
Di sebuah bangunan yang berbentuk persegi dan menjulang tinggi, nampak sebuah mobil Lamborghini Aventador hitam memasuki basement parkir yang terletak di bagian bawah gedung.
Virendra turun, melangkah dengan gagahnya memasuki lift khusus yang langsung menuju ke lantai tempat ruangannya berada
Vir duduk di kursi kebesarannya, ia menekan telepon yang menghubungkan pada semua staff bagian yang bertugas di hotel ini.
"Ke ruangan ku sekarang!" kata Vir
"Apa kau ada di sini?" Tanya Dito
"Jangan banyak tanya, cepat ke ruangan ku!!"
tut..
Haissh dasar aneh.. Dito pun segera menuju ruangan Vir.
Pintu terbuka menampakkan Vir yang sedang berputar putar di kursi kebesarannya.
"Ada apa? kenapa kau terlihat begitu gelisah?" tanya Dito yang bisa membaca raut wajah sahabatnya itu
"Aku pusing terlalu banyak pekerjaan"
"Aku yakin bukan itu, pasti ada hal lain kan.."
Huhh,, Vir menghela nafas, ia tahu tak akan bisa menyembunyikan sesuatu dari Dito yang sudah mengenalnya begitu dekat.
"Aileen menolak ku.. Dia berani sekali menentang keinginan ku"
Dito terkekeh mendengar ucapan Vir, baru kali ini ada yang menolak seorang Virendra
"Hahahah, Apa kau meminta jatah sehingga dia menolak mu" terkekeh geli, mengira sahabatnya meminta jatah sehingga ditolak mentah-mentah.
Vir menatap tak suka pada Dito yang pikirannya tak jauh-jauh dari hal seperti itu..
"Sialan, kenapa otak mu selalu dipenuhi hal-hal seperti itu!" Vir melempar Dito dengan kertas yang ia genggam hingga terkoyak
"Mana mungkin aku meminta jatah dari orang yang aku benci"
"Kenapa tidak, diakan istrimu!! hati-hati Vir, benci dengan cinta itu beda tipis" sahut Dito seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu
"Tidak ada cinta di atas hubungan karena perjodohan.. lagi pula aku hanya mencintai Fia"
Yayaya, kita lihat saja sampai kapan kau bertahan
"Kalau tidak ada cinta lalu kenapa kau kesal seperti ini...Begini Vir apa kau percaya takdir?"
Vir menatap Dito seolah ingin mendengar ucapannya lebih lanjut.
Dito menarik nafas dalam dan mulai sedikit berpidato, berharap pintu taubat sahabatnya itu terbuka. eh sorry bukan pintu taubat, maksudnya pintu hati.
"Jadi begini, Pernikahan itu adalah takdir sedangkan Cinta itu adalah pilihan yang bisa berubah kapan saja, Kita bisa memilih pada siapa kita akan jatuh cinta tapi kita tidak bisa memilih dengan siapa kita akan menikah, karena Pernikahan merupakan takdir yang Tuhan berikan.." celoteh Dito panjang kali lebar yang menghasilkan sebuah bangunan...
"Tapi kita bisa setia untuk menjaga satu cinta itu, dengan begitu cinta akan menjadi takdir kita" Balas Vir tak mau kalah
"Apa kau bisa menjamin jika Cinta akan bertahan ketika semesta pun tak merestuinya??"
Mendengar ucapan Dito, Vir seolah tertampar. ia merasa tersinggung karena cintanya dan Fia pun tak di restui oleh orang tuanya, ditambah lagi ia malah dijodohkan membuat ia sadar betapa semesta pun tidak merestui cinta mereka. Walaupun begitu ia tetap ingin mempertahankan itu.
