Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 47


__ADS_3

Semenjak masalah yang terjadi karena Fia itu, Hampir dua hari sudah Vir sama sekali tidak pernah pulang ke rumah.


Sebenarnya Aileen menghawatirkan suaminya, namun ia juga tidak ingin menghubunginya terlebih dahulu, Ia masih gengsi jika harus menelpon duluan.


Apalagi beberapa hari terakhir ini Aileen begitu sibuk dengan pekerjaannya.


Tidak seperti biasa, sore ini ia pulang lebih awal, setelah pulang dari menjenguk opa dan oma, Aileen langsung pulang ke rumah.


Ia turun dari mobil sambil menenteng senelli dan tasnya.


"Eil.!! " Saat baru saja menutup pintu mobil, ia mendengar ada yang memanggil namanya.


Aileen menoleh ke sumber suara, di sana ia melihat seorang wanita yang sangat dikenalnya.


"Mbak Moza" berjalan mendekat ke arah moza


"Lama tidak bertemu Eil" sapa Moza seraya memeluk Aileen


"Iya mbak. Mbak Moza kemana saja? Beberapa kali aku ke rumah mbak tapi tidak ada orang, Sepi!" ucap Aileen sambil memandang Moza, Ia senang wanita yang senasib dengan dirinya itu sudah kembali.


"Aku baru saja datang hari ini, beberapa minggu terakhir ini aku tinggal di rumah ibu ku, di jalan xxx" jelas Moza


Aileen yang tadinya lelah kembali bersemangat, ia senang Moza ada, setidaknya ada yang menemaninya mengobrol dan membuatnya tidak terlalu kesepian.


"Kita masuk ke dalam ya, biar bisa lebih bebas ngobrol!" Aileen berjalan ke arah pintu yang langsung disusul oleh moza


"Baby mbak moza mana?" Tanya Aileen seraya mendorong hendel pintu yang sudah terbuka


"Dia ada di rumah dengan baby sitter nya!"


Aileen dan Moza pun masuk, Moza duduk di sofa sambil menunggu Aileen yang sedang menuju kamar berganti baju.


Saat sudah selesai Aileen pun langsung menuju dapur, Ia membuat dua gelas minuman dan membawa beberapa cemilan untuk ia dan moza nikmati sambil menemani acara ngobrol mereka nanti


"Ohiya Eil, waktu itu aku sempat ke sini tapi rumah mu sepi, hanya ada mobil suami mu saja" kata Moz pada Aileen yang muncul dari arah dapur


"Oh waktu itu aku ke luar negeri mbak, oma dan opa ku meninggal" ucap Aileen sembari meletakkan nampan di atas meja.


Ia lalu ikut duduk di salah satu sofa dan mempersilahkan Moza menyantap hidangannya.


"Ya Ampun, aku sama sekali tidak tahu Eil! Aku turut berbelasungkawa atas meninggalnya opa dan oma mu" kata Moza yang merasa tidak enak hati karena terlambat mengatakan itu.


Aileen hanya tersenyum sambil mengangguk kecil


"Ini kau yang buat, Eil?" Aileen mengangguk "ini enak sekali Eil, kau hebat ya, sibuk kerja tapi tetap pintar masak" puji Moza seraya menyantap kue buatan Aileen


"Hehehe bukannya wanita memang harus pintar masak ya mbak?" tanya Aileen disela tawa canggungnya karena mendapat pujian dari Moza


"Begitu ya? pantas saja suami ku tidak mencintaiku karena aku tak pintar memasak." Moza terkekeh kecil.


Aileen yang mendengar ucapan Moza merasa tidak enak karena sudah mengatakan hal tadi, Ia takut jika moza akan tersinggung karena ucapannya


"Santai saja Eil, aku sudah tidak ambil pusing lagi pula kami sudah pisah!" Kata Moza di sela helaan nafasnya yang terdengar berat


Aileen cukup tercengang mendengar ucapan Moza, ia menatap penuh tanya.


Moza yang melihat reaksi Aileen pun hanya tersenyum seraya berkata


"Kami resmi bercerai seminggu yang lalu, itu sebabnya selama proses perceraian aku tinggal di rumah orang tua ku"


Moza terlihat tersenyum tanpa beban, namun tetap saja, Aileen tahu ia hanya berusaha kuat untuk tidak kelihatan lemah.


Jangan melupakan dia seorang dokter, sedikit banyak tentu dia tahu arti gerak gerik dan arti mimik wajah orang lain.


"Lalu suami mbak? Eh, maaf maksud aku sekarang dia dimana?" tanya Aileen hati-hati takut salah ucap

__ADS_1


Moza kembali menghela nafas, berusaha untuk tetap reelax


"Dia memilih wanita itu, dia sudah menikah setelah kami resmi bercerai! Dia memberi anak kami rumah yang ada di sini, jadi sekarang aku tinggal hanya bertiga dengan baby sitter" ucap Moza disela sendunya


Aileen merasa kasihan pada Moza. ia terdiam sejenak, larut dalam pikirannya sendiri.


