
Semua orang yang mengantar oma karina ketempat persitirahatan terakhirnya, satu persatu perlahan beranjak meninggalkan area pemakaman.
Daddy dan Biyan berjalan merangkul mommy Jessica yang terlihat begitu rapuh, dalam waktu dekat ditinggalkan oleh kedua orangtuanya. Begitu juga dengan Shakeel dan Ibunya berjalan di sisi Papa Ferdy, mereka semua pelayat perlahan meninggalkan area pemakaman.
Namun Aileen masih terlihat meangis di atas makam omanya, Ia terisak pilu dalam pelukan Vir.
Aileen menyesal, ia merasa bersalah karena tidak bisa melihat Oma di saat terakhirnya.
"Aku tidak akan melarang mu menangis, menangis lah sepuasmu jika itu mampu membuat mu merasa lebih baik!" Vir mengusap lembut bahu Aileen yang tengah menangis sesenggukan di dada bidangnya
"Aku merasa bersalah, hikksss.. Aku tidak bisa menemaninya di saat terakhir!! Andai saja malam itu aku tidak sakit, mungkin aku akan melihat oma ku di saat terakhirnya." ujarnya penuh penyesalan
"Jangan menyalahkan diri sendiri, umur dan maut tidak ada yang tahu, kita tidak bisa menebak kapan dia akan datang. Yang perlu kau lakukan adalah ikhlaskan dan doakan yang terbaik untuk beliau.." Vir bukannya sok bijak, ia hanya berusaha untuk menghibur Aileen
Entah mengapa kali ini Vir seperti menunjukkan sisi berbeda dari hidupnya. Ia merasa lebih perduli dan tidak tega melihat Aileen seperti ini, Tapi kenapa? Bukankah selama ini dia begitu ingin melihat Aileen menangis, tapi kenapa disaat wanita itu sudah menangis di hadapannya di malah merasa iba.
Mendengar ucapan Vir, perlahan tangisan Aileen mulai mereda, Ia mengusap air matanya dan memegang nisan omanya yang bersebelahan dengan makam mendiang opa Haris
"Terimakasih sudah jadi nenek yang baik untuk kami, Aku ikhlas! Semoga diberikan tempat yang layak di sisinya" Ucapnya dalam hati seraya merapalkan do'a untuk keduanya.
Setelah itu mereka pun beranjak, Vir merangkul Aileen untuk berjalan.
"Berhentilah menangis, kau kelihatan jelek!" sungguh Vir tidak bisa memilih ucapan yang tepat untuk menghibur Istrinya.
Niat hati ingin menghibur, Vir malah mendapat tatapan datar dari Aileen yang menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Vir.
Vir yang ditatap datar seolah tidak merasa ada yang salah, ia justru menatap seolah mengatakan "Yang ku katakan memang benar bukan?"
Namun bukannya marah, Aileen malah tersenyum "Terimakasih sudah menemani ku di saat seperti ini" ujar Aileen tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
Vir hanya mengangguk tanpa ekspresi "Ayo, kita harus segera pulang, kau harus beristirahat" katanya, kemudian melanjutkan langkah menuntun Aileen ke mobil.
.
.
__ADS_1
.
"Vir, sepertinya kau dan Aileen sudah harus kembali ke tanah air. Daddy rasa kalian sudah cukup lama berada di sini, daddy akan siapkan keberangkatan untuk kalian besok lusa" kata Daddy Al
Kini para lelaki tengah berkumpul di ruang tengah, mulai dari Daddy, Opa Surya, Om Ferdy, Ayah Hans, Biyan, Shakeel dan Virendra.
Mereka semua tengah duduk bercengkrama seraya minum kopi.
"Biarkan Vir menemani anda di sini Pak. berlama-lama juga tidak masalah, bukan begitu Vir " sahut Ayah Hans.
Vir hanya diam mendengar ucapan sang Ayah
"Tidak apa Pak, lagi pula Vir sudah cuti terlalu lama, saya yakin banyak pekerjaan yang menumpuk menanti untuk dikerjakan. Biyan kalau mau ikut bersama kakak mu juga boleh" tutur Daddy seraya menyeruput kopi hangatnya
"Keil juga harus segera pulang, kau harus kembali mengurus kantor" sahut Om Ferdy yang juga menyuruh putranya kembali.
