Lihat Aku, Buka Hatimu

Lihat Aku, Buka Hatimu
Part 133


__ADS_3

Mentari belum sepenuhnya terbit saat dua ambulance dan rombongan mobil itu tiba di sebuah Rumah sakit ternama di ibu kota.


Begitu sampai, branker yang di atasnya terdapat tubuh tak berdaya dari seorang Virendra itupun di dorong ke ruang IGD. Sementara satu branker yang ditempati Ayah Hans juga dimasukkan ke ruang IGD yang berbeda.


Tubuh Aileen seolah limbung, tatapan mata kosong dengan tubuh ringkih menahan isak tangis itu terus berdiri di sisi pintu ruang IGD. Di temani dengan Daddy Al dan Biyan. Sedangkan Om Ferdy dan Shakeel pergi mendampingi Vino menunggu Ayah Hans.


Daddy dan Biyan mencoba menguatkan Aileen, namun wanita itu terus menghindar. Ia seolah ingin sendiri, menunggu kabar dari dalam sambil meratapi kejadian tragis yang baru saja menimpa suaminya. Sangat menyakitkan. Rasanya seperti mimpi, Ia begitu takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada suaminya. Sungguh ia tak mampu membayangkan itu semua.


“Biy, pergilah menjemput Mommy dan keluarga yang lain” ujar Daddy sendu sembari menepuk bahu Biyan yang masih menatap tubuh ringkih kakaknya yang tengah berjongkok tepat di samping pintu IGD.


“Usahakan Opa dan Oma jangan ikut ya, Biy.”


Tanpa menjawab, Biyan pun segera pergi. Tinggallah Daddy yang terus menatap putrinya. Kali ini ia tak lagi mendekati Aileen, melainkan hanya memantaunya dari jarak yang cukup dekat.


Selang beberapa menit, setelah melakukan observasi. Seorang dokter keluar sambil melepaskan stetoskop dari telinganya.


“Dengan keluarga Pak Virendra?" katanya, yang mana sontak membuat Aileen terperanjat dari lamunannya. Wanita hamil itu langsung berdiri sambil mengusap wajahnya yang masih terdapat lelehan air mata di sana.


"Saya, Ayah mertuanya, dok..!”


“Sa-saya istrinya, dok!”


"Bagaimana keadaan suami saya?" tanya Aileen ikut menimpali.


Dokter itu terdiam sejenak, ia menatap Aileen dan Daddy secara bergantian kemudian menghela napas gusar.


“Saya ingin bicara dengan Bapak.” Daddy Al langsung mengangguk mengiyakan. Sedangkan Aileen yang melihat itu langsung ikut menimpali.


“Saya ikut! Saya ingin tahu kondisi suami saya!" katanya sambil kembali terisak sendu.


“Eil..” Daddy yang mengerti kekhawatiran dokter tersebut mencoba menenangkan Aileen. Diusapnya punggung rapuh putrinya, berusaha memberi ketenangan dan kekuatan. Namun Aileen yang tetap ngotot dan bersi kekeh ingin tahu kondisi Virendra pun akhirnya diperbolehkan mendengarnya secara langsung.


Dengan berat hati, dokterpun harus mengatakan apa yang seharusnya disampaikan.


“Pasien harus segera mendapat tindakan operasi.." Dokter itu menghela napas sejenak saat melihat Aileen kembali tersedu-sedu membuat Daddy langsung merengkuh tubuh rapuhnya.


Setelah dilihat Aileen mulai bisa mengontrol diri, dokter itupun kembali meneruskan ucapannya “Terdapat dua luka tembak di tubuh Pak Virendra. Satu luka tembak menembus dada yang mengakibatkan banyak pendarahan sedangkan luka tembak yang satunya tak menembus. Ini yang mengharuskan kita harus segera melakukan tindakan operasi pengangkatan pada peluru yang masih bersemayam di tubuh pasien."


Dokter itu kembali menghela napas sejenak “Juga di kepala pasien terdapat benturan keras yang mengakibatkan pembekuan dan cedera dalam pada otak.”


