
Waktu terus berganti, hari berganti hari, bulan demi bulan pun telah berganti. Hari itu, dimana dokter mendiagnosis Virendra mengalami koma merupakan hari dimana Aileen benar-benar merasa kehilangan pijakannya. Ia seperti kehilangan pusat dunianya.
Kondisi Vir benar-benar buruk. Meski telah melakukan operasi namun kehilangan banyak darah menyebabkan hilangnya tekanan darah pada tubuhnya dan terjadi penyumbatan aliran oksigen menuju otak. Efek yang ditimbulkan hal tersebut sangatlah besar, Ia juga diiagnosa terkena stroke dimana disebabkan oleh bagian otak yang kekurangan oksigen, hingga kematian neuron pada syaraf akibat benturan di kepala juga sangat berakibat fatal. Hingga ia harus mengalami koma.
Hari setelah dokter menyampaikan hal itu merupakan hari yang berat bagi Aileen. Air matanya sudah kering menerima kenyataan sambil menanti keajaiban agar sang suami segera pulih dan bangun dari tidur panjangnya.
Bahkan Dokter sudah melakukan berbagai macam cara untuk kesehatannya. Di satu bulan pertama saat keadaan pria itu makin kritis, dia sempat beberapa kali di bawa ke luar negeri untuk menjalani berbagai macam perawatan di sana. Namun keadaannya tetap sama, ia masih dalam keadaan koma.
Sudah enam bulan berlalu, kandungan Aileen pun sudah memasuki trimester ketiga. Berat rasanya menjalani kehamilan tanpa didampingi suami, namun ia harus tetap kuat demi calon anak mereka. Wanita itu sudah jarang menangis, ia bahkan terlihat lebih tegar dari sebelumnya. Ia kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Meski dengan sikap yang berbeda, ia menjadi sosok yang lebih kalem. Mungkin karena keadaan.
Meski berat, namun ia tetap bersyukur. Selama kehamilan, ia sama sekali tak pernah merasakan keluhan yang menyulitkan dirinya, mungkin Tuhan sudah merencanakan semuanya. Jika itu terjadi disaat kondisi Vir seperti ini, mungkin Aileen tak akan mampu menghadapi semuanya sendiri. Meski mendapat dukungan dari semua keluarga, namun tetap saja rasanya kurang. Karena yang paling dibutuhkan adalah kehadiran suami disisinya.
Sudah banyak kejadian yang ia lalui tanpa kehadiran Virendra. Meski tak meneruskan profesinya menjadi dokter lagi. Namun hari-hari Aileen disibukkan dengan pergi memantau hotel. Semua itu ia lakukan atas permintaan Dito, Sahabat Virendra itu memaksanya untuk mewakili tugas sang suami selama dia koma.
Aileen bersyukur masih dikelilingi orang baik. Ia juga merasa lega setelah beberapa bulan lalu, para dalang dari kejadian ini dituntut dengan pasal berlapis dan itu semua tak lepas dari bantuan Dito dibantu Shakeel yang juga memberi semua bukti. Bahkan Dito juga menuntut Niko dengan pasal penggelapan uang modal mereka dulu.
Usia kandungan yang menginjak usia delapan bulan tak membatasi langkah Aileen. Ia menjadi wanita yang super sibuk, rumah sakit menjadi rumah utamanya. Meski kadang keluarga memintanya untuk berganti menjaga Virendra, namun ia tak pernah melewatkan hari tanpa tahu keadaan Virendra.
“Titip suami saya ya, sus. Nanti ada Ibu dan kakak ipar saya yang datang. Saya ada urusan, mungkin balik agak siangan." Begitu kata Aileen memberi pesan saat hendak meninggalkan Virendra.
Kemudian ia buru-buru pergi menuju hotel. Setibanya di sana, Aileen begitu disambut antusias. Para staff dan karyawan di sana begitu menghormati Aileen. Mereka semua suka dengan kehadiran istri bosnya itu.
“Acaranya dimana?" Tanya Aileen pada resepsionis.
“Di Ballrom 3, Bu. Pengisi seminarnya sudah datang sejak tadi, Pak Dito juga sudah ada di dalam.”
Begitu mendengar penjelasan itu, Ia terburu-buru menuju tempat yang disebutkan. Aileen merasa sangat bersalah karena sudah datang terlambat. Hari ini dia harus menghadiri beberapa Seminar untuk mewakili Virendra.
Begitu masuk ke dalam, Aileen langsung disambut oleh Dito.
“Maaf, Aku terlambat, Dit." Aileen mencoba mengatur napas karena tergesa-gesa.
“Its okey, jangan terburu-buru, kau sedang hamil."
__ADS_1
Aileen mengangguk mendengar ucapan Dito sambil menerima air dari tangan pria tersebut dan meneguknya perlahan.
Keduanya lalu segera mengisi tempat yang disediakan. Acara tersebut pun segera dimulai.
...***...
Begitu Seminar selesai, Aileen yang masih di dampingi Dito, Berjalan menuju Restoran hotel. Keduanya berniat untuk makan siang bersama.