"Kau ini bicara apa.. Sudah lah, bicara dengan mu membuat ku semakin sakit kepala" Vir lalu menyalakan komputer yang ada di depannya
__ADS_1
Dito pun hanya menghela nafas melihat tingkah Vir.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau berikan saja Aileen padaku, Aku baru saja putus dan aku ingin mencari istri seperti dia" ujar Dito senyum-senyum sendiri membayangkan wajah cantik istri sahabatnya itu. Vir menatap Dito dengan tatapan yang sulit di artikan "Walaupun dia kelihatan judes tapi dia wanita yang baik, Aku yakin jika aku memilikinya dia akan bahagia. akan ku berikan seluruh jiwa dan raga ku untuknya, akan ku cintai dia sepenuh hati" ucap Dito sok puitis sembari menengadahkan tangannya dari hati melambai ke udara
"Kau pikir dia barang yang seenaknya kau minta..." ketus Vir yang merasa jijik dengan tingkah Dito yang Alay
"Ya lebih baik kau berikan untuk ku Vir, bukan kah kau membencinya. Aku akan menjaganya seperti sebuah berlian" lagi-lagi Dito tersenyum sambil memainkan alisnya naik turun
"Haiss dasar gila.." Vir beranjak dari duduknya, ia malangkah ke arah Dito "Keluarlah, bisa-bisa aku ikut gila jika kau terus berada di sini" Vir menyeret Dito keluar dari ruangannya
"Hey Vir lepaskan, bukan kah tadi kau memanggilku..!!" ujar Dito
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan mu. Bisa-bisa waktu ku habis dan pekerjaan ku akan terbengkalai karena terus mendengar ocehan mu yang unfaedah itu" Vir mendorong Dito ke luar dan langsung menutup pintu
"Hey Vir, kau belum memberi tahu ku, ada apa kau memanggilku!! Vir buka pintunya.." teriak Dito menggedor pintu ruangan Vir.
"Shiiit, dasar asisten gila!! diamlah Dit kau mengganggu konsentrasi ku.."
"Ardito Bagaskara berhenti menggedor pintunya!!!!" teriak Vir tak kalah kencangnya.
"Arshaka Virendra buka pintunya!!" teriak Dito tak menyerah
Begitu seterusnya sampai ada yang mau mengalah. beruntung ruangan mereka berada di lantai khusus jadi para tamu hotel tak ada yang mendengar kegaduhan itu.
Kalaupun ada paling hanya OB. itupun mereka hanya bungkam saat melihat kelakuan konyol pimpinan dan asistennya itu.
•••••
Malam harinya, Vir yang lebih dahulu pulang tak menemukan siapa-siapa di rumah. Rumah dua lantai itu tampak sepi dengan semua lampu padam, hanya lampu teras dan ruang tamu lah yang menyala.
Vir mengganti pakaiannya menggunakan baju kaos dan celana panjang, Ia berjalan ke ruang makan mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.
"Haissh apa-apaan dia, kenapa sama sekali tidak ada makanan di sini" Vir menggerutu kesal tak menemukan makanan apapun di lemari ataupun di kulkas
"Kemana wanita itu, kenapa jam segini belum pulang. Dasar menyebalkan...! Apakah dokter umum juga harus lembur Seperti ini" Vir terus menggerutu dan berjalan ke ruang tamu.
Tanpa ia sadari, dirinya sudah bergantung pada Aileen meskipun ia belum menyadari itu.
.
.
"Opa, Oma Eil pulang dulu ya!!" Aileen berpamitan pada opanya yang tengah duduk di kursi roda.
Ya Aileen sedang berada di rumah opa dan omanya, orang tua dari Mommy Jessica.
"Lain kali ajak Vir juga Eil, Opa akan sangat senang" ucap pria tua yang duduk di kursi roda
"Lain kali ya, hari ini dia sibuk sekali..
aku janji sebelum opa ke luar Negeri aku dan Vir pasti akan ke sini" ucap Aileen beralasan
Mana mungkin pria itu mau, mengingat ia begitu membenci Keluarganya. Yang ada ia akan mendapat kata-kata kasar dan penolakan yang menyakitkan jika nekat mengajak makhluk aneh itu.