Apakah nasib ku akan seperti mbak moza? Apa mungkin aku mampu bertahan? Apakah hanya perceraian satu-satunya jalan yang akan menjadi akhir diantara aku dan Vir? gumam aileen dalam hati, wajahnya terlihat dipenuhi begitu banyak beban


Baru ingin mulai berjuang tapi dirinya kembali goyah melihat kisah Moza dan Suaminya yang berujung pada perceraian.


Ia tahu Moza sama seperti dirinya yang sudah berusaha namun akhir yang ia dapatkan tetaplah sebuah perceraian


Aileen menggeleng kecil, larut dalam pikirannya sendiri sampai tak mendengar Moza yag bicara padanya.


"Eil?" Teriak Moza sekali lagi


"Eh, Iya mbak" tersentak dan beralih menatap Moza yang terlihat heran


"Apa kau baik-baik saja?"


"Heheh iya aku baik-baik saja! Ohiya tadi mbak bilang apa?"


"Suami mu dimana?"


"Dia masih di kantor mbak!" Aileen berusaha tetap senyum di tengah kegundahan hatinya


Moza pun hanya mengangguk seraya meminum juice jeruk yang Aileen sediakan


"Tunggu sebentar ya mbak" Aileen yang seperti mengingat sesuatu langsung berlari meninggalkan Moza yang menatap heran padanya


Tidak lama kemudian, Aileen Sudah kembali dengan membawa sebuah paper bag kecil. Lalu memberikannya pada Moza


"Ini apa?"


"Itu sedikit oleh-oleh, aku beberapa kali ke rumah mbak tapi tidak pernah ada orangnya" ucap Aileen yang memang beberapa kali mendatangi rumah Moza namun tak pernah menemukan siapa-siapa di sana


Mereka pun berbincang ria, saling mengisi waktu dan kekosongan masing-masing.


⚡⚡⚡⚡⚡


Sementara itu di sebuah Cafe nampak dua orang pria tengah duduk bersama. Mereka adalah Vir dan Dito, Sepertinya duo sahabat itu telah berbaikan setelah beberapa hari yang lalu Dito menceramahi Vir habis-habisan karena dirinya memarahi Aileen atas pengaduan Fia yang membuat Vir percaya begitu saja


Begitulah mereka, walaupun selalu berbeda pendapat dan sering bertengkar satu sama lain, namun persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik karena sudah saling memahami satu sama lain.


"Sepertinya kau harus ikut dengan ku bekerja di perusahaan Ayah!!" kata Vir sembari membersihkan bibirnya dengan tisu


Mereka baru saja menyelesaikan makan malam berdua.


"Bagaimana bisa begitu? Siapa yang akan mengurus Hotel? bukannya di sana sudah ada asisten Ayah mu.."


"Aku terlalu kaku jika bersama orang tua, Sepertinya kita harus mencari General Manager/GM baru untuk Hotel, kita akan tetap mengontrol hotel setiap hari" Vir menghela nafas, ia memang selalu merasa canggung jika bersama Pak Amran, Ia tak merasa bebas marah-marah, Mengingat pak Amran jauh lebih tua darinya dan harus menghargai dia sebagai orang tua


"Tidak mudah Vir, mencari GM harus melalui tahap seleksi dengan benar, jangan sembarangan sebab ini bukanlah tanggung jawab kecil yang bisa asal pilih"


Vir nampak berpikir, yang diucapkan Dito memanglah benar. Sepertinya mereka harus mengumpulkan beberapa kandidat yang benar-benar memenuhi kriteria.


"Hmmmnt, Baiklah kau kumpulkan saja dulu kandidatnya!" Vir beranjak dari duduknya


"Ayo pulang!" Ajak Vir, beberapa hari ini dia memang menginap di apartemen Dito.


Ia tidak ingin lagi menginap di rumahnya jika tanpa Aileen, yang ada para pelayan sialan itu akan mengadukannya lagi pada Ibu. Telinganya tidak siap jika harus mendengar serangan turbo dari pertanyaan ibunya.


Dito menggeleng. Entah apa maksudnya, Apa mungkin ia sudah tidak ingin menampung Vir di apartemennya lagi.


"Haishh, Aku sudah tidak mau lagi menampung duda di apartemen ku! Nanti hidupku bisa kena kutukan jika tinggal terlalu lama dengan Virus seperti mu" Dito menggeleng dengan melempar tatapan tak sudi

__ADS_1


"Damn it!! jaga bicara mu bang**t, I'm not a widower! (Aku bukan duda!)" Ucap Vir seraya berkacak pinggang sedangkan sebelah tangannya lagi menyelip di saku celana.