Masih dalam keadaan sadar, tubuh Aileen jatuh seketika. Beruntung Daddy masih bisa menahan tubuhnya. Tentu ia sangat mengerti apa yang di sampaikan dokter. Ia tau betul jika kondisi suaminya dalam keadaan gawat darurat. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, mengingat luka da beturan itu bukanlah sesuatu yang main-main. Sebagai seorang dokter tentu ia juga tahu apa saja resiko yang bisa ditimbulkan akibat cedera tersebut.

__ADS_1


“Hikkkks...” ia kembali terisak sambil meremas kemeja Daddy “Selamatkan suamiku, tolong jangan biarkan dia kenapa-kenapa..huhu, hu huu”


“Lakukan yang terbaik, dok..” Ucap Daddy lantang sambil merengkuh erat tubuh Aileen yang makin bergetar lemas begitu mendengar penuturan dokter tersebut.


Air mata Aileen terus merembes tatkala melihat tubuh lemah Vir di dorong menuju ruang operasi. Ingin rasanya ia memeluk tubuh itu dan berteriak di telinganya untuk memintanya lekas bangun.


Aileen menumpahkan seluruh tangisnya dipelukan Daddy saat tubuh Vir sudah menghilang di balik pintu operasi bersama Beberapa dokter bedah dan Ahli Anastesi yang akan menangaani operasi tersebut.


“Daddy, Suami ku pasti kuat kan? Hikkss, hu huhu... Dia akan baik baik saja, kan, dad??” Aileen sudah seperti anak kecil yang merengek pada Ayahnya.


“Kau harus kuat, Nak! Vir pasti baik-baik saja, sayang!" bahkan Daddy pun mulai ikut menangisi kenyataan pahit yang menimpa menantunya.


.............


Setelah dijemput oleh Biyan. Mommy, Ibu Melinda dan Mama Syella pun sudah tiba di rumah sakit. Ketiga wanita paruh baya itu terus menangis tersedu-sedu begitu Biyan membawa mereka ke Rumah Sakit.


“Kenapa harus ke rumah sakit, Biy?


“Apa yang terjadi?”


Biyan yang tak mengatakan apapun membuat mereka was-was dan memikirkan segala sesuatu yang terjadi. Namun Mama Syella yang sempat mendapat kabar dari Shakeel sudah tentu tak begitu mencemaskan keadaan putranya itu, jelas dia baik-baik saja.


“Kita ke rumah sakit sekarang ya” Begitu kata Biyan saat pertama kali sampai di rumah dan membujuk mereka.


“Kenapa ke ruang operasi Biy?” tanya Mommy Heran.


“Iya Biy, Kakak kamu baik-baik saja kan?” harap Ibu yang juga takut terjadi sesuatu yang parah.


Sementara mama Syella hanya meringis pedih saat matanya melihat sosok Aileen tengah menangis tersedu-sedu di pelukan Daddy Al. Itu membuatnya langsung memeluk tubuh Mommy dan Ibu sekaligus. Berusaha memberi kekuatan pada mereka. Karena jelas ia bisa menebak siapa yang ada di dalam sana.


“Eil..!” dengan tergesa-gesa Mommy langsung berlari memeluk Aileen


“Kamu baik-baik saja kan, nak? Mommy takut sekali terjadi sesuatu pada mu!" Mommy menangkup wajah Aileen yang hanya diam dengan tatapan kosong tapi air matanya terus mengalir tiada henti. Sungguh perasaan yang sangat menyakitkan saat dimana seseorang tak lagi memngis tanpa suara.


“Dad..” Mommy beralih menatap Daddy meminta jawaban dan Daddy yang peka langsung memberi isyarat menunjuk ruang operasi membuat Mommy langsung menutup mulutnya.


Dengan linangan air mata Mommy kembali memeluk putrinya.


Sementara Ibu yang sedari tadi melihat itu pun mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Melihat kode yang Daddy Al berikan tadi tentu ia tahu siapa yang ada di dalam dan penyebab kenapa Aileen sampai seperti itu.


“Virendra, huhuuu...!" tubuh ibu luruh seketika. Ia menangis sejadi-jadinya sambil terus menatap ruang operasi “Kenapa sampai seperti ini nak? Hikkkks...”