"Baiklah akan kami tagih janji itu" ucap opa dan oma bersamaan
"Itu pasti" Aileen tersenyum
"Om, tante.. Aku pamit dulu ya! salam sama Keil" Aileen beralih berpamitan pada kakak dari mommynya, orang tua dari sepupunya Shakeel
__ADS_1
"Hati-hati di jalan ya sayang" Om Ferdy dan Syella mengelus rambut panjang ponakannya
Aileen mengangguk lalu melangkah menuju mobilnya.
Setelah beberapa menit berkendara akhirnya Aileen sampai di rumah. Ia melihat Lamborghini Yang mulia Raja sudah terparkir di sana.
Aileen menarik nafas dalam, mempersiapkan mental untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi di dalam nanti.
Pintu terbuka, Yang pertama kali dia lihat sesosok pria tengah berbaring di sofa sambil bermain Hp.
Aileen melangkah perlahan..
"Kau ini darimana saja, kenapa jam segini baru pulang" omel Vir sambil melirik jam ditangannya.
"Aku lembur" Aileen langsung melangkah menuju dapur, ia tahu si makhluk aneh pasti belum makan sehingga harus diberi makan agar berhenti mengoceh
"Dokter umum mana yang lembur sampai larut seperti ini" Vir mengoceh sambil mengikuti langkah Aileen dibelakangnya
"Aku dari rumah Opa Haris" ucap Aileen santai sambil meletakkan tasnya di kursi lalu beranjak ke wastafel dan mencuci tangan
"Apa?? kau dari rumah Opa mu? tadi kau mengatakan kau lembur dan sekarang dari rumah Opa, jadi sebenarnya yang mana..?" cecar Vir yang merasa dipermainkan oleh jawaban Aileen.
"Keduanya benar, aku pulang sore dan langsung menuju rumah Opa ku" ujar Aileen santai sambil sibuk memilah bahan masakan di kulkas lalu mengiris beberapa daun bawang, sosis dan memecahkan tiga butir telur, ia akan membuat nasi goreng untuk menu makan malam.
"Kenapa kau tidak memberi tahu ku?"
"Untuk apa? Aku bahkan tak punya nomor telepon mu"
"Ah iya, benar juga.." gumam Vir
Jawaban yang keren bukan, ini sungguh menandakan hubungan mereka memanglah sebuah sandiwara. Masa iya sepasang suami istri tak memiliki nomor telepon satu sama lain
"Eh, tunggu dulu!! tapi seingat ku aku punya nomor telepon mu!! iya Aku pernah mengirimi mu pesan" kata Vir yang mengingat dirinya pernah mengirim pesan pada Aileen saat mengajaknya ke mansion orang tuanya
"Aku tidak menyimpan nomor telepon mu! nomor itu terhapus" sahut Aileen santai membuat Vir melotot tak percaya.
Wanita ini memang keterlaluan, beraninya dia mengatakan itu
"Lagi pula untuk apa juga aku memberi tahu mu?" tanya Aileen, kini ia sibuk berkutat dengan wajan
"Ya aku bisa ikut dengan mu.." jawab Vir Asal
Aileen berbalik menatap Vir. Virendra gelagapan, ia menyadari jawabannya ambigu
"Ya maksud ku, kita bisa bersandiwara dengan ikut bersama mu.. Bukankah kita harus bersandiwara seperti yang keluarga kita inginkan"
"Apa kau bisa?? bahkan aku tidak yakin, sandiwara mu terlalu buruk" cebik Aileen.
"Haissh kau ini benar-benar kurang ajar!!" umpat Vir...
Ia kesal, Aileen lah satu-satunya wanita yang selalu menentangnya bahkan sampai berani mengatainya
Semua orang yang bertemu dengan ku selalu segan pada ku, tapi apa -apaan dia ini, berani sekali mengataiku..
"Makanlah..!" Aileen meletakkan sepiring nasi goreng dan segelas susu di hadapan Vir
Setelah itu ia pun meraih tasnya dan langsung melangkah menuju lantai atas.
"Baguslah, pergi yang jauh agar aku bisa menikmati makan malam ku dengan tenang tanpa gangguan dari mu.."
__ADS_1