"Ck, sama saja! kau meninggalkan istri mu, itu artinya sebentar lagi kau akan jadi duda" ucap Dito tak mau kalah.


"Shut Up!! Ayo cepat pulang. jika tidak, aku tidak akan membayar tagihan makan mu" ancam Vir yang mana langsung membuat Dito bangun dari duduknya.


Sedari ke luar dari Cafe Dito tak henti-hentinya menggerutu sebal pada Vir yang sudah seperti parasit baginya.


Dito semakin marah saat dirinya belum masuk tapi Vir sudah menguncikannya pintu mobil


"Sialan!! Buka Pintunya Vir, aku belum masuk" teriak Dito menggedor jendela mobil.


Vir lalu menurunkan kaca mobilnya, Ia yang sudah mengenakan kaca mata pun berbalik menatap ke arah Dito.


"Apa lagi?"


"Aku belum masuk Virendra, tapi kau sudah mengunci pintunya, Buka!"


Vir menghadap ke depan kemudian menghela nafas lalu beralih lagi menatap Dito.


"Aku mau pulang! Tadi kau menyuruhku pulang tapi kenapa malah menghalangi ku lagi? Kau mau ikut?" kata Vir


Dito menghembuskan nafas kasar, Sahabatnya itu benar-benarbsulit ditebak, Ia selalu melakukan sesuatu secara tiba-tiba.


Dito pun memilih mengalah, Itu jauh lebih baik karena ia pun senang jika Vir berniat pulang meskipun ia sendiri harus pulang naik taxi karena tadi Vir lah yang menjemputnya di Hotel.


"Ya sudah sana pergilah!! Minta maaf pada istri mu! Jika tidak, aku akan benar-benar merebutnya dan menjadikan dia sebagai istri ku" Ancam Dito yang mana membuat Vir melototkan mata dan hampir menabrak Dito. setelah itu Mobil Vir pun melaju dengan begitu kencang.


Dito hanya menggeleng melihat tingkah Vir.


***


Tidak butuh waktu lama, Vir yang berkendara dengan kecepatan tinnggi akhirya sudah sampai di rumah.


Ia turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.


Beruntung pintu itu tidak dikunci jadi Vir dapat dengan mudah masuk ke dalam.


Vir mengedarkan pandangannya kepada sosok yang tidur di sofa.


"Haissh Dasar ceroboh! berani-beraninya dia tidur di sini tanpa megunci pintu, bagaimana jika ada yang masuk dan memperkosa mu" Vir menggeleng sambil berjalan mendekat ke arah Aileen yang terlelap.


Vir menyerngit heran saat melihat dua gelas minuman dan sisa makanan di atas meja.


Sepertinya Aileen lupa membereskan semuanya dan langsung ketiduran begitu saja saat Moza sudah pulang tadi.


Vir berjongkok di hadapan Aileen yang tengah tidur meringkuk di atas sofa


Siapa yang datang, kenapa kau sampai ketiduran seperti ini di sini? kalian makak bersama, siapa orang itu?


ucap Vir dalam hati sambil menatap lekat wajah Aileen yang sudah terlelap dengan nyenyak.


Vir mengusap wajahnya kasar, entah Apa yang dia pikirkan.


Ia lalu membawa Aileen ke dalam dekapan tangan kekarnya dan menggendongnya ala bridal style menaiki tangga, membawa istrinya ke kamar.


Vir lalu meletakkan Aileen ke atas ranjang, Ia beralih melepaskan sendal Istrinya lalu menutupi tubuhhnya dengan selimut.


Vir duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah cantik Aileen yang begitu tenang saat dipandang dekat seperti ini.


"Maafkan aku yang membiarkan mu tinggal seorang diri! Maaf aku belum bisa jadi suami yang baik untuk mu! Aku bren*sek Eil, aku laki-laki pecun"dang yang belum bisa menentukan sikap! Maaf!" Vir menggenggam erat tangan Aileen.


"Percayalah ini pun sangat berat untuk ku, ini tidak mudah Eil! Semakin dalam aku membencimu semakin aku sadar kau wanita yang baik, hanya saja ego ku terlalu besar! Maafkan aku, Aku akan menyelesaikan semuanya" Vir lalu mengecup bibir Aileen yang sedang terlelap.


Vir lalu duduk melantai di sisi ranjang sambil terus mengenggam erat tangan Aileen.

__ADS_1


Entah seperti apa perasaan Vir pada Aileen tapi sepertinya dia mulai menyadari semua sikapnya.


larut dalam pikiran sambil terus memandang wajah istrinya, hingga tanpa sadar membuat Vir tertidur dalam posisi duduk dengan wajahnya bertumpu pada tangan Aileen yang ia jadikan bantal.


__ADS_2