir yang berada di ceruk lehernya.
“Mau makan apa?” tanya Aileen lembut
“Apapun itu, aku menyukai semua buatan tanganmu” bergelanyut manja sambil terus mengecup pipi Aileen.
“Mau teh, kopi, susu atau jus?”
“Apapun itu”
Aileen mengangguk mengerti, ia tahu apa yang harus dibuatnya “Baiklah, nanti aku antarkan”
“Aku ke ruangan dulu” Vir membalik tubuh Aileen kemudian meluma* bibirnya perlahan.
“Love You, Sun!” Vir mengecup kening Aileen kemudian kembali ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian, Aileen berjalan menuju ruangan Vir seraya membawa nampan berisi pancake cokelat dengan Jus buah naga sebagai minumannya.
Aileen menmutar hendel pintu dan mendorongnya menggunakan bahu, Ia tersenyum saat melihat suaminya tersenyum ke arahnya.
“Oke, hari ini cukup sampai di sini dulu! Besok saya akan langsung memeriksa laporan pembukuannya” ucap Vir mengkahiri rapat virtualnya.
Aileen meletakkan nampan itu di meja. Vir langsung menarik Aileen hingga terjatuh di atas pangkuannya.
“Aku lelah, Sun” Vir memeluk erat tubuh Aileen sambil menenggelamkan wajahnya di dada sang istri yang merupakan tempat ternyaman baginya.
“Minum dulu, Moon. Setelah itu makan kuenya, biar aku suap” Aileen menyodorkan jus buah naga ke bibir suaminya, Vir menyesapnya sambil tersenyum menatap wajah Aileen yang berada begitu dekat dihadapannya
Aileen lalu menyuapkan pancake coklat buatannya.
“Jangan menatap ku seperti itu! Nanti matamu bisa lari” ucap Aileen pada Vir yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya dari wajahnya
Vir mendaratkan sentilannya dengan pelan “Itu kata-kata ku!” katanya dengan senyum sumringah
Aileen ikut tersenyum dan langsung memeluk tubuh suaminya. Vir membalas pelukan itu.
__ADS_1
“Apa tidak lelah memangkuku? Aku berat, Moon” Vir menggeleng, sambil memegang kedua bahu istrinya.
“Walaupun berat, bergoyang di atasku pun tidak masalah! Aku akan menikmatinya!”
“Mesum!!” cebik Aileen yang mengerti maksud ucapan Vir.
“Serius, Sun! Tapi berat mu memang bertambah”
“Heheh iya! belakangan ini berat badnaku memang naik” ucap Aileen malu-malu
“Mungkin kau hamil Sun, Katanya ibu hamil akan mengalami kenaikan berat badan” Vir yang begitu antusias mengarahkan tangannya ke perut datar istrinya yang memang lebih berisi dari sebelumnya.
“Hey, anak Daddy! Apa kau sudah ada di dalam nak? Sedang apa sayang? Jika memang sudah ada, Daddy senang sekali. Baik-baik di sana ya, jangan nakal! kasian mommymu” Vir mencium perut Aileen yang belum pasti ada bayi mereka atau tidak.
Aileen yang melihat itu begitu terharu. Hatinya terenyuh melihat kelembutan dan ketulusan suaminya yang begitu antusiasnya ingin memiliki bayi.
Setetes bulir bening lolos mengenai tangan Vir yang masih mengelus perutnya. Membuat Vir mendongak, dilihatnya istrinya sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Hey, Sun! Kenapa menangis sayang? Apa aku menyakiti mu?” Vir mengusap lembut bulir bening yang terbendung di netra cantik Istrinya.
Aileen menggeleng “Maafkan Aku Moon. Tapi, di sini belum ada bayi kita. Dia belum ada.."
Astaga, kenapa dia begitu menggemaskan! Hanya karena hal sepele ia begitu mudah menangis.. Vir menggeleng kecil
Bahkan dulu kau begitu sulit menitihkan air matamu saat aku ingin melihatnya tapi sekarang saat aku sudah mencintai mu kau malah dengan mudahnya menangisi hal kecil seperti ini..? Aku tidak bisa melihatmu menangis, Sun!
Vir tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya yang minta maaf atas sesuatu yang bukan kesalahannya.
“Hey, kalau belum ada kenapa harus menangis, itu artinya kita harus lebih giat lagi” Vir medekap tubuh Aileen, memberikan kenyamanan pada wanita yang begitu ia cintai.
“Aku sudah tes, tapi hasilnya negatif” Aileen memang sempat mengeceknya, sebab waktu menstruasinya untuk bulan ini memang agak terlambat. Hal itu membuatnya mengecek langsung namun nihil, hasilnya negatif.
Vir mengerutkan keningnya namun berusaha bersikap biasa saja agar tak membuat istrinya bersedih
“Sudah, ya! Jangan menangis lagi!. Lain kali kalau mau cek, kita cek bersama! Aku harus lihat” Vir mendartkan ciuman di kening istrinya. Berusaha memberikan ketenangan.
“Aku punya cara makan kue yang bagus..”
“Bagaimana?” dengan mata berkaca-kaca Aileen penasaran dengan cara yang Vir katakan.
Vir lalu mengarahkan telunjuknya pada potongan pancake yang masih tersisa. Ia mengarahkan telunjuk yang dipenuhi cream coklat itu ke arah bibir Alieen.
Wanita itu mengernyit heran atas apa yang Vir lakukan, namun ia hanya diam mengamati pertunjukan dadakan dari suaminya.
“Caranyan seperti ini!” Vir menyeringai kemudian mengarahkan bibirnya menyesap cream coklat tadi dari bibir sang Istri.
Aileen terpaku dengan sikap manis suaminya. Ia pun mulai mengikuti permainan lidah Vir yang semakin liar.
Dengan napas terengah, Vir melepaskan pangutannya. Ia menatap Aileen dengan tatapan sayu.
Tanpa basa basi Vir menggendong tubuh Aileen ala bridal style dan membawanya menuju kamar. Sepanjang jalan, Vir terus ******* bibir yang menjadi candunya itu.
Ia benar-benar tak bisa melakukan ciuman panas tanpa berakhir di ranjang. Ibarat kata, ia seperti digantung jika tak menuntaskan kegiatannya di ranjang.
Vir memutar hendel pintu lalu mendorongnya dengan kaki. Bibir keduanya masih bertaut menimbulkan bunyi decapa* sensual yang menghiasi seantero ruang.
Vir meletakkan tubuh Aileen ke atas ranjang. Seketika wanita itu tersenyum saat menyadari pakaian yang suaminya kenakan, ia tertawa terbahak-bahak saat Vir mulai membuka dasinya.
“Moon, kenapa style mu seperti itu?” ucap Aileen dengan tawa menggema.
bagaiman tidak tertawa, Vir mengenakan pakaian formal berdasi yang dipadukan dengan celana pendek rumahan membuatnya terlihat sangat lucu.
Vir ikut terkekeh menyadari penampilannya.
“Ah ini semua karena Dito yang mengajakku meeting dadakan” Vir membuka kancing kemejanya satu persatu lalu melemparkannya ke sembarang arah. Terakhir ia mulai meloloskan celananya dan menampakkan tonjolan dibalik boksernya. Vir naik ke atas ranjang menghampiri Aileen yang masih terkekeh.
__ADS_1
“Berhentilah tertawa, Sun! Menjeritlah, aku tidak akan mengampuni mu!” Vir menyeringai dan mulai meloloskan pakaian istrinya hingga membuatnya polos seperti bayi. Kemudian memulai foreplay sebelum melakukan penyatuan.