Aileen dan Dito duduk di salah satu meja dan mulai menyantap hidangan yang ada.
“Eil,”
Aileen menoleh pada Dito yang seperti ingin mengatakan sesuatu. Ia menyerngit menanti apa yang ingin Dito sampaikan.
“Bantu aku, Temanmu itu begitu sulit ditaklukkan. Dia masih saja mengungkit kejadian saat terakhir kali kami bertemu.”
Mendengar itu Aileen langsung tertawa terbahak-bahak, ia jelas tahu apa yang dimaksud sahabat suaminya yang kini menjadi sahabatnya juga. Beberapa bulan terakhir ini, ia memang sering mendengar curhatan Nita yang sering dikejar-kejar oleh Dito. Namun Nita terus menolak dengan alasan ia benci jika mengingngat pertemuan terakhir mereka.
“Hahaha, aku hanya bercanda.” Cebik Aileen, Dia tak kuasa melihat wajah murung Dito.
“Ck, Aku serius, Eil. Tapi kau malah bercanda. Hmmnt" Gerutu Dito sambil meneguk air minumnya.
Jika sudah seperti ini, Aileen benar-benar merasakan kehadiran Vir di sisinya. Berada di dekat Dito mengingatkan dia pada suaminya yang begitu dia rindukan.
“Nanti akan ku coba ya,".
“Apa kau bersungguh-sungguh?" Dengan wajah berbinar, Dito begitu bersemangat.
Aileen mengangguk, tidak ada salahnya mencoba. Lagi pula Nita juga terlihat memiliki perasaan terhadap Dito. Hanya saja gadis itu terlalu gengsi mengakui hanya karena kejadian menyebalkan itu.
“Karena kau akan membantuku, hari ini aku yang traktir."
Aileen semakin dibuat terhibur dengan sikap Dito. Mungkin ini yang bisa membuat hubungan persahabatannya dengan Vir berlangsung begitu lama. Keduanya saling melengkapi. Vir yang terkesan arogan dan Kaku sementara Dito yang santai dan memiliki selera humor sangat cocok untuk saling melengkapi.
__ADS_1
Sungguh Aileen begitu merindukan suaminya itu. Lagi-lagi ia hanya bisa berdoa dan berharap agar keajaiban segera menghampiri.
“Hey, Vir junior. Lihat, Mommy mu akan membantu ku. Pasti Daddymu akan bangga jika dia sadar nanti aku sudah punya pasangan. Dia tidak akan bisa mengolokku sebagai jomblo abadi lagi, dia akan ku beri surprise luar biasa.” Aileen hanya tersenyum mendengar ocehan Dito yang tengah berbicara dengan janinnya.
“Percuma saja, dia tidak akan terlalu mendengarkanmu," Cebik Aileen di sela tawanya sembari mengusap perutnya yang sudah membuncit besar.
“Kenapa?"
“Dia tidak akan merespon ucapan orang yang tidak mengelusnya.”
Dito menyeringai, dia menjentikkan jari seolah baru mendapat ide yang sangat brilian, membuat Aileen menatap penuh selidik.
“Kalau begitu, biarkan ku usap." Ucapan Dito sontak membuat Aileen tertawa terbahak-bahak.
“Jangan macam-macam, Vir bisa langsung bangun dan akan menghajar mu saat ini juga."
Keduanya lalu tertawa bersama. Aileen senang dengan keberadaan Dito yang selalu bisa menjaga dan menghiburnya setiap saat. Pria itu seolah menjadi pengganti Vir meski hanya menjaga dengan caranya sendiri. Dia bersyukur , suaminya memiliki sahabat yang setia dan baik seperti Dito.
“Jiks itu bisa membuatnya bangun, maka aku akan benar-benar melakukannya, Eil. Aku sangat merindukannya. Aku rela babakbelur jika itu satu-satunya cara agar dia bisa bangun"
keheningan terjadi beberapa saat. Aileen bisa melihat mata Dito mulai memerah. Dia tahu, bukan hanya dirinya yang merindukan kehadiran Virendra. Tetapi orang terdekatnya pun sangat merindukannya.
Suara Dering telepon membuat Aileen yang hampir ikut sedih harus melirik ke arah ponselnya yang tengah bergetar di atas meja. Nama Vino tertera di sana.
Aileen hanya diam mendengar apa yang kakak iparnya itu sampaikan.
“Ada apa?” Dito yang melihat Aileen hanya diam pun bertanya.
Wanita itu menggeleng, setelah menerima telepon, ia segera mengemas barangnya ke dalam tas.
“Aku harus segera ke Rumah sakit.” Ucap Aileen berusaha menenangkan diri, Biasanya jika ada kabar seperti ini. Kondisi Vir kembali drop. Namun ia tak ingin berpikiran negatif seraya merapalkan doa agar kondisi suaminya baik-baik saja. Bisa sajakan, suaminya sudah sadar sehingga Vino harus mengabarinya. Ya, mungkin saja dia sudah sadar. Dengan penuh semangat, Aileeng melangkah pergi.
“Biar ku antar," Dito ikut beranjak. Ia segera menyusul langkah Aileen.
__ADS_1