__ADS_1


“Jeng yang kuat, ya.. Vir pasti kuat, dia pasti bisa melewati ini semua." Mama Syella langsung merengkuh tubuh Ibu Melinda dan membantunya beranjak dari lantai.


“Vir, huhuu..” ibu terus menitihkan air mata. Pikirannya kalut memikirkan bagaimana keadaan putra bungsunya di dalam sana. Kenapa dan bagaimana dia bisa sampai masuk ruang operasi seperti ini.


Aileen yang melihat itu hanya bisa menangis tanpa melakukan apapun. Jika situasinya tidak seperti ini, sudah tentu ia akan jadi orang pertama yang akan memeluk tubuh Ibu mertuanya. Memberinya kekuatan dalam situasi ini. Namun keadaannya berbeda, ia sama sekali tak bisa melakukan apapun selain hanya menangis dan mengis sambil menunggu kabar dari dalam ruang operasi, mengingat suaminya tengah berjuang antara hidup dan mati.


“Mau kemana, Eil?” tanya Daddy saat ia beranjak dari duduknya.


Semua keluarga yang ada tentu langsung menatap pergerakan Aileen yang perlahan mendekati pintu ruang operasi dan kembali bersandar di sana seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya. Tatapan mata kosong membuat ia terlihat seperti seonggok tubuh tanpa raga. Tubuhnya di sini, namun pikirannya melayang pergi bersama semua angan tentang Virendra.


“Duduk ya nak.." Daddy berusaha membujuk Aileen agar kembali duduk, namun lagi-lagi dia hanya menggeleng dan perlahan mendorong Daddy agar menjauh darinya.


Tentu Daddy tak bisa memaksa. Ia pun kembali duduk bersama Mommy yang juga masih menitihkan air mata memikirkan keadaan menantunya


Sementara Mama Syella masih mendampingi Ibu Melinda yang juga terus menangis dengan tatapan kosong.


Biyan yang juga duduk seorang diri terus menatap sang kakak, ingatannya kembali tertuju pada obrolannya dengan Vir saat malam tadi.


“Dia hamil, Biy! Kakak mu sedang mengandung!"


“Dia hamil, Biy! Kakak mu sedang mengandung!”


Ucapan Vir itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Membuat ia bisa merasakan betapa sakit dan terlukanya berada di posisi Aileen. Ditimpa masalah seperti ini dalam kondisi sedang hamil.


Sungguh ia bisa merasakan apa yang Kakaknya rasakan. Sambil berkata mantap dalam hati “Aku akan menjaga kakak dan bayinya untuk mu kak Vir!" Biyan melangkah mendekati Aileen kemudian merengkuh tubuh sang kakak.


“Kita duduk ya!" Bisik Biyan lembut, namun lagi-lagi wanita hamil itu hanya menggeleng.


“Kak!” Biyan menggeleng pelan.


“Aku ingin di sini, Biy! Jangan ganggu, aku ingin menunggu suami ku. Hikkks..!” sambil tersedu-sedu Aileen mendorong tubuh Biyan agar menjauhi dirinya.


Penolakan Aileen sama sekali tak membuat Biyan mundur, ia tetap ingin mendampingi sang kakak. Sebab sampai saat ini, hanya dialah satu-satunya keluarga yang mengetahui soal kehamilan Aileen.


“Kak, Ingat kau tidak lagi sendiri! Kak Vir pasti akan sedih jika melihat kalian seperti ini!” ujar Biyan berusaha membujuk.


Aileen yang mendengar itu seketika menoleh pada sang adik. Air matanya kian mengalir deras ketika ia hampir melupakan jika dirinya tengah mengandung.


Dengan air mata yang terus bercucuran ia mengelus perutnya. Pikirannya terus memikirkan bagaimana keadaan Vir di dalam sana. Bagaimana jika dia tidak baik-baik saja sedangkan ia dan calon bayi mereka masih sangat membutuhkannya.


Ku mohon bertahanlah! Aku dan anak kita masih membutuhkan mu!!!

__ADS_1


“Kak..!” seoloroh Biyan, saat tubuh lemah Aileen jatuh tak sadarkan diri dalam pelukannya.


“Eil.." teriak semua keluarga yang melihat tubuh lemah Aileen terkulai dalam pelukan Biyan.


__ADS_2