"Papa rasa, papa juga harus segera pulang, bagaimna dengan mu Bi?" tanya Opa Surya pada Biyan
Biyan yang sebenarnya masih ingin di negara ini harus menyetujui ucapan sang kakek, sekali pun ia mengatakan ingin tinggal sudah pasti Daddynya akan menyuruh dirinya pulang untuk menemani Opa Surya dan oma Fera.
Semua yang akan berangkat pun menyetujui kesepakatan itu, sedangkan Daddy Al dan Om Ferdy akan tinggal sampai hari ke 40 selesai
Sementara Ayah Hans dan Ibu Melinda akan kembali ke negara singa besok siang.
.
.
Vir masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Aileen yang menulis sesuatu di buku. Vir mendekat ingin Melihat apa yang Aileen tulis, tapi wanita itu segera menutup bukunya dan menyembunyikannya di bawah bantal
Vir yang sudah memasang wajah marah segera menghela nafas, ia mengurungkan niatnya, dia tidak ingin membuat Aileen bersedih apalagi ia baru saja kehilangan omanya.
"Apa itu buku diary?" tanyanya seraya ikut duduk selonjoran di atas ranjang
Aileen hanya menjawab dengan sebuah anggukan, matanya juga masih terlihat bengkak akibat air matanya yang ke luar berlebihan.
__ADS_1
"Oh iya, kita akan pulang dua hari lagi" kata Vir seraya menutupi setengah tubuhnya dengan selimut.
"Aku ikut semua keputusan mu" kata Aileen dengan suara yang sedikit serak.
"Good girl! kau memang harus mengikuti semua keputusan ku, karena aku suami mu kan" katanya seraya tersenyum, sepertinya ia mencoba untuk menghibur sang istri yang masih terlihat begitu murung
Sepertinya hubungan mereka selama di negara ini terlihat semakin membaik dan ada kemajuan.
Aileen hanya membalas ucapan Vir dengan sedikit senyuman dengan tatapan kosong, seraya ikut menutupi setengah tubuhnya dengan selimut.
"Kalau begitu Kemarilah, kau pasti lelah kan. Aku akan membuat mu terlelap seperti kemarin malam" Vir menepuk sebelah tangannya yang terlentang agar Aileen berada dalam dekapannya.
Aileen hanya menatap Vir sekilas. melihat Aileen yang sama sekali tak beranjak Vir pun menarik tubuh Aileen ke dalam dekapannya.
"Berhentilah bersedih, cukup kirimkan saja do'a agar beliau diberikan tempat terbaik di sisi-Nya" Vir mengusap lembut kepala Istrinya seraya menyelipkan untaian rambut ke sisi telinga.
Perlakuan manis Vir itu membuat hati Aileen bergetar, kali inia a bernar-benar mengharapkan suaminya itu. Dia mengharapkan hubungan mereka jadi lebib baik lagi dan semakin membaik.
Aileen yang sudah merasa nyaman, tanpa ragu menyandarkan kepala ke dada bidang Vir, satu tangganya lagi perlahan memeluk pinggang Vir yang berbaring menghadap dirinya, Vir terlihat menerima tanpa penolakan.
"Aku akan berusaha untuk menerima hubungan ini, tapi mohon beri aku waktu! Tentu tidak akan mudah mengakhiri hubungan ku denagn Fia begitu saja, mengkhiri hubungan yang sudah terjalin selama 5 tahun tidak akan mudah bukan?" katanya seraya masih mengelus lembut kepala Aileen
"Aku mengerti! Maka dari itu aku juga selalu berusaha untuk menerima semuanya dan selalu berusaha berbuat yang terbaik untuk kita"
Mendengar ucapan Aileen Vir hanya mengangguk. Ia memejamkan matanya, tangannya masih betah berada di puncak kepala Aileen.
"Tidurlah, ini sudah larut malam" kata Vir dengan mata yang sudah tertutup
.
.
Happy Reading Gays🤙
Jangan lupa beri dukungan berupa like dan komen! Kalo mau beri Vote juga boleh, author akan sangat berterima kasih pada kalian..🤗🤗
__ADS_1
#Lope You All♥️